Halo teman-teman Backpacker,
Saya mo cerita nih pengalaman bikin paspor untuk anak. Mungkin bisa jadi bahan referensi untuk yang mau bikinin paspor anaknya. Karena terbiasa ngurus di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, saya pergilah ke sana, meskipun dari beberapa omong-omong katanya sekarang ini di Kanim Jaksel selalu penuh ,padat, apalagi sekarang bulan Juni, pada banyak yang mau liburan. Saya tahun lalu memperbaharui paspor nggak pakai antri yang memakan waktu, jadi saya pikir gak apa lah. Hari Senin kemarin saya ke sana untuk ambil dan (rencananya) menyerahkan dokumen. Ternyata eh ternyata saya sudah kehabisan nomor antrian. Saya lalu tanya sama petugas. Informasi yang saya dapat dari dia, Kanim Jaksel hanya mengeluarkan 200 nomor antrian. Karena peminatnya banyak, dari pukul 6 pagi sudah ada yang antri nomor ! Jadi saya disarankan datang pukul 6 buat antri,meski kantor baru dibuka pukul 7.30. Lalu beliau kasi tau dokumen yang musti dibawa untuk pengurusan paspor anak , sbb. : 1. Fotocopy akte kelahiran 2. Fotocopy kartu keluarga 3. Fotocopy surat nikah orang tua 4. Foto copy KTP orang tua (ibu dan bapak) 5. Kalau orang tuanya cerai bawa surat hak pengasuhan anak 6. Surat Izin orang tua 7. Membawa dokumen asli Untuk surat izin orang tua bisa kita beli di koperasi harganya Rp 7.000 dengan sudah ditempeli meterai Rp 6.000. Nanti diisi lalu ditandatangani kedua orang tua. Tanda tangannya semua kena di meterai, ya. Rabu (16/6) saya sampai di Kanim pukul 7. Antrian sudah mengular. Setelah loket dibuka saya dapat nomor 293 dan 294 ! Untung nomor awalnya bukan 1 tapi 200. Lumayan dapat antrian ke 93 ! Antrian pengumpulan berkas baru dimulai hampir jam ½ 9. Saya kemudian hitung kalau dalam 1 jam Kanim Jaksel bisa memproses 30 aplikasi atau kurang. Jadi hasil hitung-hitung kalau beruntung saya bisa dapat sebelum jam 12. Untungnya saya duduk dekat ibu-ibu yang mau mengurus paspor buat anaknya yang akan ikut pertandingan wushu. Di sebelah saya ada ibu dokter yang mengurus paspor buat kepentingan dinas jadi tim kesehatan haji Indonesia. Jadi rame deh kita ngerumpi, dari ngomongin wushu sampai ngebahas video itu tuh halah gak penting amat ! Tapi pada nomor antrian 288 waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, artinya Kanim ditutup sementara untuk istirahat makan siang sampai pukul 13.00. Duh geregetan juga saya. Tap masih untung, sebelum ibu dokter duduk di sebelah saya, ada anak muda yang dapat nomor 211. Enak banget jam ½ 10 urusan dia sudah beres. Tapi eiitt ternyata dia cerita kemarin dia sudah datang, sudah dapat nomor, eh loket tutup jam 16.00 sebelum nomornya dipanggil !! Jadi dia antri lagi tadi pagi dari jam 6. Walah kok begitu yaa padahal sudah mentargetkan selesai satu hari 200 antrian, harusnya diselesaikan dong pekerjaannya hai para pegawai Imigrasi. Jangan buang-buang waktu orang lain dengan percuma begitu. Nggak lama setelah loket dibuka kembali, nomor saya akhirnya dipanggil. Saya serahkan dokumen sesuai dengan peraturan yang ditempel di masing-masing loket.TErnyata si mbak Imigrasi minta paspor saya dan suami. Kebetulan saya bawa, lalu saya kasih. Eh dia minta foto copy paspor. Saya bilang kalau diperaturannya gak ada fotocopy paspor orang tua, saya lalu ke tukang foto copy. Malangnya fotocopy lagi ada masalah. Saya balik kali ke loket si mbak Imigrasi itu lalu bilang kalau fotocopy ada masalah. Saya juga bilang sekali lagi di peraturannya gak ada foto copy paspor orang tua. Si Mbak bilang begini : Coba ibu baca itu peraturan. Katanya sambil menunjuk ke kaca. Sampai saya baca 2 kali nggak ada kata-kata foto copy paspor orang tua. Yang ada sesuai dengan yg saya tulis di atas. Si Mbak bilang pokoknya dia minta copy paspor orang tua ! Lho kok pake pokoknya ? Si Mbak mengancam saya dengan bilang : Ibu mau tanggung jawab kalau atasan saya mempermasalahkan dokumen ibu ? Saya bilang : Oke , saya mau tanggung jawab. Saya cuma berdasar peraturan yang dibuat sendiri sama Imigasi ! Dia bilang lagi : Siapa yang mau tanggung jawab kalau anak ini mengadakan perjalanan ke LN ? Lho, kan ada surat Izin Orang Tua yang isinya tanggung jawab kami sebagai orang tua untuk menanggung segala biaya dan resiko ? Di atas meterai 6000 perak lagi. Sah secara hukum ! Saya kok jadi heran, dia bekerja berdasarkan apa sih ? kalau semua dokumen yang disyaratkan sudah verified, ngapain sih cari masalah yang lain ? Lihat dong masih ada 90 orang lagi antri di belakang saya. Kok senang lihat orang mondar-mandir ke foto copy untuk hal yang tidak disyaratkan. SAya bilang , kalau memang fotocopy paspor menjadi persyaratan, tolong ini peraturan di kaca dicabut dan direvisi ! Toh kita semua akan mengikuti kalau memang itu peraturannya. Eh dia malah marah dan jutek. Dia menunjuk ke arah kotak saran, katanya saya masukin usulan ke kotak saran aja. Orangnya nggak bisa dikasih saran kayaknya. Oke, saya ngalah dan saya fotocopy paspor kami. Kebetulan mesin foto copy sudah bisa dipakai. Lalu si mbak itu member kertas yang intinya saya bisa kembali 2 hari lagi untuk bayar dan foto. Saya ucapkan terima kasih, tapi sebelumnya sempat saya bilang kalau imigrasi adalah pelayanan public harusnya dilayani dengan baik dan kalau ada persyaratan yang sudah ditetapkan nggak usah cari-cari persyaratan ini itu lagi yang malah gak tertulis dan bikin lama antrian. Kita sudah antri dari sebelum kantor buka, eh dia cari-cari masalah yang dia sendiri nggak punya dasarnya. Jadi , teman-teman gitu ceritanya pengalaman tadi pagi sampai siang di Kanim Jaksel. Semoga bisa jadi masukan buat yang mau bikinin paspor anaknya. Oya, ada field isian yang kadang bikin bingung. Untuk pengajuan paspor anak, di field KTP bisa diisi data KTP ibu atau ayahnya. Kan anaknya belum ada KTP J. Di bagian tanda tangan pemohon bisa ditandatangani oleh ibu atau ayahnya. Kalau pas penyerahan dokumen saran saya anaknya gak usah dibawa. Nanti aja pas foto. Regards, Ningsih [Non-text portions of this message have been removed]
