Terima kasih untuk temen2 seperjalanan & juga berbagai informasi baik dari 
milis ini maupun informasi pribadi dari rekan2 penggemar jalan2. Berikutnya 
adalah gambaran perjalanan kami bulan Juli 2009, mudah2an berguna untuk temen2 
yg berniat jelajah tanah Makassar . Untuk trip pertama di suatu daerah kami 
memang ingin mengunjungi sebanyak2nya obyek wisata, sehingga jarang berlama2 di 
suatu tempat. Indonesia ini terlalu luas untuk dijelajah dlm waktu singkat. 
Tetep happy holiday, keep healthy & happy all the way! 
  
Hari 1 
§         Penerbangan Jkt-Upg, tiba pukul 21.00 di bandara Hasanudin, naik taxi 
carteran Rp.70.000 ke rumah teman di daerah Bukit Baruga. Menurut informasi ada 
layanan bus Damri tp krn sudah terlalu malam jd terpaksa memakai taxi carter. 
Istirahat untuk bertualang besok. 
  
Hari 2 
§         Hari ini mau  ke mana? Yg dekat saja di pusat kota yaitu pantai 
Losari, benteng Fort de Kock & mencari info ttg penyewaan kapal menuju berbagai 
pulau di sekitar Makassar. Losari terletak di pinggir jalan raya dgn struktur 
lebuh tinggi dr jalan dilengkapi bbrp kursi beton. Dari Losari naik angkot 
Rp.2.000 ke Benteng Fort. Masuk benteng Fort tidak ada loket karcis tapi 
dicegat di depan pos penjaga, diminta mengisi buku tamu & sumbangan sukarela, 
Tips : jangan beri terlalu banyak, cukup Rp.1.000 per orang karena di dalam 
benteng ada 2 museum di kiri & kanan yg memasang tarif masuk Rp.3.000/ orang! 
Museum ini cukup menarik krn memamerkan 2 mumi manusia yang masih utuh. 
  
§         Di seberang benteng Fort ada dermaga penyeberangan menuju pulau 
Khayangan dgn tarif Rp.30.000/ orang pp, kapal tersedia setiap 30 menit. Kami 
pun makan siang di RM. Lae2 yg terkenal di dekat RS Stella Maris. Harga makanan 
tidak terlalu mahal tapi…. ternyata menu cumi bakar di sini termasuk bonus 
tinta yg hitam legam hehehe. Menurut info seorg teman, org Makassar selalu 
memasak cumi beserta tintanya! 
  
§         Baru pukul 1 siang diputuskan berikutnya mengunjungi air terjun 
Bantimurung. Setlh meminta informasi dr penduduk sekitar kami naik angkot lagi 
ke arah pasar Sentral, lalu naik yg menuju Daya & lanjut angkot yg menuju 
Maros, masing2 tarifnya Rp.4.000. Terakhir di Maros naik angkot yang langsung 
menuju air terjun Bantimurung dgn tarif Rp.5.000/org. Tips : kunjungi 
Bantimurung pada hari Senin - Jumat. Selain bisa bermain2 air (ada ban sewaan 
utk main seluncuran di air terjun loh, seruuuu) juga ada 2 gua dgn stalagtit & 
stalagmit menarik . Puas bermain2 cicipi juga jagung bakar seharga Rp.1.000 
saja. Untuk oleh2 ada berbagai souvenir kupu2 warna warni, dr gelang, kalung, 
gantungan kunci sampai kupu2 yg diawetkan & dibingkai. 
  
§         Kembali naik rute angkot sebelumnya, kami turun di Lesehan Damai di 
seberang universitas Hasanuddin, tepatnya sebelum Carrefour. Restoran ini 
sangat kami rekomendasikan. Menu makanannya banyak & harganya…. harga 
mahasiswa! Benar2 murah & rasanya pun enak. 
  
Hari 3 
§         Pagi2 berkumpul di pangkalan bus Litha Jaya untuk berangkat ke Tana 
Toraja pukul 10. Tiket sudah dibeli sehari sebelumnya dengan harga Rp.80.000/ 
orang. Bus AC dengan sandaran kaki untuk selonjoran tampak nyaman shg kami 
memutuskan utk pulang ke Makassar hari berikutnya pada malam hari utk menghemat 
hotel. Perjalanan sekitar 8 jam, pemandangan cukup indah. Tiba di Rante Pao 
kami lsg membeli tiket balik utk pukul 21 esok malam, lalu kami menginap di 
hotel Indra tak jauh dari Litha Jaya. Tips : sebaiknya ambil rute Makassar – 
Tator – Makassar pd malam hari sehingga tdk perlu menginap di hotel, angkutan 
paling malam adalah pukul 21. Jangan lupa bawa jaket, kaos kaki & sarung, malam 
hari di bus sangat dingin! 
  
Hari 4 
§         Ini adalah Tomb Raider’s Trip. Obyek wisata di Tator terbagi atas 
bagian utara & selatan dgn jenis yg sama yaitu wisata kuburan. Diiringi hujan 
yg terus turun dr semalam, kami menyewa mobil dr hotel Rp.350.000 + supir. Kami 
memutuskan mengambil rute selatan saja krn kelihatannya lebih menarik. Yg 
pertama dikunjungi adalah tempat terjauh yaitu Suaya, 28 km dr Rante Pao, 
melihat makam batu & kuburan bayi di pohon (baby’s grave Kambira). 
§         Selanjutnya tetap mengunjungi makam : Londa, Ketekesu (desa tertua di 
Tator), Lemo sampai pukul 4 sore. Di Lemo ada gua yg bisa dimasuki pengunjung 
utk menyaksikan tengkorak. Pernah lihat kartu pos bergambar barisan rumah 
Tongkonan? Anda bisa mengambil gambarnya di Siguntu. Tarif masuk di tiap obyek 
wisata Rp.5.000/org. Puas berfoto2 & menatap takjub berbagai boneka Tau2 yg 
merepresentasikan org2 yg sudah meninggal, peti2 batu di kuburan gantung & 
menolak masuk ke goa untuk melihat2 tengkorak, kami menghabiskan hari untuk 
berbelanja kopi arabika khas Toraja & berbagai cendera mata sambil menunggu bus 
kami. 
  
Hari 5 
§         Tiba di Makassar pukul 6 pagi, sambil berkemas2 kami putuskan 
berikutnya ke Tanjung Bira. Selesai sarapan kami naik angkot ke pasar Sentral, 
naik angkot berikut tujuan terminal Malengkeri Rp.5.000, lalu naik angkutan 
berikut Rp.35.000/ org ke arah Bulukumba. Tujuan berikut ini sangat jauh & 
udara sangat panas. Sungguminasa – Takalar masih ada pepohonan, memasuki 
Jeneponto sangat gersang. Kami istirahat sejenak di mesjid Nurul Amin, membeli 
buah lontar yg dijual anak2 kecil untuk pelepas dahaga. Berikutnya kami 
disuguhi pemandangan tambak garam, juga minuman yg disebut Balong Tara terbuat 
dr pohon aren yg kabarnya baik untuk mengobati diabetes dijual di pinggir2 
jalan. 
§         Kota berikut yaitu Bantaeng adalah kebalikan dr Jeneponto, tampak 
subur & hijau. Di kota ini ada obyek wisata air terjun Bisappu yang akan 
dikunjungi besok.  Stlh Bantaeng barulah sampai di Bulukumba. Dari kota 
Bulukumba naik angkot yang disebut “pete2” menuju ke hotel Sapolohe di Tanjung 
Bira Rp.15.000/ org. Tarif hotel Rp.225.000/ malam. Perjalanan ini diakhiri dgn 
 pemandangan sunset yg memukau. Rasanya tak puas2 memandang keindahan alam yang 
terbentang di hadapan : pantai sepi dgn pasir sehalus tepung, matahari 
kemerahan di langit, ombak yg menyapu2 kaki. Serasa private beach dech. 
Malamnya duduk2 di pasir sambil memandang bintang2 yg begitu banyak, sayang ga 
bawa sleeping bag pdhl pingin sekali tidur di pantai, maybe next time. 
  
Hari 6 
§         Bangun pagi2 ternyata awan menutup langit, tapi tetap menyenangkan 
duduk2 di pasir sambil bermain air. Ada perahu juga untuk menuju pulau 
Lihukanglohe di seberang Tj. Bira. Kalau sempat mampirlah ke Tanah Beru tempat 
pembuatan perahu phinisi yg terkenal seantero jagat. Puas berfoto2 & sarapan 
perjalanan dilanjutkan menuju Bantaeng : air terjun Bisappu! Tiket masuk 
seharga Rp.2500/ orang. Begitu memasuki jalan setapak yg mendaki tampak 
pemandangan air terjun dari kejauhan, dihiasi batu2 kali sebesar meja & kulkas 
5 pintu! Takut? Tentu tidak, tantangan memanjat bebatuan besar terasa 
membangkitkan semangat. Apalagi bayangan bermain2 air yg dingin & segar tampak 
menggoda. Air terjun Bisappu mempunyai ketinggian bbrp puluh meter dgn aliran 
air yang deras. Tips : sebaiknya usahakan untuk tiba di air terjun sepagi 
mungkin selain memanjat2 batu membutuhkan waktu lama + ekstra hati2, juga krn 
angkutan keluar dari area air terjun sangat
 terbatas, bisa menunggu sampai berjam2. 
§         Karena lama menunggu angkutan dr Bisappu, kami tiba di kota Bantaeng 
sore hari, sekitar pukul 15 lewat. Sambil berjalan kami sempat mampir di pos 
polisi lalu lintas yg berbaik hati memanggilkan angkutan untuk kembali ke 
terminal Malengkeri. Tarif kali ini Rp.25.000/ org krn dianggap kenalan pak 
polisi hehehe. 
§         Hari ini ditutup lagi dengan makan malam di Lesehan Damai lalu 
tertidur lelap. 
  
Hari 7 
§         Target berikut adalah Malino, kota berhawa sejuk dgn hutan pinus. 
Menurut informasi teman, perjalanan ke malino melalui jalan yang rusak parah. 
Dengan meneguhkan hati kami kembali ke Malengkeri & menyewa mobil apv seharga 
Rp.300.000 pp. Mungkin krn kondisi jalan yang rusak parah maka sedikit sekali 
mobil yg bersedia ke Malino pp dalam satu hari. 
§         Terbukti perjalanan sangat menyebalkan : jalanan yg rusak parah, 
macet krn hrs mengantri satu persatu ditambah debu yg terus mengepul dgn 
meriahnya, Setengah perjalanan kami singgah di waduk serbaguna Bili2 yang 
terletak di kec. Lorong Lae. Wah indahnya, spot yg bagus untuk foto2. Mendekati 
Malino udara memang terasa sejuk & barisan pohon pinus mulai tampak di kiri 
kanan jalan. Di Malino ini sebenarnya ada air terjun, Cuma krn sopir tdk tahu 
letaknya maka diskip & lsg kembali dgn kelelahan berselimut debu ke Malengkeri. 
§         Kembali ke Makassar menghabiskan sore di Losari untuk menikmati 
sunset yg indah : matahari bulat merah tenggelam perlahan2 di balik pulau Lae2! 
Sempat mencicipi Jalangkote, pastel ala Makassar yg dimakan dgn saus khas. 
Lanjut ke mall Panakukkang untuk membeli kain songket buruan teman2 di toko 
Sumber Sutera. 
  
