Kira kira sudah hampir 2 minggu aku terdampar di Pemuteran sini. Awal ceritanya begitu aku lulus kursus intruktur selam di Sanur Bali, guruku merekomendasikan aku ke dive centre Pemuteran yang kebetulan lagi kepayahan menghandle musim liburan turis eropa kali ini. And here I am.
Pertamanya sih kesannya agak parah. Axis gak jalan disini. Esia apa lagi. Im2 kadang jalan kadang enggak. Nyobain simpati sama ajah. Duh mati deh awak. Later aku dapet waktu browsing yg tepat yaitu jam 4 pagi waktu sini atau jam 3 pagi waktu jakarta hahaha. Bangun pagiiiii tiduur lagiiiiii. Hal pertama yg bikin aku bertahan tentu saja di Pemuteran sini turis bule memenuhi pantai yg tentu saja berbikini yah tahu lah, orang Jakarta khan kampungan di Bali kalau liat cewek bule bikini xixixi. Hal kedua adalah ada proyek bio rock yg terkenal itu. Penanaman terumbu karang yg dilakukan dengan konsistensi luarbiasa selama bertahun2 yg membuahkan hasil dikenalnya situs ini oleh turis2 Eropa. Hal ketiga ya tentu saja bisa menyelam gratisan di Menjangan dan situs2 selam sekitarnya dengan fasilitas 5 star PADI dive centre yg harganya premium itu hehehe. Namun ada hal lain yg ternyata menarik juga yg aku temui disini. Budaya khas Bali yg adi luhur disertai dengan toleransi nya itu. Pertama2 aku selalu ditanya asalnya dan tentu saja dijawab dari Jawa/Jakarta. Hal ini disertai dengan saling memperingatkan diantara tuan rumah bahwa makanan ku gak boleh ada babinya. Wah luar biasa bahwa mereka sendiri yg menjaga perasaan tamunya. Tentu saja aku jawab lagi gak usah kawatir karena aku pemakan segala hehehe. Nah habis itu keluarlah makanan "aneh-aneh" itu hehehe. Lumayan, kadang ada rusa kesasar di kebun penduduk setempat dan berakhir antara lain di piring makan ku hehehe. Sering juga malamnya ditawari minum tuak dan arak bali. Ini juga mengundang kekaguman. Siapa bilang minuman keras berhubungan dengan kekerasan? tidak di kampung Pemuteran. Kita ngobrol sepanjang malam dan selain aku ditawari minuman dengan peringatan kalau gak kuat ya sudah boleh menolak kok. Dan semuanya berakhir damai. Selalu damai. piss maaan. Suatu saat aku ikut upacara daratan 3 bulanan bayi di satu rumah. Dan wah, baru kali ini aku lihat cewek2 menusuk nusukkan keris panjang itu ke dada mereka sendiri. Setahu aku sih biasanya di tari barong pria yg melakukan itu. Di Pemuteran sini, hampir semuanya wanita yg "kebal keris" semuanya terjadi di depan mata ku. Karena ini acara lokal, gak ada bule disini. Cuma aku doang dan memang bukan acara turis. Murni budaya setempat. Aku sempat rekam tarian ini dengan video handphone resolusi rendahku. Mau aku upload ke facebook segera setelah aku dapet akses internet yg rada cepat. Dengan maksud agar segera di identifikasi dan diberi hak paten sebelum diakui oleh negara lain. Salam dari Pemuteran. Joe
