Terinspirasi dengan catatan perjalanan Mas Gunara touring
dari Sorowako - Manado - Sorowako, cita-cita itu pun kesampaian. Bersama dengan
tim dari LIPI (Peter Hehanussa), Windsor University (Doug Haffner & James
Valliant), dan Paul Hamilton perjalanan darat Manado - Sorowako pun dimulai.
8 Juni 2009, Kami bertemu di bandara Hasanuddin Makassar
untuk bersama-sama berangkat menuju Manado. Sungguh sangat menyenangkan bertemu
dengan teman-teman lama. Dengan Garuda GIA 602, kami berangkat tepat pada
waktunya. Tiba di Manado, kami sudah di jemput oleh 2 supir (Tommi and Sufyan)
langsung menuju Danau Tondano. Di Tondano kami menginap satu malam di resort.
Peralatan untuk sampling esok hari pun disiapkan. Malam pun menggantikan siang.
Kami makan malam di RM. Danau Tondano, sekitar 10 menit dari hotel. Sudah pasti
menu makannya adalah ikan dan udang.
9 Juni 2009, Kami melakukan sampling di Danau Tondano.
Menurut sudut pandang ilmiah, Danau ini terlalu kaya akan unsur hara, sehingga
tidak mengherankan banyak ditemui enceng gondok, keong mas dan tanaman
pengganggu lainnya. Kalau pemerintah setempat tidak segera mengambil tindakan
pengendalian, bisa jadi lama-lama danau ini akan hilang. Lokasi paling dalam
yang terbaca hanya kisaran 20 meter. Ikan endemik nya pun sudah sangat jarang
untuk di temukan. Selesai sampling, perjalanan di lanjutkan menuju Gorontalo.
Pemandangan alam yang indah kembali menghibur mata. Sayangnya gak sempat mampir
ke Bukit Kasih (Di bukit ini ada 5 rumah ibadah yang di bangun sebagai simbol
keragaman umat beragama di Sulawesi Utara). Kendaraan yang paling menarik
perhatian selama perjalanan adalah BENTOR (becak motor). Berbeda dengan bentor
yang ada di Medan, Bentor di Sulawesi Utara dilengkapi dengan sound system.
Jadi sepanjang jalan mengantar penumpangnya, musik pun turut mengalun... dan
gak tanggung-tanggung kencang banget. Setelah menempuh 8 jam perjalanan, kami
tiba di Gorontalo dan menginap di Hotel Yulia. Sangat menyenangkan bisa bertemu
dengan teman SMA, dan ngobrol sampai jam 12 malam.
10 Juni 2009, Sampling di Danau Limboto pun di mulai.
Kondisi danau berkedalaman terdalam 6 meter ini tidak jauh berbeda dengan Danau
Tondano. Hampir seluruh permukaan danau telah ditutupi dengan enceng gondok dan
kaya dengan unsur hara. Selesai sampling di danau ini, perjalanan dilanjutkan
menuju Tentena. Singgah makan siang di Pohwatu, dengan menu ikan bakar yang
yummmiiii banget. Ikan nya bener-bener masih segar. Perjalanan masih panjang
menuju Tentena. Akhirnya diputuskan untuk menginap di Kota Raya, Sulawesi
Tengah. Lumayan sulit mencari penginapan, karena kedatangan kami bertepatan
dengan kedatangan para pedagang yang akan berjualan pada esok hari. Akhirnya
dapet juga penginapan yang murah meriah. Namanya Ojo Lali. Ternyata di kota ini
memang banyak sekali pendatang dari Jawa.
11 Juni 2009, Perjalanan menuju Tentena dilanjutkan.
Keindahan Teluk Tomini sepanjang jalan benar-benar tiada taranya mengiringi
kelokan jalan yang bertubi-tubi. Saat melewati kota Poso, sisa kerusuhan
beberapa tahun lalu masih terlihat. Tiba di Tentena waktu menunjukkan pukul 6
sore. Kami menginap tepat di tepi Danau Poso (Hotel Intim Danau Poso). Rasa
lelah dan kantuk membawa kami ke peraduan alam mimpi dengan begitu cepat.
12 Juni 2009. Hari ini sampling terakhir dan menjadi penutup
perjalanan. Danau Poso dengan kedalaman 400 meter, menyajikan keindahan yang
hampir sama dengan Danau Matano. Danau ini lebih luas. Ikan endemik nya adalah
Sukini (sejenis belut yang bertelur di laut dan tumbuh dewasa di danau Poso).
Angin kencang dan ombak yang cukup keras membawa kami ke titik-titik
pengambilan sample. Di titik kedua, kapal mengalami kerusakan mesin. Akhir nya
harus terombang-ambing di atas danau selama 2 jama sampai pertolongan tiba.
Godaan untuk berenang di titik terdalam cukup besar, tetapi mengingat kondisi
badan yang sudah sangat lelah, niat ini pun harus diurungkan. Hanya bisa gigit
jari melihat rekan-rekan yang lain asyik berenang. Setelah 2 jam, kapal
penolong pun datang. Kami pun berpindah kapal dan sampling di titik terakhir di
lanjutkan dan berakhir di Pendolo. Setelah mengisi perut dengan ayam goreng dan
sup panas, perjalanan di lanjutkan menuju Sorowako. Tikungan tajam dan pendek
pun kembali menyambut. Beberapa bagian jalan setelah melewati perbatasan
Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan pun ada yang rusak dan dalam perbaikan.
Malam pun tiba. Tidak banyak yang bisa di lihat sepanjang jalan. Waktu tempuh
dari Pendolo ke Sorowako selama 4 jam akhirnya terselesaikan juga. Kami tiba
dengan selamat dan rasa penat luar biasa plus masuk angin :).
- L i l i -
Note :
* Gak banyak mengabadikan keindahan alam karena tidak ada
kesempatan untuk berhenti selama perjalanan dari satu kota menuju kota lain.
* Setiap memesan makanan di semua tempat makan yang
disinggahi, perlu kesabaran menunggu sekitar 1 jam sebelum makanan yang di
pesan selesai dihidangkan. Jadi, harus sabar dan ngemil atau killing time
dengan ngobrol ngalur ngidul.
* Telkomsel ada dimana-mana dan sinyal baik. Jadi lebih baik
bawalah kartu telkomsel selama perjalanan.