Hai salam kenal semuanya, saya sudah agak lama ikutan milis tapi lebih sering 
jadi silent-reader. :) Sekarang saya ingin coba sharing catatan perjalanan saya 
waktu ke Ho Chi Minh City (Saigon) Desember 2009 lalu, semoga bermanfaat buat 
teman-teman.


"Menikmati Berjalan Kaki di Ho Chi Minh City, Vietnam"

Ini perjalanan backpacking pertama saya dan dua orang teman saya ke Ho Chi Minh 
City (HCMC) --yang juga terkenal dengan nama Saigon-- di Vietnam. Perjalanan 
singkat 3 hari 2 malam. Kami hanya memiliki waktu satu hari penuh untuk 
berkeliling kota karena mepetnya jadwal penerbangan, namun perjalanan ini 
justru menjadi amat berkesan bagi kami.

Kami menjejakkan kaki di Tan Son Nhat Airport menjelang tengah malam. Saat kami 
melewati bagian imigrasi, terlihat sekelompok petugas yang sedang menonton 
siaran televisi dengan serius, dan tiba-tiba mereka sontak bersorak sorai, 
suaranya membahana di dalam bandara. Kami bertanya-tanya dalam hati, sedang 
nonton apa ya mereka? Dari gelagat mereka, tampaknya mereka sedang menonton 
sepakbola. Pertanyaan itu terjawab tak lama kemudian.

Karena hari sudah malam dan gelap, tujuan kami saat itu hanya satu, yakni 
sampai dengan aman dan selamat ke daerah hostel yang telah kami booking tiga 
bulan sebelumnya. Kendala bahasa sempat menjadi masalah saat kami berusaha 
menjelaskan tujuan kami ke daerah hostel kami di District 1, Pham Ngu Lao 
street.

Sayang, taksi pertama yang kami datangi di antrian bandara meminta tarif yang 
tidak masuk di akal.

“Twenty dollars, twenty dollars, twenty dollars!” seru sopir taksi itu 
sambil menunjuk kami bertiga satu-persatu. Total 60 dollar buat tiga orang??? 
Maaf, terimakasih. :(

Alasan yang dikemukakan adalah karena ternyata malam itu ada pertandingan SEA 
Games antara Vietnam vs. Singapore --ohhh pantes tadi rame banget di dalem 
imigrasi--, makanya jarang ada taksi yang beroperasi di bandara pada malam itu. 
Hmmm… Tak percaya dan tak ingin menyerah dengan keadaan, kami memutuskan 
untuk keluar dari area bandara untuk mencari taksi.

Ealahhh... Ternyata benar, masih banyak taksi-taksi yang masih beroperasi di 
luar bandara.

Saya memperhatikan bahwa taksi di Vietnam ternyata ada dua macam, yakni taksi 
berupa minibus dan taksi berupa sedan. Tentunya taksi berupa minibus yang 
berkapasitas delapan orang men-charge lebih mahal daripada taksi berupa sedan 
yang hanya berkapasitas maksimal lima orang. Kami akhirnya berhasil mendapatkan 
sebuah minibus taksi.


>>Merayakan Kemenangan Vietnam vs Singapore di Jalanan

Di dalam minibus taksi itu, kami terheran-heran karena jalanan di luar tampak 
meriah dengan warna merah-kuning, warna bendera kebangsaan Vietnam. Jalanan 
seperti tertutup oleh lautan sepeda motor dengan penumpang yang 
mengacung-acungkan bendera kebangsaan mereka. Terheran-heran, salah seorang 
teman saya pun bertanya pada sang pengemudi. Dengan bahasa Inggris yang 
terpatah-patah pengemudi taksi tersebut berusaha menjelaskan dengan antusias.

Rupanya saat kami berada di area imigrasi, disiarkan pertandingan sepakbola 
antara Vietnam vs. Singapore pada SEA Games 2009. Dan Vietnam meraih kemenangan 
dengan skor 4-1 terhadap Singapore! Kemenangan pertama bagi Vietnam, tak heran 
betapa mereka antusias menyambut kemenangan tersebut.

Euforia para penduduk HCMC mewarnai jalanan pada malam itu, tak pelak kami pun 
terikut bersemangat menikmati pemandangan tak biasa tersebut.

Tak lama taksi kami sampai di tempat tujuan kami di Pham Ngu Lao street. 
Sebentar kemudian, kami berhasil menemukan hostel kami yang terletak di sebuah 
gang kecil. Untuk tarif $24 untuk triple bed, dengan fasilitas kamar mandi 
dalam, TV, kulkas kecil, dan AC, hostel bernama Ngoc Linh Hotel ini termasuk 
hostel yang saya rekomendasikan. Stafnya sangat bersahabat dan helpful, dan 
fasilitas yang dimiliki cukup bagus bagi standar backpacker karena ternyata ini 
hotel bintang 1!

Setelah beres-beres, kami pun beristirahat menyiapkan tenaga untuk besok 
berjalan-jalan keliling HCMC. Lebih tepatnya, berjalan-jalan mengelilingi 
District 1.


>>Berkeliling HCMC Seharian Penuh dengan Berjalan Kaki

Tepat di ujung depan gang tempat hostel kami berada, ada sebuah taman kota yang 
menarik. Kami baru sadar, ternyata di Vietnam itu taman-taman kotanya sangat 
terawat dan aktif sebagai ruang publik. Pagi hari itu, terlihat banyak warga 
kota yang melakukan aktivitasnya di taman kota, ada yang berkumpul untuk menari 
bersama, berolahraga, bercengkerama, maupun hanya duduk-duduk menikmati 
pemandangan kota. Padahal hari itu bukan hari libur, betapa tampak mereka 
sangat menikmati dan menggunakan waktu santai mereka dengan menyenangkan.

Setelah melihat dan mempelajari peta gratis yang kami ambil dari bandara, 
tujuan kami hari itu adalah mengunjungi Ben Thanh Market, Reunification Palace, 
War Remnants Museum, Notre Dame Cathedral, Opera Building, dan Saigon River. Di 
peta terlihat bahwa semua destinasi ini dapat dijangkau dengan berjalan kaki.

Satu hal yang saya perhatikan saat berjalan-jalan di HCMC adalah jalur 
pedestrian yang sangat nyaman dan bersih. Ke mana-mana enak buat berjalan kaki, 
seperti kota-kota di Eropa. HCMC memang dahulunya adalah kota bekas jajahan 
Perancis dan sempat dikelola langsung oleh pemerintah Perancis selama nyaris 1 
abad (ralat saya ya kalau saya salah-red).

Kota ini juga terkenal dengan sebutan city of motorbikes, selama kami 
menyebrang jalan harus berhati-hati dan melihat ke kiri-kanan dengan waspada, 
karena motor tidak dapat diperkirakan muncul dari mana saja.

Persinggahan pertama kami adalah Ben Thanh Market. Uniknya, Ben Thanh Market 
ini punya dua area belanja, satu tempat fixed price yang barang-barangnya tidak 
bisa ditawar, dan satu lagi tempat yang barang-barangnya bisa ditawar. Saran 
saya, lebih baik masuk agak ke dalam untuk mendapatkan harga murah karena 
daerah dekat pintu masuk biasanya adalah daerah yang fixed price.

Tips: Ternyata Vietnam adalah negara pengekspor kopi terbesar kedua setelah 
Brazil. Jadi tips bagi para pecinta kopi, jangan lupa untuk membeli oleh-oleh 
kopi di pasar ini, yang katanya sih lebih murah dibeli di sini dibandingkan 
beli di tempat lain. Sayang waktu itu kami tidak membeli kopi karena belum tahu 
tentang informasi ini.

Kemudian kami berjalan ke Reunification Palace, tempat bersejarah yang berperan 
dalam kemerdekaan Vietnam. Saat menuju Reunification Palace ini, kami baru tahu 
bahwa cara pedagang kaki lima di Vietnam dalam mengundang calon pembelinya 
adalah dengan melambai-lambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Tadinya kami 
heran, kenapa dari jauh kami dipanggil-panggil oleh seorang pedagang muda yang 
tampak menjajakan kelapa muda. Karena begitu herannya, kami bergegas ke arahnya 
dengan bingung, eehhh ternyata kemudian kami ditawari minuman kelapa muda 
toh... Hahaha, ramah sekali orang-orang di sini. :))

Dari Reunification Palace, kami beralih ke War Remnants Museum, bangunan ini 
adalah museum dokumentasi perang Vietnam, semua dokumentasi berupa foto dan 
sejarah perang Vietnam dipaparkan secara brutal di sini. Sampai merinding kami 
dibuatnya... Karena itu kami tidak berlama-lam di museum ini dan melanjutkan 
perjalanan kami ke Notre Dame Cathedral. Di depan katedral ini terdapat taman 
kota untuk mengaso sebentar, di sini kami melihat ada pasangan yang sedang foto 
pre-wedding. Saat itu perut kami rupanya telah berontak untuk minta diisi, oleh 
karena itu kami memutuskan untuk makan siang roti, abon, dan nori bekal kami di 
taman tersebut.

Selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Opera Building dan Post 
Office, di daerah ini ada pula sekelompok grup yang sedang melaksanakan syuting 
film, lengkap dengan sutradara dan kameranya. Benar-benar kota yang menarik, di 
mana-mana terlihat penduduk yang sedang mendokumentasikan spot-spot tertentu.

Dari sana lalu kami jalan jauuuhhh menyusuri Dong Khoi St. untuk mencapai 
Saigon River. Namun sampai di Saigon River kami hanya duduk di halte untuk 
beristirahat sebentar, lalu mencari jalan pulang. Jalan kaki lagi deh sampai ke 
hostel.

Serasa belum puas berberlanja oleh-oleh, pada malam hari kami menuju pasar 
malam yang berada di depan Ben Thanh Market. Di sana kami belanja beberapa 
oleh-oleh. Setelah belanja dan mengisi perut di sebuah warung di sana, kami 
lalu pulang ke hostel. Agar tidak tertinggal pesawat, malam itu kami memesan 
taksi lewat hostel untuk berangkat pagi-pagi ke bandara.


>>HCMC, Kota yang Ramah Bagi Pejalan Kaki

Sampai hari ini, HCMC masih menjadi salah satu kota favorit yang pernah saya 
datangi. Orang-orangnya ramah, semua destinasi tampak mudah dicapai dengan 
berjalan kaki, ruang kotanya tertata rapi dan enak buat jalan-jalan, dan banyak 
PKL yang berjualan cemilan di tengah kota! Menyenangkan buat saya karena saya 
suka ngemil, hehehe... :9 Semoga lain kali saya berkesempatan untuk berkunjung 
ke sana lagi.

+ + + + +

Artikel lengkap beserta foto-foto sudah pernah saya posting di sini:
http://backpacker-notes.blogspot.com/2010/06/menikmati-berjalan-kaki-di-ho-chi-minh.html


Thanks & Cheers,
Ajeng :)

Kirim email ke