Part 2
21 Desember: Vientiane
Tepat pukul 6 pagi, bus berhenti di restoran kecil di Nong Khai. Di sini sudah 
disediakan kopi, roti, teh (bayar tentunya) dan sambil mengunyah makan pagi 
kita mengisi formulir visa. Ya, orang Indonesia harus punya visa untuk masuk 
Laos, harap di catat yah teman2…
Jam 7 pagi kita lanjut lagi ke perbatasan, 5 menit sudah sampai. Pertama kita 
harus cap departure dulu di imigrasi Thailand, prosesnya cepat, hanya 20 menit 
kita sudah lanjut naik bus lagi menuju imigrasi Laos. Jam 8 pagi kita tiba di 
imigrasi Laos, di sini semua bagasi turun bus. Aduh dinginnya suhu di sini…mana 
pagi hari lagi…selendang, jaket, topi sudah menutupi seluruh bagian tubuh, mana 
lama sekali untuk proses visa… Mirip pasar suasananya, yah maklum memang di 
sekeliling perbatasan ini memang pasar kok…lumayan bisa beli sandwich buat 
makan pagi…

Begini proses pembuatan Visa on Arrival:
1.      Kasih paspor & formulir visa ke jendela Visa on Arrival. 
2.      Bayar USD 31 untuk WNI, USD 36 untuk si Patrick yang USA. Bisa pakai 
Baht untuk bayar visa, tapi kursnya gak aci…kalau passport USA bayar pakai baht 
kena 1,380 baht. Yang paling mahal visa untuk paspor Kanada, kena USD 42.
3.      Bengong nunggu sampai passport selesai di tempel visa Laos….

Akhirnya setelah nunggu 1 ½ jam, selesai juga passport kita di tempelin visa. 
Ngantri gak pakai nomor atau aturan yah. Jadi sesekali bakalan ada tangan 
mencuat keluar dari sebuah jendela di sebelah jendela VoA, memegang sebuah 
passport. Turis2 asing pada maju menyerbu ke jendela untuk membaca passport 
milik siapakah ini… yang empunya passport segera menyambar miliknya dan 
melenggang menuju imigrasi…. haduh asik banget prosedurnya…. 
Yang sangsi kalau ngasih USD pecahan besar apakah dapat kembalian, tenang aja, 
pasti dapet kok, biarpun cuma 1 dolar, tetep di kembalikan bareng paspor. Gak 
lecek pula…

Setelah beres imigrasi, jleb jleb cepet banget prosesnya, jam 9.45 kita naik 
bus lokal untuk masuk ke kota Vientiane. Bus jadul tapi ber AC ini melaju 
kencang melewati Thai-Laos Friendship Bridge, dalam hitungan detik bus kita 
sudah meluncur di tanah Laos. 
Jam 10.30 bus berhenti di sebuah jalan dekat Bank BCEL, yang tegak lurus dengan 
jalan Fa Ngum yang sejajar dengan Sungai Mekong…Bingung? Halah apalagi kita, 
yang pegangannya cuma Lonely Planet Laos, yang mendata bahwa seharusnya kita 
berhenti di Talat Sao (Morning Market) tapi kok berhentinya gak jelas gini… 
mana pasarnya???

Kesan pertama kita untuk kota Vientiane: dingin! Maklum Desember itu memang 
musim dingin. Juga bersih, gak rame motor kayak Vietnam. Penduduknya ramah, 
kita selalu di senyumi mereka sambil berucap  "Sabaideeeee!" (welcome!). 

Yo wis, kita nanggap tuk-tuk untuk ke hotel di Vientiane, Lao Heritage (3 
malam=USD 78.75). Hotel ini kita booking online, lewat 
www.vientiane-hotel-link.com (Teamworkz Consulting). Kita dapat rekomendasi 
travel agent ini dari tripadvisor.com. Tawar-menawar alot dengan tuk-tuk, 
akhirnya udah deh kita nyerah bayar 140 Baht. Ternyata tuk-tuk ini gak tahu di 
mana hotel Lao Heritage, tanya punya tanya, keliling punya keliling, akhirnya 
ketemu juga setelah 15 menit, ada di area Banh Anou. Lumayan sekalian orientasi 
Vientiane… Angin dingin menyapu wajah, untung ada terik matahari pagi yang 
hangat…
Check-in sekitar jam 11, kebetulan buffet breakfast masih ada, kita 
dipersilahkan minum kopi Laos yang terkenal. Hmmm panas2 enak… 

Hotel ini ternyata ada dua bangunan, tempat kita check-in dan breakfast, dan 
sekitar 2 menit jalan kaki ada satu bangunan lagi yang ada beer garden. Kamar 
kita (no. 11) ada di lantai dua. Hotel berlantai tiga ini berbentuk rumah 
panggung khas Laos, lantai kayu, dinding tembok. Ada taman mungil asri di 
ground floor. 
Kecil juga kamarnya, untung kita berdua termasuk ukuran Asia yang imut. Coba 
kalau kelas berat, pasti gak muat masuk pintu kamar mandinya. Ada air panas 
(penting sekali di musim dingini ini!), kulkas dan TV. Tidak boleh merokok di 
dalam kamar, tapi ada beranda yang asik buat nongkrong dan boleh ngebul di 
sana. Vientiane memang sedang menggalakkan progam `No Smoking', jadi banyak 
larangan merokok di tempel di tiap penjuru kota. Tapi tetep aja tuh penduduk 
lokal cuek2 aja ngerokok sembarangan…

Beres taruh tas di kamar, kita jalan2 dengan tujuan mencari money changer dan 
mengunjungi travel agent yang handle bookingan hotel kita di Vientiane (mau 
cancel satu malam soalnya…). Kurs saat itu 1 Baht = 255 kip. Sebenarnya di 
mana2 Baht di terima, bahkan sering di bon restoran ada tercetak harga dalam 4 
macam mata uang, bisa bayar pakai Kip, Baht, Euro, atau USD. 

Habis nukar uang, kita stop dulu di Sabaidee café di Jl. Fa Ngum, minum kopi 
Laos, makan omelette kemangi & bawang putih (18.000 Kip). Oh ya, di Laos hampir 
semua plang/signboard pakai dua bahasa, tulisan Laos yg keriting mirip 
Thailand, dan Prancis. Tapi anehnya gak ada penduduk Laos yang bisa bahasa 
Prancis… Inggris juga nyaris gak ada yang bisa, kita lebih sering pakai bahasa 
kalkulator atau tarzan.

Sungai Mekong yang seharusnya indah dan damai saat itu sedang tertutup urukan 
tanah merah, bulldozer lalu lalang, berantakan, berdebu, gak bagus deh. Ada 
pengumuman yang menyatakan sedang dibangun proyek taman di tepi sungai ini. Yah 
batal deh niat nongkrong di tepi Mekong sambil nyeruput kopi… debunya gak kuat…

Akhirnya kita memutuskan jalan kaki nyari travel agent yang sudah kita gunakan 
untuk booking hotel di Vientiane. Sebelumnya kita sudah tanya orang Lao 
Heritage di mana lokasi travel agent ini. Ancer2nya di sebelah hotel Beau 
Rivage, di Jl. Fa Ngum. 

Kantor Teamworkz itu modern dan imut, walaupun letaknya di basement Spirit 
House, café yang sebelahan dengan Beau Rivage yang pink. Kita ketemu dengan 
Mouk, gadis Laos fasih Inggris yang handle bookingan online kita. Baik sekali 
si Mouk, penuh pengertian saat kita membatalkan satu malam di Vientiane, uang 
kita di refund 100%. Karena terkesan akan servisnya, akhirnya kita pesan tiket 
pesawat Vientiane – Luang Prabang dan hotel di Luang Prabang sekalian. Bosnya 
Mouk, Mr. Lee Sheridan, juga sangat baik, bule tinggi besar ganteng ini ramah, 
dia rekomen resto2 yang enak di Vientiane. Ternyata dia sudah tinggal di Laos 
selama 8 tahun, pantes pengetahuannya lengkap... pokoke kita sangat2 rekomen 
travel agent ini, kalau ke Laos boleh lah di coba kontak mereka (email waktu 
weekend pun di jawab!). 

Beres ngurusin hotel & tiket buat ke Luang Prabang, kita lanjut lagi jalan2 
menyusuri tepi sungai Mekong. Nemu sebuah warung kayu kecil super sederhana 
yang bertengger di tepi Mekong, jadilah di sana kita menikmati BeerLao pertama 
kita….segar, nutty, gak manis. Badan yang udah pegel2 abis naik bus semalaman, 
jadi seger lagi deh…

Lanjut lagi jalan kaki ke rue Nokuekommen (or something like that) karena tekad 
saya untuk mencari tekstil khas Laos. Mampir sebentar di Carol Cassidy House, 
butik yang bertempat di rumah tua berumur 100 tahun yang masih terawat. Ngobrol 
sama mbak SPG yang lumayan fasih Inggris, saya bilang saya mau beli sinh, rok 
panjang bermotif mirip ikat yang banyak dipakai perempuan Laos. 
Gak ada mbak, katanya, coba deh ke Talat Sao, gudangnya sinh, masih buka walau 
sudah sore katanya. OK deh, lanjut terusin ke Talat Sao. Jalan punya jalan, eh 
nemu ATM ANZ, cobain ah narik kip pakai ATM BCA. Ternyata bisa, maksimum 
penarikan 2 juta kip, ongkosnya 20.000 kip. U'uy! Pundi2 sudah terisi, kita 
jalan kaki ke Talat Sao mall, sekitar 15 menit udah nyampe. Maklum Vientiane 
itu kecil, kemana2 cukup jalan kaki deh… 
Namanya mall, tapi kecil sekali ukurannya kalau dibanding mall2 megah di 
Jakarta. Mirip Delta Plaza yang di Surabaya, tapi lebih kecil lagi… Banyak tuk 
tuk ngetem di depan mall putih berkesan baru ini. Saya naik ke lantai dua, ada 
beberapa toko yang masih buka, langsung deh beli sinh yang sudah jadi rok, 
harganya 120.000 kip setelah ditawar. 
Cape juga akhirnya, jam 6 kita jalan kaki balik ke hotel, mandi air panassss, 
dan jam 7 kita cabut lagi buat makan malam. Pilihan kita malam ini Le Cave, 
resto Prancis di bundaran air mancur Nam Phu. Jangan ngebayangin air mancur 
yang besar yah, kecil tuh… Di sini kita ketemu banyak penduduk Vientiane yang 
nongkrong2, jogging, main sama doggie, anak2 cilik yang iseng main cipratan 
air, seru deh buat people-watching. 

Resto Le Cave yang di rekomen Lee Sheridan ini makanannya syedap! Kita pesan 
red wine ½ carafe (500 ml) harganya 58.000 kip. Kita order 1 mixed sea food 
salad, 1 farmer salad, 1 onion soup, 1 crispy chicken, 1 squid in province 
style, 1 café espresso, total termasuk wine 426.000 kip = 1.700 baht. 
Presentasi makanannya cantik, pelayanannya ramah, bener2 top resto ini! 

Jam 8.30 air mancur Nam Phu berhenti operasi. Suasana langsung sunyi, bunyi 
jangkrik, teriakan samar2 anak2 kecil yang bermain, anjing melolong, hmmm 
sayhdu sekali Vientiane di waktu malam….

End of our first day in Vientiane.

to be continued...

Kirim email ke