<http://mustafidwongbodo.blogspot.com/>  Bebegig Sukamantri dari
Kabupaten Ciamis sangat berbeda dengan bebegig atau orang-orangan sawah
yang ada di daerah lain. Berbeda dengan bebegig lainnya, bebegig
Sukamantri Ciamis adalah manusia yang mengenakan topeng, seperti topeng
barong dari Bali. Yang membedakannya, topeng ini mengenakan rambut
gimbal dari susunan bunga rotan atau bunga caruluk atau disebut bubuai.
Hal ini sengaja sebagai isyarat mencintai alam. Sedangkan bebegig yang
pada umumnya dibuat mirip boneka menggunakan pohon padi atau sejenis,
terus dibalut pakaian layaknya manusia yang turun ke sawah.
Bebegig dari Ciamis merupakan titinggal masyarakat Desa Cempaka, Kec.
Sukamantri, Kab. Ciamis. Masyarakat Desa Cempaka meyakini bebegig
merupakan perlambang kemenangan. Sebab, pembuatan bebegig diilhami wajah
Prabu Sampulur yang memusnahkan kejahatan dan meminta imbalan untuk
menguasai Pulau Jawa. Kemenangannya dikenang dengan membuat kedok
seperti wajahnya. Oleh masyarakat Kabupaten Ciamis, khususnya masyarakat
Desa Campaka, bebegig direpresentasikan sebagai penjaga lingkungan alam
sekitar. Bebegig Soekamantri mulai dipopulerkan pada tahun 1950an oleh
masyarakat setempat. Setiap tanggal 17 Agustus Bebegig Soekamnatri
memberikan suasana kemeriahan nan sakral di Kecamatan Soekamantri
Kabupaten Ciamis.
Kepopuleran Bebegig Soekamantri tak terlepas dari adanya seniman dan
budayawan Ciamis Kang Godi Suwarna dan Rachmayati Nilakusumah, S.Sen.
yang sangat memperhatikan keberadaan seni-seni tradisional yang ada di
Ciamis. Kang Godi Suwarna dan Rachmayati Nilakusumah, S.Sen.pun
mendirikan komunitas seni dengan nama Studio Titik Dua yang mencoba
untuk menggali dan mengembangkan kesenian-kesenian tradisi khususnya
yang berada di Kabupaten Ciamis.

Sumber: http://mustafidwongbodo.blogspot.com/
<http://mustafidwongbodo.blogspot.com/>



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke