What’s so special about Kiluan ? Seperti perjalanan sebelumnya, perjalanan Kiluan ini sudah kami rencanakan beberapa bulan sebelumnya, tapi baru kami bicarakan serius sekitar bulan lalu, dan salah satu teman saya Tiara yang merencanakan segala sesuatunya, melempar rencana kepergian, membuat kalkulasi perkiraan budget, membooking penginapan, transportasi dan itu itu lainnya. Saya ? hohoho, jadi peserta aja dong! Namun 1 minggu menjelang hari H mendadak teman saya Tiara harus mendadak pulang kampong dan secara otoriter dan dickator (hehe) salah satu teman tersayang Melvyn melakukan maneuver dengan memberikan perintah dan kewenangan kepada saya duntuk leading the trip, secara ngak ada yg mau megang kendali untuk perjalanan kali ini, hehehe .Secara udah bertahun2 mengurus perjalanan, rasanya malas sekali saya untuk mengurus trip bareng ini, karena kalo kita mempimpin rombongan, kita harus memikirkan semuanya, dari keuangan, disiplin waktu, sampe ngurus makanan dan lain sebagainya.
Tapi demi menikmati satu lagi indahnya kepulauan yang ada di Indonesia, maka kami pun membungkus paket sharing cost ini dan merencanakan nya dengan detail. Silahkan dibaca... Kiluan Day-1 : Departure, Jakarta – Lampung Kami ber 27 orang berangkat hari Kamis malam, dari Jakarta menyewa dua mobil elf, berkumpul di Sarinah Thamrin pada pukul 8 malam. And we had our first situation : salah satu dari 2 mobil elf yang kami sewa supirnya mendadak sakit, tapi mereka segera mengirimkan supir pengganti nya, dan kami harus menunggu sekitar 15-20 menit delay. Kemudian ada situasi kedua, dimana mobil yang kami sewa sebelumnya confirm bahwa satu mobil muat untuk 15 orang, akan tetapi ketika di TKP, mobil tersebut hanya memuat 11 dan 12 orang per mobilnya, sehingga -min total, hanya memuat 23 orang. Yang 4 lagi ? daripada nggak keangkut, kami sepakat agar kami bergantian duduk di sisi-sisi kursi. Emang sih, tempatnya beneran amat sangat tidak nyaman, tapi secara kami adalah flashpacker yang siap dengan segala situasi dan kondisi, maka dengan berprinsip bahwa “the show must go on”, kami membulatkan tekad utnuk berangkat dengan segala macam kendala yang mungkin akan tetap ditemui dijalan nantinya. Kami meninggalkan Jakarta menuju Merak pada pukul 9 malam. Setibanya di Merak, ternyata biarpun udah jalan konvoi, tapi mobil kami terpisah dengan mobil yang satunya lagi, dimana mobil tersebut keangkut di feery sekarang sementara mobil kami harus menunggu ferry berikutnya tiba. Tak lama kemudian, ferry berikutnya sudah nampak, mobil kami menjadi mobil pertama yang naik ke kapal ferry besar yang membawa kami menyebrang ke Lampung selama sekitar 2 jam 45 menit. Setibanya di Lampung, kami kembali bersatu dengan teman2 di mobil yang satunya lagi dan secara udah subuh, kami menyempatkan diri untuk sarapan. Sambil sarapan di warteg bersih dan ngopi2, kami menunggu satu teman, Ramon yang bergabung dari lampung, dan ketika Ramon telah tiba, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Teluk kiluan. Kiluan Day 2 : Bakauheni – Teluk Kiluan – Pulau Kelapa Teluk Kiluan terletak sekitar 5 jam dari Pelabuhan Bakauheni. Jalan menuju kesana bagus, tapi sayangnya tidak ada marka atau papan petunjuk jalan yang jelas atau pasti sehingga kami harus berpatokan jalan kepada teman kami yang tahun lalu pernah kesana, itupun harus puluhan kali turun untuk bertanya2 kepada penduduk setempat yang sebagian besar malah belum pernah mendengar tentang Kiluan sama sekali. Sekitar 40 Km menuju desa kiluan, jalan raya nya berubah menjadi jelek, rusak, penuh bebatuan dan bolong2 sehingga sepanjang jalan mobil terguncang2 keras, jadi mobil elf kami harus berjuang agar jalan nya stabil. Mobil sejenis kijang, panther apalagi sedan tidak di rekomendasikan untuk lewat sini karena medan nya lebih cocok untuk mobil2 yang biasa dipakai untuk “off road”. Sayang ban nya, lagipula ada potensi dibawah mobil kena batu, bisa mengakibatkan rusak nya spare part. Jangan lupa bawa persediaan ban serep karena ada kemungkinan ban nya pecah atau bocor seperti mobil kami kemarin. Lalu sekitar 3 Km menuju desa kiluan, jalan menjadi curam dan medan nya mengerikan juga membahayakan mobil/penumpang. Mobil bisa terancam rusak/ ban bocor, dan kemungkinan masuk jurang karena menurut penduduk setempat, setiap bulan nya ada 2-4 kali kecelakaan fatal yang mengakibatkan kematian dikarenakan jalanan nya yang rusak, terjal dan curam dan membahayakan. Lalu kami kembali dihadapi situasi yang sulit, dimana supir kami tidak berani untuk turun ke jalan yang curam tersebut, tapi tidak ada komunikasi karena sang supir hanya diam saja ketika kami ajak berdiskusi yang hampir saja menimbulkan ketegangan. Intinya, dia tidak mau turun, titik! Padahal perjalanan masih sekitar 10 km lagi. Kalo sang supir tersebut balik, berarti mereka harus menuju ke perkampungan setempat dan kami harus berjalan2 berjam2 untuk menuju TKP. Maka kami berusaha mati2an untuk membujuk supir2 yang ketakutan tersebut untuk turun, dan ketika mereka berhasil turun, kami pun mengucapkan syukur alhamdulillah dan menyelamati sang supir. Can you imagine ? supir yang biasa bawa trayek keluar kota aja sampe ngak mau dan ngak berani turun dan membawa mobil, apalagi kalo kita sendiri yang bawa mobil ! now you know how dangerous the road is, akses kesana nya “fear factor!”. Yang saya heran, saya beberapa kali membaca beberapa catatan perjalanan tentang Kiluan, tapi tak ada satupun yang menjelaskan bahwa akses kesana itu sangat ngak aman. Untuk yang tetap mau berkunjung ke Kiluan tapi mau cari aman nya, alias tidak mau menyetir kesana, ada pilihan lain : dari Jakarta naik Damri AC, nyebrang ke Pulau Sumatera naik kapal ferry. Di kapal ferry bayar sekian ribu (saya lupa persisnya berapa), tapi kalo mau masuk ke ruangan ber AC bayar Rp 10,000 per orang). Penyebrangan memakan waktu sekitar 2,5-3 jam perjalanan. Turun di terminal Bandar Lampung, dijemput dengan elf sewaan, dimana supir2 tersebut udah terlatih untuk membawa mobil ke teluk kiluan, lanjut menuju Kiluan sekitar 5 jam perjalanan, tiba di kiluan, menyebrang ke Pulau Kepala 10 menit perjalanan. Biaya nyewa elf Bandar Lampung - Kiluan pp, Rp 800,000 per 12 orang kapasitas. Tapi jangan lupa, kalian ngitung sewa nya ngak Cuma 1 hari, tapi tergantung berapa hari kalian akan stay di Kiluan. Anyway, setelah beberapa kali berhenti untuk ber istirahat (dan makan), akhirnya kami tiba di Teluk Kiluan pada hari Jum’at sekitar pukul 12 siang. Kami beristirahat di sebuah warung dan dari warung yang terletak di pinggir pantai tersebut, kami menghubungi Pak Dirham untuk menyebrang ke Pulau Kelapa, Pulau yang akan kami inapi selama di Kiluan. Darno, adiknya Pak Dirham segera menjemput kami dan membawa kami ke pinggir pantai yang terletak hanya 5 menit jalan kaki dari warung, lalu kami naik beberapa perahu untuk menyebrang ke Pulau Kelapa sekitar 10 menit. Masing2 kapal bisa memuat sekitar 8 orang dengan tas dan perlengkapan. Dan ketika semua peserta sudah tiba di pulau kelapa, saya segera menjelajah Pulau tersebut. Inilah hasil observasi yang bisa saya sampaikan : Penginapan - Kamar Penginapan yang tersedia di Pulau kelapa hanya satu2nya penginapan yang dikelaola oleh pak Dirham, sang penjaga pulau. Penginapan tersebut menurut PakDirham dibangun oleh beliau dan keluarga nya dan mereka sudah menempati bangunan besar itu selama berpuluh2 tahun. Ada6 kamar di rumah panggung yang terbuat dari kayu tersebut. Satu kamarnya bisa ditempati oleh 5 orang - 6 orang kalo badan nya kecil2, tapi kamar yang disewakan hanya sejumlah 5 kamar karena 1 kamarnya dipakai oleh keluarga Pak Dirham. Harga nya Rp 150,000/kamar/malam. - Tenda Apabila kamarnya kebetulan penuh, kita bisa menyewa tenda. Dengan tenda seadanya, yang biaya Rp 30,000/tenda/malam, kita tidak perlu repot2 mendirikan atau membereskan tenda nya karena mereka akan melakukan nya untuk kita. So sediakan matras empuk dan/atau sleeping bag karena kalo ujan, bener2 akan basah karena tendanya tipis banget dan tidak ada alas duduk nya. Jadi saya sarankan, apabila memang kamarnya penuh atau emang mau nenda, sebaiknya bawa tenda sendiri yang besar dan nyaman, bisa nyewa tenda di tempat2 penyewan tenda, salah satunya adalah SaungGoa di Ciputat (atau bisa searching di google untuk tempat2 penyewaan tenda lainnya). Tenda tersebut bisa dididirikan di depan penginapan,terletak persis di pinggir pantai sehinga kalo malem angin nya cepoi2 sejuk. - Listrik/lampu Ok, kamar lumayan bersih, tapi sayangnya kamar tersebut sangat panas karena terletak di pinggir pantai dan boro2 ada AC, kipas angin aja ngak ada, secara kalo pagi-siang ngak ada listrik, sedangkan malam listrik hanya menyala dari pukul 6 sore hingga sekitar 11 malam, abis itu listrik yang dinyalakan oleh generator – dimatikan, karena selain berisik, listrik juga dimatikan untuk menghemat energi. Jadi kebayang kan, betapa gerahnya kami tidur malam2 ??? Belom lagi nyamuknya yang keliling dari jam 6 sampe sekitar jam 8 malem baru menghilang. - Makanan Pertama, untuk ukuran Rp 15,000 per orang sekali makan, makanan nya sangat sedikit porsi dan variasinya. Nasi nya emang banyak, tapi lauknya amat sangat sedikit dan selalu kurang, padahal jumlah kami 27 orang, tapi selalu aja ada yang nggak kebagian ikan, sayur atau telur saking porsinya ngak sesuai dengan jumlah orangnya. Dan bayangkan, menunya selalu ikan, dan sekali2 sayur. Ini bisa dimaklumi dikeranakan ikan adalah penghasilan terbesar disana dan pasar sangat jauh dari pulau kelapa dan tidak setiap hari menjual sayur2an. Akan tetapi, tetap saja, rasanya bosan sekali apabila setiap hati dari pagi, siang, sore dan malam selama 3 hari bertururt2 menu makanan nya selalu ikan, baik yang di goreng kering, di bikin sup, di goreng balado, goreng, goreng dan ikan goreng lagi. Rasanya setelah ini saya ngak mau makan ikan lagi selama beberapa minggu, hehe. Kedua, untuk ukuran yang masak 3 orang di dapur, makanan yang dihidangkan itu lamaaaaaaaaaaaaa banget! Bayangkan, hampir setiap hari kami makan pagi jam 9 dan makan siang jam 4 sore, dan makan malam jam 9 malam !!! Untuk ukuran pulau yang tidak ada warung maupun tukang jualan makanan, kami sangat tersiksa menahan lapar dikarenakan perut kami hanya tergantung kepada masakan dari keluarga Pak Dirham. Emang sih, kami bawa sedikit roti maupun biskuit dan kue2 kering lainnya, tapi kan itu cuma makanan pengganjal, bukan makanan Utama, sedangkan kegiatan kami amatlah padat, mulai dari trekking ke laguna, beranang bolak balik nyebrang pulau, snorkeling, dan lain sebagainya, sehingga beberapa teman (termasuk saya sendiri) sempat pusing kepala dan kena maag karena kelaparan. Jadi, saya sarankan, mendingan selain booking makanan kepada mereka, kita juga membawa kompor portable dan nasi, sarden kaleng, telor atau mie sebanyak2nya, jadi kalo kelaperan tinggal masa sendiri! Bahan2nya bisa dibeli di pasar Lampung deket pelabuhan atau malah di kota Lampungnya. - Minuman dikarenakan tidak tersedia nya air yang cukup, maka sebaiknya kita membawa persediaan air minum aqua botol yang paling besar, atau kalo mau agak repot sedikit, bawa aqua gallon (kalo nyewa mobil dari Jakarta aqua gallon nya bisa ditaro di dalam mobil bukan ?) - Snack, Rokok Untuk yang suka laper melulu bawaan nya, dan juga buat heavy smokers dan drinker, mendingan bawa makanan ringan, rokok dan beer sensiri dari Jakarta, atau paling tidak dari Bandar lampung karena di Pulau Kelapa sama sekali tidak ada warung. Setiap kali kita memerlukan sesuatu seperti rojkok etc, harus menyebrang hingga ke Teluk Kiluan dengan menggunakan kapal selama 10 menit, dan belum tentu yang kita cari tersedia disana, jadi mendingan bawa sendiri dari Jakarta. - Toilet Ada1 kamar mandi sederhana yang tidak ada atapnya yang terbuat dari kayu yang terletak di pinggir pantai. Airnya manual, harus di “gerek” dari sumur yang ada di dalamnya. Buat kita2 mah, ya oloooo, mandi aja harus berjuang dikit, tapi buat bule2 yang ikutan nginep dan mandi disana, menggerek air dari sumur buat mandi menjadi keasikan dan keunikan sendiri buat mereka. Kamar mandi ini hanya bisa digunakan untuk mandi, tidak tersedia tempat buat buang air besar. Karena kamar mandi untuk buang air besar tersedia di bagian belakang rumah, ada 2 buah WC (yang juga bisa dipakai mandi), tapi lebih diutamakan untuk yang ingin buang air besar. WC nya terdiri dari WC duduk dan WC jongkok, tapi sialnya, kedua WC ini tidak ada kuncinya, sehingga kalo kita lagi “duduk berjuang” didalam, jantung terus berdetak deg2an takut kalo ada yg mendadak buka pintu. Dengan kapasitas penginapan yang myat menampung 20 orang di kamar dan 30 orang lagi di tenda (total 50 orang), rasanya 1 kamar mandi dan 2 WC emang amat sangat tidak cukup. Tapi Pak Dirham memberitahukan bahwa ngak setiap week-end banyak tamu, hanya kalo long week-end seperti ini saja, saja lesson learn nya, sebaiknya kalo mau ke Kiluan, ambil week-end biasa, atau malah hari kerja saja, dijamin sepi ! Anyway, hari pertama tiba di TKP, kami memutuskan untuk menjelajah area sekitar, trus berenang, main2 dan leyeh2 aja di pantai. Kami makan siang pukul 4 sore (ouch!!!) dan lanjut lagi bersantai di pantai hingga sunset tiba, kami pindah lokasi untuk menikmati matahari terbenam, hingga akhirnya kami makan malam dan bersenda gurau di pantai hingga malam hari nya dan ber istirahat tidur. Photo Day 1 and Day 2 bisa di akses di : http://deedeecaniago.multiply.com/photos/album/326/.ber_Kilau_di_Kiluan_Day_1-2_departure_Kiluan_Bay_Pulau_Kelapa... salam, Deedee Caniago *they don't care how much you know until they know how much you care* [Non-text portions of this message have been removed]
