Pak Dinda, Memang, itulah wajah bandara kita. Saya sempat mengamati perjalanan pertaksian di bandara Soeta dari tahun 2002 an. Dahulu, taksi yang diizinkan beroperasi di bandara hanya sedikit namun semua menggunakan argo. Tapi, walau begitu, tetap saja mereka pilih2 penumpang karena kalau terlalu dekat mereka tidak mau. Mau, tapi ya itu harga tembak. Makanya jaman itu, banyak orang yang naik Damri sebentar lalu turun di gerbang tol bandara disambung dng Bluebird yang mangkal disitu. Jaman itu Bluebird ngk boleh masuk bandara kecuali antar penumpang dr kota. Namun, dijamin naik dari gerbang tol, argo tetap diberlakukan dan mereka tidak pilih2 penumpang dan tujuan. Jaman itu, saya seringnya jika kepepet mencari taksi yang poolnya dekat rumah sehingga mereka mau membawa saya karena sekalian mau pulang.
Selanjutnya, lebih parah lagi. Lebih banyak taksi yang diperbolehkan mangkal di bandara. Ditambah lagi di parkiran, terdapat angkutan gelap (perorangan yang menawarkan angkutan dgn Kijang dan sejenisnya), ditambah lagi asosiasi resmi dari bandara (ngk tau resmi beneran apa ngk, yg jelas mrka punya kartu anggota keluaran otorita bandara) yg menawarkan kendaraan serupa. Harga nego2 saja, lagipula tidak smua kendaraan mereka bagus, sering sekelas Hijet atau Carry ikut bermain shg pastikan dahulu kendaraannya apa sebelum menawar. Selain roda empat, banyak juga ojek yang berkeliaran. Pokoknya jaman itu semrawut sekali deh. Saat itu juga saya ingat berhamburan protes dari konsumen di media cetak dan elektronik soal penataan transportasi bandara yang kacau balau. Saat ini, jumlah taksi memang masih banyak, tapi sdh agak dibatasi. Tapi ya kelakuan tetap saja tidak berubah. Jika tujuan anda jauh, mereka mau pakai argo, tapi jika tujuan dekat, misal Daan Mogot atau Slipi, mereka maunya harga tembak. Stopper juga, lebih suka pakai harga tembak karena persenan mereka besar, makanya mereka lebih suka mengarahkan ke harga tembak. Beberapa taksi yang tetap konsisten pake argo adalah Silverbird dan Bluebird dan eks grupnya seperti Gamya. Aturan perusahaan adalah mereka dilarang menolak penumpang dan mereka bisa diadukan untuk hal itu. Hanya repotnya, kalau malam diatas jam 8-9 sudah susah keberadaannya taksi2 ini (lha jelas aja, karena laris manis). Kalau ada pun pasti ramai antriannya. Saya pernah saking jengkelnya sama taksi2 tembak itu, malahan milih naik ojek soalnya pas mau landing, tampak jelas tol bandara hingga kota macet sekali. Jadi, kalau mendarat malam di Soeta memang pilihan agak sulit. Jika bisa meminta dijemput lebih baik. Jika masih bisa naik Damri ke kota, sambung taksi juga lumayan walau ganti kendaraan. Kalau sudah tidak dapat antrian taksi Bluebird dan Gamya, yah terpaksa ambil taksi tembak begitu. Kapan ya, yang gini2 bisa ditertibkan?Ah entahlah.. Padahal kita sudah dikenakan surcharge, bayar tol dll tapi kok ya tetap saja seolah2 dipermainkan dan dipersulit. Mungkin ada rekan yang kerja di bandara yang bisa kasih informasi atau penjelasan? Salam R.Heru Hendarto Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: Dinda Trisnadi <[email protected]> Date: Mon, 14 Dec 2009 18:58:10 To: <[email protected]> Subject: [indobackpacker] Taksi Tanpa Argo (di Soekarno-Hatta) Halo Semua, Tanggal 4 Desember kemarin, saya dan istri kembali dari Solo dengan pesawat ke Bandara Soekarno-Hatta. Sampe lumayan malem, jam 8-an dan langsung cari taksi untuk pulang ke rumah. Kaget banget kami berdua. Begitu menyambangi tempat taksi, langsung di tembak 150rb. Udah masuk biaya toll katanya. Dari taksi itu, saya cari lagi taksi yang lain. Dan ternyata begitu juga. Ya udah, akhirnya kami ikut antrian silverbird karena bluebirdnya antre banget. Saya kaget banget nemu kenyataan kalo sekarang taksi di bandara tu pake argo kuda ya? Bahkan stoppernya yang menurut saya mestinya jadi pemandu malah yang nawarin saya harga segitu. Apa ada yang punya pengalaman serupa? Saya ga rela karena bandara Soekarno-Hatta selama ini dah tertib dari praktik-praktik tidak indah seperti itu sekarang kembali lagi ke semula. Apa sih yang terjadi sampe kayak begitu? Salam,Dinda [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Indonesian Backpacker Community visit our website at http://www.indobackpacker.com atau bisa juga di http://www.backpacker-indonesia.info/ Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan. No SPAMMING or forwarding unrelated messages. Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT. Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian yang perlu saja. Milis Indobackpacker menerima ATTACHMENT baik gambar ataupun photo, tetapi mohon indahkan tentang hak cipta dan ukuran file. Cara mengatur keanggotaan di milis ini : Mengirim email ke grup : [email protected] (moderasi penuh) Mengirim email kepada para Moderator/Owner: [email protected] Satu email perhari: [email protected] No-email/web only: [email protected] Berhenti dari milist kirim email kosong : [email protected] Bergabung kembali ke milist kirim email kosong : [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
