Sore menunjukan pukul 17.30 kota Pamekasan masih terlihat sangat terang oleh 
matahari senja kala sore itu. Beberapa orang dengan busana muslim sudah 
terlihat banyak memasuki pelataran masjid agung As Syuhada. Didepan masjid yang 
merupakan alun-alun kota juga terlihat orang-orang yang menikmati sore bersama 
keluarga maupun kawan. Ruang publik tersebut semakin terlihat ramai dengan para 
penjual yang dikerubuti anak-anak kecil yang mengantri untuk membeli jajanan. 
Tak berbeda dengan masyarakat Pamekasan yang menikmati sore itu, saya dan teman 
saya juga berjalan mengitari alun-alun kota pamekasan itu, melihat dan 
menikmati setiap sudut alun-alun kota batik Pamekasan.

Sebuah monumen Arek lancor berdiri dengan gagah tepat ditengah alon-alun, 
dengan latar belakang masjid agung monumen tersebut akan terlihat semakin indah 
jika dinikmati ketika sore. Monumen tersebut adalah lambang perlawanan dan 
kegagahan masyarakat Madura khususnya Pamekasan, jika diperhatikan dari jauh 
memang yang nampak seperti api yang sedang berkobar, namun itu adalah bentuk 
dari Arek (sabit) yang bisa menggambarkan masyarakat madura. Terdapat 5 sabit 
saling mengapit menjulang ke atas, semakin sore cahaya lampu yang berwarna biru 
akan menerangi monumen terebut dan itu menambah kegagahan dalam keindahan 
monumen itu. Dari informasi yang saya dapat monumen tersebut adalah monumen 
untuk mengingat perjuangan masyarakat Madura Pamekasan dalam melawan penjajah 
kala itu.

Tidak jauh disebelahnya juga terdapat monumen Proklamasi dengan burung Garuda 
yang terbang diatas batu. Burung Garuda itu terlihat berteriak lantang kepada 
Monumen Arek lancor, dan ternyata kedua monumen itu saling berhubungan satu 
sama lain. Yang intinya memerdekakan diri dari penjajah.

Masih dari komplek alun-alun kota Pamekasan, tepat didepan Monumen Arek Lancor 
terdapat sebuah museum daerah. Museum ini ternyata baru didirikan bulan Maret 
lalu, pantas saja tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan museum yang 
sangat berarti bagi wisatawan terebut. Museum ini juga saya sarankan untuk 
menjadi tujuan pertama dari perjalanan wisata jika anda melakukan wisata ke 
Pamekasan Madura, selain banyak informasi tempat wisata dan daerah yang layak 
untuk dikunjungi museum ini akan menjadi pemandu anda jika masih bingung berada 
di Pamekasan. Museum ini memiliki jam buka dari pukul 9 pagi sampai 9 malam, 
jika anda mendatangi museum ini anda akan bertemu dengan penjaga museum yang 
akan dengan baik menceritakan semua bahkan apapun tentang pamekasan yang anda 
ingin tahu.

Meski baru berumur satu bulanan, koleksi museum ini cukup bisa menggambarkan 
sejarah dan kebudayaan Pamekasan Madura. Kita bisa melihat sisa-sisa kejayaan 
Sultan Agung Mataram yang pernah menguasai Madura. Di museum ini kita juga bisa 
melihat kitab-kitab kuno Madura  yang masih bertuliskan aksara jawa kuno dan 
kitab kuno dengan bahasa Arab. Beragam senjata tradisional khas Madura juga 
dipajang di museum ini mulai dari tombak sampai keris-keris pusaka. Tidak hanya 
memajang benda-benda sejarah, di museum ini kita bisa melihat Kleles yang biasa 
digunakan untuk karapan sapi dan sebuah Andong dengan tempat kusir dibelakang 
penumpang yang biasa digunakan oleh para ulama di Madura. Beragam kerajinan 
tradisional berupa alat-alat fungsional rumah tangga dan pajangan bisa kita 
temui di museum ini. Selain itu yang paling istimewa adalah kekhasan Pamekasan 
sebagai kota batik juga ditampilkan dengan batik yang pernah tercatat 
terpanjang di Indonesia, batik terpanjang itu bisa kita lihat di museum ini. 
jadi jangan lewatkan untuk memahami Pamekasan sebelum anda menjelajahi lebih 
lanjut melalui Museum ini, apalagi museum ini gratis dan terbuka untuk umum.


Malam hari kami gunakan untuk melihat fenomena alam yang digunakan sebagai 
salah satu objek wisata andalan kabupaten Pamekasan yaitu Api Tak Kunjung 
Padam. Lokasi ini berada tidak begitu jauh dari pusat kota pamekasan, hanya 
berjarak 15 menit menggunakan kendaraan pribadi. Akses masuknyapun sangat 
mudah, hanya berjarak 800 meter dari jalan raya. Ketika kami memasuki daerah 
itu terlihat beberapa api yang menjulang tinggi ke atas, namun sayang akses 
menuju tempat tersebut sudah ditutup oleh kendaraan. Akhirnya kami hanya 
melihat api tersebut ditempat yang biasanya orang kunjungi juga. Ditempat 
tersebut sebuah petak tanah berukuran tidak lebar dari 10 meter dan dipagari 
besi api muncul dengan sendirinya dari dalam tanah. Api yang muncul tersebut 
saya rasakan tidak begitu panas dari api yang biasanya ada. Banyak dari 
pengunjung tempat wisata ini yang membawa makanan mentah untuk sengaja dimasak 
di Api Tak Kunjung Padam, seperti jagung, telur dan tak jarang juga membawa 
ikan. Di sekitar lokasi terdapat banyak penjual oleh-oleh seperti pakaian adat 
Madura Sakera lengkap dengan beragam senjata tajamnya dan juga bumbu dapur 
Terasi Madura.

Sekali lagi saya harus menyesalkan karena belum bisa menyaksikan seni tradisi 
khas Madura, Karapan Sapi yang katanya hanya bisa kita saksikan setiap bulan 
Agustus. Ternyata sehari sebelum kepulangan saya ke Surabaya saya bertemu 
dengan joki karapan sapi, Pak Etep namanya. Kami bertemu di Taroan, dari cerita 
yang saya dapatkan karapan sapi ternyata tidak hanya diadakan setiap bulan 
Agustus. Yang sangat saya sesalkan adalah bahwa minggu besok dia juga akan 
berlomba dengan karapan sapinya di daerah Pademawu Barat dan dia menawarkan 
untuk bisa melihat pertandingan karapan sapi dengan hadiah 5 buah motor 
tersebut. Namun pertemuan dengan joki karapan sapi itu dapat memberi informasi 
baru tentang karapan sapi yang diadakan secara besar di bulan Agustus itu.

Selain pantai Talang Siring di kecamatan Montok dan pantai Jumiang di Kecamatan 
Pademawu serta Api Tak Kunjung Padam di Tlanakan dan Museum Daerah yang berada 
di alun-alun kota, ternyata masih ada beberapa tempat yang layak untuk 
dikunjungi. Meski ada beberapa tempat yang saya belum sempat untuk 
mengunjunginya, namun akan saya ceritakan rangkuman yang saya dapat dari 
beberapa teman. Lokasi tersebut antara lain Pasar Batik yang terletak di jalan 
Joko Tole, ditempat tersebut kita akan banyak menemukan batik-batik khas 
Madura. Tempat kerajinan batik juga terdapat disekitaran pasar sore sebelah 
barat alun-alun kota, ditempat tersebut juga terdapat beberapa rumah kerajinan 
pembuat batik. Lokasi berikutnya adalah pasar 17 Agustus, pasar ini hanya ada 
setiap hari Minggu pagi dan Kamis pagi. Di pasar tersebut kita bisa melihat 
beragam hasil kerajinan Pamekasan lengkap dengan jajanan khas Pamekasan, lokasi 
ini terletak di utara pusat kota Pamekasan. Di ujung timur luar alun-alun 
Pamekasan juga terdapat bangunan Heritage berupa bangunan yang digunakan pada 
masa penjajahan sebagai bangunan listrik kota, bangunan ini berwarna biru yang 
akan dengan mudah kita lihat.

Bagi yang suka kuliner, Pamekasan menyajikan sebuah tempat istimewa untuk para 
pecinta kuliner yaitu Sae Salera sebuah jalan di pamekasan yang diubah menjadi 
jalan dengan aneka masakan dan jajanan. Lokasi Sae Salera hanya berjarak 100 
meter sebelah barat dari alun-alun kota, namun saya merasa ketika berada di 
tempat tersebut tidak terasa Maduranya. Untuk yang benar-benar penjelajah 
kuliner sepertinya tempat tersebut kurang pas, lebih menjanjikan jika kita mau 
warung kecil yang berada di pinggiran jalan di Pamekasan, memang agak sulit 
tapi sekalinya menemukan kita bisa merasakan masakan khas daerah Madura. 
Biasanya akan ada tanda dari dinas pariwisata Pamekasan jika warung terebut 
menyajikan masakan tradisional. Tanda tersebut berupa papan nama dengan motif 
batik bertuliskan wisata kuliner makanan khas daerah(jika tidak salah). 
Beberapa makanan khas yang pernah saya temui dan dinikmati antara lain, Kaldu 
Kokok, Kaldu Kikil, Rujak Cingur, Rawon dan Soto Madura. Kemungkinan jika 
beruntung anda bisa mendapatkan minuman Ta'al, minuman tradisional yang berasal 
dari pohon Siwalan. Serta jangan lupakan beberapa landscape sudut kota 
pamekasan yang memiliki mural-mural dengan gambar-gambar batik khasnya.

Sepertinya hanya itu yang bisa saya ceritakan tentang salah satu daerah di 
Pulau Madura ini. Daerah dengan syari'at Islam yang sangat terasa disetiap 
sudut kotanya.Daerah dengan eksotisme di setiap bukit yang ada 
didalamnya.Sebuah daerah yang menawarkan petualangan penuh ketegangan dan 
kesenangan. Tetap langkahkan kaki menuju Nusantara yang katanya indah itu 
hingga engkau benar-benar merasakannya.


Kirim email ke