Papandayan, Gunungnya Para Ahli Keris...

Gunung PapandayanHari ini, Rabu 17 Maret
2010, hari ini aku terlalu penat dengan segala keadaan yang sedang
terjadi. Ingin bergegas mencari suatu tempat yang dapat membantuku
menenangkan diri dan mengistirahtkan pikiranku sejenak dari segala
kesibukan yang kulakukan. Bingung akan apa yang harus aku lakukan untuk
mengembalikan semua ke keadaan “normal” akhirnya kuputuskan untuk
kembali ke alam. Tempat dimana aku banyak belajar tentang kehidupan.
Gn.Papandayan, 2622mdpl akhirnya menjadi tujuanku.

Setelah mengumpulkan niat dan mental yang besar untuk menjadi “Single
Fighter” aku segera packing segala keperluan yang aku perlukan untuk
melakukan pendakian “insane” ini.  Awalnya ingin kugunakan Carrier
Avtech 70L untuk melakukan pendakian ini, namun akhirnya aku memutuskan
untuk menggunakan carrier Deuter “Futura” 28L karena barang yang kubawa
tidak banyak. Setelah bersiap2 aku bergegas menuju Kontrakan
saudara-saudara ku untuk mengucapkan salam dan memohon doa dalam
pendakian kali ini.

Aku bergegas menuju terminal Cikarang Baru mengingat waktu yang semakin
sore, karena takut tertinggal bus. Sesampainya disana bus yang harus ku
tumpangi menuju Garut sudah tidak ada, namun masih ada bus Prima Jasa
tujuan Bandung. Aku bertanya kepada para supir dan kondektur mengenai
transportasi apa yang bisa membawaku ke Garut dalam keadaan seperti itu. Mereka 
menjelaskan bahwa sebaiknya aku menumpangi bus Prima Jasa sampai di Rest Area 
Km 57, dari situ aku dapat menukar bus dengan Bus Prima
Jasa lainnya tujuan Garut. Aku menurut akan saran mereka. Awan
keberuntungan kembali menaungi ku karena sesampainya aku di Rest Area
Km.57 bus Prima Jasa jurusan Lebak Bulus – Garut tepat berada
disampingku. Akhirnya aku pun berpindah bus dan akupun semakin dekat
dengan tujuanku.

Waktu menunjukkan pk 10.30, aku pun tiba di terminal Garut. Waktu sudah
terlalu malam, hanya sinar bulan dan sesekali lampu warung dipinggir
jalan yang menerangi kota Garut malam itu. Aku pun mampir di warung nasi 
didepan termina guna mengisi perutku karena hari itu aku belum sempat
makan apa2. Setelah selesai memuaskan kebutuhan jasmani ku aku pun
bertanya kepada orang sekitar mengenai transportasi apa yang dapat aku
tumpangi untuk sampai di pos pendakian Gn.Papandayan. Mereka mengatakan
bahwa udah tak ada kendaraan yang dapat membawaku kesana. Ojek pun
menjadi alternatif terakhir yang dapat kutumpangi menuju ke pos
pendakian tersebut. Setelah bersiap semua dan melakukan tawar menawar
mengenai harga ojek, akhirnya akupun berangkat menuju pos pendakian
Gn.Papandayan.

Perjalanan menuju pos pendakian cukup panjang, 1 jam waktu yang harus
kutempuh dengan duduk di kursi penumpang motor untuk sampai di pos
pendakian. Hal tersebut cukup membuat pantatku tepos. Setibanya di pos
pendakian hanya kutemukan seekor anjing, tidak ada siapapun yang kutemui selain 
gelapnya malam dan asap dari kawah belerang di kejauhan. Sungguh indah malam 
itu, ditemani dengan deru suara angin, dan bintang yang
bertaburan di atas ku. Hari pun sudah berganti selama satu menit,
melihat keadaan di sekitarku yang tidak mendukung untuk melakukan
pendakian sendiri kuputuskan untuk beristirahat malam itu dan menunggu
ketika sinar mentari kembali menyinari Gn.Papandayan.
Pagi itu kira-kira pk.06.00 aku pun terbangun ketika sinar matahari
mulai menyinari wajahku. Pak Dedi (penjaga warung) mulai menanyaiku
mengenai kedatangan ku hingga bisa tidur di depan warung yang beralaskan 
bintang dan hanya diselimuti oleh sleeping bed Consina Sleeping Moon
ku. Setelah berbincang-bincang sejenak ditemani teh manis hangat yang
sangat wangi dan gorengan, datanglah 2 orang (Mas Ayi dan Mas Didu)
menanyaiku apakah maksud dan tujuan ku datang ke Gunung Papandayan. Aku
pun menjelaskan bahwa Puncak Papandayan menjadi tujuanku hari itu.
Kemudian, mereka menawarkanku jasa sebagai pemandu jalan. Mereka mulai
menawarkan harga sebagai pemandu jalan, aku menjelaskan bahwa uang yang
ku bawa hari itu tidak lah banyak karena pendakian ini sejujurnya hanya
bermodalkan iman, mental, dan air. Akhirnya kami sepakat bahwa aku
membayar mereka dengan menggunakan sleeping bed ku dan sedikit tambahan
uang.

Pendakian pun dimulai, kira-kira mulai 7 pagi itu kami bertiga
berangkat menuju tujuan kami, Puncak Papandayan. Pos pertama yang harus
kami lalui adalah Tegal Alun. Kami melakukan pemotongan jalur karena
kami tidak melewati Pos Pondok Selada. Jalan yang kami tempuh untuk
sampai di Pos Tegal Alun dimulai dengan tanjakan yang cukup maknyos
melewati pinggiran kawah Papandayan, dilanjutkan dengan melewati padang
tandus dimana sungguh indah karena padang ini seperti pandang gurun
berpasir putih dan hanya ditumbuhi oleh pohon-pohon yang sudah mati
dikarenakan terkena semburan Lava panas ketika Gunung Papandayan yang
meletus di tahun 2002.

Eruption Effect


Arca Papandayan

Setelah melewati padang
tersebut, kami melanjutkan perjalanan memasuki hutan dimana
pohon-pohonnya tidak terlalu tinggi, dan kalau melihat jenis vegetasinya 
biasanya vegetasi ini adalah tumbuhan yang tumbuh sebelum vegetasi
tanaman edelwais. Di dalam hutan kecil ini, aku kembali ditakjubkan
dengan tumpukan-tumpukan tanah yang terjadi akibat letusan tersebut.
Yang membuat ku takjub, tumpukan-tumpukan tanah itu membentuk seperti
sekumpulan arca kecil.

Setelah melewati “arca” tersebut, kami berjalan tidak terlalu jauh dan
mulai memasuki tanjakan. Tanjakan ini bisa dikatakan lumayan sekitar
kurang lebih 50m vertikal ke atas. Di ujung dari tanjakan ini, kami
memasuki daerah terbuka yang dapat dikatakan kering dan subur. Mas Ayi
mengatakan bahwa kita sudah sampai di pos Tegal Alun. Ketika kaki saya
pertama kali menginjak daerah ini, hal yang saya rasakan adalah “Sungguh Besar 
Kuasa Tuhan untuk Manusia” sungguh indah padang ini. Walau belum
banyak tumbuhan edelwais yang tumbuh di daerah ini, tapi tidak
mengurangi keindahan dari Tegal Alun ini. Mas Ayi dan Mas Didu
mengatakan bahwa tumbuhan edelawais yang tumbuh di daerah ini baru
berumur 7tahun. Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa tumbuhan
Edelwais adalah tumbuhan abadi. Jika tumbuhan ini sudah tumbuh, maka
tidak akan pernah mati.
Tegal Alun


Edelwais di Papandayan menjadi
mati ketika lava panas akibat letusan di tahun 2002. Sejak saat itu,
baru tumbuh sedikit sekali tumbuhan ini di pos ini. Jika kita mengamati
tinggi dari tumbuhan ini pun kita dapat melihat bahwa tumbuhan ini masih pendek 
sekali jika dibandingkan dengan tumbuhan edelwais di Surya
Kencana, Gn.Gede. Setelah menikmati keindahan ini dan mengambil beberapa 
gambar, kami pun memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum
melanjutkan perjalanan menuju puncak Gn.Papandayan.


Hanya Bermodal ini dan mental!!!

Dengan
hanya bermodal pisang sale, air, rokok, permen, dan tango kami berusaha
mengisi supply tenaga ke tubuh kami untuk tetap bisa melanjutkan
perjalanan ke puncak Papandayan. Perjalanan pun dilakukan, track yang
kami lalui untuk menuju puncak 1 dilalui dengan tanjakan yang lebih
berat jika dibandingkan dengan tanjakan menuju ke pos Tegal Alun.
Tanjakan menuju ke puncak 1 kami lewati, setelah itu kembali keindahan
alam muncul. Kami melewati batu besar yang diberi nama batu cakup. Di
bagian bawah batu tersebut terdapat lubang dan terowongan yang dapat
dilewati manusia. Konon menurut cerita penduduk setempat, batu itu dapat 
membawa seseorang sampai ke Mekkah. Namun saja, orang tersebut harus
memiliki ilmu yang sangat hebat karena didalam terowongan tersebut,
lampu seterang apapun tidak dapat tembus dan hanya terdapat 2 lubang
yakni 1 lubang masuk dan 1 lubang keluar. Jika seseorang tanpa ilmu
masuk ke dalam lubang tersebut alhasil hanya maut yang akan ditemuinya
karena kesulitan akan oksigen.




Puncak 1 Papandayan

Tidak beberapa lama,
kami pun tiba di puncak 1, hal tersebut ditandai dengan adanya slayer
salah satu mapala yang diikatkan di ranting pohon. Perjalanan kami
lanjutkan mengingat target waktu kami. Akhirnya pada pk 11.30 kami pun
tiba di puncak 3 yang diyakini sebagai puncak tertinggi di Gunung
Papandayan. Sebenarnya, di gunung ini terdapat 4 puncak, namun puncak 3
yang diyakini sebagai puncak tertinggi. Aku sungguh beruntung karena
ketika aku tiba di puncak 3, cuaca menjadi cerah kembali. Di atas puncak ini 
dapat kulihat dengan jelas keindahan dari kawah papandayan, dimana
terdapat sebuah danau berwarna seperti coca-cola. Selain itu juga
terlihat Tegal Alun dan Pondok Selada dari puncak. Sungguh indah
pemandangan ini. Ketika aku sampai di puncak 3, aku bersyukur kepada
Yesus, Tuhan karena hanya dengan kuasa dia aku dapat sampai di Puncak 3. Tanpa 
kuasanya aku tidak akan pernah sampai di tempat itu sendiri dan
ditemani oleh 2 orang pemandu. Aku mengabadikan beberapa gambar dengan
mengibarkan bendera DV (mapala) dan bendera PU (universitas) di puncak
gunung ini. Selain itu juga, aku berdoa agar hubungan ku dengan orang
yang kusayang dapat semakin terjaga untuk kedepannya. Oleh karena itu,
aku meninggalkan gelang yang tali prusik yang kubuat bersamanya di
puncak Gunung Papandayan yang menandakan bahwa aku datang kesini untuk
nya dan karena Tuhan dan dialah aku dapat sampai di tempat itu.



Puncak 3
Papandayan-2622mdpl
Kami pun beristirahat sejenak guna memulihkan tenaga kami yang terkuras
selama perjalanan menuju puncak. Sambil berbincang ditemani dengan sisa
bekal di Tegal Alun. Saya mendapat banyak tambahan pengetahuan baru
terlebih mengenai Gunung Papandayan itu sendiri. Setelah menyantap sisa
makanan kami sampai habis kami melanjutkan perjalanan karena waktu suda
menunjukkan pk 13.30 dan aku harus segera mengejar bus untuk kembali ke
Jakarta.


Awal Kehidupan

Selama perjalanan turun,
ternyata kami diharuskan melewati jalur sebaliknya dimana melewati
puncak 4 dan tidak melalui jalur sebelumnya. Hal tersebut untuk
menghemat waktu. Namun jalur yang kami lewati kali ini jika diandaika
sebagai jalur waktu kami naik dapat dikatakan jalur lebih Extreme.
Dikarenakan rapatnya ranting pohon disitu. Selain itu trap-trap batu
yang lebih menantang. Di perjalanan pulang kami, kami menemukan sarang
burung namun burungnya tidak ada. Hanya 2 buah telur yang ditinggalkan
di dalam sangkar. Selain itu, mas Ayi dan mas Didu mencari akar-akar
pohon yang dapat mereka buat sebagai accesoris untuk menambah
penghasilan mereka. Pukul 13.30 akhirnya kami tiba di pos pendakian
bawah.


Track yang dilewatin...

Dari pendakian ini,
aku semakin menyadari bahwa Tuhan menciptakan begitu indahnya yang tidak semua 
orang dapat menyadarinya. Sehingga mereka kadang tidak menghargai keindahan 
tersebut dengan melakukan perusakan dimana-mana. Contoh
simple yang aku lihat ketika mendaki puncak, terdapat orang-orang yang
melakukan penebangan liar di sisi lain hutan dan meninggalkan sisa-sisa
potongan kayu begitu saja. Kita sebagai manusia berbudi sudah sebaiknya
menjaga keindahan tersebut sebagai salah satu bentuk terima kasih kita
kepada Sang Pencipta akan apa yang dapat masih kita nikmati sampai
sekarang. Sisi lain dari itu jika aku mencoba merelasikan dengan
kehidupan antara sesama manusia, kita sudah sebaiknya untuk selalu
berusaha membangun hubungan yang baik guna menjaga kesinambungan hidup.
Alangkah lebih baik jika kehidupan kita selalui diwarnai dengan
kehidupan yang harmonis. Untuk menjaga kesinambungan itu, kita
seharusnya menjaga hubungan yang baik dengan lebih menghormati satu sama lain. 
Hal simple yang dapat kita lakukan adalah kita sudah seharusnya
membuat orang-orang di sekitar kita selalu bahagia dan menghargai
kehidupan ini dengan tidak menjalani kehidupan yang merusak diri mereka. Semua 
hal tersebut dilakukan hanya untuk menghargai segala kehidupan
yang telah kita terima dari sang Pencipta.

"Life is Adventure!!! The Importance is not the End but the Journey we past"

FX Krishna Juwono
+62 817 667 3935
+62 21 9292 0250
[email protected]





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke