Yang paling menyakitkan hati adalah komentar seorang pengguna motor gede, 
seperti dilansir salah satu majalah: "Salah satu cita2 saya yang belum 
kesampaian adalah menaklukkan Borobudur dengan moge, sayang sekali Pemda tidak 
mengizinkan, padahal kalau ada biaya berapapun saya berani bayar" (dilengkapi 
foto dia nangkring di atas moge di pelataran Borobudur).. Ya Allah... sombong 
sekali ya kalau punya kuasa. 

BTW kalau ke Borobudur, cobalah meng-hire guide atau mengikuti presentation di 
hotel Manohara (Rp 75.000), untuk mengetahui cara membaca relief-relief di 
Borobudur, menarik sekali dan sangat membuka wawasan... 







--- On Mon, 12/28/09, Bot S Piliang <[email protected]> wrote:

From: Bot S Piliang <[email protected]>
Subject: Re: [indobackpacker] Borobudur yang Malang
To: "indopackpacker komunitas" <[email protected]>, "Jati 
Resmudita" <[email protected]>
Date: Monday, December 28, 2009, 9:54 AM







 



  


    
      
      
      Ya, memang tak mudah. Apalagi Borobudur sekarang berada di komunitas 
Muslim. Sehingga analogi seperti mesjid agung Demak dan Tanah Lot di Bali tidak 
berlaku. Borobudur tak lebih menjadi monumen atau objek foto untuk bernarsis 
ria buat para pengunjung.

Tapi paling tidak, PEMDA melaui perangkatnya dapat lebih ketat lagi menjaga 
Borobudur. Kalau memang tidak bisa di fungsikan lagi untuk tempat ibadah umat 
Budha, mungkin beberapa perlakukan bisa diterapkna, seperti, membuat kawasan 
steril di daerah puncak stupa Budha, dimana pengunjung dilarang menaiki puncak 
stupa tersebut. Kemudian membatasai jumlah pengunjung yang memasuki badan 
candi, sehingga tidak berdesak2an yang berpotensi merusak bangunan candi. Saya 
rasa ini applicable kok buat Borobudur. 



Ada comment yang lain?



Bot Sosani Piliang

Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream

www.botsosani. wordpress. com

Hp. 08123885300



--- On Sun, 12/27/09, Jati Resmudita <jati_resmudita@ yahoo.com> wrote:



From: Jati Resmudita <jati_resmudita@ yahoo.com>

Subject: Re: [indobackpacker] Borobudur yang Malang

To: "indopackpacker komunitas" <indobackpacker@ yahoogroups. com>, "Bot S 
Piliang" <botsos...@yahoo. com>

Date: Sunday, December 27, 2009, 9:40 PM



Well, sudah sangat lama saya ngga ke Borobudur..Miris juga baca email dari 
sdr Bot S Piliang. Ditambah lagi kelakuan pedagang souvenir yang setengah 
memaksa, kualitas souvenirnya pun asal asalan shg ngga bisa dibanggakan. 
Mengomentari soal "mungkin sebaiknya Borobudur dikembalikan fungsi nya sebagai 
tempat suci umat Budha kali ya....biar denyutnya tetap terasa", menurut saya 
bagai makan buah simalakama. Ada banyak kepentingan ekonomi disana, walaupun 
memang nilai sakral borobudur saat ini sudah luntur. Bukan bermaksud SARA, 
menurut saya pengunjung Borobudur tidak menempatkan borobudur sebagai tempat 
ibadah. Coba bandingkan dengan objek religi lain misalnya Masjid Agung Demak 
atau Goa Maria Puhsarang

 Kediri, mana ada pengunjung yang berbuat seenaknya... .

ada pendapat lain?

salam,

Jati Resmudita



--- On Mon, 12/28/09, Bot S Piliang <botsos...@yahoo. com>

 wrote:



From: Bot S Piliang <botsos...@yahoo. com>

Subject: [indobackpacker] Borobudur yang Malang

To: "indopackpacker komunitas" <indobackpacker@ yahoogroups. com>

Date: Monday, December 28, 2009, 1:31 AM



 



Dear Milister...



Saya baru saja kembalid ari tur jawa Borobudur - Dieng - Semarang 



Memang bukan tur Backpacker, secara saya menggunakan kendaraan pribadi/rental 
kesana, ada beberapa catatan penting,khususnya tentang Borobudur..



Borobudur adalah kebanggan bangsa Indonesia, tidak hanya suku bangsa Jawa 
tetapi seluruh Nusantara. 



Ini adalah perjalanan pertama saya ke Borobudur. Megah, Indah dan Mengagumkan. 
Saya hampir tak percaya kalau pada abad ke 7, bangsa ini bisa membangun sebuah 
maha karya semegah ini.



Tapi kekaguman saya segera hilang melihat tingkah polah anak cucu bangsa 
iniyang tidak menghargai hasil karya nenek moyangnya. Beberapa patung Budha 
rusak tak berkepala. Pengunjung seenakya menduduki stupa dan ornamen Buddha 
lainya. 



Borobudur jadi hilang auranya. Bangunan megah ini taklebih seperti monumen 
besar saja. Sangat di sayangkan, mengapa pemda Jateng tidak memperlakukan 
Borobudur lebih baik. Beberapa tempat harusnya di tutup. Jumlah pengunjung yang 
memasuki bangunan candi harusnya dibatasi jumlahnya, dan dibatasi jam 
kunjungannya. Dengan demikian, kesakralan Borobudur tetap terjaga.



Ato mungkin sebaiknya Borobudur dikembalikan fungsi nya sebagai tempat suci 
umat Budha kali ya....biar denyutnya tetap terasa. 



gimana pendapat kawan2 milister??



Salam



Bot Sosani Piliang



Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream



www.botsosani. wordpress. com



Hp. 08123885300



[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]





    
     

    
    


 



  





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke