(Lanjutan)
 
Hari 7: Gili Trawangan-Gili Meno-Gili Trawangan
Enaknya pergi cuma berdua, kompromi jadwal perjalanan lebih gampang, dan kami 
pun bisa berganti2 jadwal mendadak, kapan aja mau, dan tergantung situasi. 
Contohnya hari ini. Tadinya mau island hopping Gili Meno sekaligus Gili Air, 
trus balik ke Trawangan, tp karena jadwal perahu tidak memungkinkan, akhirnya 
diputuskan hari ini ke Gili Meno aja, gili yg terkecil di antara 3 gili. 
 
Jalan kaki ke dermaga yg cuma selemparan batu dari tempat kami menginap, 
langsung nanya ke loket tiket. Tiket island hopping ke Meno Rp 20.000, 
berangkat sekitar pukul 10 (sebaiknya sdh stand by di dermaga pukul 9). Hari 
ini perahunya penuh banget, 50 orang! Memang perahunya lebih besar sih dari yg 
kami tumpangi  kemarin, tapi tetap aja rasanya…. kepenuhan gak sih? Lirik punya 
lirik, kelihatannya perahu juga ngga dilengkapi jaket pelampung. Ketika saya 
mengingatkan hal itu ke Zuzu yg ngga bisa berenang, dia agak sedikit gentar. 
Tapi namanya juga liburan, ya dibawa senang aja lah ya. 
 
Hanya 20 menit, sampailah kami di Gili Meno. Dermaganya juga ada di pesisir 
timur. Tipikal pulaunya kurang lebih sama: pasir putih, laut gradasi hijau 
biru, gersang, banyak pohon yg hanya tinggal dahan2 kering, berdebu. Sebelum 
keliling pulau, kami ngecek jadwal perahu balik ke Trawangan, pukul 3 sore. 
Tujuan kami pertama: danau, yg terletak dekat ke pesisir barat dan agak di 
tengah2 pulau. Dari dermaga kami jalan kaki dan berbelok di penginapan 
Casablanca, mengikuti rute ke danau. Danaunya sih biasa2 aja, dan kecil. Ya 
maklum lah, pulaunya juga kecil. Ngga ada aktivitas apa2 di danau. Pengen coba 
ngerasain apakah airnya tawar atau asin, saya coba mendekati tepian. Tp 
tanahnya sangat lembek dan kayaknya mblesek gitu kalo diinjak, jadi saya 
mengurungkan niat. 
 
Kami berjalan lagi ke rah utara, tapi masih di pesisir barat. Melihat café yg 
menarik, Diana Café. Katanya sih ini sunset café di Meno, posisinya menghadap 
ke Gili Trawangan. Kami pilih beruga yg di atas, ada ayunannya pula. Minumnya 
sih cuma juice semangka 10.000, tapi nongkrongnya lama banget. Tepatnya bukan 
nongkrong sih, tapi tidur2 ayam ditemani semilir angin. Satu di ayunan, satu di 
bantal2 yg disediakan (ganti2an). Indahnya dunia…. Diana café ini juga punya 
bungalow2 sederhana, ada 3 kalo gak salah. Kapan2 ke Meno enak nih kayaknya 
nginep di sini. 
 
Udah jam makan siang, kami niat pintong (pindah tongkrongan). Jalan kaki lagi, 
sambil sesekali berhenti motret2 gersangnya pulau. Justru kegersangan ini 
cantik buat difoto lho. Pilihan jatuh pada Jali Café yg bersebelahan dengan 
dermaga. Restonya terdiri dari beberapa beruga yg dilengkapi bantal. Sambil 
nunggu makan siang siap, saya ketiduran lagi, hehe… dasar tukang tidur! Menu 
saya siang ini olah-olah. Ini katanya masakan khas gili. Saya gambling aja 
coba2, ternyata sukses. Enak, gurih! Olah-olah ini semacam sayur lodeh yg 
isinya kecipir, kacang panjang, kol dan cabe.  Saya sukses, tapi Zuzu nggak. 
Bihun goreng pesanannya banyak menggumpal, rasanya pun agak hambar. Di sini 
kami sempat ngobrol dengan bule Italia dan pacarnya (cewek Bali sepertinya). 
Berhubung dia tanya2 soal pulau mana lagi di Indonesia yg bagus, ya saya 
promosi abis ttg Raja Ampat deh, juga Pulau Cubadak (wlpun yg satu ini saya 
belum pernah kunjungi). 
 
Pukul 15.20 perahu yg kami tumpangi berangkat kembali ke Gili Trawangan. Harga 
tiket sama Rp 20.000. Meskipun ombak cukup besar, tapi perjalanan hanya 
ditempuh dalam 15 menit.  
 
Sampai di Trawangan kami kembali sewa sepeda di tempat yang sama, 2 jam Rp 
17.500. Kali ini tujuan kami adalah sunset view. Jadi kami bersepeda ke arah 
selatan dan di ujung pulau berbelok ke kanan (barat). Ada sunset café yg sudah 
tidak buka. Katanya sih kadang2 masih buka di waktu2 tertentu aja. Kondisi 
sunset café ini masih cukup baik walau berdebu. Di sinilah kami duduk manis 
menunggu sunset. Sayang, lagi2 saya gagal mendapatkan foto matahari tenggelam 
yg nyebur ke laut, karena ada gumpalan awan. Gak pa pa lah, masih tetap cantik 
dan romantis kok suasananya.  O ya tadinya kami hendak naik cidomo untuk ke 
sunset view ini. Tapi karena kami mau one way aja (pulangnya niat jalan kaki 
sekalian mampir makan malam), kelihatannya tukang cidomonya ogah2an. Untuk one 
way, si cidomo menawarkan Rp 50.000. Jauh lebih hemat genjot sepeda lah.
 
Mengobati rasa penasaran kemarin malam, malam ini kami buru2 ke Tir Na Nog 
(artinya “The Land of Youth”) supaya dapat tempat buat makan malam. Pesan pizza 
dan potato wadges untuk berdua dan lemon tea (Zuzu pesan cocktail). Pizza-nya 
boleh tahan lah. Tp potato wadgesnya kurang bumbu. Overall, sukses, habisnya 
120.000. Suasana oke banget. 
 
Hari 8: Gili Trawangan-Gili Air-Senggigi
Bangun pagi2, keluar ke pantai di seberang penginapan. Beda banget suasana 
siang-malam dengan pagi buta di Gili, sepiiii banget. Niatnya mau ngelihat 
matahari terbit. Sayang, matahari menyembul dikit banget. Ngga ada cantik2nya 
buat difoto. Yah… sunrise gagal. 
 
Hari ini check out dan island hopping lagi, kali ini ke Gili Air. Biar lengkap 
3 gili dijelajahi.  Meskipun jaraknya lebih jauh, harga tiket island hopping ke 
Gili Air sama dengan ke Meno, 20.000. Berangkat pukul 9.30,perahu mampir di 
Gili Meno untuk menurunkan penumpang,  lalu tiba di Gili Air kira2 pukul 10.30. 
Lama waktu tempuh sebenarnya cuma 40 menitan kalau nonstop. Dermaga di Gili Air 
terletak di pesisir selatan pulau. 
 
Ogah bawa2 ransel, kami menitipkannya di ticket office dekat dermaga, 1 ransel 
= 5.000. Acaranya hari ini, apa lagi kalau bukan keliling pulau dengan jalan 
kaki. Penyewaan sepeda sih ada, cidomo juga ada, tapi kami pengen santai dan 
bisa berhenti di mana pun suka. Jadi, berjalanlah kami di tengah sengatan 
matahari ke arah barat lalu berbelok ke utara (searah jarum jam). 
Pemandangannya kurang lebih sama dengan Trawangan dan Meno. Bagian yang agak 
ramai ada di pesisir  timur, apalagi karena di sini banyak resort2-nya dive 
operator seperti Blue Marlin dan Dream Divers.  
 
Panas yg menyengat membuat kami harus mencari tempat berteduh untuk minum. 
Pilihan jatuh pada Bintang Beach Pura Vida. Kami pilih tempat duduk lebar 
dengan bantal2 di bawah pohon rindang, tanpa atap. Biasa, minumnya sih cuma 
segelas juice, tapi nongkrongnya yg lama, untuk ngumpulin energi lagi buat 
jalan kaki.  Menjelang makan siang, baru kami pintong lagi. 
 
Memilih tempat makan siang di tempat wisata yg baru pertama kita kunjungi 
gampang2 susah ya. Akhirnya kami memilih Sasak Warung, salah satunya karena 
tempatnya asyik dengan beruga2 berbantal menghadap pantai, juga karena disebut 
dalam Lonely Planet yg ditenteng2 Zuzu. Kali ini giliran Zuzu yg cukup sukses 
dengan pilihannya: fish perapek (atau parepak? Lupa….), fillet ikan dimasak 
bumbu kecoklatan (kecap atau gula, saya kurang paham). Saya? Plecing 
kangkungnya hambar banget! Tempe gorengnya kelihatan enak, garing, tapi 
ternyata juga hambar. Bumbu kacang yg menemani tempenya sami mawon, ngga 
nolong. Cuma ketolong dengan sambel botol. Mahal pula tempe goreng seporsi 
15.000…. emang banyak banget sih isinya. Tp sebagai penggemar tempe goreng, 
saya cukup asyik menikmatinya sampe2 bule di sebelah ngiler. Dia tanya, apa yg 
saya makan. Akhirnya saya jelaskan dan saya tawari mereka untuk mencicipinya. 
Mungkin kalo tempenya gurih, tuh bule bisa minta lagi
 kali… hehe. O ya, pelayanan di warung ini juga lamaaaaa….. Saya sampe 
ketiduran nunggu pesanan. Halagh…. Bilang aja emang doyan tidur…. Abis gimana 
ya, ada bantal, ada angin semilir, ada suasana tenang, klop buat bobo. 
 
Dari Sasak Warung, jalan kaki lageeee….. sampe akhirnya nemu lagi dermaganya. 
Gila… berarti kali ini kami “lulus” ngelilingin pulau, full! Kalau Trawangan 
kan meskipun naik sepeda, kami tak sempat menjelajah setengah dari pesisir 
barat. Sementara Meno, setengah pulau bagian bawah/ utara (baik pesisir barat 
maupun timurnya) tidak sempat juga kami jelajahi. 
 
Kali ini untuk ke pinggir (istilah penduduk Gili untuk Bangsal atau Lombok 
Daratan), kami naik public boat. Sesuai petunjuk dari orang di ticket office, 
kami sudah standby di dermaga dan membeli tiket sebelum pukul 3 sore. Harga 
tiket Rp 8.000 saja. Cukup lama kami menunggu di dermaga. Sementara petugas 
tiket tiap2 kali ngumumin lewat pengeras suara, tiket ke Bangsal tinggal 
sekian… sekian…
 
Akhirnya setelah penumpang penuh (kalo gak salah hitung sih 25 orang), ada 
turis bule, ada penduduk lokal, perahu berangkat menuju Bangsal. 20 menit 
sampai. Baru mau turun perahu, sudah ada orang yg menawari cidomo untuk ke 
depan. Dari 20 ribu, turun 15 ribu, sampai 10 ribu, kami tetap menolak. Karena 
memang kami kepingin jalan kaki aja sampai nemu taksi. Jalan kaki pelan2 
lumayan lah hampir 20 menit sampai ketemu terminal taksi Blue Bird. Btw, 5 ABG 
asal Rusia yg seperahu dengan kami, kami lihat bukannya manggil taksi, tapi 
ternyata menghampiri garasi mobil yg ada di terminal. Rupanya mereka sewa mobil 
nyetir sendiri dan mobilnya dititipkan di garasi terkunci di situ. Tahu-2an aja 
ya mereka. Saya aja ngga tahu dan ngga pernah denger. 
 
Ngomong2 soal sewa mobil, dari keterangan yg kami dapat dari staf Hotel Elen, 
turis domestik malah ngga dikasih sewa mobil di Lombok tanpa supir, sementara 
turis mancanegara boleh. Apa sebab? Karena udah ada kejadian beberapa kali, 
mobil yg disewa dibawa kabur. “Padahal yg nyewa keren lho, nginepnya aja di 
Sheraton, perempuan lagi!” cerita mereka. Wah, sial, gara2 ulah segelintir 
oknum, yg lain ikut kena getahnya. 
 
Naik taksi dari Bangsal ke Hotel Elen di Senggigi Rp 70.000. Kesimpulan soal 
transport ke Gili, kalau berdua, lebih hemat naik taksi dan beli tiket public 
boat di Bangsal daripada ambil shuttle boat yg per orang 60.000. Coba hitung 
aja: taksi per orang jadi 35.000, tiket public boat 10.000; total cuma 45.000; 
lebih hemat 15.000. Apalagi kalo ber4, jauh lebih hemat lagi. Tapi kalau 
sendiri, pastilah lebih hemat ambil shuttle boat. 
 
Untuk makan malam kami cari warung tenda sederhana di samping Square Resto & 
Lounge. Kami ambil menu paket ayam taliwang plus cah kangkung. Uenaaak tenan! 
Bumbu dan sambel semuanya terasa pas di lidah dan pas di kantong. Saking 
serunya kami makan, sampai2 2 cewek bule di sebelah yg udah selesai dengan nasi 
gorengnya ngiler ngeliatin kami makan. Saya menikmati banget lho suasana 
disirikin ama wisman kalo lagi berada di negeri sendiri dan makan makanan lokal 
yg nikmat, yg mereka kepengen tapi mungkin ngga tahu namanya. Soalnya kan saya 
juga pernah berada di posisi mereka saat jalan2 ke negeri orang, lihat penduduk 
lokal di sebelah kok santapannya menarik banget. Pengen pesen dengan main 
tunjuk, tapi kadung udah mesen. Hehe, dengan semangat “bales dendam” saya makin 
over acting menggigiti ayam taliwang saya sambil mengecap2 sambelnya biar tuh 
bule tambah ngiler. Hahaha, norak ya!
 
Catatan: 
-          ATM:  Dari hasil pemantauan, di kawasan Senggigi ini ada 2 ATM BCA 
(yg satu dekat Square, satunya lagi dekat Senggigi Jaya Supermarket), ATM 
Mandiri (di seberang Square), ATM BNI, dan ATM BII, yg lokasinya kurang lebih 
berdekatan. Di Gili Trawangan cuma ada satu2nya ATM Mandiri di depan Villa 
Ombak. 
-          Supermarket: Di kawasan Senggigi ada dua, Senggigi Jaya Supermarket 
(di seberang jalan masuk menuju Senggigi Beach, di sebelah butik Ciokolata) dan 
Senggigi Abadi Supermarket (setelah Square). Barang2 dan harganya kurang lebih 
sama. Di sini dijual juga T-shirt2 Lombok, cukup variatif dengan harga 
30ribu-50ribuan (lebih murah dari de’Nom, toko oleh2 di Cakranegara; tapi 
desain2 kaos di de’Nom lebih eksklusif, walaupun ada yg sama juga). Kalau beli 
T-shirt sama abang2 penjual, harganya seragam Rp 50.000 utk 3 kaos. Tp 
desainnya itu2 aja, gambar cicak melulu kebanyakan. 
 
Hari 9: Senggigi-Bandara Selaparang-Surabaya-Jakarta/ Semarang
Hari terakhir di Lombok. Rencana leyeh2 di Pantai Senggigi akhirnya 
direalisasikan hari ini. Berhubung hari Minggu, pantai rame banget dengan 
penduduk lokal yg menikmati liburan bersama keluarga. Bahkan sebelum sampai 
pantai, sudah kelihatan padatnya area parkir motor. Tidak ada yg terlalu 
menarik di sini. Pantainya biasa2 aja. Jalan agak ke kiri, setelah Sengigi 
Beach Hotel, suasana lebih sepi, dan pasirnya agak beda, nyaris seperti pasir 
mericanya Kuta. 
 
Sesuai anjuran penjemput kami dari Lombok Trekking, kami mencoba sate bulayak 
yg banyak dijual di tepi pantai. Satenya ada ayam dan sapi, potongannya kecil2. 
Yg membedakan, bumbu kacangnya memakai santan sehingga lebih gurih, ditambah 
potongan rawit dan perasan jeruk limau, dan lontongnya beda, dibungkus dengan 
daun kelapa, mirip lepet di Jakarta (atau Jawa ya?). Lontong inilah yg disebut 
bulayak. Overall menurut saya biasa2 aja. Tapi bolehlah dicoba, ngilangin rasa 
penasaran, cuma 15.000 seporsi.
 
Usai check out sekitar pukul satu, kami makan siang di Restoran Taman di 
seberang Hotel Elen. Menu yg kami pilih ngga jauh2 dari ayam taliwang dan 
plecing kangkung. Saya kecele, ayamnya gede banget buat ukuran makan sendiri. 
Sepadan sih dengan harganya. 
 
Baru aja selesai makan, Pak Ihsan dari Lombok Trekking sudah datang menjemput 
untuk ke Bandara Selaparang (ini bagian dari paket pendakian). Sampe bandara 
cuma sekitar 20 menit. Pas ngantre check in di konter Lion dg tujuan Surabaya, 
Zuzu baru inget trekking polenya ketinggalan di Hotel Elen. Rupanya setelah 
balik dari Gili, ngambil koper lagi di Hotel Elen, tas trekking pole-nya lupa 
diambil. Nelponin Pak Ihsan, dia ada acara keluarga, tidak sempat ngambilin. 
Nelpon Hotel Elen, mereka bilang ngga ada barang ketinggalan. Zuzu mau balik 
naik taxi, takut ketinggalan pesawat. Eh, tahunya Lion-nya delay 1 jam. 
Kepanikan kedua buat Zuzu, karena jeda waktu dg penerbangan dia selanjutnya dg 
Silk Air dari Surabaya menuju Singapura  sangat mepet. Jadi kalo Mat-Sub nya 
delay, udah pasti dia ketinggalan pesawat. Udah berusaha minta check in-in 
online dari Mataram, ngga bisa. Zuzu cuma bisa pasrah. Kalau saya sih emang 
sengaja ngasih jarak yg sangat aman dengan
 penerbangan lanjutan dg Airasia dari Sub-Jkt. 
 
Sampe Surabaya pukul lima lewat. Zuzu buru2 cari penerbangan pengganti ke 
Singapura. Udah ngga ada ternyata. Akhirnya dia memutuskan cari pesawat ke 
Jakarta aja. Untung dapet, Sriwijaya, harganya juga masuk akal, tapi mesti 
lari2an karena konter check in nya udah mau tutup. Dapet SMS juga dari Hotel 
Elen, trekking polenya ketemu. Lega.
 
Zuzu udah naik pesawat, saya masih menunggu, belum bisa check in karena 
penerbangan  Airasia ke Jakarta delay 1 jam (udah di-SMS tadi pagi).  Setelah 
akhirnya bisa check in jam 8-an, saat saya makan bakso di Depot Surabaya di 
lantai 2, eh tiba2 dapet SMS mengejutkan dari Zuzu. Ternyata karena buru2 check 
in, dia nyasar ke Semarang. Whaaaaat?? Rupanya konter check in Sriwijaya 
melayani penumpang yg  ke Jakarta dan Semarang sekaligus. Jadi Zuzu salah dpt 
boarding pass ke Semarang dan dia baru ngeh pas udah di dalam pesawat. 
Whoahahaha…. Mau ketawa ngakak, tp saya sendirian…. Ini rekor baru kata Zuzu, 
missed pesawat 2X dalam sehari.  Untung sampe Semarang, Sriwijaya nya mau 
ngasih hotel gratis dan antar jemput bareng kru ke dan dari bandara. Besok 
pagi2 sekali baru terbang ke Jakarta. Jadi malam itu saya udah tidur nyaman di 
rumah, Zuzu masih terdampar di Semarang. Bener2 perjalanan yang penuh warna. O 
ya, usaha Zuzu mengklaim kerugian yg
 diakibatkan delay-nya Lion sehingga dia ketinggalan pesawat lanjutan, ke 
asuransi perjalanaannya berhasil tuh. Beberapa hari lalu dia dapat penggantian. 
Selamat ya, Zu. Untung juga Zuzu kebawa kebiasaan Singaporean yg selalu beli 
asuransi perjalanan (FYI: Zuzu baru gabung di milis IBP ini setelah pulang dari 
Lombok—hasil komporan saya).  ---Selesai
 
Bisa lihat salah dua fotonya:
http://www.facebook.com/photo.php?pid=30679031&op=1&view=all&subj=580132127&id=1330360820#/photo.php?pid=2332997&id=580132127
 
http://www.facebook.com/photo.php?pid=30679031&op=1&view=all&subj=580132127&id=1330360820#/photo.php?pid=2332981&id=580132127
 
Salam,
Mayawati 
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke