Teman; Terimakasih juga untuk rekan2 yang menyampaikan pendapat dan pengalamannya. Baik langsung maupun lewat mailing list. Rekan June dari Kolkata membagi pengalamannya bagaimana justru ada pemerintah yang dengan bangganya memelihara kemiskinan karena bisa menjadi komoditas untuk mendapatkan bantuan. (menarik untuk membaca emailnya secara lengkap dibawah email ini) Di ekstrim lain, ada pemerintah yang sedemikian pemalunya sehingga kemiskinan tidak boleh diekspose dan harus diletakkan dibawah karpet. Wisata daerah kumuh bisa diterima asal; - Warga tidak berkeberatan daerahnya dikunjungi (Rekan Ari Lambe). Rekan Adolf menyarankan kalau berkunjung tidak lebih dari 5 orang dalam satu kelompok, sehingga tidak tampak seperti anjangsana pejabat. - Hasil pendapatan dari guiding service yang diberikan kembali ke warga, namun tidak dengan cara yang memberi semangat kepada warga untuk memelihara kekumuhan daerahnya, atau mematikan daya kreatifitas dan potensi aktual mereka. Rekan Tari berpendapat hasilnya diberikan berupa fasilitas fisik yang dapat digunakan bersama-sama. Bisa juga dibuat menjadi bentuk acara Sukarelawan Tapi Bayar (untuk menyaingi Temen Tapi Mesra)...bentuk wisata yang memberi kesempatan untuk merasa 'jadi orang baik' karena merasa sudah membantu orang lain... tp jangan lupa; bayar! Ah, susah bener ya jadi konsumen yang bertanggung jawab... Tabik; Puguh
----- Message transféré ---- À : Puguh <[email protected]> Envoyé le : Lun 1 Mars 2010, 11 h 05 min 30 s Objet : Re: [indobackpacker] Wisata Daerah Kumuh: Apa pendapatmu? hello Puguh, saya tertarik membaca dan merespons emailmu. saya punya sedikit pengalaman yang ingin saya bagi dari sedikit pengalaman saya. selama 7 bulan terakhir saya tinggal di kolkata, di mana kemiskinan jadi pemandangan yang biasa. meskipun potret kemiskinan menjadi wajah kota ini, namun kolkata menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang utama di india. di kolkata, pemukiman kumuh tersebar di mana-mana, tapi dengan konsentrasi tertinggi di daerah howrah dan college street. disparitas kaya-miskin sangat terasa di kota ini, tapi paradoksnya kemiskinan selalu menjadi sumber inspirasi spiritual bagi sebagian orang. dan itulah alasan dari sebagian turis untuk berwisata ke tempat ini. kadang saya merasa romantisme spiritual yang menjalar di antara turis ketika mereka melihat kemiskinan menjadi terlalu berlebihan dan tidak masuk akal. sebagian dari turis yang cukup realistis (bisa melihat masalah yang sebenarnya) mencoba mengubah keadaan melalui kerja sukarela di NGO. niat mereka jelas berbeda dengan orang asing lainnya yang bekerja secara profesional untuk NGO, yang sudah mulai beroperasi sejak masa kolonial dulu. anehnya, dengan begitu banyak NGO dari penjuru dunia, yang telah beroperasi puluhan bahkan lebih dari seratus tahun lamanya di kota ini, perubahan tetap tidak terjadi. kenapa? karena kemiskinan menjadi komoditas yang bisa diperdagangkan oleh penguasa. alih-alih merasa malu karena kemiskinan yang merajalela, penguasa justru melihat potensi ekonomi yang tinggi dari kondisi ini. dan di tengah kondisi ini, mereka yang miskin tidak bisa berbuat apa-apa karena sistem membuat mereka docile. saya pikir, membuat kaum miskin berdaya dengan kerja dan karya yang lahir dari potensi aktual mereka akan jauh lebih berguna daripada membuat mereka menjadi komoditas turisme yang, salah-salah, malah membuat mereka mati kreatifitas dan karya--karena dimanipulasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. jika ada kata-kata yang tidak berkenan, saya mohon maaf. june [Non-text portions of this message have been removed]
