Rekan-rekan,

Mau share sedikit tentang perjalanan saya keliling NTT, masuk bulan kedua. 
Berperjalanan lebih lama, ternyata terasa bedanya, ketika indra sudah bosan 
hanya dengan mendengar, mencicipi, merasakan dan melihat (serta mengamb foto), 
ada tuntutan untuk turut merasakan dan mengalami, menjadi bagian dari kehidupan 
sehari-hari di tempat yang kita kunjungi.

Sekedar berbagi. Ternyata sulit meninggalkan kenyamanan dan kemudahan turis 
menjadi seorang pengelana. Tapi, tidak ada salahnya mencoba.

Tulisan lengkap ada di: http://endrocn.wordpress.com. Mudah2an bisa 
menginspirasi!

You can’t (don’t) beat nature; You live with it

Dalam perjalanan di Flores, saya merasakan betapa berkuasanya saya dengan yang 
namanya rute dan jadwal perjalanan. Transportasi tetap saja terbatas, tapi 
hampir tidak pernah ada penundaan dan pembatalan. Mungkin karena transportasi 
lebih banyak di darat.

Setengah berkelakar, saya sempat berpikir mungkin juga karena awal-awal 
perjalanan adalah saatnya menjadi turis: melihat, mengeksplorasi dan 
terkagum-kagum. Bulan pertama mungkin memang belum saatnya menjadi pengelana.

Masuk di akhir bulan, tepatnya tanggal 24 April, saya mulai menghadapi yang 
namanya pembatalan penerbangan dan ferry. Intensitas semakin tinggi justru 
ketika saya semakin ingin mengendalikan jadwal perjalanan, sama seperti ketika 
di Flores saya dengan asyiknya memutuskan, “Ah, nanti saja, toh bus-nya 
tersedia sampai malam.”

You can’t beat nature. Begitu mungkin bapak dan ibu yang sudah malang melintang 
di dunia jasa transportasi punya filosofi, apalagi di bagian paling menantang 
dari Infonesia ini. Konyolnya, saya sempat menantang mereka dengan adrenalin 
yang tak seberapa.

“Jika perlu, saya tunggu di dermaga empat jam, asal ada kepastian nanti sore 
ferry ke Pulau Sabu jalan,” pernah saking kesalnya saya bersumpah di depan 
syahbandar ASDP Waingapu. Tolol memang, saya tahu.

“Ini bukan Jawa,” begitu kata petugas Merpati mengingatkan saya, ketika saya 
mendapatkan berita pesawat ke Kupang dibatalkan.

Saya terhenyak. Saya ternyata masih jadi turis yang menuntut minimal sama 
dengan apa yang saya bayarkan. Saya masih membawa kenyamanan dan reliability 
transportasi pulau Jawa k.e tempat yang tidak lebih beruntung dalam pembagian 
kue pembangunan ini.

Saya belum bisa menerima kenyataan bahwa sayalah yang menciptakan unreliability 
karena belum bisa menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan masyarakat setempat 
lengkap dengan segala keterbatasannya.

Pedagang di pasar yang kadang malah merugi karena ongkos ke pasar lebih mahal 
dibanding untung yang ia dapat. Petani yang cuma bisa mengelus dada karena 
hujan tak kunjung turun. Atau tukang ojek yang harus menunggu berjam-jam 
sebelum dapat penumpang.

Karena bagian dari sebuah perjalanan adalah menghidupi kehidupan sehari-hari 
penduduk setempat, termasuk keunikan dan kesusahannya.

Karena tak ada yang salah dan benar dari tujuan sebuah perjalanan, mari kita 
pikirkan kembali dengan penuh tanggungjawab, apakah kita ingin menjadi turis 
ATAU pengelana?

/* Bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapu, 12:30, akhirnya dapat tiket Merpati, 
dengan penyesuaian rute perjalanan tentunya, setelah menunggu lima hari jadwal 
pesawat dan ferry yang tertunda karena cuaca */


      

Kirim email ke