Malang Melintang; Coban Rondo-Sempu-Bromo
Tersandar
punggungku oleh kepala seorang bocah di kereta Matarmaja. Lima menit tak terasa
sampai Aku terbangun. Kasihan anak itu, tergencet kursi kulit palsu Matarmaja
dan punggungku. Duduknya ke arah depan tapi kepalanya berbelok ke kanan,
condong. Maaf dik.
Tak lekang
sepi. Matarmaja (Pasar Senen Jakarta-Malang, 51 ribu) di penghujung 2009 ini 
selalu
penuh aktivitas. Teriakan “Kopi pop mie, kopi pop mie” terdengar hampir tiap
menit. Semakin malam semakin menggelitik. Pedagang memplesetkan dagangannya,
“Tora Sudiro” maksudnya Tora Bika atau “Susu janda liar” maksudnya bermacam
susu instan. Banci pun tak mau kehilangan bagian, berdendang dari kursi ke
kursi. Riuh.
Sampai di
stasiun Malang. Tak ada dari rombongan kami yang tahan berlama-lama menyimpan
keringat kering hasil metabolit sembilan belas jam di Matarmaja. Semua mandi di
stasiun. Ada tiga kamar mandi cukup luas. Memang dibuat untuk mandi. Ada tempat
menaruh barang, menaruh sabun. Bak mandi relatif luas. Dua ribu rupiah. Segar.
Selangkah lagi
keluar stasiun, ada tawaran menarik dari seorang supir berplat hitam. Kami
terima. Panther sewaan kami dari stasiun Malang pas memuat sembilan orang.
Supir kami seorang Bapak Madura berkumis tebal beristri tiga. Aku agak takut
bercanda dengannya. Bisa-bisa nanti keluar ancaman, “Tak sate sampeyan!” 
Perawakan wajahnya cukup
mumpuni untuk melakukan itu. Hiiii.
Tak mengapa,
kinerjanya apik. Dia menunjukkan kami penginapan paling murah yang pernah
kusambangi, Wisma Ijen di Batu. Batu adalah satu daerah (mungkin Kabupaten) di
utara Malang, kalau dilanjutkan bisa tembus ke Jombang atau Kediri. Udaranya
sejuk sekali, banyak pohon di kanan kiri jalan.
Satu kamar di
Wisma Ijen berisi empat kasur, kamar mandi dalam, dan sedikit tempat
duduk-duduk hanya dibandrol 70 ribu. Bisa kutawar pula, 60 ribu. Kami pesan dua
kamar. Masih banyak varian kamar lain. Salah satunya berisi dua kasur dengan
harga 35 ribu.
Beberapa jenak
melemaskan kaki. Setelah makan, sholat, dan bertemu Oci, host Malang yang baik 
sekali, kami beranjak menuju air terjun Coban
Rondo. Karcisnya delapan ribu per orang. Tiga ribu per mobil. Sambil makan
sosis Solo yang Oci bawa, kami telusuri jalan menuju air terjun. Sebentar saja.
Air terjun
sepertinya punya tinggi seratus meter. Butuh empat detik untuk tiap butiran air
terjun bebas. Tak ada yang sanggup berada tepat di bawah air terjun. Dua meter
dari air terjun saja sudah seperti hujan deras. Kuyup. Belum lagi pukulan air
dari atas.
Aku sempat
baca sejarah Coban Rondo ini sekilas. Coban artinya air terjun. Rondo artinya
janda. Dulu ada janda yang sering menangis di sini setelah ditinggal suaminya.
Itu saja yang Aku ingat, belum tentu akurat pun.
Kera di sekeliling
Coban Rondo luar biasa banyaknya. Sama persis dengan Grojogan Sewu di
Karanganyar, tetangganya Solo. Tampak di satu sudut, seorang anak umur SD
memberikan kacang satu per satu pada kera. Belasan kera di sekelilingnya
berebut. Kenapa ya gerombolan kera itu tidak berpikir untuk berkoalisi merebut
seplastik kacang sekaligus seperti koalisi para hyena memburu kijang? Kera
bodoh! Mirip era jaya islam yang kedua; banyak, tak berkutik.
Beberapa kios
kecil menjual bermacam penganan di dekat parkiran Coban Rondo. Dua bungkus buah
beri dihargai lima ribu rupiah. Cukup untuk membuat semua bibir dan lidah
menjadi ungu. Setelah berfoto dengan bibir dan lidah ungu, kami tancap menuju
payung.
Payung adalah
nama tempat seperti puncak di Bogor. Kawasan sejuk. Banyak orang berjualan
jagung bakar dan mie instan. Karena masuk kawasan Malang, tentu susu segar dan
bakwan Malang juga menjadi menu andalan di Payung.
Untuk sewa
Panther seharian ini dari stasiun Malang menuju penginapan, tempat makan, Coban
Rondo, Payung, kembali lagi ke penginapan, kami bayar 250 ribu rupiah. Tidak
sampai tiga puluh ribu rupiah per kepala.
Malam hari
waktu yang tepat untuk bersiap menjunjung Sempu besok. Sebagian dari kami
menuju kota membeli pop mie, roti, cokelat, air mineral, dsb. Setiap orang
membawa bekal dua botol air mineral 1,5 liter. Malam berlangsung agak panjang
karena semua belanjaan digabung pembayarannya, jadi harus dipilah-pilah lagi
malam ini.
Sepertinya Aku
yang paling pagi bangun. Tidak bisa kembali tidur karena sudah terbiasa menjadi
manusia pagi. Kubunuh waktu dengan berjalan-jalan di sekitar penginapan.
Ternyata kawasan ini dekat sekali dengan perkampungan.
Decitan burung
layang-layang dan sedikit gonggongan anjing terharmonisasi rapi dengan gesekan
kaki serangga, kokok ayam, dan nyanyian burung berbalut aliran sungai yang
konsisten. Kala mata terpejam, seakan kelopak tak tega membuka kembali. Gendang
telinga semakin rajin menangkap dan menganalisis suara-suara alam yang lebih
mikro. Damai.
Terlihat gubuk
kecil berisi tumpukan batu-batu kecil dan sebuah batu besar. Tempat warga
memecah batu. Tidak mungkin cuma ada satu gubuk, pasti di daerah ini banyak
gubuk pemecah batu lain.
Petani
mengangkut pestisida di punggungnya. Penduduk tanpa sandal menggotong sekarung
besar mayur. Aktivitas perkampungan berdenyut lemah. Interaksi hangat. Sangat
jauh berbeda dari Jakarta sibuk.
Lekas bersiap.
Pukul 9 pagi kami sudah kumpul di depan masjid UMM (Universitas Muhammadiah
Malang), sesuai perjanjian dengan Dian, travel
agent kami yang akan memperlihatkan kami pantai “The Beach” Indonesia,
Sempu.
Beres melunasi
biaya sebesar 165 ribu, kami menjemput peserta lain di stasiun Malang. Total
peserta tujuh belas. Travel agent yang turut menapaki Sempu tiga orang. Kami 
menggunakan dua Panther dan satu
Trooper. Butuh tiga jam menuju Sendang Biru, yaitu pantai terdekat dengan Pulau
Sempu tujuan kami.
Perjalanan
menuju Sendang Biru betul-betul mengingatkanku pada Gunung Kidul. Jalan
berliku, melintasi gunung, lalu tiba-tiba ketemu pantai. Jalan yang berliku
juga sudah teraspal mulus. Namun tetap sepi. Betul-betul persis Gunung Kidul.
Sendang biru
panas betul, untungnya angin cukup kencang. Tak nyaman dengan keringat, Aku
mandi. Dua ribu rupiah. Ketika itu, sedang dibangun pelabuhan kecil. Pasirnya
putih, banyak orang berenang di pantai. Jelas terlihat gradasi warna laut dari
biru wangat muda menjadi biru sangat tua. Sepertinya ada palung antara Sendang
Biru dan Sempu. Dari Sendang Biru sudah terlihat Sempu dengan sangat jelas.
Persis di depan. Agak kecewa dengan kenyataan. Kupikir menyebrang ke Sempu akan
melewati cukup tantangan.
Tempat makan
yang murah dan variatif di Sendang Biru digapai dengan berjalan sekitar 200
meter. Soto ayam bernilai 7 ribu. Nasi+ayam+sayur+teh manis dibandrol 10.500.
Menuju ke tempat makan itu, pohon kersen memanggil-manggil membentuk brikade di
pinggir jalan. Ranum.
Kami
menyebrang dengan kapal nelayan yang bisa memuat sekitar 15 orang. Biayanya
seratus ribu bolak-balik, dijemput keesokannya. Namun biaya ini sudah termasuk
fasilitas dari Dian. Hanya lima belas menit sampai Sempu, tepatnya di Teluk
Semut. Kapal tidak bisa merapat ke pinggir pantai, jadi harus turun 50 meter
sebelum bibir pantai. Seperti pengungsi perang Vietnam saja.
Banyak lubang-lubang
berdiameter bola tenis di Teluk Semut. Dalamnya tak bisa diprediksi. Tak tampak
aktivitas dari lubang-lubang itu. Apa itu yang disebut sarang semut? Kenapa
pula dinamakan Teluk Semut?
Kalau tanpa
rehat, tracking dari teluk semut
menuju Segoro Anakan hanya satu jam. Jalur yang dilalui cukup mudah, tidak ada
tanjakan atau turunan ekstrim. Lajur sudah terlihat jelas, kemungkinan tersasar
pun mengecil. Untungnya waktu itu tidak sedang hujan dan tidak habis hujan,
jadi jalan kering, mudah dilalui.
Sempu termasuk
kawasan Cagar Alam. Artinya tidak ada komersialisasi daerah ini. Pohon yang
tumbang, walaupun punya harga tinggi, tidak boleh diangkut ke luar. Maka wajar
saja kalau banyak pohon melintang di tengah jalur yang kami lalui. Ranting pun
tidak kalah banyaknya. Jarang sekali terlihat permukaan tanah yang mulus, ada
saja daun yang menyelimutinya.
Layaknya hutan
virgin, Sempu kaya akan jenis tanaman. Batang-batang yang menjulur menghubungkan
pohon satu dengan pohon lain mudah didapat. Beberapa menjulur ke bawah, 
menggantung.
Kuat untuk ber-tarzan ria.
Aku kaget
bukan main melihat pantai tenang di sebelah kanan. Pasirnya sangat putih.
Sepertinya itu pantai paling putih yang pernah kupijak. Segoro Anakan. Indah
luar biasa. Tidak salah kalau seorang kawanku memirip-miripkannya dengan film
“The Beach”. Hanya bedanya tidak ada hamparan ganja di sini.
Barang bawaan
kutaruh, langsung menuju pantai. Bersih sekali pasirnya. Mengapung kurasakan
lebih mudah di sini daripada pantai-pantai yang pernah kurenangi. Dengan
menolkan tenaga yang kukeluarkan saja sudah cukup membuatku terapung. Kadar
salinitasnya kurasa lebih tinggi.
Segoro Anakan
seperti pantai yang terjebak di daratan. Airnya asin. Pantai dikelilingi tebing
karang setinggi puluhan meter. Hanya satu celah yang menghubungkannya dengan
samudra. Di celah itulah sirkulasi air berjalan. Ombak besar dari samudra
menghempas celah tersebut memberi suplai air laut sekaligus menarik air Segoro
Anakan.
Aku sempat
snorkeling. Semakin mendekat ke celah samudra, semakin dalam rasanya, semakin
tidak terpijak dasarnya. Mungkin mencapai empat meter, tidak jelas karena saat
itu air cukup berkabut. Aku merasakan hawa yang tidak enak ketika mendekati
celah. Apalagi setelah melihat sekelebat ikan sepanjang satu meter. Rasanya
ingin buru-buru menyingkir dari tempat itu. Padahal di situlah dapat dengan
mudah ditemukan gerombolan ikan sebesar telapak tangan, berwarna-warni.
Puas berenang,
Aku bilas tubuhku dengan air mineral supaya tidak lengket. Satu liter
kuhabiskan, sudah termasuk untuk keramas. Aku tega berboros air karena tahu di
samping bekal 3 liter per orang, ada satu gallon lagi yang dibawa. Jangan harap
ada toilet umum atau suplai air tawar di sekitar sini. Kalau tidak bawa air
sebelum menyentuh Sempu, habis sudah.
Matahari
kembali ke peraduannya. Sayang sekali tidak ada tempat yang pas dari Segoro
Anakan untuk menikmati sunset. Tebing karang yang tinggi menghalangi semuanya.
Enam buah
tenda berdiri tegak sudah. Untuk makan malam, kami memasak air panas untuk
menyiram pop mie yang kami bawa. Penggorengan kecil digunakan untuk menggoreng
sosis sebagai asupan protein. Menikmati pop mie dengan canda tawa tak
habis-habis. Ada saja celetukan yang membuat kami membuang tawa.
Bintang
bersahabat sekali malam ini. Tidak ada yang titip absen. Maka sebagian dari
kami memutuskan tidur di pinggir Segoro Anakan, beralaskan matras menikmati
bintang. Dua meter dari bibir pantai. Cukup lama kami ngobrol sebelum tidur.
Kami baru sadar, air pantai pasang, semakin lama semakin mendekat. Mundurlah
lagi sekitar dua meter, untuk menghindari jilatan air pantai.
Akhirnya semua
terlelap. Sampai semua terbangun karena air betul-betul menyentuh kaki salah
satu dari kami. Pindahlah ke balik pandan berduri. Terlelap kembali dengan
cepat. Sampai Aku sadar serangga kecil-kecil menggigit. Gigitannya sakit dan
membuat gatal. Sekali kutangkap basah seekor serangga. Karena tidak ada akses
cahaya, Aku hanya meraba saja. Bentuknya bulat keras, kecil seperti pasir.
Serangga inilah yang sukses membuat belasan bentol merah di kakiku.
Suhu Segoro
Anakan awalnya tidak dingin sama sekali, tapi menjelang subuh semakin dingin
namun tetap dalam hitungan tidak dingin. Tidak mengapa jaket tanggal.
Matahari pagi
tak terlihat karena tertutup tebing-tebing karang. Menuju tebing lewat pijakan
karang-karang tajam. Pilih karang yang berbekas merah muda untuk dipijak karena
itu menandakan sudah aman dipijak oleh pemijak sebelumnya.
Di pinggir
tebing terlihat arus laut/samudra yang ganas. Karang menang, tak goyah.
Sesekali, deburan ombak menyentuhku setelah bertarung melawan karang belasan
meter di bawahku. Pertarungan hebat.
Menyadari
matahari semakin panas, kami beranjak. Sebelumnya, Aku perhatikan kembali
Segoro Anakan. Pantainya kembali mulus. Aku sudah tahu rahasianya, pasang
sampai luber sepuluh meter membuat pasir pantai kembali suci. Ini terjadi
setiap malam maka setiap pagi pantai kembali suci.
Berbenah. Tas
semakin ringan karena banyak perbekalan yang sudah dienyahkan. Pengenyahan
isinya saja, bungkus tetap kami bawa pulang ke Sendang Biru untuk dibuang. Dua
puluh delapan botol kosong bekas air mineral, tujuh bungkus sampah, dan satu
plastik sampah untuk memungut sampah di sepanjang jalan pulang. Tak tega
rasanya mengotori pantai sebagus ini. Seperti pesan salah satu penjaga cagar,
“Jangan tinggalkan sedikitpun sampah.” Namun kami, tepatnya beberapa oknum
rombongan kami, tak kuasa untuk tidak membuat api unggun dari kayu yang sudah
tidur di tanah. Maafkan Pak.
Sampai di
Sendang Biru, ada satu acara yang belum tuntas, makan ikan bersama di kampung
Irian. Menuju pasar ikan Sendang Biru kami gunakan mobil lalu dilanjutkan dengan
berjalan sekitar 10 menit melalui jalan setapak dengan pemandangan pantai di
sebelah kiri.
Dikatakan
kampung Irian, konon katanya mereka yang tinggal di sini dulunya berasal dari
Irian. Memang sih, Aku lihat perawakannya cukup meyakinkan sebagai orang Irian.
Sesampainya di sana, hidangan sudah siap disantap. Aku suka sekali ikan
bakarnya, entah ikan apa.
Rumah mereka
ada di atas air. Terbuat dari kayu. Di halaman rumahnya yang berwujud air, ada
beberapa kapal nelayan yang parkir. Ada juga kapal-kapal kecil dari fiber dicat
biru. Di belakang rumahnya ada pula kapal kecil yang karam, beberapa.
Kembali
ke tempat asal. Setelah semua mandi, kami kembali menuju Malang. Sampai 
alun-alun
sekitar jam enam sore. Aku puas dengan travel agent kami. Semua yang
dijanjikannya terpenuhi.
Provokasi tadi
siang sukses menjaring empat belas orang untuk melanjutkan perjalanan ke
Pananjakan-Bromo malam ini. Ditambah Oci menjadi lima belas. Oci yang mengatur 
Colt
yang akan kami pesan. Empat ratus lima puluh ribu untuk satu Colt penumpang
delapan. Per orang kami kena 60 ribu. Biaya itu untuk penjemputan di Malang
(kami memilih alun-alun), menuju Pananjakan lanjut Bromo, lalu kembali ke
Malang.
Colt akan
menjemput kami pukul 12 malam. Sekarang baru pukul 7. Berarti ada 5 jam yang
harus dibunuh. Pertama dengan makan malam. Agak sulit mencari tempat makan yang
bisa menampung seluruh rombongan. Soto dan sate yang tepat berada di hook 
alun-alun pun demikian. Warung
ramai yang sepertinya nikmat juga begitu. Maka kami masuk ke tempat yang agak
sepi. Ada yang bilang kalau sepi berarti ada apa-apanya, bisa tidak enak, bisa
mahal, dsb. Aku pesan soto Madura biasa seharga 7 ribu. Jus mangga seharga
5500.
Pukul Sembilan
malam. Tidak tahu lagi yang akan kami perbuat. Kami putuskan nongkrong di
alun-alun. Tadi alun-alun ramai. Banyak pengunjung, banyak pedagang.
Warna-warni di langit sesak dengan barang dagangan untuk menggaet pelanggan
cilik. Tapi sekarang sudah sepi. Hanya ada kami dan beberapa orang misterius.
Aku dan
beberapa lainnya langsung merebahkan punggung di rerumputan. Tak sadarkan diri
dalam lima menit. Kalau tidak ada gerimis mungkin esok pagi baru Aku bangun.
Kami pindah ke trotoar alun-alun yang beratap untuk melindungi dari gerimis.
Beberapa langsung terlelap tanpa aba-aba. Memang, perjalanan kami dua hari ini
sungguh melelahkan sekaligus mengasyikkan. Tak perlu kupikirkan apa kata
orangtuaku kalau melihatku tidur di trotoar alun-alun kota yang berjarak
ratusan kilometer dari rumah. Tak peduli, yang penting Aku bisa rehat.
Tepat pukul
dua belas, dua colt sudah berjejer rapi. Berkemas dan jalan. Dua jam kemudian
kami tiba di Pananjakan. Selama dua jam itu kami dipusingkan dengan jalan
berkelok. Sayang sekali tidak bisa kulihat indahnya kanan kiri jalan karena
gulita.
Jam tiga pagi kami
sudah sampai. Terlalu cepat. Lebih baik dari terlalu lambat. Menurut supir
kami, baru pukul empat nanti ramai. Dari parkiran menuju view area Pananjakan 
tidak jauh, hanya berjalan sepuluh menit.
Jarak tidak masalah, suhu yang masalah. Dinginnya sampai mengigit-gigit tulang.
Wajar saja bertaburan orang yang menyewakan jaket tebal. Sepuluh ribu rupiah.
Sampai hampir
pukul enam, matahari masih disadap awan. Ini kali kedua Aku ke sini dan kali
kedua pula awan menyadap pemandanganku. Katanya, kalau mau mendapat pemandangan
yang bersih, datanglah sekitar bulan Agustus.
Gunung Bromo
hanya jelas memperlihatkan asap belerangnya. Gunung Batok samar-samar. Semeru
seperti tak tampak. Padahal, kalau tidak ada awan, ketiganya akan indah sekali
dijepret. Seperti foto yang kulihat dibawa oleh penjual jasa foto keliling di
Pananjakan.
Lanjut menuju
Bromo. Sebelumnya kami sempat mampir untuk foto-foto di balik gunung Batok.
Batok yang kokoh pantas sekali untuk dijadikan teman berfoto. Bentuk gunungnya
gunung sekali. Tidak ada kelok-kelok di punggung gunungya. Lurus sampai puncak.
Patok-patok
besar menghalangi Colt kami untuk lebih mendekat ke Bromo. Dulunya patok ini
tidak ada. Penjaja jasa kuda tidak senang karena merasa sesuap nasinya dirampok
para pemilik Colt & Jeep. Akhirnya jadilah patok tersebut.
Walau sudah
menyiapkan tenaga dan tekad untuk sekali jalan menuju puncak Bromo, lagi-lagi
gagal. Tangga terlalu tinggi dan oksigen terlalu tipis. Namun semua terbayar
setelah sampai di puncak. Asap sedang banyak hari ini. Apa karena itu banyak 
penduduk
setempat yang membawa sesajen? Di tebing-tebing kawah, banyak terlihat makanan
yang dilemparkan dari atas. Sepertinya tadi pagi ada pesta kecil.
Nikmat
memandang ke sekeliling dari atas Bromo. Kawah berasap yang masih misterius.
Pura bersih terawat yang sengaja dibangun di kaki Bromo. Hamparan lautan pasir.
Gunung Batok. Semua dapat dilihat dari puncak Bromo.
Setengah juta
rupiah dan lima hari yang kusisihkan lunas sudah terbayar dengan Coban Rondo,
Sempu, Bromo, dan kehangatan komunitas Backpacker Indonesia.

 
http://sagoeleuser5.wordpress.com/2009/12/28/malang-melintang-coban-rondo-sempu-bromo/


      Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman 
ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke