Saya menyalakan weker pk. 7:00. Berberes-beres sebentar, sambil mengecek
perlengkapan yang harus dibawa untuk mengikuti paket tur. Setelahnya saya turun
untuk sarapan. Oh ya, untuk semalam, saya membayar 700 bath termasuk American
Style breakfast untuk 2 orang. Hari kedua dan ketiga saya perpanjang disini
juga, setelah mencari-cari kurang cocok. Diberi discount tambahan tanpa
diminta, menjadi 650 bath per hari.
Sarapannya roti, telur (bisa pilih mau diapakan), susis atau ham atau bacon,
jus segelas. Cukupanlah untuk mengisi perut.
Jam 8, Kor datang. Mega tidak mau ikut, karena ingin belanja. Kami langsung
berangkat ke Big Buddha, melewati Phuket City (seperti Denpasarnya Bali).
Sebelum ke Big Buddha, saya sempat stop ke Wat Chalong. Tidak terlalu istimewa
menurut saya, bentuknya kurang lebih sama seperti tipikal Vihara Thailand
lainnya dengan dominasi bentuk kerucut warna putih dan emas. Ketika saya
datang, kebetulan ada satu calon Bhikku yang baru dibabtis. Selesai upacara,
Bhikku ini diarak mengelilingi Gedung Vihara sambil diteriaki bersahut-sahutan
oleh serombongan orang, lucu sekali. Kemudian saya berdoa sebentar, mengambil
foto dan lanjut ke Big Buddha.
Jalan menuju ke Big Buddha menanjak, karena letaknya di dataran atas. Dari
kejauhan juga sudah terlihat ada patung Sakyamuni Buddha. Sesampainya di atas,
hawanya adem. Viharanya sendiri belum 100% selesai. Jadi masih terlihat
membangun disana-sini. Saya masuk mengikuti petunjuk arah untuk ke lokasi
patungnya. Naik tangga sebentar, dari atas bagus pemandangannya. Terlihat lepas
pantai, beberapa kapal kecil dan besar yang melaut dan kota Phuket. Amazing
view !
Sepanjang perjalanan, Kor berniat baik untuk mengajak ngobrol, misalnya, “This
is good schoooolll”. Kata Kor sewaktu kami melewati International School.
Nadanya khas bahasa Thailand yang ditarik panjang setiap kata akhir. Kemudian
saya tanya, “Kor, is Thai language difficult? We have A, B, C, Is Thai same ?”.
Mukanya berkerut sebentar. Dan dijawab, “Oh yeeessss, we have, we have. Start
from 3 years old”. Saya juga terdiam karena bingung. Trus dia ngoceh panjang
lagi beberapa kalimat inggris yang kurang fasih, dan akhirnya saya menangkap,
dia kira, saya tanya usia berapa mulai masuk sekolah.
Kemudian, saya tanya lagi, “How old are you?”. Dia jawab sambil mikir,
“Hmm….what ?”. Dalam hati, waduh, kok yang gampang gini dia gak ngerti. Ok saya
ganti pertanyaannya, “What year you born?”. Dijawab, “ohhhh, two five five
two.”… ??? Saya tambah bingung. Trus dia langsung berinisiatif mengeluarkan
KTPnya. Ternyata kelahiran 1976. Jadi angka yang disebut tadi, hitungan tahun
saka...heheh...ada-ada saja.
Saya tidak mengira akan menghabiskan waktu cukup lama di perjalanan. Untung
tidak mampir ke Gem Store dan penjualan madu lebah. Buru2 saya kembali ke
Patong. Kurang 10 menit, saya di sms Mega kalau sudah dijemput. Waduh… ternyata
mobil jemputan datang lebih cepat.
Sesampainya di hotel, saya langsung naik untuk mengambil barang-barang (baju
ganti, dll untuk mengikuti tur), tetapi supirnya keburu pergi untuk menjemput
peserta tur lain, baru terakhir menjemput kami.
Jam 10.30 kami memulai perjalanan tur hari pertama kami ke Buddha Cave, Tum
Pung Chang dan James Bond island.
Buddha Cave ini terletak di daerah Krabi. 1,5 jam dari Patong. Kami naik
semacam mobil Elf untuk 12 orang. 1 pasang suami istri setengah tua dari
Australia yang sangat mesra, 1 pasangan muda dari Singapore, 1 pasang paro baya
dari Hongkong. Sesampai di Buddha Cave, ternyata ada mobil lain lagi membawa
peserta tur lainya mengikuti program tur yang sama. Jadi total ada 20an orang.
Hanya kami orang Indonesia, selebihnya wisatawan Amerika.
Beberapa menyebut Buddha Cave ini sebagai Monkey Temple, karena banyak terdapat
monyet jinak berekor panjang di luarnya. Dari penjelasan Tour Leader, saya
mengetahui kalau gua ini usianya sudah 300 tahun. Tampak luar gua ini hanya ada
lubang masuk sebagai pintu. Begitu menjejakkan kaki ke dalam, langsung terlihat
luasnya gua. Lebarnya kira-kira 50m, panjangnya kira2 150m. Di dalamnya, ada
patung Buddha tidur yang besar, mengingatkan saya dengan film “Bangkok
Dangerous”. Dari ujung terlihat sinar matahari. Begitu sampai di ujung, saya
lihat ada gua lagi menjorok ke dalam, tetapi saya tidak masuk ke dalam.
Kami hanya 20 menit disini. Keluar dari areal Buddha Cave, dari jauh terlihat
bahwa gua itu ternyata berada di bawah kaki bukit.
10 menit kemudian mobil berhenti di Tum Pung Chang. Kami semua turun, dan
meninggalkan semua barang di mobil termasuk uang, kamera, dll. Kami diberikan
senter yang dipasang di dahi. Kemudian jalan turun menuju mulut gua. Mula2 kami
berlayar menggunakan perahu karet. Satu perahu isi 4 orang. Kami melewati
sungai selebar 12m yang makin lama makin gelap. Makin ke dalam, makin sempit.
Dari sini, kami sudah disuguhi stalagtit dan stalagmit disekeliling kami. Tak
lama kami berhenti di atas batu besar, dan melanjutkan perjalanan dengan rakit
bambu. Rakit ini lebih ramping, tetapi lebih panjang, sehingga bisa memuat 6
orang sekali jalan. Ada pemandu yang mengayuh perahu karet dan rakit ini. Dari
sini, mulai tercium bau agak lembab. Tidak ada grup lain yang datang selain
grup kami. 5 menit kemudian, rakit terhenti dan kami harus melanjutkan
perjalanan dengan berjalan kaki. Hanya terasa angin mengalir dari arah dalam
gua. Kami berjalan kaki masuk ke sungai. Airnya
tidak terlalu dingin. Jalannya sempit, sehingga harus antri satu-satu. Tour
leadernya berjalan paling depan.
Jalan di gua ini harus hati-hati, kadang tanahnya tinggi, kadang rendah. Kalau
rendah, celana pendek pasti basah. Yang paling tinggi, setengah betis. Sesekali
terdengar kelelawar berteriak. Macam2 bentuk stalagtit dan stalagmit-nya,
kebanyakan berbentuk binatang, atau bayi. Yang paling jelas terlihat adalah
gambar kepala gajah di ujung gua sebelah atas, lengkap dengan mata dan
belalainya.
Setelah 20 menit berjalan, kami terhalang sebuah batu besar. Sampai disini,
tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi. Bisa lanjut, hanya saja airnya menjadi
lebih dalam, dan waktunya tidak cukup. Oleh tour leader, kami semua diminta
mematikan senter. Langsung gelap gulita tanpa cahaya setitikpun !
Setelahnya, kami menyusur jalan yang sama untuk keluar gua. Tak terasa satu jam
kami berada di dalam perut gunung ini. Kami semua pun sudah kelaparan. Tanpa
berganti celana dan berbilas, kami langsung menuju restaurant.
Menu makanan saya perhatikan sama persis seperti di brosur : Sop Tom Yum, Cap
Cay, telur dadar goreng, ayam kuluyuk, ikan asam manis. Pas masuk perut untuk
ukuran minimal kenyang.
Dari sini, kami lanjut program tur terakhir, yakni James Bond Island, pulau
yang terkenal sejak film 007 yang berjudul “Man with golden Gun”. Dari
restaurant sampai ke dermaganya kira-kira 15 menit.
Kurang lebih pk. 15:30 kami tiba. Begitu turun, langsung semua peserta spontan
mengeluarkan kamera. Pemandangan alam di sekelilingnya yang indah dan sepi,
membuat hati tentram. Sebenarnya, sejak masuk ke wilayah Krabi, kami semua
sudah disuguhi pemandangan indah. Sepanjang perjalanan, dari kejauhan terlihat
beberapa tebing yang menonjol dari permukaan air. Kotanya apik dengan dihiasi
hijaunya pepohonan. Untung saja sepanjang hari ini cuacanya mendukung.
Cuaca sudah tidak terlalu terik. Udaranya juga segar. Kami berdiri di pinggir
sungai, dekat boat ditambat. Dermaganya tertata rapi dan bersih. Di sebrang
sungai terlihat pepohonan. Air sungainya bergerak kecil, memantulkan cahaya
matahari. Mungkin kalau tidak diminta melanjutkan perjalanan oleh Tour Leader,
kami semua masih sibuk berfoto-ria.
Kami semua naik ke kapal boat ukuran sedang yang bisa memuat 40 orang. Awalnya
sungai ini tidak terlalu lebar. Bukan sungai sebenarnya, lebih tepat disebut
muara. Jadi sepanjang kiri-kanan sungai isinya pohon bakau. Hari itu airnya
sedang surut, sehingga akarnya terlihat semua.
10 menit kemudian, kami masuk ke pantai lepas setelah sebelumnya melewati
Panyee Village, perkampungan muslim yang penduduk pertamanya orang Indonesia.
Sepanjang mata memandang, yang ada hanya air dan batu besar yang menonjol di
beberapa tempat. Indah sekali !
Setelah 20 menit berlayar, kami berhenti di pulau kecil. Dari jauh terlihat
beberapa toko souvenier. Dibalik toko inilah terdapat sebongkah batu besar di
atas air. Batu terkenal inilah yang ada di brosur2 wisata Thailand, di pulau
tempat Roger Moore kejar2an dengan penjahat.
Pantainya tidak bisa direnangi. Jadi kami hanya foto-foto saja. Untuk paket tur
lain, yang tidak termasuk Tum Pung Chang, maka dari sini akan naik Long Tail
Boat untuk mengexplore gua-gua sekitarnya.
Kami hanya menghabiskan waktu 15 menit disini. Cukuplah sekedar mengambil foto.
Selesai dari sini, kami berhenti di Panyee Village untuk melihat-lihat. Dari
atas kapal, tempat ini terlihat seperti desa terapung, yang disangga bambu
dibawahnya. Ada sekolah, mesjid, dll. Seluruh penduduknya beragama Islam. Mata
pencaharian mereka kebanyakan dengan berjualan souvenir, atau menjalankan
restaurant. Kepiting dan Lobster disimpan di keramba yang dibuat di laut dan
diambil langsung kalau ada yang memesan.
Selesai dari sini, matahari juga hampir tenggelam. Cahayanya kuning keemasan,
anginnya semilir membelai kulit. Sempat saya berpikir, kalau ada suami dan anak
saya sekarang, tentu saya lebih bahagia….
Singkat cerita, kami semua balik ke dermaga dan kembali lagi ke Patong.
Sesampainya di hotel, saya mengganti celana dan keluar makan lagi. Eh, tanpa
berbilas setelah menyusur gua pun kami kok tidak gatal-gatal ya…
Malam ini kami menyempatkan diri ke Junceylon Mall. Kebetulan ada pameran
Miniature Siam. Jadi dibuat patung-patung yang menggambarkan kondisi Thailand.
Ukurannya kecil-kecil. Diletakkan diatas meja pajangan.
Pulang dari Junceylon, kami masih sempat membungkus makanan dari beberapa
penjaja di pinggir jalan. Selesai makan, mandi air hangat, langsung tertidur
kelelahan.
Start chatting with friends on the all-new Yahoo! Pingbox today! It's
easy to create your personal chat space on your blogs.
http://sg.messenger.yahoo.com/pingbox