sebelum masuk bandara soekarno hatta, saya angsurkan secarik kertas
kepadanya.
"ini nomer hpku, telpon kalau sudah sampai di swiss," kataku, sambil
mengusap air mata yang masih meleleh di pipi. entahlah, perjalanan ke
indonesia kali ini, air mata saya sering tumpah, tanpa sadar.

menjelang tengah malam, ketika saya beranjak tidur di apartemen mediterania,
kelapa gading, ponselku menyalak. "penerbangan kami dibatalkan, kami dikirim
ke shangri-la," kata angela. alasannya belum jelas. dari internet, saya
tahu, abu gunung berapi yang meletup di islandia, menutup semua penerbangan
ke ranah eropa, tidak terkecuali penerbangan hannah dan angela, 16 maret,
2010.

paginya keluarga yang sempat terberai ini berkumpul kembali di shangri-la,
hotel mewah yang tak begitu ramah petugas keamanan pintu depannya. saya
memang datang dengan sandal jepit, bersama satu rangsel dan tizian di
gendongan. ucapan basa basi selamat pagi tak saya jawab. adakah mereka yang
datang jalan kaki, bahkan menggendong bayi, dipelototi tak ramah, sekaligus
diubek-ubek tasnya.
"kembalikan seperti semula," kataku, ketika petugas itu tak begitu rapi
menutup ransel biru ini.

di pintu masuk, menjelang lobby, kembali tas ini dimasukkan scanner. di
ujung, anjing pelacak siap meloncat jika perintah komandannya datang. di
lobby, masih belum berubah pemeriksaannya. seorang petugas keamanan
berpakaian safari, mendekat dan bertanya.

"bisa saya bantu, pak?" katanya.
"tidak," kataku. menyingkir dariku kukira akan lebih baik, bathinku, sambil
membenarkan posisi gendongan tizian.

ia tidak menyingkir, tapi terus bertanya apakah aku punya kunci jika mau
naik ke lantai delapan, dimana hannah dan angela menginap.

"tidak ada kunci," kataku lagi. disarankannya aku ke concierge, agar tahu
bagaimana caranya ke lantai delapan. tanpa kunci yang berupa kartu
elektronik itu, lift tak akan membawa kami ke lantai delapan. f**king
shangri-la.

"anda ditunggu di kolam renang," kata petugas concierge.

anak istriku sedang bermain di tepi kolam renang, dibawah pohon kelapa yang
selalu diperotoli buahnya, agar tak menjatuhi kepala tamunya.

inilah hotel paling mewah selama kami menginap di indonesia. di jantung
kota, bintang lima, dan tampaknya hanya orang berada yang menginap disini.
lihatlah yang berenang di sebelah kami, seorang perempuan muda yang mengaku
anak kandung gubernur irian, entah irian mana. "datanglah ke tempatku,
bokapku punya pesawat," katanya. ia bermaksud membuat monumen rumah semut
terbesar di kota kelahirannya.

"monumen rumah semut? tidakkah lebih baik menciptakan rumah sakit atau jalan
yang bagus," guman angela.

inilah mental menjemukan manusia indonesia : bikin monumen yang bisa
menetaskan rekor dunia. rumah semut pun tak apa, asal namanya tercatat entah
di buku apa. kepentingan publik, jika tak mengharumkan namanya, diurus nomer
kesekian.

atau ibu ibu yang suaminya bekerja di bni building, yang gedungnya
bersebelahan dengan shangri-la. "sebenarnya agak bosan, plesir kok gak jauh
dari tempat suami bekerja," katanya sambil menunjuk bni 46 building.

kemewahan lain diperlihatkan shangri-la di saat makan malam, yang hargnya
per orang, sedikitnya rp 300 ribuan. juga makan paginya, yang megah, besar,
enak dan mahal. the dolder grand, hotel termegah di swiss pun, tak akan bisa
menyamai kememawahan makan pagi ala shangri-la. luas prasmanan itu, bisa
jadi delapan kali lapangan bola voli. masakannya juga beragam, dari italia
hingga cina, boleh mencoba masakan india atau pun indonesia. bahkan ada
counter yang sepi dari konsumennya. tukang masaknya saya lihat sibuk
membolak - balik pinggan di depannya, sekadar mencari kesibukan sendiri.

lantaran satu buah celana dalam dipatok harga rp 80 ribu untuk urusan
laundrynya, angela pun hanya memberikan beberapa buah baju untuk urusan
laundry. "asal cukup untuk besok," katanya. ia memang kehabisan pakaian.
toh, rencananya, hari berikutnya sudah sampai di swiss, di rumah kami. tapi
gunung itu membalaukan semuanya. meski mahal, akhirnya diserahkanlah cucian
secukupnya itu diurus hotel.

"besok aku nyuci sendiri," katanya, sambil menunjuk wastafel dan gantungan
darurat yang dibentangkan di atas bathtub. "bawalah deterjen jika nanti
kemari lagi," katanya.

soal mencuci di hotel, sudah pekerjaan biasa bagi kami. jika orang indonesia
biasanya ngembat handuk dan sejenisnya, kami "menyalahgunakan" wastafel
sebagai sarana pencucian. meski agak bau, lantaran tak bisa kering dengan
sempurna, cucian ala wasrafel itu tetap bisa menyelamatkan kami dari jalan
jalan tanpa baju di kota jakarta.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke