CirebonDay-1 : Sudah lama saya dan teman2 di geng berLIMA merencanakan untuk liburan bersama, tapi secara masing2 (sok) sibuk, maka kami baru bisa merealisasikan acara jalan2 bareng ini pada tangal 16-17-18 April 2010. Itinerary nya ngak muluk2, cuman pengen mengunjungi Keraton2 di Cirebon sekaligus wisata kuliner tentunya. Pada hari Jum’at tanggal 16 April jam 16.30 sore, saya, Aryo dan Ela Elo anak alay sudah berada di stasiun kereta api yang akan membawa kami ke Cirebon. Karena saya datang kecepetan, maka saya menghabiskan waktu untuk melihat2 orang2 yang lalu lalang disana. Sebagai salah satu fashionista, saya sangat suka melihat banyak sekali anak2 muda dengan gaya eksis yang tampil dengan percaya diri yang mantap yang memakai pakaian yang ‘beda”. Pokoknya keren deh. Sumpah ini ngak penting dibahas (tapi kayaknya kalian kan sudah tau bahwa saya suka sekali ngebahas hal2 yang ngak penting bukaaaann ? haha) Tak lama kemudian, kereta api kami datang dan seperti orang Indonesia pada umumnya, kami ikut berebutan dengan ratusan penumpang lainnya. Heran deh, udah jelas2 tempat duduk nya ada nomor kursinya, jadi sebenernya tanpa perlu lari2 dan huru hara rebutan, kita semua akan tetep duduk juga toh ? yah, itulah seninya naik kereta api, hehe. Di kereta saya sempat bertemu dengan salah satu teman MP dan FB, Esti Fauzi, yang gara2 baca status facebook saya dia merespond memberitahukan saya kalau dia juga sedang berada di kereta yang sama, sehingga saya bela2in ketemuan sama seorang teman yang sudah bertahun2 berkenalan di dunia maya tapi baru sekali itu bertemu. Seru sekali ketika saya akhirnya bertemu dengan orangnya langsung, dan kami ngobrol2 sebentar sebelum janjian ketemuan di lain waktu. Uhmmm, saya terlalu under estimate kereta api Cirebon, maafkan, ternyata kereta apinya bersih, nyaman, ac nya dingin, tv nya flatscreen, lagunya Jason Miraz, restorasi nya bisa smoking dan yang paling juara, disamping kursi empuk masing2 ada colokan listrik buat charging baterei BB (hidup banci status facebook). Dingiiinn (baca : cool). Kereta api kami namanya Argo Jati, AC, harga nya Rp 110,000 sekali jalan. Perjalanan dari stasiun Gambir Jakarta sampai ke stasiun Cirebon memakan waktu selama 3 jam saja, sehingga kami tiba di stasiun Cirebon pada pukul 20.30 malam. Secara di week-end sebelumnya, saya tidur ditempat yang nggak nyaman http://images.deedeecaniago.multiply.com/image/3/photos/333/1200x120/18/018.-Pantai-Pulau-Condong.jpg?et=pdeaAhqtWt3Ai0ZAIVup8w&nmid=331358550, kali ini saya memilih untuk menginap ditempat yang nyaman, dengan konsekwensi membayar sedikit mahal dan pilihan kami jatuh pada hotel Sare Sae Cirebon. Hotel Sare Sae Sumpah hotel Sare Sae merupakan salah satu hotel yang saya rekomendasikan untuk menginap untuk yang punya dana sedikit lebih. Rate nya Rp 150,000/malam (plus breakfast for two), bisa sharing berdua atau bertiga per kamarnya. Design botelnya cantik, begitu alami dan saya langsung berasa dirumah sendiri karena ornamen2 nya begitu “hommy” banget. Hotelnya teduh, penuh dengan tanaman2 dan pohon2 segar, dengan kolam ikan yang mengelilingi hotel, dan konsep minimalis beserta outdoor yang nyaman. Kamarnya tidak terlalu besar, bisa pilih pake single bed ataupun king size bed. Kamar mandi nya djadoel memakai peralatan jaman dahulu untuk bak mandi dan gayungnya, lantainya juga dibuat sederhana dan terkesan alami dengan bebatuan di dinding dan lantainya. AC nya dingin, tapi sayang, lampunya kurang terang alias terlalu remang2 jadi agak berasa gimanaaaa, gitu, hehe. Dikarenakan kami tiba di Cirebon sudah malam, maka setelah mandi dan ngopi2, maka kamipun beristirahat agar bisa bangun pagi kesokkan harinya. Jam 04.00 subuh, satu anggota geng berLIMA, Dwi menyusul dari Surabaya untuk bergabung dengan kami. CirebonDay-2 : Bangun pagi, saya segera cuci muka dan jalan2 berkeliling hotel dan sekitarnya, lalu sarapan nasi uduk yang sudah disediakan oleh pihak hotel. Ketika semua teman saya sudah bangun dan mandi, maka kami berLIMA memulai perjalanan pagi ini menuju perkampungan batik Trusmi. Batik Trusmi : Trivial fact menurut versi teman saya Puguh Imanto (yang photo nya ada di dompet semua cewek, puassss Pugs ? hehe), Trusmi adalah nama orang yang membuka usaha batik pertama di daerah situ. Makamnya masih sering diziarahi dan diadakan upacara pembersihan tiap tahunnya. Beliau dinamai demikian karena waktu ditanya 'kenapa ibu buka usaha batik???' dia selalu menjawab; 'Trusmi, I know what I am doing'. Ternyata jalan ke perkampungan batik di awal perjalanan itu SALAH BANGET, karena waktu bisa2 habis cuman disitu2 aja ngak pindah kemana2, secara sepanjang mata memandang, semuanya adalah toko yang menjual batik, dari yang paling tradisional sampe yang paling modern. Kami mengunjungi begitu banyak toko, dan saya menemukan fakta baru bahwa batik khas Cirebon itu bernama Mega Mendung dengan motif awan2 yang tebal sebagai corak kainnya. Toko batik yang disarankan kawan saya adalah Batik Nova, karena koleksinya paling lengkap, harga bersahabat, dibelakang rumahnya ada workshop batik, dan di ruang tunggunya disediain krupuk melarat yang enak banget. Sebenernya batik nova buka cabang di daerah Pondok Indah dengan beda harga sekitar 20rb per potong. Biasanya kolesinya lengkap banget mulai yang ATBM, sutra, sutra ATBM, serat nanas, dll. Tapi dari semua tempat batik yang kami kunjungi, toko EB merupakan salah satu toko di perkampungan batik yang saya suka karena motif dan batiknya lucu2, modelnya bajunya eksis banget, ketat dan pas di badan, dengan model yang tidak pasaran. Tapi sayangnya, secara toko tersebut pernah dikunjungi oleh Bapak SBY dan Christian Bautista, harga nya bikin males belinya! Untuk baju pantai batik yang cuman setengah badan aja, harganya Rp 395,000, harga gaun batik pesta untuk dimalam hari Rp 475,000, hiks. Then again, mungkin aja harganya emang sesuai dengan kualitas batiknya, tapi saya nya aja yang ngak punya banyak duit untuk belinya, haha. Akhirnya kami berlama2 disana hanya untuk sekedar mengingat2 model baju nya, dan beli batiknya ditempat lain, hahaha. Di toko2 berikutnya, saya berpisah dengan teman2 dan saya menemukan beberapa toko (salah satunya Putri Shop) yang menjual kain2 dan sarung2 batik dengan motif cantik yang harganya cuman sekitar Rp 40,000 saja! Asik, pulang dari Cirebon langsung ke tukang jait deh! Waktu telah menunjukkan pukul 14.00 siang dan kami terpaksa berhenti untuk makan siang, dan makan disebelahnya toko EB, nasi jamblang mang Doel cabang perkampungan batik Trusmi (karena aslinya berada di jalan Cipto). Tapi menu nya sudah banyak yang habis, maka kami makan seadanya saja. Salah satu menu wajib coba di Cirebon adalah empal gentong dan tahu gejrot. Empal adalah masakan khas Cirebon yang bentuknya seperti gulai, ada yang dari daging sapi, ada yang dari daging kambing. Disebut empal gentong karena emang dimasak dengan menggunakan periuk tanah liat yang disebut gentong. Empal gentong yang asli dibuatnya dengan cara dibakar dengan menggunakan kayu.Empal ini bisa dimakan dengan nasi ataupun lontong.Isinya bisa kita pilih, apa daging saja atau dengan jerohan lainnya seperti babat,usus,paru. Empal gentongnya bayar tapi jangan khawatir, kolesterol nya gratis, hehehe. Disana kami juga mencoba Tahu gejrot. Tahu gejrot adalah tahu yang digoreng kemudian di iris2 seperti tahu sumedang yang disram dengan kuah air gula jawa dan ulekan cabe rawit dan bawang merah (mentah). Pedesnya sesuai yang kita mau, mau manis, sedang, atau amat pedas. Biasanya, kalo memesan tahu gejrot, tahunya disediakan di piring yang terbuat dari tanah liat atau kayu dan untuk memakan nya, kita tidak menggunakan sendok melainkan tusuk gigi. Okay, setelah kenyang makan, kami melanjutkan perjalanan kami ke Keraton Kasepuhan. Secara saya sudah pernah sebelumnya mengunjungi Keraton Kasepuhan ini, maka saya mengulang kunjungan demi memperlihatkan ke teman2 saya yang belum pernah kesini mengenai sejarah dan keindahan Keraton ini. Keraton Kasepuhan Keraton Kasepuhan merupakan keraton yang cantik, dengan design gapura yang seperti gapura Bali , Keraton ini mulai dibangun pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506, beliau bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon. Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, sedangkan Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Dan sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Putri itu cantik rupawan berbudi luhur dan bertubuh kokoh serta dapat mendampingi suami, baik dalam bidang Islamiyah, pembina negara maupun sebagai pengayom yang menyayangi rakyatnya. Beliau wafat pada tahun 1549 di dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua, dari pengorbanan tersebut akhirnya nama beliau diabadikan dan dimulyakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan. Didalam keraton Kasepuhan terdapat benda pusaka yang sangat menarik yaitu Kereta Singa Barong yang dikeramatkan. Dulunya, kereta kencana ini dipakai untukmembawa Sultan dn keluarganya bepergin, tapi sejak tahun 1942, kereta ini sudah tidak boleh dipakai lagi, dan tiap2 tanggal 1 Syawal dikeluarkan untuk dimandikan. Selain kereta kencana, di keraton ini terdapat banyak kermik2 kuno yang indah, trus ukiran Lingga & Yoni, yaitu lambang kejantanan & kesuburan. Sayang pada saat kunjungan kali ini kami tidak sempat melihat2 didalamnya karena tepatnya sudah tutup. Tadinya kami mau berkunjung ke Hard Rock Café Cirebon alias Goa Sunyaragi. (Hard = Keras, Rock = Batu, Café/cave = Goa, so hard Rock café = Goa Sunyaragi, hehehe), akan tetapi, secara pulang dari Keraton Kasepuhan udah terlalu sore dan pastinya tempat tersebut udah tutup, akhirnya kami memutuskan untuk berbelanja oleh2 di Pangestu, pusat oleh2 yang selalu direkomendasikan semua orang, karena selain tempatnya bersih dan nyaman, toko Pangestu menjual segala macam oleh2 dengan rasa makanan nya lebih gurih tapi harga lebih murah dari toko2 sejenisnya. Selesai belanja, kami makan malam dan kembali ke hotel untuk ber istirahat. CirebonDay-2 Pagi ini kami ingin mengunjungi Keraton Kanoman, tapi sebelum menuju ke Keraton Kanoman tersebut, kami sarapan di warung wajib kunjung di Cirebon , warung nasi jamblang mang Doel. Warung nasi ini terdapat di pertokoan BCA Gunung Sari, seberang Grage Mall, tepatnya terletak di jalan Cipto, dipinggir jalan raya. Parkir nya susah, tempatnya ngak begitu besar, tapi rame nya itu looohh! A good sign. Banyak yang datang berarti makanan nya enak! Warungnya sederhana, tidak ada meja makan nya, hanya ada bangku2 panjang dari kayu. Rasanya emang sengaja dibikin seperti itu biar orang ngak lama2 duduk disana, haha. Semua makanan diletakkan disebuah di setiap baskom di meja besar. Menu nya ada puluhan, dari daging semur, ikan asin, tahu, tempe goreng, tahu isi, segala macem seafood seperti udang, cumi, udang, ikan, etc, trus beberapa jenis perkedel, sayur tahu, ati ampela, telor balado, telor dadar, sate daging, sate kulit, sate usus, ati ampela, segala macem pepes seperti pepes ikan, pepes tahu, pepes jamur, dan masih banyak lagiiiii. Pokoknya pusing kalo kesini karena selain menunya banyak, hampir semua menu nya enak... Untuk makan nya, kita harus mengantri sendiri, kita akan diberi sebuah piring plastik yang dilapisi daun jati, lalu nasinya sendiri juga dibungkus dengan daun jati. Satu nasi biasanya tidak cukup karena porsinya kecil banget, jadi biasanya minta nasinya dua atau tiga bungkus daun jati. Lalu kita pilih menunya sendiri (ada beberapa pegawai mang Doel yang membantu disana), dan jangan lupa abis itu nasinya kita basahi dengan kuah semur dan sambel jamblangnya yang merupakan cabe merah yang diris tipis2 trus digoreng. Aduh! Menuliskan ini aja saya udah pingin kesana lagi ! sluurrppp. Menurut Pak Umar, anak (almarhum) mang Doel, tempat itu sudah dibuka sejak tahun 1960, dan sudah mempunyai beberapa cabang di Cirebon, diantara nya di Grage Mal Cirebon, di perkampungan batik Trusmi dll dsb. Warung yang di Jalan Cipto merupakan warung asli dan yang pertama, buka dari jam 05.00 subuh sampai sehabisnya, biasanya makanan nya habis pada pukul 11-12 siang setiap harinya. Untuk ukuran nasi jamblang yang ngetop dengan cita rasa tinggi, harga nya amat sangat murah. Biarpun menu makanan yang dimakan udah segitu banyaknya, paling2 kita kena nya cuma Rp 10,000 – Rp 15,000 aja! Awesome ! Rasanya setiap kali ke Cirebon , saya akan selalu berkunjung kesini, hehe. Yang bikin bingung itu waktu bayarnya, secara setelah sekian banyak menu yang kami makan, kami tidak begitu hapal udah makan apa aja (nambah melulu soalnya, hihi), sehingga kejujuran dan daya ingat sangat diperlukan disini untuk membayar dikasir setelah selesai makan. Bisa aja sih bohong dan ngaku2 kalo menunya hanya sedikit, tapi saya takut kualat dan sakit perut ah! :-) Oh ya, satu lagi, makanan2 ini enaknya dimakan ditempat alias di TKP. Saya sudah membuktikan bahwa kalo kita membungkus makanan untuk dibawa pulang, selain udah ngak seger lagi, beberapa makanan bisa masuk angina alias melempem sehingga rasanya tidak senikmat kalo makan disana yang masih hangat plus rebutan pula! Keraton Kanoman. Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Keraton Kanoman. Keraton Kanoman didirikan oleh Sultan Kanoman I (Sultan Badridin) turunan ke VII dari Sunan Gunung Jati (Syarief Hidayatullah) pada tahun 510 tahun Saka atau tahun 1588 Masehi, Adapun prasasti tahun berdirinya Keraton Kanoman terdapat pada pintu Pandopa Jinem yang menuju keruangan Perbayaksa, dipintu tersebut terpahat gambar angka Surya Sangkala & Chandra Sangkala. Jadi terbaca tahun 1510 Saka atau tahun 1588 Masehi. Lambang angka tahun terdiri dari 2 macam yaitu Surya Sangkala dengan gambar matahari dan Chandra Sangkala dengan gambar Bulan. Keraton ini usianya lebih muda dari Keraton Kasepuhan. Kanoman berasal dari kata "anom" jang berarti "muda". Tetapi sungguh disayangkan, untuk bisa masuk kedalan keraton ini, kami harus melewati pasar yang sempit dan kumuh, sangat disayangkan untuk sebuah tempat yang sangat bersejarah Selesai berkunjung ke Keraton Kanoman, kami menuju kerumah sahabat kami Risca yang emang asli Cirebon untuk sekedar leyeh2, kemudian makan siang di Ampera sampai tiba waktunya ke stasiun kereta api karena kereta api yang membawa kami berangkat pada pukul 15.00 sore, and off we went back to jakarta ! Untuk yang akan ke Cirebon, selain tempat2 diatas, masih ada beberapa tempat lagi yang bisa dikunjungi, antara lain Balai Kota Cirebon, Keraton Kacirebonan, Tamansari Goa Sunyaragi. Photo2 bisa di akses di : http://deedeecaniago.multiply.com/photos/album/335/Cirebon_Keraton_Kasepuhan_Keraton_Kanoman_HRC_Cirebon_wisata_kuliner Selamat menikmati Cirebon ! salam, Deedee Caniago *they don't care how much you know until they know how much you care* [Non-text portions of this message have been removed]
