Halo rekan-rekan backpackers, kali ini Elly & Patrick pergi menjelajah Laos. Negeri imut ini di apit oleh 5 negara: Thailand, Vietnam, China, Myanmar dan Kamboja. Kita memilih keluar-masuk Laos via Thailand, karena banyak penerbangan ke Bangkok, dan ada pilihan bus atau kereta tujuan Laos.
18 Desember: SUB-x/KUL-BKK Petualangan kita dimulai dari tanggal 18 Desember, saat kita meninggalkan Surabaya naik AirAsia menuju Kuala Lumpur (transit di LCCT) dan lanjut ke Bangkok Suvarnabhumi. Sempat lari tergopoh-gopoh di Kuala Lumpur karena waktu transit yang pas2an hanya 2 jam, untung LCCT mudah untuk dinavigasi, dan kita sengaja tidak check-in bagasi biar gak kelamaan nunggu bagasi keluar. Ya, Air Asia adalah penerbangan point-to-point, gak ada istilahnya connecting flight. Jadi kita mesti turun pesawat, masuk imigrasi, keluar terminal kedatangan, terus lanjut ke terminal keberangkatan untuk check-in dan masuk imigrasi lagi. Sampai di Bangkok kita check in di hotel The Dawin di kawasan Nana. Hari sudah malam, perut udah lapar, makan dulu deh di warung favorit kita pas di seberang hotel. 19 Desember: BKK Hari ini kita berniat cari tiket kereta api untuk berangkat besok tanggal 20 Desember ke Vientiane, ibukota Laos. Setelah cek ke travel agent di Dawin, ternyata tiket kereta api sudah habis semua, adanya kelas 3 yang bangku saja, sedangkan kita maunya kelas 1 atau 2 yang ada ranjangnya, karena perjalanan Bangkok-Vientiane 12 jam alias semalaman, gila aja duduk terus2an di bangku kayu yang keras. Akhirnya kita sepakat untuk naik bus saja ke Vientiane. Harga tiket bus sekitar 1,500 Baht per orang. Sekalian juga kita beli tiket kereta api Nongkhai-Bangkok untuk tanggal 29 Desember, harganya 1,300 baht per orang, ini untuk kelas 1 yang ada ranjangnya. Staf travel agent mengingatkan kita untuk bikin foto ukuran passport buat visa Laos, karena kalau gak punya, nanti imigrasi Laos bakal scan dari paspor tapi tentunya kena biaya lagi yang mahal jadi mendingan siap2 foto 4x6 satu lembar saja. Beres urusan pertiketan dan perfotoan, kita jalan2 ke Paragon untuk beli buku2 teman jalan di Kinokuniya. Kartu BTS (skytrain) yang sempat kita beli bulan Juli masih laku, karena kita beli yang 5 tahun punya. Dari BTS Nana ke BTS Siam, hanya 20 baht per orang one-way, murmer dan gak pake macet Malam hari kita nongkrong di Hanrahans, pub Irlandia di Nana yang punya bir Guinness 100% asli import dari Negara asalnya. Aduh enak tuenan 20 Desember: BKK-VTE naik bus Sore hari jam 5 kita dijemput di hotel naik sedan menuju ke meeting point untuk naik bus. Lokasi meeting point ini di pasar dekat stasiun kereta api Hualampong. Banyak turis asing yang bengong menunggu bus di pasar yang sudah tutup ini. Gak cuma ke Laos aja, turis2 ini ada yang menunggu bus ke Krabi, Phuket, Pattaya, dan kota2 lain. Jadwal keberangkatan bus kita yang semestinya jam 7.30 malam, molor jadi jam 8. Hayo cepetan dong . Busnya ternyata model dua tingkat (double-decker), penumpang semua duduk di tingkat dua, gak ada yg boleh duduk di tingkat pertama, hanya sopir & kenek2nya. Bagasi udah masuk bus semua, jam 8 kita meluncur keluar kota Bangkok menuju Nong Khai, kota kecil yang berbatasan dengan Vientiane. Sepanjang perjalanan kita tidur pulas, busnya mulus, AC dingin, tempat duduk bisa reclining, cukup nyaman deh. Jam 12 malam kita berhenti sebentar untuk makan, entah kita ada di mana, yang jelas udaranya dingin sekali. Kita sudah diwanti2 oleh teman bahwa semakin ke utara pada bulan Desember, maka akan semakin dingin suhunya. Tapi beneran gak nyangka bakal sedingin ini Makan semangkuk pho panas sudah cukup untuk menghangatkan badan, beres makan langsung naik bus lagi, lanjut . To be continued.
