Yang blom pernah ke Halimun dan ingin kesana, sekedar sharing catatan perjalanan.
Enjoy the story .... salam, deedee ====================================================================================== It’s very difficult to says NNo telp penginapan Taman Nasional Halimun : 026-662 1256. Jangan lupa untuk membooking penginapan jauh2 hari ya, secara beberapa teman kemarin ngak dapat penginapan dan gambling cari penginapan on the spot sehingga akhirnya dapet menginap di rumah penduduk setempat. Pheewww. Anyway kami kenalan dengan penjaga penginapan, Pak Sugiarto dan pemandu kami, mas Hendy yang hobby pake baju loreng2 (aiiihhh, man in uniform). Kemudian kami ber isitirahat sebentar, mengeluarkan barang2 dan menyiapkan sarapan sekaligus makan siang. Note : -bagi yang ikut rombongan sharing cost alias patungan (bukan ikutan dengan E.O), sangat disarankan agar saling membantu dan membagi tugas, baik yang merapikan kamar, menyiapkan makanan, dll dsb, jadi bukan nya malah menghilang duluan dan photo2. Semua anggota rombongan pastinya ngak sabar ingin segera explore, tapi sebaiknya, urusan penginapan dan persiapan barang/makanan diselesaikan terlebih dahulu, baru bisa explore tempat secara santai Setelah brunch alias makan siang tanggung dengan indomie dan hamburger, kami memulai rute kami yang pertama, trekking di hutan lindung di Taman Nasional Halimun. Trekking di hutan Taman Nasional ini mengasikkan. Selain udara nya segar, banyak sekali terdapat jamur2 yang hanya terdapat disini, yang kalau malam hari, bisa mengeluarkan cahaya alias glow in the dark. Akan tetapi, kami menjadi sedikit kecewa dikarenakan canopy yang terdapat di Halimun yang katanya udah beres dan bisa dinaiki ternyata masih dalam keadaan rusak parah, ditambah lagi monyet kecil dan macam yang biasanya menjadi daya tarik Taman Nasional Halimun ternyata sudah tidak terdapat lagi disana, sehingga akhirnya kami tidak jadi melanjutkan rute trekking ke hutan dan melanjutkan itinerary kami trekking di perkebunan teh setempat., yaitu perkebunan teh Nirmala. Pemandangan di kebun teh ini hampir sama dengan perkebunan teh yang ada disepanjang jalur puncak. Bedanya, ditengah kebun teh terdapat perkebunan bunga mawar yang indah juga pabrik teh dimana kita bisa melihat proses pembuatan teh nya. Kami berisitirahat diatas puncak perkebunan sambil memotret indahnya pemandangan sekitar yang hijau dengan udara yang sejuk. Puas bercengkrama (gila, udah lama gue ngak menggunakan kata bercengkrama, hihi) disini, kami turun balik kearah penginapan dan menuju ke curug Cimacan. Rute menuju curug Cimacan itu ringan dan jaraknya cuman sekitar 10 menit saja dari penginapan, sehingga tau2 kami sudah berada di air terjun curug Cimacan, dan disana saya bertemu dengan teman2 CouchSurfing Jakarta (endah, dwi, Dee K etc) dan juga bertemu dengan teman2 Indobackpacker, Han2 dan Umro juga yang juga lagi jalan2 kesana. Berenang, main air dan photo2 sepuasnya, menjelang sore kamipun kembali ke penginapan, mandi dan berisitirahat. Setelah makan malam, beberapa teman melanjutkan trekking ke hutan untu melihat jamur yang bersinar diantara pepohonan. Tapi secara saya sekian tahun lalu udah pernah melihatnya, saya dan beberapa teman lainnya memilih untuk leyeh2 di penginapan sambil menghirup teh dan kopi hangat sambil nge gossip dan bermain kartu hingga lewat tengah malam. Untuk yang phone & internet addict, berada di Halimun bagaikan berada di pusat rehabilitasi karena sinyalnya bener2 ngak ada, so nggak bisa sms2am, telp2an & update status facebook, haha, emang enak! Ketika kembali, teman2 yang tadi trekking meihat jamur ternyata membawa oleh2 lintah di sekujur tubuh mereka, jadi mereka sibuk membersihkan diri dari lintah yang kecil2 itu. Note : -untuk trekking kedalam hutan atau curug, sebagai antisipasi lintah, sangat dianjurkan untuk memakai sandal gunung atau sepatu sneaker yang tertutup sekalian, celana panjang dan baju yang nyaman, kalo bisa yang lengan panjang -apabila terkena lintah, jangan panik, taburi lintah dengan garam atau tembakau rokok hingga lintahnya copot sendiri. Tapi kalo belum copot, lintah juga bisa dibuang dengan tissue atau handuk kecil yang dibasahi dengan alkohol atau cairan detol, lalu