Trip Kaltim : Kebersamaan , Alam, Budaya & Kuliner

Berbekal tiket sederhana keluaran PO. Pulau Indah Jaya seharga Rp 110 ribu, 
saya mantabkan niat menuju provinsi kaya raya di timur pulau Borneo, yakni 
Kaltim. Bukan berniat menjadi juragan batubara ataupun menjadi pengusaha 
amplang kuku macan, tapi tujuan utama saya adalah berkeliling ke  4 kota di 
Kaltim. Yakni Balikpapan, Samarinda, Bontang & Tenggarong. 

Libur akhir pekan yang lumayan panjang bagi saya yang hanya berstatus karyawan 
ini, tak bisa saya sia-siakan begitu saja. Saya harus memanfaatkan waktu libur 
tersebut sebaik mungkin. Pilihan saya jatuh pada provinsi yang berjuluk Bumi 
Etam tersebut. Sudah sejak lama sekali saya punya niat berkunjung ke Kaltim. 
Sama hal nya saat saya berniat berkunjung ke Tana Toraja, Sulsel yang sudah 
terlaksana bulan maret lalu.

Bis berwarna kuning keemasan berbadan bongsor telah menunggu penumpang di 
Terminal Induk Pal 6 Banjarmasin. Jam tangan milik saya menunjukan tepat pukul 
6 sore saat saya tiba di terminal. Matahari terbenam nampak sangat indah di 
sebelah barat. Semakin semangat rasanya memulai perjalanan.

Meski jam berangkat yang tertulis di tiket menunjuk pada jam 18.30, tapi yang 
namanya di Indonesia budaya jam karet tetap langgeng dimana-mana. Saya 
benar-benar meninggalkan Banjarmasin tepat pukul 19.00. Namun ada baiknya juga 
keterlambatan tersebut, karena saya masih bisa melaksanakan sholat maghrib dan 
isya sekaligus di satu waktu.

Bis meluncur mulus hingga Kota Intan, Martapura. Tepat di depan halaman Masjid 
Agung Al Karomah, sopir bis menjemput penumpang lain yang menunggu di 
Martapura. Perjalanan lalu dilanjutkan hingga Kota Minyak, Balikpapan. Sekitar 
pukul 8 pagi besoknya saya tiba di pelabuhan penyeberangan kapal ferry di 
Penajam, Kaltim. Jam 9 lewat 15 menit, saya akhirnya menginjakkan kaki di 
Balikpapan, kota bermaskot Beruang Madu.

Disana telah ada En Hikmah dan suami nya Burhan serta kenalan saya di milis 
backpacker Amsi Rahmanta. Segelas es teh menawarkan sensasi sejuk di 
tenggorokan setelah berjam-jam di dalam bis non AC. Perkenalan dan obrolan pun 
tak bisa dihindarkan. Suasana akrab langsung saya alami meski saya baru 
mengenal mereka.

Tak membuang waktu lama, kami segera meninggalkan terminal. Tujuan pertama 
adalah Pasar Inpres Kebun Sayur. Sebuah komplek pertokoan yang ramai menjajakan 
oleh-oleh khas Kaltim. Mulai dari gelang, kalung, Mandau hingga kaos bergambar 
Dayak Kenyah Kaltim. Disana saya membeli 4 lembar kaos. Harga kaos sebesar Rp 
25 ribu, cukup murah mengingat Balikpapan merupakan kota termahal di Indonesia. 
Kampung Atas Air merupakan kunjungan kami selanjutnya. Sebuah perkampungan 
nelayan yang berada di atas air. Dari kampung ini, saya bisa menyaksikan 
barisan pipa raksasa yang menancap ke tanah milik Pertamina. Jika malam hari, 
kilang minyak milik BUMN tersebut akan menyala karena banyaknya lampu-lampu. 

Seorang sahabat, Mas Apri menelpon saya. Karyawan salah satu perusahaan minyak 
asal luar negeri tersebut mengajak saya dan kawan-kawan makan siang di Torani. 
Sebuah rumah makan yang menyediakan aneka hidangan makanan laut. Saat saya 
tiba, aneka menu sudah tersaji rapi di atas meja panjang. Saat disantap, 
hidangan tersebut ternyata jauh lebih enak dari apa yang saya bayangkan.
Kelar makan siang, kami segera menuju ke rumah Mas Apri di kawasan Pramuka atas 
Balikpapan. Kami hanya sebentar di rumah nyaman nan asri tersebut. Sempat 
bertemu dengan keluarga kecil Mas Apri. Selanjutnya, mobil Kijang Inova yang 
kami tumpangi meluncur ke Jalan Soekarno Hatta yang menghubungkan Balikpapan ke 
Samarinda. Kiri kanan jalan tampak pembangunan ruko dan gedung mendominasi 
pemandangan. Sesekali kami menemui taman asri dan pepohonan rindang.

Di kawasan Samboja, mobil membelok ke arah Bukit Bangkirai. Dari sini, jarak 
yang harus kami tempuh masih sekitar 20 kilometer lagi. Pemandangan berubah 
menjadi hijau, karena jalur meliuk-liuk ini membelah perbukitan yang diatas nya 
banyak pepohonan. Meski sisa-sisa penjarahan hutan masih terlihat. Menyedihkan 
memang.

Pintu gerbang bergaya etnik, menyambut saya dan kawan-kawan. Sejumlah retribusi 
segera kami setor. Untuk selanjutnya trekking selama sekitar 15 menit menuju 
spot popular di Bukit Bangkirai, Canopy Bridge. Sebuah wahana menaiki jembatan 
dari kayu yang terhubung ke beberapa pohon raksasa yakni pohon Bangkirai. Dari 
atas jembatan, pemandangan hutan khas Kalimantan sangat jelas terlihat. Karena 
kawasan sekitar nya telah steril dari aksi pembalakan hutan.
Keterbatasan waktu mengharuskan saya segera melanjutkan perjalanan ke 
Samarinda. Saya ditemani Amsi Rahmanta. Sedangkan Mas Apri, Hikmah & Burhan 
kembali ke Balikpapan. Dengan menumpang bis kami lanjutkan perjalanan ke Kota 
Tepian yang merupakan ibukota Kaltim. Sekitar 1,5 jam kemudian kami tiba di 
Jembatan Mahakam. Dari atas jembatan megah ini, saya bisa menyaksikan indahnya 
Samarinda malam hari. Lampu-lampu perkotaaan mirip jutaan kunang-kunang di 
malam gelap.

Di sekitar jembatan saya bertemu kembali dengan Gunadi, sahabat baik yang saya 
pernah melakukan petualangan bersama di Pulau Sebuku, Kab. Kotabaru Kalsel 
beberapa bulan lalu. Istirahat sebentar untuk melakukan mandi & sholat, kami 
langsung menghadang bis menuju Bontang di sekitar Islamic Center. Tapi hingga 
pukul 11 malam bis yang kami cari tidak ada yang lewat. Kami pun menghalau truk 
lewat, tapi juga gagal. Maka, dengan nekad kami menggunakan sepeda motor menuju 
Bontang. Saya, Gunadi, Amsi & Deny memulai perjalanan sekitar jam 12 malam. 
Jalur menuju Bontang ternyata juga meliuk-liuk. 

Rasa capek dan kantuk yang luar biasa, memaksa kami untuk tidak melanjutkan 
perjalanan. Di Tanjung Santan kami menginap di rumah kawan bernama Budi. Kasur 
busa di pojok rumah menggoda saya untuk segera tidur. Hingga pagi keesokan hari 
nya. Mie rebus dan teh hangat mengawali pagi kami yang sangat cerah. Menambah 
semangat saja. Aksi mencegat truk, pick up dan jenis mobil lain kembali kami 
lakukan. Ternyata gagal kembali. Sepeda motor kembali kami pilih menuju 
Bontang. 

Pemandangan perbukitan, jalanan yang lengang, rumah-rumah tradisional berbentuk 
panggung dengan  latar langit biru seakan-akan menjadi paket cantik hadiah dari 
Tuhan. Beberapa puluh menit kemudian, pintu gerbang megah menyambut kami. 
Menandakan kami telah tiba di Bontang.
Janji bertemu dengan Mas Rully Andrianto dan kawan-kawan di Bontang Kuala 
menjadi tujuan utama kami. Di perkampungan atas air itulah kali kedua saya dan 
Mas Rully bertemu, setelah sebelumnya bertemu di Banjarmasin. Bontang Kuala 
ternyata jauh lebih menarik dari pada apa yang saya pikirkan. Kampung diatas 
air yang dilengkapi masjid, pertokoan, rumah makan dan panggung hiburan. 
Benar-benar seperti sebuah kota dalam kota. Nilai tambah bagi Bontang Kuala 
adalah kebersihan nya yang sangat terjaga.

Tujuan selanjutnya adalah Pulau Beras Basah. Sebuah kawasan wisata bahari 
andalan Bontang. Dengan menggunakan kapal kayu kami segera melaju diatas air 
laut. Beberapa pulau tak berpenghuni dan kampung nelayan diatas air lautan kami 
lalui.Anehnya kampung air tersebut tidak terhubung sama sekali dengan daratan. 
Maka tak heran satu-satunya cara untuk terhubung ke daratan, para penghuni nya 
harus mempunyai kapal.

40 menit perjalanan membawa kami di Pulau Beras Basah. Pasir putih, air jernih, 
mercusuar yang megah dan jembatan kayu menyambut kedatangan kami. Akhirnya, 
pulau cantik ini berhasil saya kunjungi setelah selama ini hanya bisa 
menyaksikan melalui foto-foto di internet.

Tak sabar rasanya membidikan lensa kamera, menginjakan kaki di pasir putih nya, 
menceburkan kaki di air jernih nya serta menikmati matahari pagi yang cerah. 
Sekitar jam 1 kami segera menyudahi trip Pulau Beras Basah. Untuk selanjutnya 
kembali ke Bontang Kuala.
Disana saya menikmati seporsi Sokko khas Bontang Kuala. Kuliner yang isinya 
ketan rebus, parutan kelapa dan ikan berbumbu yang agak pedas. Jenis ikan yang 
digunakan adalah ikan kakap dan ikan tenggiri. Harga per porsi nya sangat masuk 
akal dan agak sedikit mengagetkan, hanya Rp 2 ribu saja.

Kenyang makan Sokko, kami lalu menuju rumah Mas Rully di kawasan Komplek Pupuk 
Kaltim (PKT). Sebuah perumahan karyawan PKT yang asri dan sangat bersih. Di 
rumah nyaman nya Mas Rully, saya dan kawan-kawan segera beristirahat. Disana 
pun saya kembali bertemu dengan Dhani. Wanita asal Semarang yang pernah saya 
ajak jalan-jalan ke Jembatan Barito, Banjarmasin beberapa bulan lalu. Dhani 
juga memiliki hobi jalan-jalan. Persahabatan memang tak pernah hilang, meski 
jarak dan waktu terbilang jauh.

Malam hari nya, atas usul Mas Rully kami makan di RM Sari Laut Surabaya. Menu 
andalannya adalah kepiting goreng mentega kriuk. Tak salah memang jika Mas 
Rully merekomendasikan makanan super nikmat ini. Tak hanya nikmat tapi bikin 
kenyang. 
Kelar makan, Amsi dan Deny kembali ke Samarinda malam itu juga. Saya dan Gunadi 
menginap 1 malam di rumah Mas Rully. Niat memandang pabrik PKT di malam hari 
akhirnya terwujud. Sekilas mirip Hongkong di malam hari, karena begitu 
banyaknya lampu pabrik. Bahkan dari rumah Dhani, pemandangan spektakuler 
tersebut jelas terlihat.

Bangun pagi, saya disuguhi mie godok buatan Mba Zetta istri nya Mas Rully. Mie 
kuah yang isinya dilengkapi kuah berbumbu, suwiran daging ayam dan aneka 
sayuran. Terasa nikmat di penghujung kunjungan saya di Bontang. Dengan berat 
hati, saya dan Gunadi kembali ke Tanjung Santan. Terima kasih tak terhingga 
buat Mas Rully dan keluarga. Kebersamaan ini sungguh berkesan bagi saya.

Di Tanjung Santan, kami kembali disuguhi makan siang yang juga enak. Ikan 
bandeng goreng, sayur bening dan tahu goreng dilengkap cocolan sambal tomat. 
Mas Budi memang salah satu kawan baik yang saya temui selama berpetualang di 
Kaltim. Kelar makan, kami lajukan sepeda motor menuju Karang Mumus. Sebuah 
kecamatan yang di dalam nya terdapat beberapa buah perkampungan suku Dayak 
Kenyah. 

Desa pertama yang saya kunjungi adalah Sungai Bawang. Desa terpencil yang 
sederhana. Akses nya hanya berupa jalan tanah tak tersentuh aspal. Disana saya 
sempat bertemu dengen nenek bernama Pebuang. Nenek renta yang memiliki telinga 
super panjang. Anting berwarna kuning keemasan tampak mendominan di kiri kanan 
telinga panjangnya. Tato tampak melekat di kedua tangannya yang sudah agak 
keriput termakan usia.

Meski tak sempat menjepret nenek Pebuang, tapi saya sangat bersyukur ambisi 
saya bertemu langsung dengan suku Dayak bertelinga panjang akhir nya terwujud. 
Terima kasih Tuhan. Benar-benar pengalaman yang sulit dilupakan. Saya dan 
Gunadi segera beranjak ke desa selanjutnya. Desa Pampang namanya, desa yang 
sudah lama dijadikan sebagai desa wisata budaya. Tak heran jika banyak turis 
asing dan lokal di sekitar Pampang. Tepat jam 2 siang, aneka jenis tarian khas 
suku Dayak dipertunjukan. Dengan biaya Rp 15 ribu, saya bisa sepuasnya 
menyaksikan tarian tersebut. 

Disana saya juga bertemu dengan kawan-kawan sesama forumer di situs 
skyscrapercity. Sebuah situs yang isinya membahas tentang perkembangan sebuah 
kota di seluruh dunia, termasuk kota-kota di Indonesia. Adalah Jundan, Era, 
Daru dan Adi Rahmadi yang saya jumpai disana. Teman yang selama ini saya kenal 
hanya melalui internet.
Di penghujung kunjungan di Pampang, saya berhasil memotret seorang nenek Dayak 
bertelinga panjang. Sebuah kebanggaan bagi saya, karena bisa bertemu dan 
mengabadikan produk budaya yang sangat tak ternilai tersebut. Saya juga 
berhasil memotret anak-anak asli suku Dayak Kenyah. 

Spot selanjutnya adalah Islamic Center yang sangat-sangat megah. Arsitektur 
yang sungguh menawan berpadu apik dengan pewarnaan bangunan masjid yang elegan. 
Tak sulit dibayangkan jika ternyata masjid ini menjadi salah satu masjid 
terbesar di Asia Tenggara.  
Kunjungan selanjutnya adalah kota Tenggarong, Kutai Kartanegara. Kabupaten 
terkaya di negeri ini, dengan PAD trilyunan rupiah. Tak heran jika Tenggarong 
memiliki jembatan dan stadion megah di dalam kota kecil nya. Jembatan 
Kartanegara menjadi atraksi paling menarik di malam hari. Lampu-lampu yang 
sengaja di pasang di setiap detail bangunan jembatan, menjadikan nya tampak 
sangat cantik. Pulau Kumala di malam hari tampak samar-samar terlihat. Patung 
Lembuswana yang seperti raksasa terlihat anggun disinari cahaya lampu.  Kami 
juga sempat melihat bangunan Kedaton, Musemum Mulawarman serta komplek makam 
raja-raja Kutai. Makan malam di tepian Sungai Mahakam menjadi paket terakhir 
malam itu. Sungguh menjadi pengalaman yang tak ternilai.

Di hari terakhir, saya manfaatkan berkunjung ke masjid bersejarah di Samarinda. 
Namanya Masjid Shirathal Mustaqiem di Jalan Pangeran Bendahara. Masjid yang 
sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Tak berapa lama, saya, Yudasmoro dan Ria 
segera melanjutkan perjalanan menuju komplek Stadion Utama Palaran. Sebuah 
komplek olahraga termegah di Indonesia. Meski kami tak bisa memasuki area 
stadion, tapi kami tetap puas bisa menyaksikan banyaknya gedung megah dengan 
arsitektur apik milik Kaltim tersebut.

Citra Niaga menjadi lokasi selanjutnya di hari terakhir saya di Kaltim. 
Merupakan sebuah kawasan pertokoan yang menyediakan aneka souvenir khas Kaltim. 
Disana saya membeli beberapa buah gelang serta baju kaos bergambar Dayak 
Kaltim. Rata-rata baju kaos dipatok sekitar Rp 15 hingga 25 ribu. Cukup murah 
memang.

Rasa lapar memaksa kami segera menyudahi kunjungan di Citra Niaga. Bersama 
Yudasmoro, Jundan dan Ria, saya makan di RM. Prambanan. Menu bebek goreng, ayam 
bakar dan nasi goreng menjadi kuliner penutup selama saya menjelajah Kaltim. 
Terimakasih banyak atas ajakan Jundan makan enak di tempat ini.

Tepat jam 13.30 Wita bis Pulau Indah Jaya membawa saya menuju Bumi Lambung 
Mangkurat, Kalsel. Terasa berat memang meninggalkan banyak kesan selama di 
Kaltim. Baik sahabat, tempat-tempat unik, budaya dan kuliner yang enak. 

Terimakasih tak terhingga atas kebaikan kawan-kawan di Kaltim yang sudah 
menjadi tuan rumah sekaligus teman jalan. Baik itu Mas Rully, Gunadi, Mas Apri, 
Amsi Rahmanta, Jundan, Ria, Hikmah dan suami,  Deny, Budi, Ria, Daru, Adi 
Rahmadi, Yudasmoro, Dhani serta kawan-kawan lain yang tak bisa disebutkan satu 
persatu.
Berawal dari pertemanan di internet (milis backpacker/IBP, facebook, 
skyscrapercity, blog, dll) menjadikan kebersamaan kita benar-benar terwujud 
selama di Kaltim. Sebuah kesan mendalam yang rasanya sulit saya lupakan begitu 
saja.
Durasi trip : 4 hari 3 malam

Spot :
 Balikpapan (Kebun Sayur, Kampung atas Air, Kilang Minyak, RM Torani, Bukit 
Bangkirai)
Samarinda (Desa Pampang, desa Sungai Bawang, Islamic center, Jembatan Mahakam, 
Masjid Tua, Palaran, Citra Niaga)
Bontang (Pulau Beras Basah, PKT, Bontang Kuala, RM. Sari Laut)
Tenggarong (Jembatan Kartanegera, Museum Mulawarman, Makam raja2 Kutai, Kedaton)
Informasi akomodasi :
Bis Pulau Indah di Samarinda, 0541-260918, Balikpapan 0542-420289
Bis samarinda Lestari dr Balikpapan tujuan Bontang 0542-732287
Bukit Bangkirai 0542-734644
RM Sari Laut Bontang, 0548-24909


Foto-foto dapat di cek di :

http://pegatan.multiply.com/photos/album/25/Amazing_Kaltim

Banjarmasin, 7 April 2010.


Nasrudin Ansori
http://kalimantanku.blogspot.com
"amazing Kalimantan"



Kirim email ke