Kinabalu memang cukup mahal, malah mulai September nanti kata temen dari negeri tetangga cost-nya malahan nambah, karena ada aturan baru bahwa pendaki bukan hanya menginap di Laban Rata tapi juga harus menginap di area Kinabalu Park (jadi menginap 2 malam) yang berarti sebenarnya juga menambah pemasukan bagi pihak pengelolanya. Temen ini yang sudah bolak-balik ke sana, setiap mendaki juga terkena aturan harus disertai pemandu (kalo ga salah 1 pemandu untuk 5 pendaki), cuma tarifnya dia kena lokal karena WN sana.
Meski memang termasuk mahal, tapi satu hal yang saya salut, yaitu fasilitas juga memadai. Setiap pos istirahat ada bangunan beratap dan tidak bocor, ada sumber air dan toilet. Khusus untuk toilet ini sangat dijaga kebersihannya (setiap hari dibersihkan oleh petugas). Jika Gunung Gede sebagai Taman Nasional mau diberlakukan seperti Kinabalu, prasarana harus dibangun dulu yang memadai. Di pos Kandang Badak, hii.... banyak sekali 'ranjau' bertebaran, bahkan di Alun-Alun Suryakencana ada yang BAB dekat dengan sumber air, sehingga ga tega juga mo memanfaatkan air di sungai kecil yang sebenarnya bisa buat masak. Jika mau diterapkan seperti Kinabalu, pendaki dibatasi (kalo ga salah per hari tidak boleh lebih dari 150 orang), barangkali bisa juga untuk recovery lingkungan. Ngiri lihat Kinabalu gunungnya benar-benar bersih. Aturan di sana memang ketat, lebih dari jam 5 pagi di Pos terakhir (lupa namanya), pendaki benar-benar tidak boleh melanjutkan perjalanan. Di pintu gerbang juga dijaga sampai pendaki terakhir yang harus turun pada hari itu sudah melapor. Cuma kalo fisiknya lemah dan harus ditandu misalnya, ngeri sama besaran biaya yang akan dikenakan kepada pendaki ybs. Beda dengan di Indonesia selama ini, kalo ada yang memerlukan pertolongan banyak sukarelawan yang mau membantu. Cuma bagi yang mendaki gunung benar-benar untuk menikmati alam, mungkin akan terasa kurang nyaman dengan situasi seperti ini dimana pendaki tidak boleh nge-camp sembarangan, apalagi jumlah pendaki dan harinya juga dibatasi. Jika memang terasa berat, dan kita mengalihkan pendakian ke gunung lainnya, mudah-mudahan bagi beberapa orang yang biasa membuang sampah sembarangan, tidak memindahkan sampah ke gunung lainnya lagi. Mari mendaki dan tetap menjaga kebersihan lingkungan. Wassalam, Endah RH - rindujugasama-tngp- ----- Original Message ----- From: alfin mahfuz daulay To: [email protected] ; stella_mogot Sent: Thursday, September 03, 2009 11:54 AM Subject: Bls: [indobackpacker] Re: [Tanya]Gunung Gede 3 hari 2 malam (BOLEH?) sedikit komen.. sebenarnya sah-sah aja dan bagus-bagus aja kalo TN kita mulai memberlakukan peraturan yg lebih ngejaga kebersihan dan keasrian TN.. niat nya bagus bgt dan harusnya kita dukung.. cuma ya harusnya agak ditoleransi jg beberapa komunitas pncinta dan penikmat alam di tanah air yg sebelomnya dah bolak-balik kesana. komunitas MAPALA misalnya, ms apa iya harus dipandu lg? smentara kita udah terlalu sering naek turun (mgkn hapal jg jalurnya)?.. ato hiker-hiker pemula (anak SMU SMP yang byk di daerah sekitar Jabodetabek dan Bandung) yg mgkn keterbatasan dana dan gak punya budget sampe beratus2 ribu? jgn sampe keterbatasan ini ngalangin mereka bwt mulai mencintai dan menikmati alam kita.. gw cuma gak pengen aja TN-TN kita kyk di negeri seberang (Malaysia, red). sekedar sharing, bulan lalu gw nyoba hiking ke Kinabalu Park. udah coba imel buat booking dan gak dibalas, gw coba go-show utk mencari peruntungan. ternyata full-booked dan nunggu cancellation juga kagak ada. yg bikin gw terhenyak, dana paling minim yg harus dibawa tu skitar 500RM, sekitar 1.5jt IDR. wow... mgkn naek gunung termahal yg pernah gw alami kalo gw jadi kmrn tu.. gw lgsg balik kanan, mikir mending gw abisin duit bwt lebaran di kampung ni. hehe.. dana sgitu pd saat seperti ini serasa krg pas. tp gw bakal balik lg ksana kapan-kapan.. ngomongin fasilitas dn akomodasi emg dsana cukup bagus lah, tp dgn dana sebesar itu, hanya berapa gelintir org si yg sanggup? kmrn emg dsana bertebar wisman yg khusus dtg bwt hiking, yg emg mereka tujuan utk ngelancong dan siap dgn dompet tebal.. warga sekitar? ato daerah laen? yg turis domestik? mgkn akan berpikir ulang kalo dsodorin angka segitu.. kalo di indonesia? hmmm.. gw agak sedikit yakin, kalo peraturan ini "saklek" dijalankan seperti ini, beberapa komunitas pasti keberatan.. gak bakal dah kita temuin berpuluh-puluh tenda lagi di mlm minggu biasa di Mandalawangi... krn emg mayoritas yg datang ke Gede Pangrango itu ya komunitas dgn budget yg terbatas itu.. sekedar gak mau TN kita kosong tanpa ada pengunjung tapi tetap mau TN kita terpelihara dan asri.. mari sharing dan berdiskusi..
