Sedikit sharing kilas balik perjalanan kami bertiga ke Sulawesi tengah dan 
utara selama 8 hari. 

Dengan itinerary Jakarta-Luwuk-Ampana-Kep.Togean-Gorontalo-Manado.
Sengaja kami mulai dari Luwuk untuk memudahkan tujuan kami berikutnya
yaitu ke kepulauan togean yang merupakan bagian dari kabupaten Tojo
Una-Una. Sulawesi ternyata cukup rame antara bulan Juli-Agustus karena
ada banyak pengunjung turis mancanegara mungkin dikarenakan liburan
musim panas di Eropa, alhasil kami sedikit kerepotan mencari penginapan
murah karena rata-rata kamar standar telah penuh. Total biaya yang kami
keluarkan adalah 4,5jt/org sudah termasuk tiket pesawat PP
Jakarta-Luwuk, Manado-Jakarta. Biaya terbesar kami keluarkan untuk sewa
boat dan menginap di Kadidiri selama 2 hari, itupun kami terpaksa skip
bunaken demi mengejar waktu. oia, sebelum kami datang di togean sendiri baru 
saja ada festival togean yang rutin dilakukan setiap tahun dan akan ada acara 
besar Sail to Bunaken di Manado tapi sayangnya kami harus segera kembali.

 
Luwuk
Luwuk
adalah ibu kota kabupaten Banggai terletak di Propinsi Sulawesi Tengah.
Infrastruktur yang tersedia di kota Luwuk terbilang cukup lengkap
meliputi transportasi darat, laut dan udara. Keindahan kota Luwuk
terletak pada kejernihan air laut dan panorama pantai kilo lima yang
dapat dilihat di sepanjang perjalanan dari bandara hingga ke kota luwuk
itu sendiri. Perpaduan panorama laut dan  kota luwuk yang
terletak di sepanjang teluk lalong apabila dilihat dari atas bukit
sangat indah terlebih lagi apabila di lihat pada malam hari dari bukit
soho. Luwuk juga
memiliki pesona alam air tejun hanga-hanga yang digunakan sebagai PLTMH
dan kita bisa melihat bendungan buatan dengan sebelumnya meniti anak
tangga sebanyak 624 anak tangga dan pemandangan kota luwuk dari atas
sangat indah.
Rate
hotel di Luwuk berkisar antara 90rb-200rb yang terletak baik di pinggir
laut maupun di dalam kotanya, kami sendiri memilih menginap di Hotel
Pantai Wisata dg rate 150rb/nett.  Kami lebih sering
melakukan perjalanan dengan berjalan kaki karena luas kotanya yang
terbilang kecil tetapi kita bisa juga menggunakan sarana transportasi
seperti angkot (sebutannya taksi u masyarakat d sana) atau ojek paling
mahal 5rb. Kalau beruntung saat musim duren tiba, kita bisa mencicipi
duren yang rasanya sangat manis meskipun besarnya hanya sekepalan
tangan orang dewasa dan harganya cukup murah 5rb saja.  Untuk makanan ada 
banyak pilihan dari mulai seafood yg sudah pasti ada hingga selera jawa timur 
tersedia di sana.
 
Ampana
Dari
luwuk menuju ampana kami menggunakan bis umum dg biaya 70rb u bis AC
sedangkan ekonomi 60rb, lama perjalanan sekitar 8 jam. Kota Ampana
adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Tojo Una-Una,
Sulawesi tengah dan merupakan kota singgah bagi mereka yang ingin
melanjutkan perjalanan ke Kep.Togean. Yang menarik dari kota Ampana
adalah fenomena pantai tanjung api di teluk tomini, karena api terus
menyala dari dalam pasir karena adanya gas alam yang keluar secara
alami, namun sayangnya kami tak sempat ke sana. Rate harga hotel di
sana antara 100rb-250rb/nett, kami menginap di hotel Oasis dg rate
150rb/nett. Makanan khas di kota Ampana adalah kaledo yaitu semacam sop
kaki sapi yang dihidangkan dalam porsi besar. Untuk menuju ke kepulauan
Togean kita bisa berkoordinasi dengan pemilik penginapan atau
menghubungi langsung ke resort yang kita inginkan. sebagai contoh hotel
Oasis yang kami inapi memberikan akses langsung untuk membeli tiket
kapal ke P.Wakai dan menyewa kamar di Paradise resort
 
Kepulauan Togean (P.Wakai-P.Kadidiri)
Kepulauan
Togen adalah taman nasional yang terletak di teluk tomini dan merupakan
surga bagi para diver dan sangat bagus untuk snorkeling, saking
jernihnya air laut bahkan kita bisa melihat ikan hias dan soft coral
secara kasat mata dari atas permukaan lautnya. Dibandingkan dengan
Bunaken, keindahan alam bawah laut kepulaun Togean jauh lebih
indah..seperti yang dituturkan oleh salah satu wisatawan asing yang
gemar diving. Resort yang biasa d gunakan untuk menginap terletak di
P.Kadidiri dan P. Katupat tapi umumnya para wisatawan lebih memilih
untuk menginap di P.Kadidiri dengan perjalanan 30menit menggunakan boat
dari P.Wakai. Untuk menuju kepulauan Togean lebih mudah apabila dari
Ampana dibandingkan dari Gorontalo.  Dari ampana dapat
diakses dengan kapal laut selama sekitar 5 jam dg biaya 40rb/0rg dengan
jadwal pemberangkatan kapal 2 hari sekali.
 
Pemberhentian
kapal adalah Pulau Wakai dimana kebanyakan warga tinggal. Apabila kita
telah memesan tempat di salah satu resort kita akan langsung dijemput
dengan menggunakan boat. Ada 3 resort yang terletak di P.Kadidiri yaitu
Black Marlin (bisa d cek di www.blackmarlindiving.com), Paradise (Kadidiri 
ParadiseDive Resort, telp : + 62 431 844 082) dan
Lestari, sementara satu lagi Fadhillah terletak di P.Katupat yang
berjarak 1 jam perjalanan dengan boat dari P.Wakai. Harga rata-rata
resort antara 90rb/org/hari sampai dengan 200rb/org/hari udah termasuk
makan 3 kali sehari. Jangan heran kalau kesana bisa jadi kita adalah
satu2nya wisatawan lokal yang ada seperti yang kami alami karena saat
ini liburan musim panas di Eropa maka banyak sekali turis asing yang
datang dan menginap di P.Kadidiri. Di awal kami sempat khawatir gak
kebagian tempat menginap tapi akhirnya kebagian kamar juga di Paradise
dg rate 200rb/org/hari. Selain pengelola resort dan para tamunya tak
ada warga lain yang tinggal di P.Kadidiri tersebut.
 
Sebenarnya rencana kami hanya semalam di P.Kadidiri tetapi ketiadaan kapal 
menuju Gorontalo yang
seharusnya sesuai jadwal ada  (dikarenakan sedang dalam pengurusan SIB
-surat ijin berlayar) menghambat perjalanan kami karena artinya kami
harus kembali menginap dan menyewa boat dg harga yang cukup mahal 2,5
jt-3 jt itupun hanya sampai ke Marissa dan harus melanjutkan dengan
perjalanan darat selama 5 jam menuju Gorontalo. Singkat cerita kami pun
menyewa boat dengan sebelumnya cari 3 temen untuk sharing cost sewa
boat. Dengan kapasitas maksimal 6 penumpang kami berangkat pagi sekali
menuju Marissa, adapun lama perjalanan 5 jam dengan di temani gelombang
laut setinggi1 – 1,5 meter. Dari Marissa kami berenam melanjutkan
perjalanan dengan menyewa kendaraan seharga 300rb.

Gorontalo
Setelah
perjalanan selama kurang lebih 10 jam dari P.Kadidiri, sore hari kami
baru tiba di Gorontalo dan bis menuju manado baru ada keesokan harinya
maka kami memutuskan untuk menginap d salah satu hotel yaitu hotel
Melati dengan rate 160rb/nett. Makanan khas di Gorontalo adalah Milu
semacam sup jagung, sementara sisanya tak beda dengan makanan khas
Makassar maupun Manado. Kami menyempatkan diri keliling kota dan
mengunjungi kantor gubernur Gorontalo yang memiliki arsitektur seperti
white house yang terletak di atas bukit.
 
Manado
Perjalanan
Gorontalo-Manado bisa di tempuh dengan bis selama 8-9 jam sedangkan
dengan travel bisa di tempuh selama 7 jam dan harga travel bervariasi
sesuai dengan posisi duduk kita d mobil tersebut. Pada umumnya mobil
travel yang dipakai adalah avanza dg rate harga yaitu 100rb kalau duduk
paling belakang, 125rb d tengah dan 150rb duduk di samping sopir. 


Di Manado kami menginap di
Unique inn, sebuah penginapan yang terletak di atas jalan raya, kalau
di lihat penginapan tersebut menempati seperti lorong penghubung yang
ada di pasar Mangga dua Jakarta yang menghubungkan antara dua gedung
dengan rate harga 90rb-160rb/nett. Kami keliling Manado selama sehari
dengan menyewa angkutan umum seharga 250rb/hari, kami menyempatkan diri
melihat pemandangan dari kaki gunung Lokon d lanjutkan ke Danau Linow,
Danau Tondano, Pasar Tomohon, Desa Woloan yang terkenal dengan kawasan
industri rumah panggung yang bisa di bongkar-pasang. Berikutnya kami
menuju Sawangan-Airmadidi dimana terdapat kompleks pemakaman zaman kuno
yaitu berupa peti-peti kubur (waruga) yang terbuat dari batu berbentuk
kubus atau persegi panjang dan tidak ditanam di dalam tanah biasanya
peti-peti kubur tersebut diletakkan di depan rumah. Hal yang menarik
adalah jenazah diposisikan duduk agar dapat dimasukkan ke dalam waruga
tersebut. Di sekitar komplek pemakaman ada semacam relief yang
menggambarkan bagaimana prosesi pemakaman menggunakan waruga.
Perjalanan hari itu kami akhiri dengan mengunjungi kuil Kwan Kong dan
Ban Hin Kiong setelah sebelumnya melihat sunset di pelabuhan dekat TPI
Tumumpa.
 
FITA


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke