Demikian menggebu2nya saya untuk menginjakkan kaki di provinsi Sulbar, 
Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga. Berikut saya share sedikit trip ke 
sana, semata2 karena info Mamasa memang sangat minim. Hasil browse di internet 
dan LP ternyata banyak yg tidak akurat-mudah2an note ini membantu.

Mamasa, kabupaten muda di Sulbar, terkenal juga dengan sebutan West Tana 
Toraja, terletak 330 km dr Makassar. Jalur paling gampang adalah menggunakan 
jalur darat ke Polewali lalu sambung ke Mamasa dgn total perjalanan bersih 
10-11 jam. Mamasa, memiliki kebudayaan serupa Toraja, sehingga saat memasuki 
Mamasa seolah2 kita memasuki Toraja.

13 April : 
Turun dr Bandara, saya menuju Terminal Daya. Kecele berat karena trnyta 
sore/malam hari tidak ada bis ke Mamasa (per telpon dgn salah satu penginapan 
di sana, jam 7 tersedia bis langsung Mamasa, ternyata maksudnya 7 pagi padahal 
jelas2 saya bilang malam hari-hiaa wadezig!). Tidak mau kehilangan waktu, saya 
segera memesan bis malam non AC dgn nama PIPOSS yang kependekan dari Padaidi 
Padaelo Sipatuo Sipatokkong yang kurang lebih artinya bersama2 sama rasa saling 
bantu. Sedianya brngkt jam 8 mlm, bis baru meluncur pukul 20.20. Uniknya, 
sebelum berangkat, seorang tetua masuk ke bis dan memimpin doa dgn khusuk dan 
fatihah agar semua penumpang selamat. Dalam bis ke Selayar, bis yang saya 
tumpangi juga menghentikan kendaraannya di sembarang mesjid di pinggir jalan 
agar penumpangnya bisa menunaikan Jumatan. Di tempat lain? Saya belum nemu he 
he. 

Bis meluncur perlahan di jalanan yg sedang diperbaiki hingga Pare2. Bis ini 
sedianya menuju Mamuju dengan melewati kota2 pesisir barat termasuk Polewali 
sehingga saya rasa saya bisa turun di Polewali dan sambung ke Mamasa esoknya.

14 April :
Saya yang tertidur, terbangun saat bis berhenti di suatu terminal. 
Celingak-celinguk, liat plang namanya Tilopayo. Sudah pukul 3.30 dan karena 
saya curiga, saya buka google map dan posisi terpampang di seputaran Polewali. 
Bis sudah jalan ketika saya colek keneknya dan berkata bahwa saya harus turun 
di terminal Polewali. Ternyata memang itulah tempatnya, dengan nama terminal 
yang sama sekali berbeda dengan daerahnya. Saya pun segera turun dan bengong 
karena terminal seluas 2 hektaran itu sunyi sepi gelap gulita sama sekali. 
Tidak ada seorang pun kecuali saya di situ. Akhirnya, saya menghampiri gardu 
polisi dengan dua penjaga dan meminta izin menginap di emperan terminal. Hujan 
rintik2, udara dingin dan nyamuk berhinggapan menemani rebahan saya di emperan 
sisi ruang tunggu. 

Subuhan, dan pagi mulai menjelang ketika sekitar pukul 6, saya bertanya kepada 
orang yang lewat. Saya tanya adakah bis ke Mamasa dan jam berapa? Dia bilang, 
ada tapi jam 2 siang. Whaat..? Jam 2 siang? Berarti itu bis yang jam 7 pagi dr 
Makassar? Lagi-lagi kupret, informasi yg saya dapat bahwa di terminal terdapat 
kendaraan sejenis jip pagi2 hari menuju Mamasa ternyata sudah ga update. 
Ngapain juga saya korbankan diri saya nginap ga jelas di terminal itu kalau 
memang ternyata ga ada bisnya? Bersungut2, saya segera menyeberang jalan 
terminal menyetop pete2 menuju perempatan Mabuliling kota Polewali karena 
infonya di sana banyak kendaraan ke Mamasa. 

Benar juga, begitu turun dari pete2, tiga lelaki berlari dengan kocaknya 
menghampiri saya dengan berteriak : 'Mamasa? Mamasa?'. Saya berkata : 'Ya, tapi 
kenapa jadi ramai begini?'. Mereka pun tertawa, dan nyatanya mereka walaupun 
bersaing mencari penumpang, tidak pernah ribut satu sama lain. Bahkan dengan 
lucunya berlari sana-sini menjemput calon penumpang sambil bercanda2 dan 
tertawa satu sama lain. Coba di Jawa, namanya saingan pasti gontok2an satu sama 
lain.

Saya menunggu Kijang hampir penuh dan berangkat pukul 8.30. 20 menit lepas dari 
pesisir Polewali, perjalanan menjadi mengasyikkan karena mobil langsung 
menanjak di ketinggian 600 meter dengan pemandangan teluk Polewali di sebelah 
kiri dan perbukitan indah di depan. 

Hambatan mulai terjadi saat mobil stuck di jalan yang tertutup longsoran tanah. 
Beberapa mobil yang mencoba menerobos, gagal karena licinnya medan. Bahkan ada 
sebuah truk besar kapasitas 40 ton yang sudah tertahan 5 hari lamanya. 
Sebenarnya supir kami yakin bisa tembus karena mobil kami menggunakan bensin 
yang dengan mudahnya mencapai rpm dan power tinggi sekali gas. Berbeda dengan 
solar, yang kesulitan melewati rintangan karena tarikannya lemah. Saat mencoba 
kami urungkan karena jalan sudah ditutup karena akan datang excavator. Ujug2, 
yang nongol2 malahan wheel loader. Tentu saja karena bukan peruntukan alat, 
tumpukan tanah lumpur padat tidak bisa dibuang. Loader pun hanya meratakan 
permukaan dan melandaikan sedikit sehingga pukul 11.35 kami bisa menembus 
longsoran itu. Selanjutnya jalanan makin parah, berkelak-kelok sempit curam 
dengan dasar aspal rusak dan tanah lempung. Supir pun membanting kanan kiri dan 
membunyikan klakson di tiap tikungan. Supir Mamasa memang terkenal dengan 
keahliannya karena memang tuntutan alamnya begitu. Ada joke, jika supir dari 
Mamasa hendak membuat SIM, tidak pernah dites tetapi langsung dikasih karena 
para polisi sudah yakin dengan kemampuan menyupir orang2 Mamasa. Pukul 15.00 
saya tiba, dengan total 6 jam perjalanan dari normalnya 4 jam. Padahal jarak 
Polewali-Mamasa hanya 93 km! Satu jam sebelum memasuki Mamasa, kita sudah 
disuguhi pemandangan apik pedesaan sepanjang jalan dengan tumah Tongkonannya yg 
menawan.

Saya minta dicarikan penginapan yang bersih dan murah. Dipilihkan supir di 
tengah kota (yang ternyata kotanya kecil). Kota Mamasa-1100 m dpl, memang 
diapit oleh perbukitan sehingga berada di lembah dan dipotong oleh jalur sungai 
Mamasa yang berair deras. Setelah menaruh tas, saya lalu cari ojek buat 
keliling2 dan saya pun lalu meluncur ke Tawalian-4 km timur Mamasa. Benar2 saya 
sangat menikmati indahnya perbukitan Mamasa, apalagi kabut dan awan berarak2 di 
atas membuat saya seolah2 naik ojek di antara awan he he. 

Di Tawalian, terdapat gereja paling tua di Sulbar yang dibangun Zending-Belanda 
tahun 1929. Kaca patri warna-warni di jendela tampak juga menorehkan angka 
1930. Arsitekturnya klasik, dengan interior dan mimbar gereja yang berhiaskan 
pahatan khas Mamasa/Toraja. Saya pun naik ke menaranya dan menyaksikan lonceng 
tua yang sudah aus tidak digunakan digantikan lonceng baru. Sekeliling 
pemandangan dari atas begitu indahnya saat itu. Di sekitar gereja juga terdapat 
kampung Tawalian tua yang masih menyimpan rumah adat Tongkonan tua yang tampak 
unik.

Selesai, saya pun meluncur ke utara kota melalui jalan rusak Mamasa-Toraja 
menuju Rantebuda. Di sini, terdapat kompleks rumah bangsawan yang tua dan 
terawat. Bertemu dengan Pak Deny, keturunan ke-21 bangsawan setempat, saya jadi 
paham bahwa perbedaan utama tongkonan Mamasa adalah menggunakan atap Uru (sirap 
sejenis jati) dengan jumlah kamar lima dimana tongkonan Toraja menggunakan atap 
bambu dan jumlah kamar tiga. Dua puluh menit saya berbincang di dalam rumahnya 
dan sempat menggoreskan indobackpacker di buku tamu :D. Hari hampir maghrib 
ketika saya kembali ke penginapan dan setelah makan, mandi, saya pun langsung 
tewas hingga esok harinya.

15 April
Subuh saya sudah melangkahkan kaki menuju sisi barat kota, ke arah BTS telkom 
dekat sebuah gereja di bukit untuk menyongsong sunrise. Kurang beruntung 
sepertinya saya karena mendung menghadang sehingga sepertiga jalan saya 
berbelok ke utara menuju sawah dataran banjir sungai Mamasa. Bukan apa2, untuk 
apa saya memaksakan ke BTS jika langit tertutup awan? Lagipula selepas 
jembatan, tampak dua ekor anjing kampung menggeram menghadang. Well, saya tidak 
takut dengan dua anjing itu, tapi ngeri dengan teman2nya he he he. Akhirnya 
saya memilih jalur yang banyak dilalui pelari pagi, karena pasti anjing2 di 
jalan itu sudah terbiasa dengan orang yang lewat-beda dengan gerombolan anjing 
kampungan tadi.

Satu jam motret di seputaran sawah, saya menelpon Tadius-ojeker kemarin untuk 
menemani saya ke salah satu tempat tertinggi di Mamasa. Motor melaju di jalanan 
buruk menuju Ballapeu', sebuah desa dengan ketinggian 1600 m dpl. Jaraknya 
lumayan dekat sebenarnya, sekitar 10 kilometeran, namun buruknya jalan membuat 
saya tobat habis2an. Tujuan akhirnya sebenarnya adalah BuntuMusa, puncak bukit 
di sebelah Ballapeu' namun ternyata motor tidak bisa tembus. Harus berjalan 
kaki padahal waktu sangat terbatas dan awan gelap menggantung. Akhirnya saya 
pun cukup puas memotret di sekitar desa adat Ballapeu'. 

Memang nasib baik menghampiri, tampak dari kejauhan rombongan warga desa 
berjalan berbaris dalam balutan kain hitam. Ternyatan hari itu adalah hari 
tabur bunga seorang warga yang meninggal karena liver. Tabur bunga dilakukan di 
hari kedua,  lalu 7 hari istirahat dan hari ke 10 baru tabur bunga lagi. 
Pakaian mereka hitam2 (kaen itam)-jadi sebenarnya budaya berbelasungkawa dengan 
kain hitam itu duluan Mamasa/Toraja atau Kaum Barat? Mereka mengumpul di makam 
atas bukit dan sebagian menangis meraung2 melempar bunga. Kaum lelaki pun sibuk 
membuat pondok2an, entah untuk tujuan apa. Selesainya acara mereka, saya pun 
kembali ke Mamasa setelah mengantongi setumpuk foto landscape lembah Mamasa 
yang dingin diselimuti kabut.

Bingung hendak apa lagi, dan juga mengingat waktu yang terbatas, saya ke pasar 
dan mencari angkutan ke Makassar. Ternyata di dekat penginapan, banyak sekali 
Kijang yang ngetem, sebagian besar tujuan Polewali. Beruntung saya mendapat 
Kijang ke Makassar, walaupun harus duduk terjepit di tengah. Sebenarnya, jika 
mau saya bisa saja turun ke Polewali sore hari dan lanjut dengan menyetop bus 
dari utara ke Makassar. Namun, ekstra 4 jam di Mamasa bagi saya tidak ada 
bedanya karena tempat2 penting sudah saya kunjungi. Sebenarnya masih banyak 
tempat lain seperti kubur tua, gua alami, air terjun dll namun lokasinya jauh2, 
radius 20 km-an dr Mamasa (misal Nosu-5 jam perjalanan) sehingga tidak mungkin 
saya jangkau dalam waktu sesempit itu.

Pukul 9.30 saya turun ke bawah dan tiba di Makassar pukul 22.30 malamnya. 
Langsung saya terkapar dan saat ini sedang bersiap2 pulang di bandara 
Hasanuddin. Kijang ini rencananya akan kembali ke Mamasa esok Sabtu, namun 
tidak mangkal. Hanya bermodalkan panggilan per hape saja dan referensi mulut ke 
mulut.

Briefly, Mamasa menawarkan wisata mirip Toraja, baik tongkonan, rumah tua, 
kubur tua (walau tidak sebanyak Toraja) dan keindahan hijaunya sawah yang 
terhampar di lembah2nya. Namun, Mamasa lebih nyaman karena belum komersil dari 
mass tourism. Masyarakatnya pun tulus, dan meninggalkan kebijakan2 yang bisa 
kita-orang kota tiru. Beberapa operator juga menyediakan paket trekking 
Mamasa-Toraja selama 4 harian, cukup menarik sepertinya. Idealnya sih, untuk 
explore Mamasa, dibutuhkan waktu sekitar satu minggu. Hambatan satu2nya ke 
Mamasa adalah buruknya infrastruktur jalan, benar2 membuat stress bagi yang 
tidak biasa.

Cost : 
- Makassar-Polewali bis PIPOSS non AC (48.000)
- Pete2 terminal Tilopayo-perempatan Mabuliling Polewali (3.000)
- Kijang Polewali-Mamasa (50.000)
- Penginapan Mini (85.000)
- Sewa ojek Tawalian, Rantebuda dsk (30.000)
- Sewa ojek Ballapeu' dsk (30.000)
- Kijang Mamasa-Makassar (100.000)
- Sekali makan sekitar 10-15.000 rupiah.

Salam


RHH

Kirim email ke