Kebetulan kapan hari ada yg posting soal pengalaman kurang menyenangkan bikin 
paspor di kantor imigrasi Bandung (CMIIW)

Saya baru saja bikin paspor urus sendiri di kantor imigrasi Waru Surabaya, 
dengan total biaya : Rp 287 ribu, rinciannya : 

- Biaya pembuatan paspor : Rp 270 ribu
- Beli map dan kulit sampul paspor : Rp 10 ribu
- Beli materai : Rp 6 ribu
- Fotokopi2 dokumen: Rp 1 ribu (krg lebih, fotokopi di kantor soalnya hehehe)

Kalau lewat jasa agen / calo denger2 dari temen yg paling murah sekitar 460 
ribu... bahkan ada yg 1 juta klo mau sehari jadi.

Total perlu 3 kali datang, dengan total waktu sekitar 5 hari... (dulu benernya 
bisa 2 kali dateng, tapi sekarang jadi 3 hari karena pemohon paspor membludak)

Hari 1 : Pengisian formulir, memasukkan permohonan beserta dokumen. 

Waktu itu saya bawa (dokumen asli) : 
1. KTP
2. KK
3. Akte Lahir
4. Ijasah
5. SKBRI dan surat ganti nama ayah (utk WNI keturunan, mungkin tidak perlu sih 
tapi saya sekalian bawa aja daripada ntar diminta lagi dan bolak balik)
6. surat keterangan kerja dari kantor

Disarankan untuk datang pagi-pagi sebelum jam 8... Waktu itu saya nyampe pukul 
8:30 pagi karena paginya ujan, dan baru selesai sekitar pukul 10:00.
Pertama datang ambil formulir pendaftaran di pos luar ruangan, kemudian beli 
map, kulit paspor dan materai di loket di samping tempat fotokopian. Lalu 
setelah mengisi formulir2 dan surat pernyataan masuk ke  Di dalam ruang ambil 
nomor antrian di mesin layar touchscreen seperti layaknya di customer service 
bank-bank atau operator seluler gitu.

Waktu yg diperlukan untuk proses satu aplikasi ini sekitar 10-15 menit, soalnya 
petugas sekaligus melakukan cek dan screening terhadap dokumen2 tersebut. Jika 
ada yg kurang ntar bakal diberitahu dan diminta bawa utk proses hari ke dua. 
Fotokopi ditinggal, dokumen asli dibawa pulang tentunya.

Setelah selesai akan diberitahu suruh kembali hari kerja selanjutnya.


Hari 2 : membayar paspor, foto, scan sidik jari dan interview

Datang pukul 7:30 pagi, setelah ambil map permohonan di pos luar langsung masuk 
ke ruang imigrasi... udah ada antrian 15-20an orang berdiri di mesin antrian yg 
belum dinyalakan. Ketika kantor sudah buka dan sudah di sampai di mesin antrian 
ternyata dapat nomor 42. Hmm... mungkin sudah ada beberapa agen/calo yg 
me-reserve nomor2 awal... soalnya ada banyak nomor yg ketika dipanggil tidak 
ada orangnya.

Pertama kita menunggu untuk dipanggil ke loket pembayaran paspor (membayar yg 
Rp 270 ribu)... barangkali saya menunggu hampir satu jam untuk proses ini. 
Kemudian setelah itu menunggu lagi sekitar setengah jam untuk proses biometrik 
(foto dan scan sidik jari) serta interview. Proses tersebut cukup singkat, 
bahkan interviewnya sangat singkat dan gampang. Kurang lebih seperti ini : 

imigrasi : pernah ke luar negeri?
saya: belum
imigrasi: pernah punya paspor?
saya : belum
imigrasi: nanti rencana kemana?
saya: singapura
imigrasi: ejaan nama, tempat dan tanggal lahir sudah benar? (sambil menunjukkan 
data di layar komputer)
saya : iya betul
imigrasi: baik, kembali lagi hari rabu jam 2 siang untuk ambil paspor. terima 
kasih...  

Proses di hari ini selesai sekitar pukul 10:00.

Hari 5 : pengambilan paspor

Sambil membawa kuitansi pembayaran paspor, hari rabu jam 1 siang saya sudah di 
imigrasi langsung ke loket pengambilan paspor. Disana hanya ada satu orang 
petugas yang mencari mengambilkan paspor dari dalam ruangan, kemudian kita 
perlu tanda tangan surat2 pengambilan dan memfoto kopi paspornya untuk 
dikasihkan ke kantor imigrasi. Proses pengambilan paspor ini memakan waktu 
setengah jam lebih.

Selesai.

Overall menurut saya cukup gampang proses pembuatan paspor ini biarpun lewat 
jalur biasa dan relatif tidak banyak biaya2/pungutan2 liar. Pula tidak 
dipersulit yang macam-macam juga ataupun diperlama prosesnya. Dan cukup 
impressed dengan sistem informasi di kantor imigrasi yang sudah serba 
computerized dengan rapi. Jika punya waktu luang dan tidak mau spend terlalu 
banyak uang maka IMHO cukup recommended utk bikin paspor sendiri lewat jalur 
biasa... =)



Transcendently yours,
Happy Setiawan

'Life is not measured by the number of breaths we take, but by the moments that 
take our breath away"

my flickr photo gallery


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke