Dear kawan2 Indobackpacker, Terimakasih banget atas masukan dan sharing soal oleh-oleh/souvenirs. Sebenarnya tulisan saya itu hanya untuk mengajak kawan-kawan merenungkan arti souvenirs. Ngga menduga akan menjadi sebuah wacana panjang. Kebetulan saya terkesan banget dengan salah satu koleksi Matt Gross yang menyimpan biji karet setelah mengunjungi sebuah perkebunan di Kamboja.
Ada rekan yang ngga setuju dengan memberikan gantungan kunci sebagai harapan kosong seperti yang diutarakan Ade. (Other story: saya dulu pernah diberi gantungan kunci seorang kawan. Saya malah lebih terkesan pada crita dan koleksi photonya. Toh ini tidak membuat saya pengen ke negeri itu. Sekali lagi ini hanya serendipity -proses yang berujung pada kejadian sebenarnya.) Sedangkan rekan Zanni menggaris bawahi bahwa, "Orang yang tidak pernah memberi perhatian ke orang lain berarti orang itu tidak sayang dirinya sendiri." Reli juga menyatakan terkadang pemberian pada orang lain itu akan dihargai tinggi sekali walau hanya "sebuah gantungan kunci made in china." Beberapa teman bahkan menyarankan untuk melupakan kebiasaan menagih oleh2 pada kawan ketika abis jalan. Seperti kisah Nirwana dan Muara yang lebih menekankan pada photo dan cerita. Yang rupanya jadi pilihan utama teman-teman adalah lebih memilih membeli makanan ketimbang pernik2 seperti yang disampaikan Fajar Triwahyudi, Yudha, Mutia Muliasih. Pemberian yang merupakan hasil kerajinan tangan (entah dimakan atau tidak) juga disampaikan Puguh dan Oggi sebagai wujud hadiah yang lebih personal. Teman-teman juga setuju bahwa memberikan oleh-oleh itu adalah sebuah 'budaya'. Bahkan Richard menceritakan tradisi ini tak hanya di Indonesia semata. Andri juga menuturkan pengalaman yang sama di Jepang, Korea dan Thailand. Disini saya hanya menegaskan proses berpikir tentang memberi oleh-oleh menjadi 'membeli untuk mengenang perjalanan'. Pertanyaan asal saya: pernahkah kita berpikir sebenarnya untuk siapa hadiah itu? Ini tidak saja diwujudkan kepada si penerima tetapi lebih kepada siapa yang membuat. Pernah ngga sih kita berpikir siapa yang membuat oleh-oleh itu. Sebagai pejalan lantas apa fungsi kita? pembeli, penikmat atau sekedar menjadi bagian dari budaya itu sendiri. Itu yang ingin saya posisikan disini. Saya menyerahkan sepenuhnya pada rekan-rekan. Ketika kita membeli sesuatu, coba ingat kepada siapa kita membeli dan bagaimana proses membuatnya. Juga tentu mencintai si pembuat adalah aspek berikutnya setelah memberikan kepada orang terdekat. Salam, Ambar Thanks untuk rekan yang memberikan respons: Ade Nastiti, Andri, Edith Suganda, Estiadi, Fajar Triwahyudi, Muara Sianturi, Mutia Muliasih, Nirwana Saloka, Sari Musdar, Reli, Puguh Imanto, Oggi Gunadi, Richard Lubis, Yudha, Zanni. [Non-text portions of this message have been removed]
