Ternyata pada jaman kolonial Belanda, para jemaah haji Indonesia DISUNTIK MATI untuk menghindari perlawanan ...... Baru tau kan???
Sama, saya juga!!! Kaget loh pas tau. Alasannya apa? katanya Belanda takut kalau para Haji menjadi pintar dan kemudian membentuk partai2 perlawanan, makanya mereka di'karantina' di P.Onrust dan P.Khayangan. Waktu pertama dengar kalau di kedua pulau tadi adalah puing-puing reruntuhan Asrama Haji, saya dan beberapa teman tertawa. Kok rasanya ga penting yah kita ngunjungin asrama haji yang udah jadi reruntuhan???? Eh, ternyata kita semua keliru, karena begitu menginjakkan kaki disana, mulut kita semua jadi membulat "oooooo....." Kenapa? karena Asrama Haji-nya adalah asrama haji pada masa penjajahan kolonial Belanda 1911-1933. Yang mana pada masa itu untuk berangkat haji harus naik kapal laut dan perjalanannya memakan waktu bulanan, bahkan ada yg gak pulang. Yah, karena itu tadi, disuntik mati. Terutama bagi para jemaah yang dicurigai; dengan ciri-ciri: mencolok karena kekayaannya maupun kepandaiannya. Karena tidak semua orang bisa pergi haji pada masa itu, maka bangsal karantina haji pun dibagi-bagi alias terpisah bagi keturunan ningrat dan rakyat jelata. Selain Bangsal Karantina, disana kita juga temui bekas rumah dokter Belanda yang sekarang jadi Museum, Rumah Sakit, penjara dan Pemakaman Pemakaman ada 2 juga: Pemakaman Belanda yang sebagian adalah makam Noni-Noni Belanda (terlihat dari nama di nisan), makam Pribumi dan ada Makam yang dikeramatkan, yaitu bekas petinggi DI/TII yang namanya tidak ada di nisan, tapi disembah-sembah untuk minta berkah (heran yah, namanya aja ga ada padahal) Satu lagi yang unik disanan adalah penjaranya. Tidak terlihat jeruji besi disana, melainkan bangunan yang masih kokoh (hanya atapnya saja yang setengah runtuh) dengan pintu tinggi yang hanya digerendel, dan (ini nih yang unik) semacam GLADIATOR ARENA berukuran kecil yang terdapat di tengah penjara. Menurut guide-nya, arena ini dipakai untuk mengadu para tahanan, yang menang kemudian dilepas di Priok untuk kemudian ditangkap lagi. Gak jelas maksudnya untuk apa. Kekaguman saya adalah pada struktur bangunan yang kokoh dengan bata berlapis-lapis yang membuat benteng-benteng dan bangunan-bangunan tersebut masih terlihat kokoh. Diceritakan bahwa dulunya ada terowongan atau BUNGKER yang menghubungkan P.Bidadari (yang dulunya namanya P.Sakit), P.Onrust, P.Khayangan (dulunya P.Cipir) dan P.Kelor. Yang tersisa sekarang hanyalah lubang yang tertutup beton supaya tidak ada orang yang tercebur ke dalamnya. Trip 3 pulau yang dilakukan hanya 2 jam ini benar-benar mencengangkan saya. Bagaimana mungkin fakta sejarah yang hanya berjarak 15 menit dari Ancol ini sering terluputkan???? Amazing.... How to get there: Dari dernaga 17 Marina Ancol menuju P.Bidadari Rp. 265 ribu - one day trip (incld lunch di Bidadari), berangkat jam 11.00 kembali jam 18.00 Sewa perahu keliling 3 pulau Rp. 50 ribu/org, minimal 10 orang Retribusi di. P.Onrust dan P.Khayangan @ Rp. 2000/org. Di P.Kelor tidak bisa merapat (karena tdk ada dermaga) kecuali sedikit berendam http://shasasigit.multiply.com/photos/album/17 -- G.B.U - Shasa Sigit - (Fully circled with love & prayers, Under protection by Heavenly Father) Sent from JeBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! [Non-text portions of this message have been removed]
