Salam kawan

Sekedar ingin berbagi catatan perjalanan. Perjalanan kali ini saya ingin 
menceritakan sedikit kisah dari beragam kisah yang sempat terekam di Madura. 
Pengalaman yang mengagumkan bisa merasakan keragaman Nusantara, perbedaan 
bahasa, cara bertutur masyarakatnya yang dinikmati dengan rasa kagum. Melihat 
budaya masyarakatnya, kuliner yang ada hingga keindahan alam dari mulai 
bentangan hijau dan bentangan pantai yang mengelilingi madura. 

Minggu pertama saya bersama rombongan berada di Pemakasan, kabupaten kedua dari 
sisi timur Madura setelah Sumenep. Di Pamekasan tempat yang dikunjungi sangat 
banyak, daerah pelosok di kedalaman Pamekasan sempat kami datangi hingga 
puncak-puncak tertinggi di Pamekasan. Kontur tanah di Madura yang merupakan 
perbukitan membagi wilayahnya utara dan selatannya. Jika kita melewati daerah 
Waru menuju Pasian utara Pamekasan, pemandangan bukit batu menjadi pemandangan 
yang sangat menantang untuk ditaklukan.

Pada malam kedua kedatangan kami, kami menginap di rumah salah satu saudara 
teman saya yang berada di Sumenep. Malam itu kami berbicara dengan bahasa yang 
tidak karuan. Ada diantara ibu-ibu di daerah Sumenep yang tidak mengerti bahasa 
Indonesia, namun yang saya kagumi mereka tetap bisa menikmati sinetron. Meski 
berbicara dengan arah yang berbeda, dengan bahasa tubuh secukupnya saya 
berusaha mengkomunikasikan apa yang ingin disampaikan. Untung saja hanya 
beberapa ibu-ibu yang tidak bisa bahasa Indonesia, beberapa yang lain (yang 
pernah keluar dari Pulau madura bisa berbicara bahasa Indonesia) berbicara 
dengan bahasa indonesia Khas madura. Yang pasti saya bisa mengucapkan kata 
terimakasih dengan benar bahasa Maduranya, sakalangkong kak.

Di Sumenep saya sempat memperhatikan bentuk-bentuk bangunan yang ada, bentuk 
bangunan yang menunjukan bahwa pola kehidupan masyarakat Madura Sumenep bisa 
tergambar dari bentuk bangunan tempat tinggal mereka yang berkumpul menjadi 
satu menurut silsilah keluarga mereka. Setiap komplek bangunan biasanya 
terdapat satu mushola kecil untuk keluarga tersebut melakukan ibadah, tempat 
ibadah tersebut seperti menjadi tempat berkumpulnya keluarga setelah melakukan 
aktifitas. Namun hidup berkelompok di sebuah tempat tinggal tidak menunjukan 
bahwa antara warga satu dan yang lain, keluarga satu dan keluarga lainya tidak 
harmonis.

Setelah melewati malam yang sangat cepat, pagi itu saya bersama rombongan 
mendapatkan menu pagi yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. 5 piring 
rujak Madura ditata rapi dengan rantang piring khas Sumenep, ditambah secangkir 
teh dari cangkir lawas yang sudah jarang saya temui sekarang ini. Tidak ada 
yang berbeda dengan rujak yang pernah saya temui di daerah berbeda, dengan 
bumbu kacang dan campuran sayuran rujak madura itu disajikan dengan secangkir 
teh hangat istimewa.


Selain hidangan kopi tubruk yang sangat kasar dan teh yang lebih mirip sirup, 
ada hidangan tak sengaja yang membuat saya ingin mencicipinya. Tembakau Sumenep 
yang sudah terkenal rasanya, dengan sedikit keraguan saya mengambil irisan 
tembakau kecil yang masih berwarna kuning muda. Lintingan rokok yang sangat 
berharga malam itu, tanpa campuran sebatang rokok telah siap saya hisap. Terasa 
sangat enteng memang tembakau itu, pantas saja beragam merk rokok terkenal 
mengambil stok tembakau dari Sumenep. Di sepanjang perjalanan si pamekasan juga 
saya melihat beberapa pabrik rokok yang terkenal, mungkin rokok yang anda hisap 
sekarang ini merupakan tembakau dari Madura.

Selanjutnya saya akan sedikit bercerita tentang pantai selatan Madura yang 
memang lebih terkenal bagus daripada pantai utaranya. Di pesisir pantai Sumenep 
Pamekasan malah bisa saya gambarkan seperti cerita lama keindahan pantai 
Indonesia, Tepian pantai dengan nyiur melambai indah menjadi pemandangan yang 
harus dinikmati. Meski belum sempat menikmati pantai di Sumenep yang dikabarkan 
menarik itu, saya bisa menikmati salah satu pantai di daerah Montok, Pamekasan 
yang berbatasan dengan Sumenep. Angin di pantai selatan Madura lebih terasa 
dari pada sisi Utara, dilihat dari jumlah nelayan daerah selatan juga lebih 
banyak daripada utara. Di pantai Montok juga ada beberapa kapal penyebrangan 
menuju Besuki Banyuwangi, ini sekedar tips untuk backpacker bahwa jalur menuju 
Bali melalui Madura juga bisa dinikmati melalui Montok ke Besuki. 

Bicara tentang masyarakat Madura, ada perbedaan yang besar dibanding dengan 
masyarakat Jawa, kita akan ditemukan dengan keunikan dan kekerasan warganya. 
Sampai-sampai saya berasumsi bahwa apa yang mereka inginkan itu merupakan apa 
yang mereka tetapkan. Salah satu cerita yang ingin saya bagikan dan saya alami 
sendiri ini merupakan kisah konyol yang mudah-mudahan tidak dialami teman-teman 
yang akan ke Madura.Wwaktu itu saya bertemu dengan Bpk "F", beliau orangnya 
sangat baik. kami bercerita banyak tentang pengalaman masing-masing, 
perbincangan kami cukup menyenangkan, sebatang dua batang rokok kami habiskan 
bersama. namun situasi tiba-tiba berubah sangat drastis. Bpk F yang awalnya 
baik jadi berubah drastis, alasanya hanya karena saya menolak tawarannya untuk 
mampir kerumahnya, mandi lalu minum kopi. Inilah keramahan yang tiba-tiba 
hampir menjadi kemarahan.Dari kejadian tersebut saya kemudian mengerti bahwa 
orang madura itu tidak mau dianggap kecil dengan tawaran mereka, apapun itu, 
sekecil apapun tawaran mereka jika kita menolak maka itu akan sangat menyakiti 
hati orang tersebut. Jika kebanyakan orang jawa basa-basi dalam melakukan 
penawaran terhadap tamu, maka itu kebalikan dari beberapa orang Madura yang 
menganggap menawarkan sesuatu kepada tamu merupakan kehormatan. apabila kita 
menolaknya berarti kita tidak menghormatinya.

Inilah sedikit cerita awal dari Madura, cerita yang saya dapat dari 
puncak-puncak tertinggi di Pamekasan. Apalagi bersama orang-orang hebat yang 
selama 2 Minggu ini menemani pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan 
di Pemekasan ini. Sayang saya belum sempat melihat kebudayaan asli Madura, 
Karapan Sapi. Bentuk tradisi masyarakat madura setelah melakukan panen besar, 
biasanya menurut informasi yang saya terima puncak tradisi Karapan Sapi ada 
pada bulan-bulan Oktober. Pada bulan tersebut sampai ada piala tertinggi dari 
presiden.

Sampai sini dulu kawan, tetaplah langkahkan kaki menikmati Nusantara yang 
katanya indah ini, sampai kita benar-benar merasakan keindahannya.

Salam

Gugun 7

Kirim email ke