Teman-teman IBP, Berikut cerita pengalaman saya menyelam di Raja Ampat, Papua, tanggal 21-28 November lalu.
Untuk perjalanan kali ini saya dan teman-teman memilih live-aboard dengan operator Grand Komodo dengan MV Putri Papua-nya. Kami bersembilan, sesuai kapasitas kapal. Kami naik kapal hari Sabtu sore (21/11) dari dermaga di Sorong, Papua Barat, dan baru keesokan paginya kami menyelam hingga hari Jumat (27/11). Tiap hari menyelam 4 kali. Kecuali hari terakhir yang hanya 2 kali. Jadi total kalau tidak skip ada 22 kali penyelaman di area Kri, Mansuar, Arborek, Fam, Kawe dan Wayag. Minggu pagi cerah, walaupun masih agak mengantuk, jam 7 kami sudah bersiap di gear up stations. Kami dibagi menjadi dua grup. Dive guide-nya 2 orang (Putu-putra Bali dan Tadeuz putra Papua) tiap hari ditukar memimpin grup satu dan dua. Penyelaman pertama di Mios Kon, arus lumayan, tidak terlalu kencang.Kami disambut schooling fusilier fish begitu turun. Lalu, wow…. Putu menunjukkan ada wobbegong alias hiu karpet, yang menurut Wikipedia panjangnya sekitar 1,25m – 3,2 m. Yang belum tahu wobbegong seperti apa, lihat link fotonya aja ya. http://www.facebook.com/profile.php?v=feed&id=580132127&story_fbid=195140317127#/photo.php?pid=2956085&id=580132127 http://www.facebook.com/profile.php?v=feed&id=580132127&story_fbid=195140317127#/photo.php?pid=2956142&id=580132127 Usai penyelaman pertama, pukul 9-an sarapan sudah tersedia. Habis sarapan biasanya kami naik ke sun deck, leyeh-leyeh atau ngobrol-ngobrol, menanti dive kedua pukul 11.00. Dive kedua di Chicken Reef, masih Mansuar Area. Setelah itu makan siang, leyeh-leyeh lagi di sun deck, dan siap-siap lagi dive ketiga pukul 15.00. Naik dari dive ketiga, kami disediakan snack. Biasanya setelah dive ketiga yang selesai sekitar pukul 5, kami naik lagi ke sun deck, sunset time…. Pukul 7 malam kami siap-siap night dive. Selesai night dive barulah mandi dan makan malam. Begitulah kurang lebih kegiatan kami tiap hari. Bangun, ngemil, nyelam I, sarapan, sun deck time, nyelam II, makan siang, sun deck time, nyelam III, snack sore dan sunset time, night dive, mandi, makan malam dan kumpul-kumpul, tidur. Inilah acara liburan yang diisi dengan rutinitas. Bosan? Nggak lah…. Memang kapalnya nggak luas, lo lagi, lo lagi. Tapi setiap penyelaman selalu mendatangkan berbagai pengalaman asyik, unik, seru yang bisa di-share begitu kami berkumpul. Selama 4 hari lebih kami terisolasi tanpa hubungan dengan dunia luar karena sinyal nggak ada. Pas hari ke-7, saat kapal kembali memasuki perairan Mansuar, barulah ada sinyal lagi walaupun masih putus sambung. Dalam penyelaman kali ini arus rata-rata tak sekencang yang saya rasakan waktu Februari 2008. Tak sekali pun dan tak satu pun dari kami butuh mengeluarkan reef hook. Hanya saja yang menjadi kekurangan kali ini adalah visibility yang rata-rata kurang bagus. Paling poll cuma sekitar 15 meter. Bahkan saat penyelaman hari ke-5 di Mios Kon (lagi), visibility sangat buruk, nggak sampai 4 meter. Suasana di bawah saat itu juga jadi kacau. Dengan 7 di antara 8 penyelam membawa kamera, yang masing-masing pengen motret, maka terjadilah antrean panjang di setiap lokasi ditemukannya obyek foto. Sementara dengan visibility seburuk itu, nunggu pun nggak bisa jauh-jauh. Semua mepet-mepet. Udah deh, terjadi tragedi saling kena tendang fin sana-sini. Highlight penyelaman keseluruhan kali ini adalah walking shark, yang bisa ditemui dalam kondisi aktif di malam hari. Kami melihat hiu yang berjalan ini (bukan berenang) dua kali di Lagoon Kecil, Fam Island Area dan Ju Island, Kawe Island Area. Penasaran, lihat aja fotonya ya. http://www.facebook.com/profile.php?v=feed&id=580132127&story_fbid=195140317127#/photo.php?pid=2956143&id=580132127 Di setiap lokasi kita selalu bisa menemukan pelagic (ikan besar) sekaligus critters (makro) dalam jumlah yang buanyaaaak… banget! Terumbu karangnya? Jangan ditanya lagi. Rapat! Karang meja segede-gede gaban juga bertebaran. Lorong-lorong dan gua-gua bawah air yang misterius sekaligus cantik juga ada. Di Batu Putri, Kawe Area, di kedalaman 5 m ada karang yang membentuk jendela. Indah deh suasananya dengan soft coral berwarna-warni. Dive site yang namanya Batu Wayag I di Wayag Area dilihat dari bawah, kontur batu dan karang-karangnya juga amazing. Mike’s Point di Mansuar Area yang terkenal sebagai surga makro dengan nudibranch dan pigmy-nya juga nggak kalah memikat. Di kedalaman 4-5 meteran saat safety stop ada lorong indah yang kami susuri. Awalnya gelap seperti gua, lalu kami berbelok ke kiri menuju cahaya. Kiri-kanan lorong penuh dengan soft coral. Sesekali ikan-ikan kecil menyembul dan saling berkejaran dengan kami. What a view! Agenda yang tak boleh dilewatkan adalah menonton ikan pari manta di Manta Point, Arborek Area. Dalam percobaan pertama di pagi hari, kami cuma sempat melihat sekelebat dan agak jauh seekor white manta. Sisanya, terpaksa harus puas main dengan pegasus, nudibranch, dan ikan-ikan kecil lainnya. Percobaan kedua siang harinya, awal-awalnya nasib kami bakal berakhir tanpa melihat manta. Bosan menunggu, kami bermain-main dan foto narsis-narsisan. Entah pada menit keberapa, mungkin sudah menit ke 40-an akhirnya, ting ting…. si manta yang ditunggu-tunggu nongol juga. Kami yang tadinya pada serabutan nggak karuan langsung tertib bersimpuh dengan kusyuk di atas pasir dalam formasi setengah lingkaran mengelilingi sang manta yang berputar-putar mengepak-ngepakkan siripnya yang lebar. Black manta, cuma seekor. O ya, di site ini saya dan Adriana menemukan dan sempat memotret hard coral yang dicoreti dengan tulisan “Papua Waisai” dan “Into Kri”. Duuuh…. Nakal amat nih tangannya. White tip shark dan black tip shark juga sempat kami lihat di beberapa kali penyelaman. Namun sayang, tidak terlalu dekat. O ya di sini barakuda dan parrot fish-nya guede-guede banget lho! Asyik nontonin dan mandangin mereka dari dekat. Selain diving, kami juga beberapa kali main ke darat. Yang pertama, Minggu, usai penyelaman ketiga, menjelang sunset, kapal kami merapat di depan Raja Ampat Dive Lodge, resort baru milik Grand Komodo di Pulau Mansuar. Di sana kami sempat melongok-longok ruang makan dan kamar bungalownya. Selingan kedua, Senin. Usai penyelaman ketiga juga, kami ramai-ramai naik dinky untuk menyusuri Fam Lagoon. Laguna-lagunanya keren abissss…. Pulau-pulau karang kecil, tinggi, rendah, menyembul di sana-sini, dalam posisi yang seakan dijatuhkan Tuhan dari langit agar membentuk formasi laguna-laguna yang indah, yang membuat kami tak henti-hentinya berdecak kagum. Selingan ketiga, Selasa. Nah ini dia yang sangat kami tunggu-tunggu. Wayag. Datang ke Wayag dan menikmati pesonanya adalah mimpi saya yang jadi nyata. Untuk menikmati pemandangan, kita harus naik ke bukitnya, yang tingginya katanya sih hanya 120 mdpl. Jalan setapak terjal dan penuh karang tajam menuju puncak bukit ini ditempuh sekitar 15-20 menit. Puncaknya juga nggak datar, penuh karang tajam, juga sempit, terutama bagian tertinggi dari puncaknya di mana kami berjubel bersama untuk mengambil foto. Melihat di bawah sana terbentang gugusan pulau-pulau diselimuti pepohonan hijau saling menyembulkan dirinya di antara air laut hijau turquoise yang tenang dan cerah. Luarrrr biasa!! Tak henti-hentinya kami bersyukur bisa ke tempat maha indah ini. Pha Nga Bay di Thailand sih nggak ada apa-apanya deh. Foto Wayag: http://www.facebook.com/profile.php?v=feed&id=580132127&story_fbid=195140317127#/photo.php?pid=2926776&id=580132127 Turun dari bukit, kami berenang di kehangatan air laut hijau turquoise, di pantai pasir putih halus yang landai dari jam 6-an sampai 8 malam. Serasa berenang di pantai pribadi. What a life! O ya, pasirnya juga sempat saya bawa pulang. Haluuuussss banget! Saya rasakan bedanya dengan pasir Maya Beach, pasir Wayag lebih halus. Salam, Mayawati (Kalau mau baca cerita lengkapnya, silakan tengok multiply saya: www.maya2405.multiply.com) [Non-text portions of this message have been removed]