Hari 8 
§         Mulai kehabisan energi & euphoria liburan, hari ini adalah islands 
trip! Dari dermaga kami bertanya2 ttg tarif kapal yg disewakan menuju pulau 
Samalona, Khayangan & Lae2. Samalona adalah pulau terjauh berjarak 30 menit 
sdgkan Lae2 adalah pulau terdekat. Bertanya ke sana ke mari akhirnya memilih 1 
kapal yg menawarkan tarif Rp.300.000 menuju 3 pulau tadi. Drpd sulit mencari 
makan kami pamit sebentar utk membeli nasi kuning bungkus & aqua sbg bekal 
makan siang baru naik perahu. Di tengah perjalanan tukang perahu menawarkan 
apakah kami mau menambah trip ke pulau Barang Lompo yg berjarak 30 menit dari 
Samalona, akhirnya sepakat menambah Rp.125.000 (stlh tawar menawar hehe). 
§         Tips pertama di pulau manapun : jangan meletakkan barang2 di bale2 yg 
tersebar di pulau, anda akan dikenakan tarif Rp.50.000 berapapun lamanya. Jd 
tinggalkan brg2 anda di perahu kecuali dompet, hp & brg berharga lain. Samalona 
cocok utk renang & snorkeling, Barang Lompo lebih indah alam bawah airnya tp 
banyak bulu babi. 
§         Pulau Khayangan menyambut kami dgn cegatan petugas yg menyambut 
siapapun yg mendarat dg perahu sewaan sendiri. Jd kalau mendarat dr pulau lain, 
pengunjung diwajibkan membeli tiket di loket resmi pulau Khayangan seharga 
Rp.30.000. Berarti kami hrs membayar Rp.120.000 utk 4 org walaupun tdk naik 
perahu mereka! Haaa, sambil memutar otak saya berusaha mengarang cerita & 
menawar, akhirnya dpt potongan ½ harga jadi membayar Rp.60.000 saja. Di pulau 
ini fasilitas memang jauh lebih lengkap cuma ikan2 yg tampak tdk berwarna 
warni. 
§         Pulau terakhir Lae2 dihuni cukup padat. Di bagian ujung pulau yg 
memanjang ini ada area yg ditumbuhi pohon2 gersang. Hasil fotonya tampak 
eksotis. Jangan lupa memotret bocah2 setempat yg asyik bermain sepak bola dgn 
ekspresi ceria. 
§         Kembali ke darat masih ada bbrp misi : beli oleh2 khas makassar & 
menikmati pisang epe. Di sepanjang jalan Somba Opu banyak pedagang emas & 
souvenir. Barang2 yg dijual di toko2 souvenir di sini komplit : dr cindera mata 
Tator, kopi Tator, minyak kayu putih, kacang disko, songket dll. Bener2 one 
stop shopping! Jd yg tdk sempat ke Tator atau Bantimurung bisa belanja di sini 
§         Pisang epe bisa dijumpai dekat restoran Pualam, tidak jauh dr hotel 
Gapura. 3 buah pisang kepok yg baru setengah matang digeprek dgn kayu lalu 
dibakar & disiram saus coklat, duren atau keju. Rasanya manis agak sepet, ya 
iyalah pisangnya blm matang koq! Porsinya cukup besar utk makan berdua. 
  
Hari 9 
§         Benar2 homesick & lelah, lebih baik istirahat sambil membereskan 
oleh2 hasil belanja kemarin. Termasuk membereskan catatan tulisan tangan yg 
berantakan ini. Kedatangan berikutnya tentu akan lebih santai 
  
Di Makassar kami menikmati naik turun angkot ke mana2, lumayan menambah 
pengalaman. Dan ada 2 pelajaran berharga dari trip ini : 
1.        Semua ongkos bisa ditawar, termasuk taxi di bandara! FYI di bandara 
tdk ada taxi sedan semacam bluebird yg memakai argo. Yg disebut taxi bandara 
adalah mobil2 sewaan semacam kijang, avanza atau apv dengan tarif sesuai jarak. 
Tarif taxi kami semula adalah Rp.100.000, stlh nekad menawar akhirnya bisa 
turun menjadi Rp.70.000 (seumur2 baru kali ini nawar taxi). Di dalam kota baru 
ada taxi2 sedan dgn primadonanya taxi Bosowa. 
2.        Semua org2 Makassar yg kami temui sepanjang perjalanan sangat ramah & 
bersedia membantu, walaupun ada yg tampangnya sangar hehehe. Intinya saya 
bertemu banyak malaikat sepanjang perjalananan, bahkan polisi lalu lintas 
memaksa kami duduk menunggu di posnya sementara dia naik motor dinasnya utk 
memanggil mobil angkutan menjemput kami. 
  
Nomor2 "yang mungkin" penting : 
·       Lesehan Damai, Jl. Perintis Kemerdekaan Km.9, telp.0411-2998560 
·       Bus ke Tator, Litha & Co. telp. 0411-442263 
·       Wisma Louis Lestari di Makale, Tator, telp.0423-22269 
·       Hotel Indra Satu Toraja, telp.0423-21583/21163/21442 
·       Restoran Mambo Toraja, Jl.. dr. Ratulangi no.34, telp.0423-21134 
·       Hotel Sapolohe, Jl. Karang Bira No.1, Bira – Bulukumba, telp. 
·       Angkot B jurusan pasar Sentral, melewati pantai Losari 
·       Angkot E jurusan IKIP – Mall Panakukang 
·       Angkot G jurusan Mandai/ Daya 
·       Angkot F jurusan Malengkeri 
  
 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke