Nimbrung yah, soalnya diskusinya menarik

Backpacking sendiri itu sama menyenangkannya menurut saya dengan backpacking 
rame-rame dengan teman. Hanya saja tingkat adventurousnya yang berbeda. 
Backpacking sendiri benar lebih fleksibel dan free. Saya pikir ini saat yang 
bagus untuk kita mengeksplor diri kita sendiri. 

Saya pertama melancong sendiri ke LN umur 21, excited! Agak deg-degan (beda 
definisi dengan takut) karena yang akan dikunjungi US, takut salah naik pesawat 
pas transit, takut ditanya macem-macem pas di imigrasi. Walaupun akhirnya 
lancar-lancar aja. Tentunya kalau kita sudah menggali informasi 
sebanyak-banyaknya hal-hal yang tadinya menurut kita sulit atau kelihatannya 
sulit dan nggak pasti Insya Allah  bakal tercover. Karena katanya takut itu kan 
muncul kalau kita berada di dalam situasi yang nggak menentu / kita kuasai. Itu 
baru waktu melancong. Waktu beneran backpack sendiri ke Australi lebih 
deg-degan lagi (tanpa mengurangi rasa excited). Saya hanya diberi referensi 
dari seorang teman baik untuk menginap di rumah teman baiknya teman baik saya 
tadi, lalu begitu seterusnya waktu saya berpindah kota dari Adelaide ke 
Mildura, lalu dari Mildura ke Townsville, Townsville ke Magnetic Island. Semua 
hanya memberi referensi teman-teman baik mereka yang rumahnya bisa saya inapi 
(prinsip CS walaupun saya bukan komunitas tsb). Menggali informasi 
sebanyak-banyaknya tentang orang-orang tersebut kemudian memberi kabar kepada 
teman baik saya di tanah air mengenai siapa-siapa saja yang akan saya inapi 
rumahnya dan kota-kota apa saja akan saya tuju berikutnya adalah yang biasa 
saya lakukan untuk mengantisipasi kemungkinan hal-hal buruk yang bisa terjadi. 
(Sebenernya saya cuma takut satu hal; takut ngerepotin orang karena makan saya 
banyak, hehe)

Untuk urusan sistim transportasi biasanya saya sudah search terlebih dahulu 
tentang ini, jadi begitu disana sudah nggak canggung lagi dan nggak khawatir 
ataupun was-was dan takut salah jurusan. Malah saya kadang lebih was-was dan 
jengkel kalo naik bis AKAP di negri sendiri. Eh tapi sebenernya kalo nyasar itu 
semakin seru loh, asal kita berbekal peta, nyasar-nyasar sedikit nggak 
apa-apalah jadi lebih tau banyak ketimbang jalannya mulus-mulus aja. Walaupun 
begitu pengalaman hampir ketinggalan pesawat dari Perth ke Jakarta nggak akan 
pernah saya lupakan. Awalnya dari hal sederhana saja, waktu check in saya sudah 
mepet sehingga membuat saya terburu-buru masuk waiting room, karena buru-buru 
saya pun menabrak orang (laki-laki kaukasia berbadan tegap), semua barang yang 
saya pegang jatuh berantakan (termasuk pasport) begitu pula dengan dia. Tanpa 
ba-bi-bu, selesai membereskan barang-barang saya pun ngacir ke loket imigrasi. 
Antrian udah panjang dan waktu makin mepet, begitu giliran saya hampir tiba, 
saya pun baru sadar kalo pasport yang saya pegang bukan punya saya, tapi punya 
laki-laki tadi...oh well, such a nice experience! (sampe harus nungguin orang 
itu di depan WC cowok)

Ketakutan berada di tengah keramaian dan ditipu orang pernah saya alami juga 
tapi berbekal dari pengalaman temen, saya hampir nggak pernah pasang muka 
bingung dan clingak clinguk. Ada baiknya bersikap seolah-olah seperti orang 
lokal asli, pasang muka 'tahu segalanya' padahal sebenernya bingung. Kalo mau 
nanya agak menjauh dulu dari keramaian baru deh pilih-pilih orang yang mau 
ditanya. Disinilah pentingnya informasi, jangan sampe bener-bener nggak tau 
apa-apa

Semoga bermanfaat

Gita
--- In [email protected], yc1...@... wrote:
>
> Dear teman-teman semua
> 
> Wajar saja, kalo backpacking pertama kali ada rasa takut, cemas dsb. Ini 
> mungkin juga karena menanti hari H nya hari demi hari.
> Sebenarnya kalo dulu, memang akan sulit mencari informasi tentang 
> daerah/negara yang dituju. Tapi kini, semua informasi tujuan dengan mudah 
> bisa didapatkan hanya bertanya kepada "mbah Google" yg serba tau.
> 
> Pengalaman pribadi waktu jalan sendiri pertama kali, itu kira2 20 tahun yg 
> lalu memang ada juga rasa takut akan segalanya, mis bahasa, penginapan, bekal 
> uang. Waktu itu, masih belum punya kartu kredit, jadi harus pintar membatasi 
> pengeluaran dana. Saya sangat ingin mencoba sarana transport negara yang saya 
> kunjungi. Jadi lebih sering nyasar, tapi inilah jadi "jalan-jalan" yang 
> sebenarnya.
> 
> Saran saya, mulailah travelling jarak dekat dulu (mis negara Asean). Ini 
> untuk melatih rasa PD sehingga nanti punya pengalaman awal yang baik. Oh ya, 
> saya dulu menyimpan uang dan dokumen penting di dalam kantong "rahasia" di 
> dalam celana panjang. Jadi tetap aman saja, walau tidur dalam kamar yang 
> sharing sekalipun. Ada baiknya mengambil kartu nama hotel/hostel tempat anda 
> menginap untuk disimpan. Dalam keadaan darurat bisa tunjukan ke sopir taxi 
> kalo tersesat "parah" untuk menghindari kendala bahasa.
> 
> Cuma ini yang bisa saya sharing. Terima kasih
> 
> Salam
> Hendri Wijaya
> Sent from my BlackBerry0…3
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>


Kirim email ke