Pulau Tidung.
Pulau Tidung terletak di kepulauan seribu, dekat pulau
pramuka, sekitar 3 jam perjalanan dari Muara Angke. Pneduduknya sekitar 3,000
orang
Transportasi :
Duluuuu banget, ketika belum
banyak yang berkunjung ke Pulau Tidung, hanya ada 1 kali penerbangan, eh,
penyebrangan, yaitu setiap hari jam 07.00 pagi. Namun secara makin lama Pulau
Tidung
semakin booming dan menjadi salah satu tujuan wisata lokal, hampir semua milis
traveling, backpacking atau flashpacking mulai berkunjung kesana. Sekarang ada
dua atau tiga kapal ojek yang bisa memberangkatkan penumpang kesana. Jam 07.00,
jam 08.00 dan jam 10.00 pagi, namun selain yang jam 07.00 pagi, sebaiknya kita
konfirmasi terlebih dahulu apakah kapal yang jam 08.00 dan jam 10.00 itu
berangkat setiap hari. Terus kapal ojek yang berangkat dari Pulau Tidung
kembali ke Muara Angke juga ada 2 kali, yaitu jam 07.00 pagi dan jam 10.00 pagi
(malah katanya nanti akan ada yang berangkat jam 1 siang, entahlah).
Penginapan :
Berbeda dengan Pulau Pramuka yang banyak menyediakan
penginapan dengan berbagai tariff (hotel maupun home-stay), penginapan yang
tersedia di Pulau Tidung masih bisa dihitung dengan jari. Untung kami masih
dibantu dengan Pak Wardi, tokoh setempat yang banyak mengurus segala macam hal
dan
kegiatan yang berlangsung dari Pulau Tidung, baik penginapan, sewa kapal, makan
dan sebagainya. Tapi tentu saja kita harus pinter2 nego harga karena harga yang
Pak Wardi tawarkan biasanya lebih mahal daripada harga yang saya dapatkan dari
teman baru Tidung saya, Neneng (thanks ya Dini Dee buat infonya).
Untuk penginapan, kami mendapatkan penginapan rumah
penduduk yang bagus untuk ukuran Pulau Tidung. Rumahnya bagus, bersih dan
besar, muat untuk 15 orang. Rumah yang dimiliki oleh Pak haji Murta’a tersebut
mempunyai 3 kamar (yang masing2 kamar
bisa ditempati oleh 3-4 orang), lalu ada 3 buah kamar mandi yang bersih tempat
dan bersih airnya (2 diantara 3 kamar mandi itu ada WC nya), dan juga
disediakan kipas angin disetiap kamar. Ruang TV, ruang tamu dan ruang shalat
juga bisa dijadikan space tidur pada malam harinya, dan banyak punya kabel
terminal buat nge charge HP dan kamera (penting nih). Harga sewa penginapan nya
Rp 500,000 – Rp 600,000 per malam, bisa dibagi sekian belas orang jadinya tidak
terasa berat. Sayangnya lokasi rumah ini termasuk cukup jauh dari
pelabuhan dan pusat kota, jalan kaki nya sekitar 700m atau 1km paling jauh. Tapi
yang bikin seneng, pak Jono (pengurus rumahnya) selalu mengecek ke kami, “is
everything Ok?” atau sekedar menanyakan gimana makanan nya, airnya, etc. Trus
pada hari terakhir Pak wardi juga sengaja datang bertandang dan menanyakan
kepada kami feedback atau masukan mengenai segala macam tentang Pulau Tidung
untuk perbaikan kedepan nya, very nice! Saya salut atas itiniatif beliau demi
kemajuan pariwisata
Pulau Tidung.
Sebenarnya kita juga bisa kemping atau bertenda di Pulau
Tidung Kecil, tapi angin nya sangat kencang jadi bener2 harus pake tenda yang
kuta dan kokokh kalau ngak mau terbang tenda nya, hihi. Di Pulau Tidung
Keciljuga tidak tersedia makanan, sehingga kalau mau maka kita harus bawa
kompor dan alat masak sendiri.
Makanan & Minuman
Untuk makan selama menginap di
Pulau Tidung, kami memesan dari Pak Wardi juga, Rp 15,000/orang/sekali makan,
dan makanan yang ditawarkan lumayan enak dan porsi nya banyak, datengnya juga
on time, dianter dengan gerobak atau becak :-). Makanan yang disajikan
kebanyakan seafood seperti ikan, udang dan cumi, dan sesekali dikasih sayuran
seperti sayur sop, sayur asem, tahu dan tempe enak. Di bagian belakang rumah
terdapat teras yang nyaman buat duduk2, dan disebelah teras itu ada warung yang
cukup lengkap menjual segala macem jajajan (dari makanan ringan, soft drink,
mie, segala macam kopi dan jus, hingga perlengkapan mandi).
Warung makan belum begitu
banyak terdapat di Pulau Tidung, kalaupun ada, rasa masakan nya biasa aja,
lebih baik order dari Pak wardi atau penduduk setempat karena rasa makanan nya
lebih terjamin.
Pulau Tidung
Besar, Tidung Kecil, Jembatan
Pulau Tidung terbagi dua, terdiri dari Pulau Tidung Besar
dan Tidung Kecil yang dipisahkan oleh jembatan sejauh sekitar 500m. Pulau nya
sendiri
menurut saya biasa aja, dari sisi photography atau pemandangan ngak terlalu
bagus,
tapi thanks to the bridge, ada jembatan yang lumayan menawarkan sesuatu yang
berbeda, disana kita juga bisa bersepedaan dengan asik. Spot sunset dan sunrise
nya nya biasa aja, dan secara udah bela2in bangun subuh untuk hunting sunrise
dan cepet2 sepedaan buat ngejar sunset, tapi mataharinya malu2 muncul dan
tenggelam, dan prosesnya sangat cepat sehingga begitu lihat hasilnya di kamera
akan kecewa.
Jalan kaki di jembatannya lumayan asik, jembatan nya
panjang dan air dibawahnya bening, kita juga bisa loncat dari atas jembatan
untuk berenang disekitarnya, tapi hati2 banyak bulu babi didekat pantainya.
Jembatan
kayu nya sendiri nya udah mulai rapuh dan banyak bolong disana sini, sehingga
kita harus tetap konsen liat jalan didepan kalo ngak mau kejeblos . Buat yang
suka nyeker alias jalan kaki tidak memakai sandal jepit/sandal pantai, hati2
sekali karena banyak paku berkarat yang tertancap disana plus serpihan2 kayu
yang bisa melukai kaki (dan itu terjadi di banyak anggota rombongan kami dan
rombongan lain).
Tapi yang asik, jembatan ini seperti jembatan antar
komunitas karena di jembatan ini kita akan banyak bertemu dan berkenalan dengan
teman2 dari komunitas lain. Waktu itu aja saya banyak bertemu dengan temen2
dari milis Indonesia backpacker, Flashpacker Indonesia, Jalan Bebas, Sahabat
Museum, CouchSurfing, baik itu acara milis maupun acara pribadi. Seruuuuu !!!
Cuaca di Pulau Tidung amat panas di siang hari, tapi begitu
dingin dan angin nya sangat kencang di malam hari. Pantai dan
spot snorkelingnya tidak begitu bagus. Kami sudah mengelilingi beberapa lokasi
snorkeling antara tapi koral dan terumbu karang juga ikan2 nya biasa aja, tidak
begitu menarik, lebih menarik pemandangan bawah laut yang terdapat di Pulau
Pramuka, Pulau Seribu dan sekitarnya.
Snorkeling
Kapal motor disewakan dari harga Rp 350,000 – Rp 450,000.
Satu perahu/kapal motor tersebut bisa memuat 15-20 orang. Harga sewa ini jauh
lebih mahal dari harga sewa di pulau Pramuka yang sekitar Rp 250,000 – Rp
300,000 saja. Tapi silahkan nego aja, karena harga disana sangat kompetitif
sekali, biasanya penduduk lokal akan mau ngurang2in harganya sedikit…
Life Jacket
Bagi yang ingin berenang tapi tidak bisa berenang dan tetap
pengen snorkeling atau takut dengan arus kencang ombak dilaut, sebaiknya
menyewa dan membawa jaket pelampung sendiri. Di Pulau Tidung tersedia banyak
life jacket, tapi stock dan ukuran nya terbatas, dan kita ahrus booking jauh2
hari biar ngak rebutan disana nya. Satu set perlengkapan snorkeling
(masker/snorkel, fins dan life jacket) Rp 35,000/orang/hari.
Sepeda
Sepeda disewakan dari harga Rp 12,500 – Rp 15,000 per hari,
tapi kita harus booking sepeda nya paling tidak 1 minggu sebelumnya,
dikarenakan stock sepeda hanya tersedia sebanyak 100 orang, itupun yang rem nya
masih jalan sekitar 70-an karena banyak sekali sepeda yang kami survey disana
tidak ada rem nya alias rem nya blong, hehe. Tapi jangan
khawatir, karena di Pulau Tidung tidak ada jalan raya, hanya jalan motor atau
jalan sepeda, maka sepeda tanpa rem di Puau Tidung termasuk aman. Tapi hati2,
karena sepeda nya kebanyakan sepeda tua, maka sebagian dari sepeda tersebut
akan bermasalah di jalan, seperti rantainya putus atau longgar, dan kita harus
benerin sendiri sepeda tersebut atau minta bantuan penduduk setempat karena
tidak ada bengkel sepeda sejauh yang saya tahu. Hal ini terjadi pada sepeda
saya dan sepeda teman saya yang ketika hampir magrib melihat sunset mendadak
rantainya longgar dan sepeda tidak bisa dipakai sampai teman2 membantu mengotak
atik sepeda selama 30 menit hingga akhirnya sepeda kami bisa jalan lagi
(pheeeww).
Bycycle path atau jalur sepeda
nya amat panjang dari ujung ke ujung, sekitar 4KM kalo misalnya kita niat
muterin pulaunya, tapi hanya di Pulau Tidung besar, tidak termasuk pulau tidung
kecil. Duluuuu banget, sepeda masih bisa dibawa untuk menyebrang ke Pulau
Tidung kecil, akan tetapi sekarang ini sudah dilarang, kita hanya boleh memakai
sepeda di Pulau Tidung besar, nanti diakhir jalan sebelum naik ke jembatan,
kita akan diminta untuk menitipkan sepeda dan membayar parkir Rp 1,000/sepeda,
dan sepeda kita akan diberi nomor untuk pengambilan nya nanti.
Bersepeda di Tidung besar itu
sangat mengasikkan, angin ya sepoi2, sangat relaxing. Tapi jangan sampai
bersepeda seharian karena keasikan ya, karena ke esokkan harinya pantat dan
bagian sekitar (maaf) selangkangan kita akan ngilu2 karena capek nya baru
terasa dikeesokkan harinya. Ada beberapa spot photo yang bisa diambil disana,
antara lain ilalang2 (jalur sunset road), pantai diujung tempat sunset, dan
tentunya jembatan penghubung itu tadi.
Photo2 bisa di akses di :
http://deedeecaniago.multiply.com/photos/album/332/.are_you_as_hot_as_Tidung_...
salam,
Deedee Caniago
*they don't care how much you know until they know how much you care*
[Non-text portions of this message have been removed]