Sharing info-nya sangat mencerahkan mas Didi, terimakasih. mau nanya, kalo
dokumen yang wajib untuk apply visa AUS apa aja ya? Dari beberapa dokumen
yang anda sebutkan tersebut, ada beberapa yang sepertinya saya tidak ada,
antara lain:
- Invitation letter 
- Photocopy passport teman yang memberikan invitation letter
- Tabungan 3 bulan terakhir 

Mungkinkan permohonan visa diAPPROVED tanpa dokumen tersebut diatas(hanya
ada dokumen dibawah ini) ?
- Passport asli + photocopy passport
- Photocopy kartu keluarga
- Photocopy akte kelahiran
- Photocopy KTP
- Formulir pendaftaran (single atau multiply entry)
- Photocopy bookingan ticket pesawat (return)
- Photo 4 x 6 dua buah, berwarna


Terimakasih
rahmad
________________________________________
From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of deedee
Sent: Friday, June 05, 2009 1:15 PM
To: Indobackpacker; [email protected]
Subject: [indobackpacker] Catatan Perjalanan Australia Trip 2009, part-1 :
mengurus VISA Australia




Perjalanan ke Australia merupakan perjalanan latihan backpacking,
flashpacking dan couchsurfing saya menjelang persiapan keberangkatan ke
Eropa tahun depan (yang gagal dilaksanakan sebelumnya). Rencana mau ke
Australia sebenarnya udah lama saya dipikirkan, akan tetapi secara mengurus
VISA nya baru dilakukan menjelang detik-detik keberangkatan, alhasil,
perginya TIDAK begitu well prepared, apalagi untuk traveler kebanyakan gaya
seperti saya, haha.
 
Alhamdulillah perjalanan selama 12 hari ke Australia bisa terlaksana dengan
sukses, aman, nyaman, dan pulang pergi dalam keadaan sehat-sehat saja.
 
Owkay, di bagian ini saya mau sharing gimana caranya untuk mengurus sendiri
VISA ke Australia.
 
VISA
 
Untuk masuk ke negara lain (kecuali negara2 ASEAN), sebagai warga negara
Indonesia kita memerlukan VISA, atau ijin masuk di suatu negara. Persyaratan
masuk di satu negara sedikit berbeda dengan negara lain, jadi kita harus
mengenali dan mengetahui persayaratan permintaan VISA di setiap negara yang
akan kita kunjungi.
 
Awalnya saya malas sekali untuk urus VISA sendiri. Selain saya emang biasa
spoiled (shut up Don, hehe), selain itu kesibukan saya dikantor membuat saya
malas untuk mengurus VISA sendiri. Aplagi waktu saya tanya ke milis dan
beberapa teman, mereka bilang urus VISA ke Australi itu amat sangat sulit,
harus begini, harus begitu, petugas nya kaku, menyebalkan dan nggak
cooperative, kita mesti bolak balik ngurusnya - nggak bisa cuman sekali
datang, dll dsb, intinya : ribet suribet jaya deh pokoknya. 
 
Akhirnya saya memutuskan untuk memakai travel agent untuk mengurus VISA
saya.
 
Saya pun melengkapi semua persyaratan untuk VISA Australia:
-          Passport asli + photocopy passport
-          Photocopy kartu keluarga
-          Photocopy akte kelahiran
-          Photocopy KTP
-          Invitation letter (dari teman/saudara yang akan menanggung kita
selama disana)
-          Sponsorship letter (dari perusahaan tempat kita bekerja yang
menjamin bahwa kita akan kembali lagi ke tanah air)
-          Tabungan 3 bulan terakhir 
-          Formulir pendaftaran (single atau multiply entry)
-          Photocopy bookingan ticket pesawat (return)
-          Photocopy passport teman yang memberikan invitation letter atau
konfirmasi bookingan hotel (bila tidak menginap dirumah teman/saudara selama
di Australia)
-          Photo 4 x 6 dua buah, berwarna
 
Okeh, setelah saya melengkapi semuanya, saya serahkan semua berkas kepada
travel agent, lalu dia minta bayaran Rp 1,100,000, dengan catatan, di
approve atau tidak VISA nya, saya tetap harus bayar segitu. Dan saya setuju.
 
Akan tetapi, dua hari kemudian, saya mendapat kabar, bahwa saldo di rekening
bank saya katanya kurang, dia bilang, MINIMAL saldo di rekening saya HARUS
berjumlah Rp 50,000,000, kalo tidak, kemungkinan besar VISA saya akan
ditoalk karena saya dianggap ngak punya cukup uang untuk biaya selama
berlibur dan berkunjung ke Australia.
 
Damn ! Pada saat itu uang di rekening saya cuma setengahnya aja, karena
menurut saya, kenapa kita harus punya account sebanyak itu ? kan selama di
Australia, saya nginepnya dirumah temen2 yang artinya, saya tidak perlu
punya budget yang berlebihan untuk berada disana. So saya hanya perlu uang
pegangan untuk makan dan transportasi plus sedikit belanja2 aja bukaaaann
??? jadi, masa’ Rp. 25 juta dianggep nggak cukup untuk 2 minggu ? Please
deh. 
 
Akhirnya saya memutuskan untuk menarik semua dokumen2 saya dari travel agent
dan nekat untuk mengurus sendiri VISA Australia ini, dan ternyata saudara2
setanah air, ngurus VISA sendiri itu GAMPANG banget !!!
 
Pertama2, kita membawa seluruh dokumen2 yang diminta ke Australia VISA
Application Centre (AVAC). AVAC berkerjasama dengan Kedutaan Besar Australia
Bagian Imigrasi, menerima permohonan visa atas nama Kedutaan Besar
Australia. Kantor-kantor AVAC terdapat di Jakarta dan Bali. Untuk yang
cabang Jakarta, AVAC terletak di Plaza Asia - Sudirman (seberangnya FX
Plaza). Jam Kerja : 8:30 sampai 16:00 – Senin sampai Jumat 
 
Ketika masuk gedungnya, di lobby kita akan diminta untuk ninggalin KTP, tapi
bilang sama receptionistnya bahwa kita akan mengurus VISA dan KTP akan
diperlukan, jadi tinggalkan aja photocopy KTP kita atau id yang lain
(seperti SIM atau staff id), lalu naik ke lantai 22.
 
Tiba di lantai 22, keluar dari lift ke sebelah kiri, langsung keliahatan kok
kantornya. Sebelum masuk, dua security di depan pintu masuk akan melakukan
body search dengan detector (kalo cewek yang akan melakukan body search itu
security cewek juga) dan setelah itu mereka dengan ramahnya mempersilahkan
saya masuk dan mengingatkan agar mematikan telepon genggam alias henpon
sebagai peraturan yang berlaku disana. 
 
Begitu masuk, saya ambil formulir dan mengisi semua pertanyaan dengan
sejujur2nya, bahwa saya mau liburan kesana dengan menumpang ditempat teman.
(oh ya, formulir sebaiknya diambil sebelumnya sehingga ketika sampai disana,
udah nggak buang2 waktu lagi ngisi formulir yang tebalnya beberapa halaman
tersebut).
 
Ketika diminta untuk memilih jenis VISA yang di inginkan, saya agak ragu,
seharusnya saya mengisi dengan multiply entry (1 VISA untuk beberapa kali
masuk Australia), tapi saya malah mengisi dengan single entry (1 VISA hanya
untuk 1 kali masuk, sehingga kalo kapan mau ke Australia lagi, harus bikin
VISA baru). 
 
Soalnya menurut beberapa teman, kalo blom pernah sama sekali ke Australia,
kalo kita langsung milihnya multiply entry, kemungkinan VISA di setujui
rasanya agak sulit. (Biarpun saya pernah tinggal di australia sekitar 15
tahun yang lalu, tapi kan, pada saat itu semuanya diurusin sama pemerintah
Indonesia dan kami hanya tau beres, sedangkan sekarang urus sendiri.
Lagipula, secanggih2nya system disana, belum tentu data2 saya masih mereka
simpan hingga sekarang), jadi pada saat itu saya memutuskan, lebih baik saya
milih jenis VISA yang single entry tapi kemungkinan besar disetujui dari
pada milih multiply entry tapi kemungkinan ditolak sehingga duit hangus. 
 
Step berikutnya adalah mengisi formulir. Beberapa pertanyaan standard
seperti nama, alamat, tujuan kepergian, etc etc saya isi, dan setelah
mengisi formulir lengkap, saya ambil nomor, dan tunggu dipanggil. Sambil
tunggu panggilan, saya melihat2 selebaran yang ditempel di dinding mengenai
persyaratan VISA Australia dan disana tidak ada satu statement pun yang
menyatakan bahwa kalo mengajukan VISA harus mempunyai uang sebanyak minimal
50 juta !
 
Karena saya datangnya jam 09.00 pagi, maka yang mengurus VISA jam segitu
juga blom banyak so saya hanya menunggu sekitar 5 menit untuk dipanggil
petugasnya. Dia meminta semua dokumen2 saya, dan saya juga bertanya kepada
yang bersangkutan, apakah benar bahwa untuk mengajukan VISA ke Australia
harus mempunyai uang minimal sebanyak 50 juta, dia bilang tidak benar
beritanya. Dan waktu saya tanya lagi, berapa banyak uang yang seharusnya
dianggap cukup untuk berkunjung ke Australia, mas petugasnya cuma senyum
manis dan ngasih jawaban standard bahwa “selama semua dokumen dan
persyaratan nya lengkap, kemungkinan besar VISA nya akan disetujui”. Titik.
 
Lalu ketika semua dokumen diperiksa, step ketiga adalah membayar harga
resmi, yaitu Rp 940,000 untuk biaya mengurus VISA Australia dan diminta
untuk menunggu dan kembali ke TKP (paling cepat) 5 hari lagi untuk mengambil
semua dokumen dan untuk mengetahui apakah VISA saya akan disetujui atau
ditolak. Saya diberi tanda bukti pembayaran dan keterangan jam kerja bagi
kantor tersebut untuk mengurus dan pengambilan VISA. Sebelum mengambil VISA
kita di tempat yang sama, kita bisa mengecek proses VISA kita melalui
internet, http://[email protected] untuk mengetahui apakah VISA kita
sudah bisa diambil di AVAC atau belum (tapi dari situ kita belum tahu apakah
VISA kita udah di approve atau di reject) karena AVAC akan memberi kita
amplop tertutup.
 
Masa2 menunggu VISA adalah masa yang menyebalkan, harap2 cemas. jadinya tak
ada yang bisa saya lakukan selain menunggu dan menunggu.
 
Setelah hari ketiga, saya mulai mengecek status VISA saya, disitu masih
tertulis ”forwarded to Australian Embassy”, yang artinya, dokumen saya sudah
berada di kedutaan Australia untuk dinilai, layak atau tidaknya VISA saya
disetujui atau ditolak. 
 
Lalu di hari kelima, saya check lagi statusnya di internet, sekarang
statusnya udah ganti “forwarded to AVAC”, yang artinya VISA saya udah bisa
ambil dan saya akan segera tau, gimana status VISA saya. 
 
Secara kantor saya masih satu area dengan gedung Plaza Esia, langsung aja
jam 09.00 pagi itu saya terbang kesana untuk ambil VISA dan you know what
??? counter untuk ngambil VISA hanya dibuka mulai jam 14.00 aja looohh,
bodoh, bodoh, bodoh !. (Lesson learn : lain kali kalo mau ambil VISA check
dulu jam bukanya, seperti yang sudah tertulis di kertas brosur yang mereka
berikan ke saya sebelumnya). Akhirnya saya pulang lagi ke kantor dan karena
malu, siangnya saya meminya OB saya untuk mengambil  VISA dengan memberikan
surat kuasa (tapi ternyata kalo cuma ngambil VISA doang nggak perlu surat
kuasa, yang penting ada tanda bukti pembayaran asli yang di cap berwarna)
dan begitu sang OB siang itu kembali ke kantor membawa amplop tertutup, saya
nggak berani buka. Beberapa jam itu amplop masih saya diemin, takut menerima
kenyataan bahwa VISA ditolak dan duit sekitar Rp 1 juta melayang. Akhirnya
pada sore harinya barulah saya berani buka dan tadaaaaaaaaaa…VISA atau ijin
masuk ke Australia tersebut disetujui oleh pemerintah dan kedutaan Australia
dan kertas VISA nya ditempel dengan mans di passport saya. Rasanya, tiada
yang lebih indah daripada melihat kata2 APPROVED di VISA tersebut. Surat
cinta aja lewat, haha
 
Jadi kesimpulan nya, mengurus VISA Australia itu tidak se sulit dan
menyeramkan seperti yang banyak orang kira. Asal semua dokumen lengkap dan
persyaratan nya dipenuhi, rasanya akan lancar2 saja. 
 
 
To be continued…
 
Australian Visa Application Centre (AVAC) - Jakarta
Plaza Asia Lantai 22, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 59, Jakarta Selatan – 12960
(Seberang FX Plaza)
Telepon : (021) 5140 1590-91
                                                                    
Email : http://[email protected]  
Jam Kerja : 8:30 sampai 16:00 – Senin sampai Jumat (kecuali ambil VISA mulai
jam 14.00 siang)
 
 



Kirim email ke