setelah dibersihkan, dikasih betadine atau minyak tawon biar ngak bengkak. Kalo terjadi sedikit pendarahan, dipakai plester/handiplast. -jangan lupa untuk menyemprotkan atau memakai lotion anti nyamuk dikarenakan nyamuknya lumayan banyak dan ganas yang gigitan nya terasa sekali Halimun Day-2 : Trekking ke Curug Pi'it, the hell out of experience ! Acara hari ini adalah trekking ke Curug Pi’it. Dikarenakan tempat ini berjarak 1 jam dari penginapan dan otw back to Jakarta, maka setelah sarapan dan makan siang, kami mengemas semua perlengkapan kami dan pamitan kepada bapak penjaga penginapan. Note : - Bo, kalo mau pulang, jangan lupa bersih2, beres2 yaaa. Yang ngak bantuian masak bisa cuci piring atau bersihin kamar dll dsb. Jadi enak kan kalo meninggalkan penginapan dengan keadaaan bersih. - Jangan lupa untuk sweaping to make sure agar barang2 bawaan jangan sampe ada yang ktinggalan disini secara ngambil nya males banget bo, jauh! (dapet salam dari jaket bulu2 yang ketinggalan disana). Jalan kearah Curug Pi’it juga jelek dan penuh guncangan, sehingga harus sabar2 dan menahan diri untuk ngak ngomel2 sepanjang jalan. Setibanya di TKP, kami begitu “excited” dan “siap perang”. Dengan perlengkapan trekking yang gaya, tank top celana pendek dan sandal gunung, sayapun siap terjun ke medan perang. Di pintu masuk hutan nya, kami bertemu lagi dengan teman2 CS yang baru kembali. Tampang2 mereka bener2 kecapek-an dan kayak mau mati, dan mereka wanti2 ke kami agar ber hati2 serta menjelaskan betapa sulitnya medan menuju ke TKP yang naik turun 90 derajat celcius, belum lagi tanahnya yang licin yang menyebabkan sering terjadinya badan terpeleset etc etc. kami dengan congkaknya menertawakan mereka dan menganggap mereka “cemen”. Apalagi saya yang udah biasa keluar masuk goa, trekking ber jam2 ke baduy dan kemana2, jadinya agak belagu memang. Tapi tenaaaaanng, orang congkak emang ada ganjaran nya kok. Awal perjalanan, jalan nya masih rata dan landai, jadi kami jalannya cepet2, penuh semangat pake acara bernyanyi2 segala dan pastinya, photo2 tiada henti. Pokoknya lebay deh. Makin lama, jalan nya kok ya makin menurun, menukik tajam, makin licin secara tanah liat basah yah bo, jadinya banyak “crime scene” alias jejak2 peninggalan bekas orang yang pernah terjatuh disana. Ok, 15 menit perjalanan, kami (termasuk saya sendiri) mulai bertanya pertanyaan standard yg membosankan “masih jauh nggak pak ?’ yang tentunya dijawab dengan jawaban standard yang menyebalkan “dikit lagiii”. Begitu terus spepanjang jalan. Gerakan kami mulai melambat, mulai banyak berhenti dan napas tersengal2 plus terbatuk2. Ternyata, usia emang nggak bisa bohong yah ? Dan ternyata pemirsaaa, medan nya emang keparat mampuzzz !!! rating nya 3 dari 4 tingkat kesulitan ! Sumpah, jalan kaki kesana nya sih cuma 1 jam, tapi jalan nya itu looooh, menurun vertical bener2 90 derajat dalam arti yang sebenarnya, belum lagi jalan nya licin sumpah dan sempit dimana di kanan kiri jurang dan tanahnya licin dan ngak ada pegangan nya, dan beberapa meter di ujung jalan sebelum ke mencapai curugnya pake acara merangkak segala ! buat orang yang amat menyukai adventure dan adrenalin, kegiatan ini tentu saja amat sangat mengsikkan, akan tetapi untuk ukuran manula seumur saya yang udah mulai jarang trekking apalagi olah raga, rasanya emang udah mau mati beneran saking frustasi nya ini tempat ngak nyampe2. Kami tidak berani dan tidak mau membayangkan perjuangan pulang kembali keatas. Yang ada di otak kami saat itu hanyalah “yang penting sampe aja dulu”. Dan perjuangan kami itu terbayarkan ketika akhinrya tiba di TKP dan menyaksikan keindahan curug Pi’it dari jarak amat sangat dekat, berenang dan terjun kedalamnya. Tuhan emang maha besar & maha pencipta. The trekking is really worth the hell out of it ! Setibanya di TKP, kaki rasanya udah sangat gemetar dan mati rasa, apalagi perut dan kaki sempet kram sedikit akibat kedinginan, kecapekan dan kelaparan. Padahal tadi sebelum turun, perut kami udah diganjel makan siang, tapi setelah tiba di TKP. mendadak menjadi amat sangat lapar dan perih minta di isi, sedangkan semua makanan ada di dalam mobil dan tadi nggak kepikiran untuk membawanya, karena ngak menyangka medan nya akan seberat ini. Silly me! Akhirnya kami semua duduk sejenak untuk mengatur napas yang mulai hilang. Melihat perjuangan ke curug pi’it membuat curug macan yang kemarin kami kunjungi menjadi terlihat seperti “taman bermain”, (meminjam istilah suzie, haha!) Saya yang tidak bisa berenang (shut up Don!) menyerah, lebih memilih untuk leyeh2 dan membaca novel di saung air terjun daripada mandi di air yang dingin nya kayak air kulkas (bener deh, airnya beku banget, kayak lagi winter!) dengan arus yang amat sangat deras sedangkan teman2 lainnya langsung berganti dengan baju renang dan berbikini ria dan menikmati berendam dan berenang sambil photo2 di area air terjun tersebut. Setelah puas berbasah2 ria, kami semua mulai bersiap2 naik dan OMG, perjuangan untuk kembali keatas lebih berat daripada turun kebawah (ya iyalaaahh), naiknya lembali vertical 90%, merayap, berhenti 1000 kali, sesek napas dan yang melengkapi penderitaan kami, hujan mendadak turun dengan amat sangat deras membuat suasana mendadak menjadi melankolis dan bawaan nya pengen nangis (flashpacker kok cengeng). Padahal, tadi nya sempet ngarep supaya hujan turun dengan derasnya kayak di novel2 atau di film2 roman picisan gitu, tapi ini boro2 romantis, bawaan nya senggol bacok deh, saking lelah lahir dan batin. Uji kesabaran banget ! Kaki aja ngilu banget (tapi masih lebih ngilu putus cinta sih, hehe). Teman2 yang tertinggal di belakang udah puluhan kali jatoh, sedangkan saya yang ngak sabar dan terus maju paling depan “hanya” terjatuh sebanyak 3 kali. Tapi gigitan lintah, luka kebeset2 ranting, kaki bengkak dan betis kram udah ngak terhitung lagi deh. Pada saat itu saya bersyukur ngak ketemu sama cowok ganteng sesame traveler, karena sumpah, saat itu saya ngak ada cakep2nya sama sekali! Kami terus melanjutkan perjalanan sambil meracau, sampe2 sayapun ber-halusinasi - I see nasi. Ternyata semua temen2 ngomongnya juga mulai ngak nyambung. Intinya, jangan ngebahas grammar & vocab orang yang lagi kekurangan oksigen (dan kurang kasih sayang) deh, otaknya pada beku dan jadi bolot semua! Untung perjalanan kembali yang memakan waktu 1,5 jam dibantu dengan doa dan pikiran yang terus menerus mengatakan “ ayoo dee, cepat naik, cepat ke mobil, ganti baju, biar cepet balik ke kota makan bakso keju!. Sehingga setelah sekian lama berjalan, akhirnya, tiba juga kami di pos terakhir yang berbentuk rumah kayu yang menandakan berakhirnya perjalanan. Rasanya, tiada pemandangan yang lebih indah selain melihat jalan raya didepan mata, rasanya ingin bersujud syukur kepada yang DIATAS dan kami yang basah kuyup pucat pasi segera ganti baju di mobil dan menyerbu sisa2 makanan yang tersedia di mobil, pokoknya udah kayak anak pengungsi yang udah lama nggak kena nasi ! Note : -kalo trekking ke air terjun, jangan lupa untuk bawa baju ganti plus anduk dan peralatan mandinya -bawa/pake autan/lotion anti nyamuk -bawa topi dan jas hujan -ransel nya di cover sama anti air supaya kalo hujan nggak kebasahan -amat disarankan untuk membaw trekking pole/ walking stick/ kayu yang kuat yang bisa dipakai untuk bantuan berjalan -bawa roti/snack & air mineral secukupnya jadi ngak kelaperan setibanya disana Di perjalanan pulang saya banyak berpikir (emang biasanya enggak ?). Terlepas dari segala macam kendala & kesulitan trekking tadi, bersyukur kepada yang DIATAS, kami telah diberi kesempatan untuk menikmati apa yang orang lain belum tentu dapat nikmati. Saya bahagia karena bisa mengalami kegiatan dalam keadan sehat lahir bathin dan bisa menikmatinya dengan teman2 tercinta, dan pada saat itu saya kembali diingatkan bahwa “traveling is about experience”, sehingga kalo ditanya, kapok ngak dee, trekking lagi ? kamu udah tau jawaban nya dong ??? :-P Anyway, silahkan lihat photo2nya yang baru saja saya upload, tapi yang versi FHM ngak bisa di akses ya, hihi (beberapa photo diambil dari kamera nya Lia). Semoga postingan ini bisa memacu hasratmu untuk segera berkunjung kesana. Enjoy Halimun ! Photo2 bisa di akses di : http://deedeecaniago.multiply.com/photos/album/323/Halimun_and_the_blue_moon salam, Deedee Caniago *they don't care how much you know until they know how much you care* [Non-text portions of this message have been removed]
