dear 
Kulonuwun

Tidak bisa di pungkiri, kebanyakan kita mengenal traveling adalah saat 
dharmawisata, serangkaian kunjugan dimana nantinya kita akan membuat essay 
sebagai syarat untuk bisa mengikuti ujian akhir layak nya tugas akhir / skripsi 
pada jaman kuliah, dan biasanya pada bangku SMP dan SMA karena pada usia inilah 
seseorang di ijinkan pergi jauh dari rumah tanpa didampingi Orang Tua, berbeda 
dengan mereka yang sudah sering aktif di kegiatan Outdoor, seperti halnya 
Pramuka dan PMR saat SD dan SMP serta Pecinta Alam saat SMA 

Anggapan jalan2 itu mahal masih menjadi image di berbagai kepala hingga saat 
ini, karena tak banyak orang tua yang mengajarkan anak nya Untuk Menabung, atau 
orang tua yang menyisihkan pendapatannya dan kemudian di pergunakan untuk 
berlibur bersama keluarga, berlibur ala kebanyakan adalah menyewa vila kemudian 
bakar ikan atau ayam sambil bernyannyi ria dan yang dewasa menenggak minumam 
keras, adalah sebagian dari potret berlibur yang di pilih itulah kenapa jalur 
Puncak selalu macet di weekend dan long weekend tak banyak yang mengajak / 
mendampingi anak-anaknya pergi ke situs, seperti Borobudur atau Prambanan atau 
juga Museum, Jadi jangan pula di salahkan bila banyak anak-anak sekarang yang 
tidak mengenal bangsanya sendiri, dan hanya mereka yang tua-tua saja yang 
sedikit peduli 

jika saat masih kecil mereka di dampingi orang tua dan orang tua bisa berlaku 
sebagi guide, pasti hal-hal dasar seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak 
main corat - coret, dan pemahaman tentang menghargai sebuah obyek juga akan 
tertanam dengan baik walau itu bukan jaminan 

usul di balikin menjadi sebuah tempat peribadatan ada baiknya juga, walau bila 
dengan banyak larangan pasti mengurangi jumlah wisatawan, karena di rasa 
adanya pembatasan, tapi bila menilik Bali, dan juga Negara tetangga, sepertinya 
wisatawan bisa memaklumi bila mereka berada pada sebuah rumah ibadah, dan ini 
butuh proses kalau serta merta pasti juga akan mengundang polemik, apasih saat 
ini yang tidak menjadi bahan pedebatan, 

ide pembatasan pengunjung juga bagus tapi mungkin lebih baik bila di dampingi 
oleh guide, artinya setiap rombongan akan di dampingi oleh guide, jadi segala 
sesuatunya under control, walau saya yakin ini juga akan mengundang polemik 
ketika pemberlakuan guide / pemandu tersebut menerapkan tarif, sudah masuknya 
bayar musti pakai guide lagi, dan bayar pula

perlu kebesaran hati banyak pihak dan sosialisisi tentunya sehingga tidak 
terkesan ujug-ujung alias tiba-tiba atau serta merta, semacam brain stroming, 
dengan pamlet dan iklan di media massa, 

waduh jadi panjang, ya...Nyuwun ngapunten 

Pareng 
KG 



 



________________________________
Dari: Bot S Piliang <[email protected]>
Kepada: indopackpacker komunitas <[email protected]>
Terkirim: Sen, 28 Desember, 2009 08:31:29
Judul: [indobackpacker] Borobudur yang Malang

  
Dear Milister...

Saya baru saja kembalid ari tur jawa Borobudur - Dieng - Semarang 
Memang bukan tur Backpacker, secara saya menggunakan kendaraan pribadi/rental 
kesana, ada beberapa catatan penting,khususnya tentang Borobudur...

---Delet juga-----


      Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web. Gunakan Wizard 
Pembuat Pingbox Online. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke