Dear mbak dan mas moderator, mau share cerita saya waktu ke Ayuthaya..
Pagi itu saya bangun dengan semangat yang tinggi. Oh yes..!! Saya masih di Bangkok. Cepat saya mandi dan bersiap-siap. I have a BIG plan. Bersepeda di kota tua. Check the schedule, kereta berangkat jam 7 pagi dari Hualampong train station. Waduh...kayaknya naik kereta berikutnya aja deh yang jam 8.30 pagi. Sampai di railway station, saya langsung menuju loket. Ternyata disini hampir terjadi misunderstanding. Karena masalah pronunciation. Dari informasi yang saya dapet, biaya per orang untuk train tanpa air conditioner ke Ayutthaya adalah 20 Bath. Tiba-tiba si bapak menunjukkan angka di calculator yang bikin saya langsung terperangah. OMG…!! Salah harga nih. Kok mahal banget. Untungnya saya tidak langsung bilang setuju, tapi saya lari ke information counter. Ternyata saya semestinya meminta third class ticket tapi saya mendengarnya three cards. Padahal tadi si bapak sudah menawarkan third class ticket tapi saya salah menangkap maksudnya. Pantas lah bapak sempat kesal. Maaf.. Setelah tiket ditangan, saya menungggu kereta sambil duduk di hall station. Ada bangku berjajar, menghadap ke loket-loket. Sementara diatas ada gambar raja Thailand. Tiba-tiba saya dengar bunyi pluit, “Priiiiiiiiiiiiittt..!!”. Saya lihat ada beberapa orang pakai seragam mirip sekuriti berbaris. Ah.. mereka mau apel pagi, piker saya. Ternyata.. kok denger musik instrument. Dan orang-orang pada berdiri, suasana langsung hening. Lihat sana sini, baru sadar, oooh.. setiap jam 8 am wajib mendengarkan national anthem. Dan kita mesti berdiri untuk memberi penghormatan. Walaupun rada bingung plus heran, saya ikut-ikutan juga berdiri. Pengalaman yang menarik kan? Mendekati 8.30 am, saya mulai berjalan menuju platform 11, sesuai informasi yang saya dapat. Kereta api datang tepat waktu. Saya membayangkan seperti KRL di Jakarta yang langsung berebutan. Ternyata ga juga. Walaupun without aircon, kereta api tetap nyaman. Jendelanya lumayan besar.. jadi saya bisa menikmati semilir angin. Tidak berebutan dan tidak apa penjual asongan yang biasa menjajakan dagangan kalau naik KRL non aircon di Jakarta. Kereta bergerak pasti meninggalkan bisingnya Bangkok. Mulai sedikit demi sedikit beralih pemandangan. Tidak berbeda jauh dengan Jakarta. Terlihat beberapa slum area. Masalah classic perkotaan. Lama-lama kereta mulai memasuki kawasan yang lebih sepi. Suasana seperti naik kereta api ke Bandung waktu mulai melewati Cikampek. Terlihat toll, dengan tanah yang lapang dan gersang. Tapi bedanya, disini kadang menemukan bangunan mirip grand palace yang di Bangkok. Maaf saya ga tau nama bangunannya. Semua menggunakan huruf Thailand. Membuat saya serasa mendadak buta huruf. Jam 10.30 saya sudah sampai di Ayutthaya. Disambut ramah oleh beberapa supir tuk-tuk supaya saya menyewa tuk-tuknya. Tapi saya memilih keluar station menuju rental sepeda. Ya, saya mau bersepeda di Ayutthaya. Seorang ibu memanggil saya menawarkan sepedanya. Sepeda berjejer cukup banyak. Saya diminta memilih sepeda mana yang mau saya sewa plus membayar 40 bath per sepeda sampai jam 6 sore. Semuanya sepeda mini dan berkeranjang. Mirip sepeda saya waktu sekolah dulu. Dengan bahasa inggris yang terbatas, si ibu menunjukkan rute dari peta yang saya ambil di stasiun tadi. Tapi dengan mengikuti saran dia, malah membuat saya sengsara. Dia memberi saran supaya saya menyeberangi Pa Sak river by boat. Bayar sih cuma 3 bath, tapi nurunin sepeda dan mengangkat sepeda ke boat cukup memerlukan tenaga lumayan besar. Selama didalam boat sambil memegangi sepeda, saya berpikir, bagaimana ya nanti saya turun dari boat. Pasti perlu usaha yang besar lagi kayak waktu saya naik ke boat. uuuhhff... Untung.. masih untung… ditolong orang waktu naikin sepeda ke atas. Secara geografis, Ayuthaya merupakan pulau kecil yang dikelilingi oleh tiga sungai besar. Yaitu Chao Phraya, Lopburi dan Pa Sak. Kebanyakan, reruntuhan wat (candi) ada di dalam pulau Ayutthaya. Walaupun ada juga beberapa di luar pulau ini yang bisa dilalui dengan menyeberang sungai atau melewati fly over. Sampai diatas, saya sudah berada di U Thong Road. Jalan ini akan melingkari pulau Ayutthaya. Banyak turis yang menyusuri U Thong Road untuk menikmati pemandangan reruntuhan kota tua ini. Maka mulailah saya mengayuh sepeda saya dipanasnya kota. Rencana saya adalah bersepeda di dalam pulau Ayutthaya kemudian dilanjutkan ke outer ring dengan menewati fly over. Tujuan pertama saya adalah Wat Mahathat. Tidak sulit menemukan dimana lokasinya. Setelah memarkir sepeda di halaman wat, saya mulai menuju loket. Saya membayar 50 bath atau setara dengan Rp. 15.000. Kesan pertama yang aya lihat mirip candi prambanan di Jogjakarta, tapi yang ini dari batu bata. Padahal kalo candi prambanan kan candi hindu ya hehehe.. Khasnya dari wat ini adalah, ada kepala budha yang terlilit akar pohon. Setelah puas berkeliling dan berfoto, saya mulai beranjak menuju Wat Ratchaburana. Lokasinya ada disebelah Wat Mahathat. Entrance fee 50 bath. Di wat ini, saya serasa memasuki gerbang yang didalamnya ada candi. Lagi-lagi mirip sekali dengan prambanan. Tapi seperti yang tadi saya sampaikan, semua dari batu bata merah. Waktu itu ada banyak mahasiswa duduk-duduk dibawah pohon, sambil menggambar wat dari berbagai posisi. Mungkin kalau di jogja, mereka ini mahasiswa ISI (Institut Seni Indonesia). Saya memasuki area dalam candi. Dari dalam, saya lihat ke langit-langit candi. Arsitektur ceiling nya mirip dengan Angkor Wat. Yang membedakan adalah wat di ayutthaya menggunakan batu bata. Sangat menarik sekali. Teriknya matahari tidak menyurutkan niat saya mengayuh sepeda. Berhenti sebentar untuk menikmati dinginnya kelapa muda segar dengan harga 20 bath, saya kembali mengayuh sepeda saya. Tujuan saya adalah Wat Lokaya Sutha. Katanya ada reclining budha tapi dengan wajah yang tersenyum. Jadi penasaran. Ternyata, tidak semudah yang saya kira untuk menemukan wat ini. Perut lapar, panas cuaca, membuat saya memutuskan untuk menikmati makan siang. Sulit buat saya menemukan kedai muslim. Tapi pada saat injury time, saya menemukannya..!!! Langsung saya berhenti dengan semangat. Saya memesan ayam bakar, nasi, dan salad. Nasinya ternyata sticky rice. Oh mungkin bukan hal asing disini kalau makan ga harus pake nasi biasa, tapi dengan ketan pun jadi. Oya, saladnya so yum yum.. Segar. Ditambah beberapa macam lalapan. Yang menarik buat saya, daun kemanginya besar-besar banget. Ukurannya beda dengan yang ada di Indonesia. Jambu bangkok, durian bangkok, semua besar-besar. Termasuk kemangi bangkok kali ya? Karena lapar, jadi semua makanan terasa enak. Sampai habiskan semua. Saya membayar 60 bath untuk semua menu tersebut. Sekitar 18 ribu rupiah. Perut kenyang, saya mengayuh lagi dengan semangat. Akhirnya saya menemukan lokasi Wat Lokaya Sutha. Ada beberapa tourist yang juga sedang berada disana sambil berfoto-foto. Saya langsung menuju ke reclining budha. Menurut informasi, patung budha tidur ini berbeda dengan yang ada di Bangkok. Ternyata benar..!! Bukan patung berwarna keemasan mewah seperti di Wat Pho. Tapi lebih sederhana. Cat berwarna putih mulai memudar disana sini. Patung Budha yang sedang tidur ini dengan wajah tersenyum. Terlihat damai dan tenang. Indah sekali. Ooops.. tidak lupa saya berfoto. Itu wajib..!! Oya, satu hal yang hampir saya lupa, disini tidak ada entrance fee. Saya melihat jam, sudah lewat jam 2 siang. Waktu bergerak dengan cepat. Saya buru-buru mengayuh sepeda menuju Wat Yai Chai Mongkhon. Sepanjang jalan saya melihat wat-wat dan juga turis yang konvoy dengan menaiki gajah. Melihat lokasi Wat Yai Chai Mongkhon saya hampir putus asa karena berada di lingkar luar. Tapi tetap saya kayuh sepeda mini saya. Sudah jauh-jauh sampai sini, saya ga mau rugi ga mengunjungi tempat yang sudah saya rencanakan. Dari peta, saya lihat, route saya harus bersepeda melewati sungai dan rel kereta api memalui fly over. Waduh..!!! Ini gila!!!! Panas terik, jalan menanjak.. Rasanya nafas udah ga jelas lagi seperti apa. Tapi tetap semangat, ga boleh enggak. Setelah menyeberang dengan perasaan lega, saya harus memutar sedikit rute saya karena sibuknya jalanan. Konyol saja kalo saya mesti menyeberang ditengah padatnya lalulintas. Bisa-bisa ketabrak mobil yang ngebut. Dari jauh sudah terlihat stupa dari Wat Yai Chai Mongkhon membuat saya makin semangat. Sebenarnya.. mau ngapain siiiihh sampe dibela-belain bersepeda di high way yang sibuk dengan teriknya matahari yang menyengat ? Jujur ya.. saya hanya mau foto di patung reclining budha yang lain yang ada di wat ini. Semangat saya langsung menyala melihat sebentuk candi dari kejauhan. Makin kuat saya mengayuh sepeda akhirnya sampe di pelataran parkir. Haus.. Saya memutuskan membeli sebotol green tea dingin. Langsung habis saya tenggak. Berjalan menuju loket untuk membayar tiket masuk. Hanya 20 bath saja. Lebih murah dari wat-wat yang di inner ring. Tapi, wat ini cukup besar dan lebih terawat dibanding wat-wat yang ada di inner ring. Patung budha tidur memang tidak sebesar di Wat Lokaya Sutha sih. Tapi sangat terpelihara dengan taman-taman yang cantik. Orang datang dan pergi untuk berdoa disini. Setelah berfoto sebagai bukti otentik saya pernah berkunjung kesini, saya mempelajari lagi peta wisata Ayutthaya untuk kesekian kalinya. Hmmm..sepertinya ada jalan lain yang tidak harus melewati fly over, tapi harus memutar sedikit. Ok saya memilih rute lebih jauh tapi tidak ngos-ngosan. Cukup trauma buat saya bersepeda menanjak melewati fly over. Pilihan saya ternyata sangat tepat. Sewaktu saya melewati bawah highway, rasanya lega sekali. Saking senangnya, tidak terasa saya mengayuh dengan cepat. Padahal waktu saya sewa sepeda masih 2 jam lagi. Saya mengembalikan sepeda jam 4 sore. Sempat meminta si ibu untuk mengambil foto saya waktu nangkring diatas sepeda dengan latar stasiun Ayutthaya. Walaupun kaki rasanya capek banget mau protol, tapi saya lega bisa menyelesaikan misi ini. Saatnya saya kembali ke Bangkok. Jadwal kereta jam 4.30 PM. Jadi saya bergegas membeli tiket untuk kembali ke riuhnya kota metropolitan. Terduduk dalam penat di kereta, saya hanya merasa betapa perjalanan kali ini benar-benar mengesankan. Salam, Laila Aryani http://feb05.multiply.com/ [Non-text portions of this message have been removed]
