Seiring maraknya maskapai murah (low cost carrier) di Indonesia dan Asia,
e-tiket atau tiket elektronik menjadi sebuah fenomena baru. Tiket yang hanya
berisi kode referensi yang dikirimkan lewat fasilitas email atau SMS ini
menggeser penggunaan tiket bentuk konvesional yang di cetak oleh maskapai
atau agen perjalanan.

Bentuk tiket tanpa kertas ini rupanya dengan mudah diadaptasi oleh
Indobackpackers. Beberapa masalah teknis dan kemungkinan penyalahgunaan juga
disampaikan. Selain mudah dan praktis e-tiket ternyata mempunyai nilai ramah
lingkungan karena mengurangi konsumsi kertas.

Rupanya diawal adaptasi penggunaan etiket selalu muncul keraguan dan
menimbulkan pertanyaan. Ini yang dialami Happy yang “bengong ketika disodori
tiket berupa lembaran kertas saja dan sempat bingung gimana caranya musti
check-in.” Pengalaman Ine yang terbiasa memesankan tiket  pun harus
meyakinkan bossnya yang mempertanyakan bentuk sederhana sebuah etiket.


Sisi Kemudahan dan Keuntungan etiket

Sebagian besar rekan Indobackpacker menyatakan mereka merasa diuntungkan
dengan e-tiket. Menurut Aswin dengan etiket membuat harga penerbangan
menjadi murah. Ini karena, “Maskapai tersebut tidak mengeluarkan biaya untuk
materi pembuatan tiket”. Beberapa rekan mengaku etiket membuat perjalanan
menjadi ringkas dan praktis seperti dituturkan Ardi, Ine, Wahyu, Ami, Sita,
dan Mona. The Japra bahkan mengungkapkan keuntungan lain yakni hemat waktu
antri karena bisa cek-in online. Selain harga lebih murah, adanya fungsi
re-print atau cetak kembali juga termasuk sisi kelebihan dari etiket.
Terutama jika hasil print hilang atau terselip seperti halnya yang dialami
Ine.

Aman disimpan dan bisa dibuka dimanapun membuat Sita sangat menyukai etiket.
Karena menurutnya, “bisa di print dimana aja, bisa di save di komputer atau
di email hingga tidak perlu takut hilang.” Bentuk digital ini juga mendapat
sorotan karena keramahanannya dengan lingkungan. Ini digaris bawahi oleh
Wahyu Handoko yang membilang “eticket adalah tuntutan dari keadaan
penyelamatan lingkungan, pemakaian kertas mesti direduce,...so eticket is
smart way.” Ini diamini oleh Poltak, Raymond dan Vietha. Menurut Vietha yang
pertama kali memakai etiket dalam penerbangan menuju Amsterdam, etiket
adalah bentuk ‘environmentally sounded practice’ yang sudah lama diterapkan
oleh penerbangan non budget di luarnegeri.

Perlu tidaknya mencetak etiket ternyata bergantung pada kebijakan
masing-masing maskapai. Seperti diungkapkan Ardi, Airasia cenderung hanya
meminta halaman pertama berisi kode referensi, nama penumpang beserta data
penerbangan. Itupun kemudian hanya dicocokkan dengan sistem dan
dikembalikan. Mandala Air dan Garuda menurut Ants juga hanya meminta halaman
depan. Itulah yang kemudian disarankan Wahyu dengan hanya cetak satu halaman
sedangkan bagian Terms and Condition (T&C) yang jumlahnya berlembar-lembar
cukup dibaca saja.

Ketidak harusan mencetak etiket dialami beberapa rekan Indobackpacker.
 Seperti yang diceritakan Vinda sewaktu backpacking ke Eropa, petugas
maskapai di Madrid Spanyol hanya membutuhkan kode booking dan passpor
sebagai tanda identitas. Sedangkan dua kawan, Andri dan Haikal tinggal
menunjukkan bukti pembayaran tiket dengan slip ATM ketika terbang dengan
Lion Air. Ants bahkan hanya menunjukkan nomor referensi yang disimpan di
hape ketika memakai Mandala Air dan Airasia. Sedangkan pengalaman Poltak
sedikit berbeda, yakni ia menunjukkan email yang tersimpan di laptop untuk
meyakinkan petugas agar memberikan boarding pass pertanda cek-in saat
transfer penerbangan di Tokyo.


Ketika etiket Menjadi Tidak Menyenangkan

Walau dianggap sangat menguntungkan backpackers, etiket ternyata tidak luput
dari kelemahan dan ketidaknyaman. Salah satu yang menjadi komplain utama
adalah ketidaksiapan maskapai dalam penerapan teknologi ini ditingkat
lapangan. Jika ada perubahan penerbangan baik penundaan, pembatalan ataupun
penggantian nama dan jadwal tidak bisa terselesaikan dengan segera. Ini
dialami David Rempe dengan Lion Air dan Dhika Yogatama dengan Airasia.
“Waktu itu tiba di Bandara Soekarno Hatta untuk check in, setelah mengantri
panjang ternyata sistem IT Lion Air bermasalah sehingga pengguna tiket
online tidak dapat dilayani di semua counter check in,” begitu kisah David.
 Laksmi Anindita menuturkan efek domino sulitnya melakukan perubahan tiket
setelah terbeli via online. Seperti harus mengurus ke kantor pusat,
revalidasi tiket kembali, biaya denda, biaya admin dll yang menurutnya
“kalau dihitung2 bisa seharga 1 tiket baru”. Kasus yang sama dialami Ossy
yang terpaksa membeli tiket baru ketimbang merubah tiket lama untuk rute
Hanoi-KL-Jakarta.

Belum lagi jika maskapai itu menutup jalur penerbangan dengan tanpa
memberitahukan pembeli tiket, seperti yang dialami oleh Sita dengan Airasia
rute Jakarta-Abudhabi. Pemesanan melalui situs maskapai via online juga
mempunyai beberapa triks yang membuat calon pembeli tidak familiar dengan
system. Seperti Hendri Wijaya misalnya yang merasa tidak menerima email
etiket Valueair hingga berkali-kali walaupun sudah memakai fasilitas resend
(kirim kembali). Lili Kristanti juga mengeluhkan sistem pembayaran di situs
Lion Air karena tidak adanya konfirmasi lewat email. Ketika dihubungi
ternyata Lion Air “ tidak bisa tarik data dari nama atau no credit card”
yang umumnya berisi informasi penerbangan.

Rekan backpackers juga rupanya harus mengenali perilaku masing2 maskapai
terutama berkaitan dengan kebijakan identitas. Entang Rasyid menceritakan
pengalaman etiket Singapore Airlines yang mengharuskan menunjukkan kartu
kredit yang digunakan transaksi. Sama halnya dengan Tepu ketika memesan
tiket menggunakan kartu kredit kakaknya. Kealpaan membawa kartu kredit ini
juga dialami di tingkat domestik oleh Dessy Skai saat mencoba cek-in dengan
Batavia.

Kebiasaan dan proses yang berbeda-beda dialami Utia Suarma ketika terbang
dengan Ryan Air sebuah maskapai murah di Eropa. Ia harus menunjukkan print
out setelah berhasil cek-in secara online. Hampir serupa dengan kisah Oggi
Gunadi ketika menggunakan kereta Virgin London-Liverpool yang ternyata harus
menunjukkan hardcopy dari etiket.

Masalah identitas calon penumpang mendapat sorotan karena etiket dapat saja
disalahgunakan. Celah ini disampaikan Imas yang menurutnya jika tidak
diteliti , “bisa digunakan siapapun untuk ikut masuk kedalam ruangan
check-in. Bagi pengantar, tinggal sodorkan kertas print out sudah bisa bebas
melenggang masuk, nggak masalah siapa nama yang tercantum di print out tiket
nya.” The Japra bahkan mengalami ketika masuk terminal bandara. Dengan
“cukup bilang aja ke pak penjaganya...Saya udah booking via e-ticket’ trus
gak pernah di tanyain mana buktinya”.

Lemahnya kontrol identitas ini dialami pula oleh S3Li yang menyatakan baik
Lion Air dan Airasia untuk penerbangan domestik “tidak ditanya KTP & ngga
perlu nunjukin kartu kredit. Pergi dengan temen WNA, dia juga tidak diminta
menunjukkan paspor.” Ossy bahkan membilang jarang sekali ditanyakan kartu
kredit dan hanya sesekali menggunakan KTP.


Tips dari rekan backpacker tentang etiket

Walau mengalami kejadian kurang mengenakkan, para backpackers mengaku
menarik banyak keuntungan dari etiket. Beberapa rekan bahkan menggaris
bawahi ‘masalah’ muncul dikarenakan ketidak hati-hatian terutama dalam
proses memesan dan memahami pesyaratan dan tabiat low cost carrier (LCC).

Untuk menghindari kemungkinan masalah, beberapa rekan memberikan tips dari
pengalaman mereka dengan etiket. Salah satunya dari Raymond yang melakukan
cek atas situs maskpai sebelum melakukan pemesanan langsung. “Sebelum
payment, saya selalu cek semua step dari sistem online booking maskapai.
Biasanya saya ga langsung konfirmasi, tapi saya coba ulang lagi dari awal,
tujuannya untuk membuktikan bahwa sistem online booking nya bekerja dengan
baik” Sikap berhati-hati ini juga disertai dengan kepala dingin terutama
karena maskapai LCC selalu menggunkan taktik promosi agar pemesanan tiket
dilakukan segera dalam tempo yang dibatasi.

Koneksi akan internet yang stabil juga digaris bawahi oleh RM Sukmono “yang
selalu check and triple check tanggal pemesanan. Baik di atm, Receipt, dan
itinerary-nya... Pastikan selalu memesan dalam keadaan good connection”
Tidak lucu rasanya jika ditengah pemesanan tiba-tiba listrik mati membuat
kita panik. Pentingnya memahami sistem pemesanan antara satu situs maskapai
dengan situs yang lain juga amat penting untuk memberi gambaran proses yang
akan dilalui.

Beda kebijakan juga harus diantisipasi dalam proses cek-in. Oggi dan Ossy
nampaknya belajar dari pengalaman untuk selalu membawa hasil cetak etiket
sebagai back-up. “Kadang kala sistem komputer mereka saat kita check-in
down. Mungkin akan lebih nyaman dan aman kalau kita juga bawa bukti
print-out e-ticket kita,” begitu saran Ossy.  Soal identitas, juga
selayaknya membawa beberapa yang bisa menunjukkan konsistensi ID seperti
Kartu Kredit, KTP, SIM ataupun paspor.

Baik calon penumpang dan maskapai juga harus sama-sama melakukan pembenahan
diri. Walaupun etiket di Indonesia sudah dianggap lazim masih perlu lebih
baik untuk membawa maskapai murah pada tahap yang lebih tinggi seperti
cek-in online mandiri dan mempercepat waktu perjalanan. Suatu saat nanti,
kita mungkin hanya menunggu 45 menit, mengacungkan hape berisi kode batangan
boarding pass di pintu pemberangkatan, memindai paspor dan terbang dengan
nyaman. Tidak antri, tidak ada kertas dan tidak ada stress menjelang
perjalanan.


Semoga bermanfaat.


Salam,
Ambar
salah satu moderator Indobackpacker


Terimakasih kepada para kontributor diskusi ini, baik melalui japri dan
groups. Maaf jika ada yang terlewat, semata-mata untuk mengalirkan tema agar
lebih fokus.


   1. Aswin Fahrizal
   2. Army Gulardi (Ardi)
   3. Andri
   4. Budiman
   5. Dessy Skai
   6. Dandossi Matram (Ossy)
   7. Dhika Yogatama
   8. David Rempe
   9. Efti Anto aka Ants
   10. Entang Rasyid
   11. Fery Sinambela
   12. Fajar aka The Japra
   13. Hendri Wijaya
   14. Gito
   15. Haikal
   16. Happy Parama
   17. Ine aka Cipley
   18. Laksmi Anandita (Ami)
   19. Lili Kristanti
   20. Masniari Nasution
   21. Mona aka Mozu Zunika
   22. Oggi Gunadi
   23. Putrimona
   24. Poltak Nainggolan
   25. Raymond Engelbert
   26. Seli Satriana aka S3Li
   27. Siti Rohmatun (Sita)
   28. Savitri Kusuma (Vietha)
   29. Sukmono aka petualangmuda
   30. Tepu aka Putra dirantau
   31. Utia Suarma
   32. Yuanz
   33. Wahyu Handoko
   34. Vinda Lada Sinlaeloea




2010/5/2 Ambar Briastuti <[email protected]>

> Dear teman-teman IBP,
>
> Jaman budget flight gini udah lazim banget memakai e-tiket atau tiket
> elektronik. Yaitu tiket yang dikirimkan ketika kita memesan tiket
> pesawat lewat online ditandai dengan nomor referensi dan kode batang
> (bar code) yang dikirim via email ataupun lewat print dari pemesanan.
>
> Suka duka dengan tiket elektronik ini lumayan unik. Saya pernah
> dicegat sekuriti dipintu bandara ngga boleh masuk karena tiket print
> out yang nampak tidak meyakinkan (era LCC Asia belum sepopuler
> sekarang, seingat saya sekitar 5 tahun yang lalu. maskapai: valuair
> sebelum diakusisi Jetstar). Dari print out yang robek, rusak yang
> membuat bagian cek-in memandang curiga.Atau sempat ditertawakan orang
> ketika menunjukkan tiket yang hanya selembar kertas hitam putih.
> "Emangnya itu tiket beneran mbak?" tanyanya seakan ngeles.
>
> Nah mungkin teman-teman punya pengalaman suka duka yang bisa dibagikan
> bersama disini. Entah penerbangan dalam negeri ataupun luar negeri.
> Ohya akan lebih fokus jika penerbangan ini bersifat LCC (low cost
> carrier) alias budget flight. Menurut Wiki, yang termasuk LCC di
> Indonesia adalah Indonesia AirAsia, Lion Air, Mandala Airlines,
> Batavia Air, Citilink. Sedangkan yang setingakat Asia Tenggara/Pasifik
> seperti Jetstar, Airasia, Tiger, Cebu Pacific, Nok Air, One-Two-GO
> Airlines dll. Daftar lengkapnya silakan dilihat disini:
> http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_low-cost_airlines
>
> Lantas apakah etiket ini lebih menguntungkan dibanding tiket 'biasa'?
> benarkah e-tiket dipandang sebelah mata ketika apply visa ke luar
> negeri? susah ngga sih secara teknis mencetak sendiri?
>
> Seperti biasa kisah teman-teman akan dirangkum pada akhir diskusi.
> Thanks banget atas berbagi pengalamannya.
>
>
> Salam,
> Ambar
> salah satu moderator IBP
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Indonesian Backpacker Community 
visit our website at http://www.indobackpacker.com 

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/   
untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

No SPAMMING or forwarding unrelated messages.
Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT. 

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian 
yang perlu saja. 

Milis Indobackpacker menerima ATTACHMENT baik gambar ataupun photo, tetapi 
mohon indahkan tentang hak cipta dan ukuran file. 

Cara mengatur keanggotaan di milis ini :

Mengirim email ke grup : [email protected] (moderasi penuh)
Mengirim email kepada para Moderator/Owner: [email protected]
Satu email perhari: [email protected]
No-email/web only: [email protected]
Berhenti dari milist kirim email kosong : 
[email protected]
Bergabung kembali ke milist kirim email kosong : 
[email protected]

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke