Perjalanan melintas perbatasan Mexico - Guatemala menyuguhkan panorama yang 
sungguh memanjakan mata.  Tahap pertama perjalanan antara San Cristobal de Las 
Casas hingga perbatasan, di kiri-kanan aspal mulus banyak didominasi perkebunan 
dan perladangan.  Tanggal 4-Juli mendatang Mexico akan menggelar PEMILU 
sehingga (persis di tanah air) para kandidat wakil rakyat pun memajang diri 
baik di poster, umbul-umbul, baliho, billboard.  Yang menarik bagi saya adalah 
banyaknya arang dijual.  Iya arang dari kayu yang semasa saya kecil dipakai 
nenek untuk memasak di dapur.  Banyak poster di warung-warung secara khusus 
menulis `pollo asado con carbon` yang kira-kira berarti ayam bakar dengan arang.

Tahap kedua alias pemeriksaan di frontera berlangsung sangat ringkas.  Saya 
punya hipotesa bahwa sederhananya pemeriksaan mencerminkan situasi relasi 
antara 2 negara bertetangga.  Petugas imigrasi Mexico langsung membubuhkan cap 
begitu tourist card diserahkan.  Di Imigrasi Guatemala perasaan kami tak urug 
dibuat jantungan.  Baik orang yang di depan maupun di belakang kami urusan 
selesai dalam 10 menit.  Sementara sejak 11.48 (jam di imigrasi saat kami 
menyerahkan paspor) hingga 12.35 belum juga paspor kami diserahkan.  Mau tahu 
ice breakernya?  Petugas saya beritahu bahwa di ruang di belakangnya seekor 
kucing sedang mengintai makan siang yang disajikan untuknya.  Setelah itu 
paspor kami langsung dicap dan dikembalikan.

Tahap ketiga, setelah memasuki Guatemala, rasanya tak ada bagian dari 
pemandangan yang tidak menarik.  Jalan raya terus meliuk mengikuti dasar 
sebuah lembah.  Beberapa jembatan yang terlintasi berselang-seling mengubah 
letak anak sungai kadang di kiri kadang di kanan kendaraan.  Dari La Mesilla 
hingga Panajachel (tempat pertama di Guatemala yang kami singgahi) jalanan 
berada di altiplano (dataran tinggi) dengan beberapa gunung menyembul dari sisi 
kanan (barat daya).

Menurut para pakar geologi, rangkaian gunung berapi di sana telah muncul di 
muka bumi 150,000 tahun silam.  Adapun rupa bumi yang sekarang ini terbentuk 
lantaran letusan dahsyat gunung purba Los Choyocos sekira 85.000 tahun lalu.  
Saking dahsyatnya, letusan itu menyemburkan debu vulkanik hingga Panama dan 
Florida.  Di puncak yang terpotong akibat letusan terbentuk kawah (cekungan) 
yang kemudian terisi air.  Kawah itu kini dikenal sebagai Lago de Atitlan.  
Lago de Atitlan mempunyai ukuran 18km dan 8km pada bentang antara titik-titik 
terjauhnya.  Adapun sisa dari Los Chocoyos bisa dilihat pada 3 gunung yang 
mengitari Lago de Atitlan yaitu Volcan San Pedro, Volcan Atitlan dan Volcan 
Toliman.  Ketiga gunung diperkirakan terbentuk pada rentang 60.000 hingga 
30.000 tahun yang lalu.

Letusan gunung yang menyebabkan puncaknya terpotong dan kemudian terbentuk 
danau juga bisa ditemui di tanah air.  Letusan Rinjani dan Tambora malah 
menyisakan kawah yang masih aktif.  Ada lagi letusan gunung berapi purba yang 
mengakibatkan terbentuknya kawah seperti yang kini kita kenal dengan Danau 
Toba.  Danau Toba mungkin mirip Lago de Atitlan karena cikal-bakalnya gunung 
aktif dan setelah meletus menjadi ´danau´ tempat wisata biasa.  Kemiripan ini 
mau tak mau mengantar ingatan ke buku tentang Atlantis karya ilmuwan Brasil 
Prof. Arysio Santos.  Sang ilmuwan melempar hipotesa perihal keberadaan 
Atlantis di sekitar Nusantara.  Runtuhnya peradaban Atlantis yang tersohor maju 
itu salah satunya akibat letusan gunung yang mengakibatkan terbentuknya Danau 
Toba.

Kebetulan saya pernah mendatangi 2 situs yang juga ramai dibincangkan sebagai 
´kandidat` Atlantis.  Yang pertama di Santorini (Yunani), yang kedua di 
Tiwanaku (Bolivia).  Pulau Thira, tempat kota Santorini berada, juga 
´terbentuk´ akibat letusan gunung api.  Pulau yang semula berbentuk lingkaran 
kini tinggal potongan mirip boomerang.  Identifikasi Santorini dengan Atlantis 
juga berlatar pada penyebab utamanya sepola dengan hipotesa Prof. Santos.  Akan 
halnya Tiwanaku, situs yang berada di Altiplano, Andes, dulunya berada di tepi 
laut atau setidaknya terhubung ke laut lewat sebuah sungai.  Konon permukaan 
Danau Titicaca dulunya sampai di tepi Tiwanaku.  Apa penyebab runtuhnya 
peradaban Tiwanaku (yang diakui orang Inca sebagai nenek moyangnya) sampai saat 
ini belum jelas.  Hanya saja orang yang pernah ke Isla del Sol dan Isla de La 
Luna (yang ada di tengah Danau Titicaca sekarang) kebanyakan pernah mendengar 
misteri ciudad submergada (kota di
 bawah air) di sekitar perairannya.

Mana dari 2 situs yang lebih mendekati Atlantis?  Terus terang bahan yang saya 
baca sangat jauh dari cukup untuk sekadar menduga-duga.  Malah sekarang saya 
ingin melempar dugaan baru: jangan-jangan Atlantis itu dulunya ada Amerika 
Tengah.  Dengan kata lain, benarkah suku-suku/peradaban asli (indigena) Centro 
America seperti Aztec, Olmec, Toltec, Zapotec, Maya adalah serpihan dari 
sebaran kebudayaan Atlantis?  Alasan pertama yang mendasari dugaan saya 
tentunya letusan Los Chocoyos di atas.

Alasan kedua datang dari nama-nama.  Kemiripan nama dan makna dibalik nama 
seringkali bisa digunakan untuk merunut banyak hal.  Hingga hari ini, banyak 
nama-nama tempat di Amerikan Tengah yang memakai rangkaian konsonan ´tl´.  Saya 
menduga 2 konsonan itu dalam bahasa-bahasa lokal telah lebur menjadi 1 konsonan 
(seperti ny dalam bahasa Indonesia, nh [Portugis], gn [Italia]).  Sebagai 
contoh, salah satu gunung api di Mexico namanya Popocatapetl.  Rangkaian ´tl´ 
ini mestinya bukan kebetulan, namun apa maksudnya saya tidak tahu.  Dalam 
bahasa Nahuatl (bahasa Orang Aztec), tla itu berhubungan dengan pohon kaktus.

Alasan ketiga adalah kepresisian kalender yang mereka miliki.  Hitungan panjang 
satu bulan (sekali bulan berevolusi terhadap bumi) dan umur satu tahun (sekali 
bumi berevolusi tergadap matahari) orang Maya hanya berbeda pada desimal 
keempat dengan hitungan hasil pengamatan astronomi mutakhir.  Orang Maya 
menggunakan kalender bulan dan kalender matahari secara bersamaan.  Kalender 
matahari mereka terdiri dari 18 bulan yang masing-masing terdiri dari 20 hari.  
Putaran kalender ini 360 hari.  Setelah era klasik peradaban Maya (sekitar 
250M) orang Maya mengaplikasikan hitungan daur (perulangan) dalam tempo yang 
sangat panjang.  Satu putaran 360 hari disebut tun.  20 tun (7200 hari) 
membentuk katun, sedangkan 20 katun (144.000 hari atau sekitar 394 tahun) 
terhimpun dalam baktun.

Satuan di atas baktun hanya dipakai untuk peristiwa yang mempunyai efek sangat 
luar biasa.  Orang Maya percaya bahwa semesta itu berdaur setiap 13 baktun.  
Dengan kata lain umur semesta itu kurang-lebih 1.872.000 hari atau 5125,25 
tahun.  Karena semesta saat ini (semesta daur ke-5) dipercaya orang Maya 
tercipta pada 13 Agustus 3114 SM, maka semesta akan terdaur lagi pada sekitar 
Natal 2012!

Di luar dugaan saya tentang keterkaitannya dengan Atlantis, orang Maya bisa 
jadi satu dari segelintir orang-orang di dunia yang terus bangga dengan 
identitas lokalnya.  Sejauh ini setidaknya kami telah menyambangi 3 desa Maya 
yakni 2 desa Maya Tzotzil (Chomula dan Zinacantan) di San Cristobal dan 1 desa 
Maya Tz`utujil di Santiago Atitlan, Panajachel.  Di ketiga desa, orang-orang 
Maya tetap bertahan dengan pakaian yang mereka buat sendiri.  Jika barang murah 
(termasuk tekstil dan pakaian jadi) produk Cina menjadi ancaman di mana-mana, 
di desa-desa Maya produk itu sulit masuk apalagi diterima.  Tua-muda, 
pria-wanita semua memakai pakaian hasil tenunan sendiri.  Setiap hari pasar 
selalu terjadi kemeriahan lantaran orang-orang desa (dengan busana 
tradisionalnya) berkumpul untuk bertransaksi dan berbagi cerita.

Salam dari Panajachel
22-Junio-2010, hora 20.53




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke