Jadi begini, secara saya ini pecinta snorkeling, so setiap kali saya tripping alias ngetrip ke suatu pulau atau pantai dimanapun, saya selalu mencari spot dimana saya bisa memuaskan diri snorkeling di laut.. Yeah, I know, intro yang nggak penting, boleh di skip bacanya (tapi gimana mau skip kalo emang udah terlanjur baca yah ?)
Belakangan ini kata2 Tulamben dan Amed selalu terngiang2 di telinga saya, karena Tulamben dan Amed merupakan dua lokasi snorkeling dimana kapal laut Amerika dan Jepang tenggelam dimasa perang, dan konon kabarnya dua tempat tersebut merupakan lokasi snorkeling dan diving yang indah, aman, nyaman dan menyenangkan. Lalu ketika secara mendadak saya ditugaskan oleh kantor ke Bali, saya nggak mau rugi dong ah, saya extend cuti untuk hunting lokasi dan menikmati watersport activity yang saya cintai ini. Tapi secara saya nggak pernah ke Tulamben-Amed, maka saya bertanya kepada teman2 di milis2 mengenai kedua lokasi tersebut dan senang sekali ternyata banyak yang memberikan informasi dan referensi yang bagus buat saya, makasih ya. So semua informasi tersebut saya print dan bawa ke Bali, tapi bodohnya saya, print out2 tersebut ketinggalan di Jakarta, cakeeepp, banget loe dee !!! Di informasi yang saya dapatkan sebelumnya, banyak yang memberitahu bahwa di Tulamben dan Amed banyak tersedia perlengkapan snorkeling yang bisa disewa, tapi life jacket (yang ukuran saya – S) biasanya jarang disewakan. Dan karena kaki saya kecil (bahkan untuk ukuran wanita Indonesia), fins alias kaki katak dengan ukuran saya pun kemungkinan jarang tersedia disana, sehingga akhirnya saya memutuskan untuk membawa sendiri perlengkapan snorkeling saya : google, snorkel, fins dan life jacket. Emang ribet sih bawanya, tapi idup saya dari dulu emang udah ribet, bukan ? (curcol), so nambah satu tas ransel lagi nggak masalah, kan bagasi juga masih blom over weight ini, pikir saya. So setelah urusan kantor selesai, saya menghubungi teman saya dan ternyata teman saya tersebut sudah pernah ke Tulamben di bulan sebelumnya, jadi dia udah tau gimana caranya kesana, dan secara kita mau ngirit dimana2, kita rencana ke Tulamben nya naek motor ( lagipula, saya udah coba cari tau, tidak ada informasi mengenai kendaraan umum yang kesana kecuali kalo pake motor/mobil sewaan).dan berangkat subuh2 biar nggak kepanasan di jalan. TULAMBEN Owkay, pada hari Sabtunya, kami berangkat subuh2 sekali. Niatnya sih puas2in snorkeling di Tulamben seharian, pindah dan nginep di Amed, trus besoknya lanjut snorkeling sepuasnya di Amed, dan kami mendapatkan informasi bahwa penginapan low budget di Amed cuman sekitar 50-70 ribu aja. Great ! Kami rencana nya mau berangkat dari Denpasar pada pukul 04.30 subuh, tapi ternyata, kalo lagi di Bali, saya nggak bisa bangun sepagi itu, karena “mind set” nya blom bisa dirubah, saya kan lagi di ali, liburan pula, so ngapain bangun subuh2 ? Dengan perjuangan keras akhirnya saya berhasil bangun dan akhirnya kami berhasil berangkat pada pukul 05.15 subuh, Pheewww. Dengan membawa peralatan2 snorkeling di ransel gede, kami berangkat menuju Tulamben, dan Ow eM Ge, udara nya dingin mampus! Biarpun udah pake sweater hangat, yang namanya naek motor subuh2 dengan kecepatan 70-80Km./jam dingin nya menusuk tulang! So kalo kalian belum pernah ke luar negeri yang ada winter atau musim dinginnya, silahkan coba naek motor pada jam segitu dan kecepatan segitu, dijamin rasanya sama! Even worse, karena begitu nyampe kita berdua perutnya mual dan masup angin *dapet salam dari tolak angin!* karena kedinginan dan belum sempet sarapan. Perjalanan dari Denpasar – Tulamben memakan waktu sekitar 2 jam saja. Sekitar 20 menit pertama, jalanan sekitar Denpasar ke Utara rusak berat dan dalam tahap renovasi, so debunya berterbangan dimana2. Untungnya masih subuh, kendaraan belum terlalu banyak lalu lalang . Untung bawa tutup mulut, kalo enggak, wuih, selamat menikmati debu2 tebal dipagi hari!. 1 jam perjalanan masih belum keliatan apa2, secara gelap gulita aja, dan saya mulai amat sangat mengantuk. Saya nggak bisa nahan kantuk saya duduk pegel di motor, sehingga helm saya beberapa kali terbentur dengan helm teman saya yang lagi nyetir motor yang menyebabkan dia sebel sama saya tingkat tinggi, dan kamipun memutuskan untuk berhenti agar saya terbangun. Kami turun di pom bensin sekalian ngisi bensil full teng 10,000 rupiah, dan saya streching2 agar badan menjadi sedikit hangat, dan setelah itu kamipun segera melanjutkan perjalanan kami kembali. Marka jalan menuju Tulamben lumayan jelas dengan papan2 rute yang tersedia di setiap perempatan besar, tapi bagi yang agak2 bolot seperti saya atau bagi yang belum pernah ke luar kota di bali dengan tidak menggunakan kendaraan umum, mendingan bawa peta Bali deh, daripada ntar nyasar dan nyampe nya di penyebrangan Gilimanuk, hehe. Setelah sekitar 2 jam perjalanan (dan pantat pegel banget sumpah!), tibalah kami di sebuah pertigaan, dimana ada papan yang menunjukkan sebelah kanan ke Amed, ke depan menuju Tulamben, 7.5 Km lagi, dan kami memilih untuk ambil jalan lurus dulu ke Tulamben, dan kami melihat sebuah plang hotel Puri Madhe yang sering disebut2 di milis. Hotel Puri Madhe merupakan salah satu hotel yang berada di depan lokasi USAT Liberty Shipwreck yang terkenal itu. Penginapan di Tulamben Banyak penginapan yang tersedia di Tulamben, tapi sayangnya, selama saya telp/lihat disana, rate hotelnya rata2 Rp 150,000 paling murah (bisa share roomnya), non AC, kamar mandi dalam. kalao pake AC, harganya berkisar Rp 250,000 keatas. Tapi lokasi hotel2 ini rata2 di depan pantai Tulamben banget. Setibanya di lokasi snorkeling, saya agak2 takjub melihat pemandangan disana. Pantai Tulamben tidak begitu luas, bisa keliatan dari ujung ke ujung yang membentuk seperti sebuah teluk kecil. Tulamben sendiri pantai dan pasirnya berwarna hitam, penuh dengan batu kerikil2 besar dan kerikil2 tajam (kayak judul film djadeol ih, dan yang tau judul film ini pasti angkatan gue! haha). Ombaknya besar, tinggi dan arusnya kuat. Untuk yang nggak bisa berenang kayak saya (shut up Don), sekilas kelihatan nya snorkeling disini agak2 menakutkan. Saya jadi agak2 males terjun kelaut nya. Tapi secara banyak orang yang bilang kalo didalam lautnya indah, ikan nya banyak, so saya bela2in ganti baju renang dan langsung nyebur laut ! Senang sekali snorkeling di Tulamben ini, kita nggak perlu nyewa perahu, tapi cukup berenang dari pinggir pantai menuju ke laut, udah keliatan karang2 dan baru2 koralnya. Tapi nyeburnya perlu perjuangan dan kesabaran karena itu tadi,ombaknya gede2, arusnya liar dan hempasan2 kerikilnya sakit kalo mengenai kaki. Jadi harus menunggu moment yang pas ketika ombaknya tidak begitu besar baru nyebur laut. Karena disekitar hotel Puri Madha itu penuh dengan pelancong2 yang mau diving, maka saya dan teman saya berjalan kaki sekitar 1km menjauh dari TKP dan ketika semua siap, kami pun nyebur ke laut. Sayangnya, begitu masuk ke air, saya agak kecewa karena tingkat visibility jelek, airnya keruh cenderung buram, sehingga karang2 dan koral2 nya nggak begitu keliatan. Tapi kalo misalnya kita bisa duck-dive seperti teman saya yang menyelam kebawah, maka airnya terlihat lebih jernih dan ikan warna-warni nya terlihat lebih jelas. Tapi tidak seperti banyak pantai di pelosok Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi yang sudah pernah saya kunjungi dimana ikan2nya biasanya kecil2 dan hanya bisa dilihat dikedalaman sekian meter dibawah laut, ikan2 di pantai Tulamben itu amat sangat banyak, warna-warni indah, dan ukuran nya itu looohh gede2 banget ! yang bikin agak ngeri adalah, selain ukuran nya besar, mereka tidak takut sama manusia, dan dengan cueknya berenang baik sendirian maupun rame2 mengelilingi kita. Awalnya saya aja sampe ketakutan dan shock karena nggak biasa dikelilingi ikan2 raksasa yang segede2 bayi dari jarak dekat (karena kalo snorkeling kan nggak kayak diving yang menyelam yah bo, cuman ngambang dilaut aja, jadi jarang bersentuhan dengan ikan2). Tapi lama kelamaan saya nyaman sekali berada ditengah mereka. Ada nemo, baracuda, tuna, bat fish, zebra fish yang berenang secara bedol desa, tapi kalo ikan yang gede2 itu saya ngak tau namanya, liat aja di photonya yah Lalu saya yang sudah menyiapkan roti tawar untuk memberi makan ikan2 itu mulai memberanikan diri untuk sedikit demi sedikit menyebar remah dan astaga dot com, mereka membuat gerakan yang sangat mengagetkan! Mereka mengerubungi lebih dekat dan lebih agresif seakan2 mau menyerang, sehingga saya sempat panik dan rasanya mau pingsan karena mulut ikan yang segede2 gaban itu ada persis didepan muka dan mulut saya sambil ngunyah roti dan nempel2 di saya nunggu gerakan tangan saya selanjutnya. Tapi begitu saya udah nggak panik lagi, udah mulai tenang, acara memberi makan ini menjadi lebih lancar, aman dan nyaman. Seru deh pokoknya! Setelah puas berada diantara ikan2 raksasa itu, kami pindah lokasi kembali ke awal, depan hotel Puri Madha, dimana kami ingin melihat kapal karam milik Amerika yang bangkai kapalnya masih ada di pantai Tulamben ini. US LIBERTY WRECK SHIP Lokasi kapal laut USAT Liberty Glo yang terdapat dibawah laut Tulamben merupakan tempat diving yang paling kondang dan paling gampang di akses di Bali, yang merupakan lokasi kegiatan menyelam yang paling aman di dunia. Bangkai kapal besar sisa2 peninggalan perang ini terdapat hanya beberapa meter dari pinggir pantai. Kapal yang dilengkapi dengan senjata ini dibangun pada tahun 1918 dan digunakan sebagai kapal pemasok selama Perang Dunia ke II. Kapal perang Amerika ini di tembak dan ditenggelamkan oleh kapal laut Jepang I-166 pada tahun 1942 di sebuah selat yang terletak beberapa mil dari daerah barat daya Lombok (dimana pada saat itu kapal tersebut membawa bagian2 dari rel kereta api dan karet untuk persediaan perang). Kapal perang Amerika tersebut berhasil diselamatkan dan ditarik ke Bali oleh kapal penghancur Belanda, HNLMS Van Ghent, akan tetapi kerusakan yang ditimbulkan oleh kapal tersebut sudah amat sangat parah sehingga akhirnya perjalanan menuju Singaraja tersebut gagal dicapai. Para anak buah kapal segera dievakuasi dan kapal tersebut akhirnya tenggelam di pinggir pantai Tulamben. Tulamben ini emang pusatnya kegiatan diving. Puluhan divers terlihat dipantai lengkap dengan instruktur dan perlengkapan selam masing2, dan yang paling bikin saya amazed, ternyata banyak yang menyediakan paket “recreational diving” alias menyelam lucu2an aja, dimana kita nggak perlu harus bisa diving apalagi punya sertifkat menyelam kalo cuman mau menyelam rekreasi aja mah. Ada 1 instruktur yang disediakan untuk setiap dua orang penyelam beginner yang nggak tau apa2 ini. Jadi dengan membayar harga Rp 300,000 untuk 1 jam penyelaman, kamu yang nggak bisa menyelam diajak untuk menyelam dengan tingkat visibility 5-30 m, untuk melihat bangkai kapal perang Amerika itu. Kalo kita ikutan recreational diving ini, kita akan menghabiskan sekitar 1 jam pertama untuk pengenalan alat dan cara memakainya, lalu 1 jam berikutnya langsung menyelam ditemani sang instruktur. Buat saya pribadi (apalagi saya nggak bisa berenang), menyelam tanpa ilmu, latihan dan tanpa mengikuti kelas menyelam sebelumnya, itu menakutkan. Saya nggak berani mengambil resiko waktu ditawarkan oleh instruktur menyelamnya untuk ikutan recreational diving ini. For me, sport and outdoors activity are supposed to be fun and safe. Kalo saya udah merasa nggak aman, gimana saya bisa menikmati kegiatan adrenalin ini coba ? jadi saya cuma bisa terpesona aja melihat para penyelam turis itu menyelam tanpa ilmu dan latihan sebelumnya. Saya nggak ngerti, apakah ini “against the law” atau emang boleh begitu ya, menyelam tanpa mengikuti kelas diving, tanpa latihan sebelumnya ? entahlah. Ada yg bisa sharing mungkin ??? Anyway, kami segera memulai snorkeling dan mengarah ke lokasi tempat tenggelamnya kapal wreckship tersebut. Dari arah pantai hinga menjauh ketengah blom terlihat apa2, tapi begitu sudah mendekati TKP, mulailah terlihat puluhan penyelam yang menyelam kian kemari, rame banget! Gue berasa menghadiri acara arisan penyelam dibawah laut. Trus lama kelamaan, dari kejauhan mulailah terlihat kapal karam yang fenomena itu, sehingga akhirnya kapal tersebut terlihat dari jarak dekat… tadaaaaaaa, rasanya menyenangkan sekali dapat melihatdari dekat kapal karam yang biasanya cuma bisa saya tonton di film2 atau dokumenter2 national geography. Ingin rasanya memegang bangkai kapal tersebut atau masuk kedalamnya, tapi apa daya nggak bisa berenang atau menyelam (time like this baru menyesal nggak bisa swimming atau diving), tapi menurut teman saya yang juga certified diver, dia bilang biarpun kita bisa dan punya sertifikat menyelam, akan tetapi untuk bisa menyelam kedalam sebuah kapal karam sebenernya memerlukan sertifikat atau keahlian sendiri, so bisa diving bukan berarti bisa diberi ijin untuk masuk kedalam kapal karam karena itu haus punya skill dan pengalaman sendiri dengan alasan tingkat safetynya yang tinggi. Nggak apa2 deh, yang penting saya udah cukup puas melihat kapal yang tenggelam itu, tinggal ngarep kali2 disekitar2 situ ada peti yang ternyata harta karun kayak yang di buku nya Count de Monte cristo, lain kali kesana lagi ah..haha Puas sorkeling dan gangguin ikan2 gede itu,kami makan siang dan setelah makan siang kami tidur2an sebentar di pinggir pantai, lalu sore harinya baru melanjutkan perjalanan ke Amed untuk lanjut snorkeling disana. Photo2 bisa di akses di : http://deedeecaniago.multiply.com/photos/album/339/Snorkeling_Diving_di_Tulamben_Amed_Bali... TO BE CONTINUED, SNORKELING IN AMED [Non-text portions of this message have been removed]
