Teman-teman backpacker,
 
Ada oleh-oleh cerita dari Timor, awal Maret ini. Silakan dinikmati.
 
And I'm coming back this April :-)
 
[Tetralogi Timor] 01 – Turis Juga Manusia

“Culture and heritage,” begitu isi pesan singkat saya ketika dengan sopan harus 
sopan menolak ajakan seorang teman berwisata ke sebuah pulau eksotis dekat 
Jakarta.
 
Ya, sebagai seorang pengelana independen, saya bebas merencanakan yang ingin 
didapat dari setiap perjalanan saya. Walau tidak pernah bosan dengan birunya 
air laut atau sejuknya udara pegunungan, kali ini saya ingin sesuatu yang lain: 
menjadi siswa sebuah sekolah bernama wisata budaya dan sejarah.
 
Disengaja atau tidak, beberapa perjalanan saya terakhir lebih memberi 
kesempatan saya nyambung dengan pasir putih di pantai, ikan-ikan dan siput laut 
serta jalur trekking yang berbahaya dan tentunya teman-teman yang sebenarnya 
bisa saya temui kapan saja di Jakarta.
 
Tidak ada yang salah; tapi terasa ada yang kurang lengkap: berinteraksi dengan 
penduduk setempat dan bersentuhan dengan budaya mereka!



Desa Oensana, Amanuban Barat, Timor Timur Selatan
 
Untunglah perjalanan kali ini “memaksa” saya berinteraksi dengan penduduk, 
memahami budaya yang unik dan khas, serta menghargai kenyataan bahwa budaya, 
adat dan tradisi mereka memang berbeda.

 
Perbedaan itu pula yang membuat saya tersentuh dengan kebersahajaan seorang 
raja, terpingkal-pingkal tertawa dengan seorang penenun tua hingga menitikkan 
air mata dan kagum dengan usaha yang tak kenal lelah dari seorang perempuan 
hingga mata berkaca-kaca.
 
Sedih. Senang. Trenyuh. Tergugah. Semua teramu dalam perjalanan ke Pulau Timor, 
provinsi Nusa Tenggara Timur. Perjalanan yang menyadarkan kembali seorang 
pengelana: bahwa ia juga manusia biasa.

 
What makes this trip different?


Saya bepergian dalam kelompok kecil – lima orang – dengan menyewa kendaraan 
berukuran pas dengan kapasitas penumpang.
Saya mendengarkan cerita penduduk setempat dan sebisa mungkin mengajukan 
alternatif solusi masalah mereka.
Saya minta ijin untuk mengambil foto penduduk setempat dan mengirimkan foto 
mereka yang telah dicetak.
Saya mempelajari satu dua kata bahasa setempat dan tidak ragu menggunakannya.
Saya mendengar dan mengerti tradisi setempat bahkan yang tidak sesuai prinsip 
saya dan mendiskusikan tanpa memperdebatkannya.
Kami mendiskusikan apa yang diinginkan turis ketika mengunjungi tempat ini dan 
bagaimana penduduk setempat mendapat keuntungan materi dengan tetap menjaga 
tradisi.

 
Cerita lengkapnya (ada empat) silakan ikuti hyperlink di bawah ya:
 
[Tetralogi Timor] 01 – Turis Juga Manusia
[Tetralogi Timor] 02 – Suvenir Terbaik Sebuah Perjalanan
[Tetralogi Timor] 03 – Hanya Satu Kata
[Tetralogi Timor] 04 – Mulutmu Harimau Kamu
 
Enjoy!  



 

Endro Catur Nugroho
E  : [email protected]
B  : http://endrocn.wordpress.com

Kirim email ke