Kmrn pas balik dr spore dan ketemu sama org spore yg baru ditugaskan ke jkt. 
Katanya pas trip pertamanya tiba, dia ga berhasil menemukan blue bird atau 
express jadi naiknya borobudur. Pas tiba di kedubes spore jam 10 malam(krn dia 
staf di sana), dia diminta rp170rb. Dia kaget tp alasannya ada surcharge. Dan 
argonya ditutup dgn kertas shg dia ga bisa liat argo.

Kan malu2in banget kalo kaya gitu. Ternyata perubahan di bandara msh sebatas 
hardware belum ke softwarenya ya...

"We are prone to judge success by the index of our salaries or the size of our 
automobile rather than by the quality of our service and relationship to 
humanity" (Martin Luther King, Jr)
Sent by Rudy® from mobile device.

-----Original Message-----
From: [email protected]
Date: Tue, 15 Dec 2009 02:54:43 
To: Dinda Trisnadi<[email protected]>; <[email protected]>
Subject: Re: [indobackpacker] Taksi Tanpa Argo (di Soekarno-Hatta)

Pak Dinda,

Memang, itulah wajah bandara kita. Saya sempat mengamati perjalanan pertaksian 
di bandara Soeta dari tahun 2002 an. Dahulu, taksi yang diizinkan beroperasi di 
bandara hanya sedikit namun semua menggunakan argo. Tapi, walau begitu, tetap 
saja mereka pilih2 penumpang karena kalau terlalu dekat mereka tidak mau. Mau, 
tapi ya itu harga tembak. Makanya jaman itu, banyak orang yang naik Damri 
sebentar lalu turun di gerbang tol bandara disambung dng Bluebird yang mangkal 
disitu. Jaman itu Bluebird ngk boleh masuk bandara kecuali antar penumpang dr 
kota. Namun, dijamin naik dari gerbang tol, argo tetap diberlakukan dan mereka 
tidak pilih2 penumpang dan tujuan. Jaman itu, saya seringnya jika kepepet 
mencari taksi yang poolnya dekat rumah sehingga mereka mau membawa saya karena 
sekalian mau pulang.

Selanjutnya, lebih parah lagi. Lebih banyak taksi yang diperbolehkan mangkal di 
bandara. Ditambah lagi di parkiran, terdapat angkutan gelap (perorangan yang 
menawarkan angkutan dgn Kijang dan sejenisnya), ditambah lagi asosiasi resmi 
dari bandara (ngk tau resmi beneran apa ngk, yg jelas mrka punya kartu anggota 
keluaran otorita bandara) yg menawarkan kendaraan serupa. Harga nego2 saja, 
lagipula tidak smua kendaraan mereka bagus, sering sekelas Hijet atau Carry 
ikut bermain shg pastikan dahulu kendaraannya apa sebelum menawar. Selain roda 
empat, banyak juga ojek yang berkeliaran. Pokoknya jaman itu semrawut sekali 
deh. Saat itu juga saya ingat berhamburan protes dari konsumen di media cetak 
dan elektronik soal penataan transportasi bandara yang kacau balau.

Saat ini, jumlah taksi memang masih banyak, tapi sdh agak dibatasi. Tapi ya 
kelakuan tetap saja tidak berubah. Jika tujuan anda jauh, mereka mau pakai 
argo, tapi jika tujuan dekat, misal Daan Mogot atau Slipi, mereka maunya harga 
tembak. Stopper juga, lebih suka pakai harga tembak karena persenan mereka 
besar, makanya mereka lebih suka mengarahkan ke harga tembak. Beberapa taksi 
yang tetap konsisten pake argo adalah Silverbird dan Bluebird dan eks grupnya 
seperti Gamya. Aturan perusahaan adalah mereka dilarang menolak penumpang dan 
mereka bisa diadukan untuk hal itu.  Hanya repotnya, kalau malam diatas jam 8-9 
sudah susah keberadaannya taksi2 ini (lha jelas aja, karena laris manis). Kalau 
ada pun pasti ramai antriannya. Saya pernah saking jengkelnya sama taksi2 
tembak itu, malahan milih naik ojek soalnya pas mau landing, tampak jelas tol 
bandara hingga kota macet sekali.

Jadi, kalau mendarat malam di Soeta memang pilihan agak sulit. Jika bisa 
meminta dijemput lebih baik. Jika masih bisa naik Damri ke kota, sambung taksi 
juga lumayan walau ganti kendaraan. Kalau sudah tidak dapat antrian taksi 
Bluebird dan Gamya, yah terpaksa ambil taksi tembak begitu. Kapan ya, yang 
gini2 bisa ditertibkan?Ah entahlah.. Padahal kita sudah dikenakan surcharge, 
bayar tol dll tapi kok ya tetap saja seolah2 dipermainkan dan dipersulit. 
Mungkin ada rekan yang kerja di bandara yang bisa kasih informasi atau 
penjelasan?

Salam


R.Heru Hendarto





Powered by Telkomsel BlackBerry®



-----Original Message-----

From: Dinda Trisnadi <[email protected]>

Date: Mon, 14 Dec 2009 18:58:10 

To: <[email protected]>

Subject: [indobackpacker] Taksi Tanpa Argo (di Soekarno-Hatta)



Halo Semua,

Tanggal 4 Desember kemarin, saya dan istri kembali dari Solo dengan pesawat ke 
Bandara Soekarno-Hatta.  Sampe lumayan malem, jam 8-an dan langsung cari taksi 
untuk pulang ke rumah.



Kaget banget kami berdua.  Begitu menyambangi tempat taksi, langsung di tembak 
150rb.  Udah masuk biaya toll katanya.  Dari taksi itu, saya cari lagi taksi 
yang lain.  Dan ternyata begitu juga.  Ya udah, akhirnya kami ikut antrian 
silverbird karena bluebirdnya antre banget.

Saya kaget banget nemu kenyataan kalo sekarang taksi di bandara tu pake argo 
kuda ya?  Bahkan stoppernya yang menurut saya mestinya jadi pemandu malah yang 
nawarin saya harga segitu.  Apa ada yang punya pengalaman serupa?



Saya ga rela karena bandara Soekarno-Hatta selama ini dah tertib dari 
praktik-praktik tidak indah seperti itu sekarang kembali lagi ke semula.  Apa 
sih yang terjadi sampe kayak begitu?  

Salam,Dinda


Kirim email ke