Sejauh ini (tentunya sebelum membaca email bli Made) saya hanya kenal 3 orang 
Indonesia yang pernah ke Mauretania.  2 orang pertama ke sana dengan paket tur 
yang berangkat dari Paris.  Orang ketiga, seorang Geologist yang sangat 
senior, malah sudah 3 kali ke negeri di sisi barat Sahara itu untuk eksplorasi 
tambang.  3 kali itu rinciannya 2 kali ke daerah Zourat, dan yang ketiga ke 
daerah tak jauh dari Ayoun el-Atrous yang juga merupakan pintu masuk ke Mali.  
Kepada ketiga orang tersebut praktis saya sulit mencari keterangan sahih 
tentang aplikasi visa Mauretania.  Saya sempat ngobrol panjang dengan sang 
Geologist.  Katanya, 2 visa ia peroleh secara on-arrival saat tiba di bandara 
Nouakchott dan satu lainnya ia dapatkan di Paris.

Bagaimana dengan keterangan 'resmi' dari panduan?  Di forum TT Lonely Planet 
kerap diperbincangkan bahwa visa akan diberikan pada mereka yang akan masuk 
Mauretania dari Maroko lewat darat (dari Dakhla).  Disebut pula harganya 
sekitar E20.  Berita ini sayangnya tak sepenuhnya kabar baik karena ada yang 
menambahkan bahwa visa di perbatasan ini hanya berlaku 3 hari.  Sesampai di 
Nouakchott si pemegang visa harus memperpanjangnya.  Kebanyakan orang 
(setidaknya kesan yang saya peroleh lewat forum TT) memilih cara ini ketimbang 
melakukan aplikasi di Kedutaan Mauretania di Rabat.  Alasannya?  Untukk 
aplikasi di kedutaan di Rabat pemohon perlu melampirkan bukti booking return 
tiket.  Visa itu berlaku untuk entry point Nouakchot, bukan Nouadhibou.  Jadi 
jika petugas perbatasan Noaudhibou mau teliti dan zakelijk, pemegang visa 
berentry point Nouakchott tidak diperbolehkan masuk.  Di LP 'West Africa' yang 
saya beli versi digitalnya ada keterangan
 mengejutkan.  Disebut bahwa untuk negara-negra yang mana Mauretania tidak 
memiliki kedutaan, aplikasi visa bisa dilakukan lewat Kedutaan Perancis!

Mana dari keterangan itu yang (masih) berlaku saat ini?  Jawabannya harus kami 
cari langsung di Kedutaan Mauretania yang beralamat di 7 Rue Thami Lamdaouar, 
Soussi, Rabat.  Kami bertiga datang sudah lewat dari jam 10 pagi.  Saya 
ikuti papan petunjung aplikasi visa dan masuk ke pintu sebelah.  Di sana ada 
ruang kecil berisi sebuah meja dan 2 buah kursi.  Ruang ini berada di depan 
loket yang ditunggu oleh seorang petugas.  Saya ucapkan salam lalu mengutarakan 
maksud melakukan aplikasi.  Segera petugas menyerahkan selembar formulir yang 
burur-buru saya potong, "Bisa saya dapatkan 3 lembar karena saya bersama istri 
dan anak?"  Sembari memenuhi yang saya minta, petugas mengingatkan, "Jangan 
lupa copy paspor dan 2 buah pas photo."

Setiap bepergian saya selalu membawa 2 copy paspor.  Copy pertama sudah diminta 
oleh imigrasi Cengkareng untuk mengurus bebas fiskal lewat NPWP.  Sekarang yang 
kedua harus diserahkan bersama paspor.  Artinya jika something wong terjadi, 
saya hanya bisa mengandalkan tanda terima dari kedutaan sebagai bukti identitas 
diri.  Saya minta istri dan anak mencari kedai fotocopy terdekat, sementara 
saya akan mengisi ketiga formulir.  Blanko isian aplikasi visa Repiblique 
Islamique de Mauritenies tertulis dalam Arab dan Perancis.  Berbekal basic 
Spanish dan kemiripan tulisan (karena sesama anak-cucu Bahasa Latin) Francais 
dan Espanyol, blanko isian lengkap terisi.

Dengan terburu-buru dari dalam kantor kedutaan datang petugas yang langsung 
mengunci pintu ruang aplikasi.  Karena ia berkali-kali melihat jam; saya 
artikan aplikasi ditutup jam 11. Cepat saya sampaikan bahwa istri dan akan 
sedang mencari kedai fotocopy.  Pintu dibuka lagi dan di luar memang ada 
beberapa orang menunggu.  "Yang mana?", ia bertanya.  Saya lihat istri dan anak 
baru saja membelok ke Rue Thami Lamdaouar dari Avenue John Kennedy.  Begitu 
mereka berdua masuk ruang aplikasi visa, pintu dikunci lagi.  Karena tak 
menemukan kedai fotocopy, lembar copyan yang saya bawa saya serahkan.  Di depan 
loket berkas saya serahkan.  Saya perlihatkan deretan pas photo dalam cetakan 
ukuran 10R.  "Bisa Anda membantu menggunting photo ini?" dengan 'kurang 
aja'-nya saya berani menyuruh orang yang menjadi wakil sebuah negara.  Yang 
bersangkutan membantu dengan senyumnya yang tulus.  Masih ada lagi permintaan 
saya padanya.  Di formulir saya meminta
 deux entree karena masih menimbang kemungkinan untuk ke Senegal atau Mali.  
Berhubung setiba di Rabat anak agak sakit, saya minta diganti dengan single 
entry saja.  "Besok jam 3 sore," katanya menyerahkan tanda terima.

Kemarin sore (3-Juni) paspor telah saya ambil.  Kami diberi 30 hari, 
mulai 3-Juni hingga 2-Juli-2009.  Setelah berbasa-basi dengan petugas (yang 
sepertinya langsung hapal dengan wajah saya .. he-he) saya merepotinya sekali 
lagi.  "Boleh saya minta selembar formulir lagi untuk arsip?"

Dengan visa Mauretania di tangan setidaknya apa yang jadi hipotesa saya sekali 
lagi terbukti.  Dari pengalaman, saya pernah melakukan 5 kali aplikasi di 
negeri ke-3 karena negara tujuan tidak memiliki kedutaan di Indonesia.  
Hasilnya 3 berhasil dan 2 gagal (Israel dan Mongolia).  Yang pasti aplikasi 
dilakukan di negara yang bertetangga dengan negara tujuan.  Jika negara tujuan 
punya hubungan politik sangat mesra dengan negara tempat kita melakukan 
aplikasi, besar kemungkinan aplikasi akan berhasil.  Sebaliknya jika hubungan 
kedua negara sangat tegang, kita perlu bersiap untuk kecewa.  Pilihan bagi 
hubungan politik dua negeri bertetangga agaknya tidak banyak.  Bisa sangat baik 
(seperti Peru-Bolivia yang memang dulunya jadi satu sebelum dipisah oleh Simon 
Bolivar), bisa juga sangat tegang (layaknya Israel dengan tetangga-tetangga 
Arabnya).  Agaknya lelucon bahwa tetangga adalah orang yang lebih tahu urusan 
kita ketimbang kita sendiri tidak
 sepenuhnya keliru.
 
Salam dari Rabat
4-Juni-2009


untuk bli Made: 

Makasih banyak untuk share pengalamannya.  Kali ini sepertinya saya baru bisa 
sampai Mauretania.  Rencana awal istri dan anak mau menunggu di Marrakesh 
sementara jalan sendiri.  Jika jalan sendiri saya perhitungkan bisa sampai 
Dakar dan berkesempatan menjenguk Ile de Goree.  Setelah dipikir dan 
pertimbangkan beberapa hari, istri dan anak memutuskan ikut ke 
Mauretania.  Benar, kami berencana jalan darat dari Rabat - Marrakesh - Dakhla 
- Nouadhibou - Nouakchott.  Sempat muncul ide untuk mempersingkat Casablanca - 
Dakhla dengan pesawat.  Sayangnya jadual pesawatnya hanya 3 kali sepekan dan 
harga tiket terbang sekali jalannya 1,3 kali harga tiket terbang bolak-balik.  
Moga-moga semua berjalan sesuai rencana apalagi kondisi kesehatan anak sedang 
bagus.

+++++



________________________________
From: Made Sutawijaya <[email protected]>
To: joko santoso <[email protected]>; [email protected]
Sent: Wednesday, 3 June 2009 1:23:22
Subject: Re: [indobackpacker] negara mana saja yang tidak perlu visa kunjungan?





Hallo Mas Joko,
Saya salut dengan anda bertravelling ke daerah Afrika, bahkan dengan 
keluarga(?). Saya cerita dikit yak, mumpung masih inget :-)

Feb-Maret 2005, kami ada pekerjaan design di Sunbeach Hotel di Cape Point 
Banjul The Gambia. Dan dalam tugas kerja ini, saya kesana sendirian dengan 
seabrek bahan presentasi. Salah satu client kami adalah dari Mauritania, dan 
menawarkan untuk melihat sebuah lahan dekat dengan kota Nouchchott Mauritania, 
sekalian untuk travelling melewati bagian barat dari Sahara. Sehingga dipilih 
dengan jalur darat, aplikasi visa saya malah diurus oleh managemen resort 
Sunbeach untuk kunjungan ke Senegal dan Mauritania, alhasil sehari jadi!

Perbatasan darat dari Senegal ke Mauritania, mas akan lewati kota yang bernama 
Rosso Mauritania. Sepanjang sungai ini mungkin adalah satu2nya daerah yang 
bervegatasi di Mauritania, karena negara ini hampir 95% dari seluruh wilayahnya 
adalah padang pasir (sahara). Benar, penyebrangan disini hanya dilayani 2 atau 
3 kali sehari waktu itu, jadi jangan sampai kesorean sampai di Port Rosso ini. 
Dan lagi walaupun sungai ini sangat tenang, agak ngeri juga karena perahu yang 
melayani penyebrangan tidak memiliki pinggiran pengaman samping, mobil2 rodanya 
diikat begitu saja.

(dipotong)

Mas Joko, nanti ini dari Rabat apakah melalui jalan darat ke Mauritania? kalau 
mungkin pasti sangat mengasyikan. Kalau saran saya, dari Kota Nouckchott, bagus 
dan aman kok jalan darat sampai ke The Gambia sekalipun. Ada beberapa check 
point dengan tentara bersenjata, tapi itu pemeriksaan biasa saja, malah dari 
tampang seram mereka itu bisa kok diajak berphoto.... .cuman sayang mereka 
lebih fasih bahasa prancis daripada inggris :-)). Kota-kota yang saya sebutkan 
diatas tadi terutama di senegal dan The gambia adalah kota2 yagn sangat layak 
dikunjungi, kota klasik dan sepanjang perjalanan akan terasa seperti di film 
flora dan fauna hehehe. Kita akan melewati padang pasir, savanna, oasis dengan 
tanaman kurmanya, kadang harus terhenti diperjalanan karena ada rombongan 
biri-biri atau kambing atau camel liar yang lewat...... hanya biri2 yang agak 
lelet, karena tidak mau minggir kalaupun diklakson dg kenceng sekalipun, tapi 
jangan sampai mengklakson kalau ada
 camel lewat, mereka akan panik dan berhimpitan sesamanya :-)...kalau kambing 
akan langsung kabur kalau diklakson hahahaha.

Semoga perjalanannya menyenangkan dan mengesankan, satu kata tentang Afrika, 
amazing landscape!

salam,
made sutawijaya

Recent Activity
        *  61
New Members
        *  10
New PhotosVisit Your Group 
Give Back
Yahoo! for Good
Get inspired
by a good cause.
Y! Toolbar
Get it Free!
easy 1-click access
to your groups.
Yahoo! Groups
Start a group
in 3 easy steps.
Connect with others.
. 




      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

Kirim email ke