Memulai Backpacking, Menepis Rasa Takut




Sebut saja Riana, mengaku baru tamatan SMA ketika menyatakan ingin
backpacking sendirian di negeri tetangga, Singapura. Antara ketakutan dan
keriangan ia bertanya pada komunitas Indobackpacker, bagaimana menekan rasa
ngeri, exciting dan khawatir untuk memulai langkah jalan pertama kali.



Sebagian besar rekan di komunitas backpacker memberikan saran agar memupuk
rasa percaya diri, juga membiasakan traveling terdekat  dulu sebelum
menjajah luar negeri.  Persiapan yang cukup matang, menggali informasi dan
mencari kawan jalan bisa menjadi bekal untuk membuat backpacking pertama
jadi bisa dinikmati.



Tapi benarkah rasa takut itu manusiawi? Ataukah memang memerlukan proses
yang panjang untuk mencapai keberanian? Betulkah faktor keluarga dan didikan
orang tua ikut andil? Inilah yang kemudian menjadikan diskusi dengan topik
“Mengatasi Rasa Takut Akan Backpacking Sendiri” makin menarik.





Darimana rasa takut itu



Para backpacker berbagi cerita bagaimana rasa takut itu muncul.  Menurut
Ossy, sebenarnya rasa takut dan excited itu saling bersamaan. Antara ingin
mencoba dan kekhawatiran. Yudhi bahkan menyebut rasa takut itu bersumber
dari diri kita sendiri.  Menurutnya, “Semua rasa2 itu pasti akan muncul dan
pergi, bergantian. Tdk ada jalan2 dgn kesan yg uenak teruss detik demi
detik.” Jadi rasa itu adalah manusiawi, wajar dialami oleh siapa saja. Baik
yang baru pertama ataupun udah beberapa kali backpacking seperti yang
diceritakan oleh Andri yang mengaku sudah puluhan kali menjelajah.



Yudhi juga menambahkan bahwa jika terjadi hal yang tidak menyenangkan pun
dalam backpacking anggaplah itu pembelajaran dan “akan memperkaya hidup dan
pengalaman kita.”  Trus apa sih sebenarnya yang ditakutkan?
Pengalaman-pengalaman buruk seperti ditipu, tersesat, kehabisan uang dll
sebenarnya akan bisa dihindari jika kita melakukan persiapan dengan matang.





Preparation, Preparation and Preparation



Christina Rahayu memberikan resepnya: persiapan matang, kepercayaan diri dan
kenekatan. Rupanya persiapan adalah hal utama yang harus dilakukan seorang
bacpkacker.  Nota, Dewi M Sri dan Nanda Tampubolon menegaskan untuk mencari
tahu sebelum berangkat. Bila perlu lokasi tempat yang dituju beserta kondisi
masyarakatnya.  Gita juga mengiyakan bahwa informasi itu sangat penting.
“Jangan Sampe bener-bener ngga tau apa-apa,” begitu imbuhnya.  Andri juga
menyarankan untuk mencari segala aspek informasi dan kemungkinan resiko yang
akan dihadapi.  Menurutnya, info yang minim dan tanpa persiapan hanyalah
akan menambah rasa takut dan kurang percaya diri.



Sari Musdar dan The Japra menggaris bawahi hal yang sama dengan menekankan
untuk mempelajari peta, bertanya-tanya pada teman yang udah pernah kesana.
Travelling  dalam jarak dekat dulu juga akan menumbuhkan rasa pede, seperti
yang disarankan oleh Hendri WIjaya.



Disini kemandirian juga disorot sebagai kunci utama menumbuhkan keberanian.
Selain mengurangi ketergantungan pada orang lain, juga membuat kita terbiasa
menyelesaikan kesulitan sendiri.  Mencari kenalan atau partner jalan bisa
membuat beban khawatir ini dibagi. Seorang mahasiswa bernama Teguh merasakan
bahwa, “Jalan sendiri terkadang lebih fleksibel, tapi saya merasa ketika ada
teman, walau hanya seorang, beban ketakutan itu akan hilang setengahnya at
least selama di jalan ada teman yang bisa diajak ngobrol, komentarin hal-hal
ga penting yang ditemui, bergantian jaga barang kalo ingin ke toilet,
bantuin foto, bergantian tidur saat di jalan, sharing cost juga, dan masih
banyak keasyikannya.” Tredzy juga  menyarankan untuk cari kenalan di
berbagai website pertemanan seperti Coachsurfing, Hospitality Club, Facebook
dsb. Bila perlu dengan orang yang tinggal di negara yang dituju backpacking.





Attitude sebagai kunci utama



Seorang rekan, Heny menuturkan bahwa kebiasannya bepergian sendiri baik
belanja ataupun nonton ternyata membuatnya akrab untuk backpacking tanpa
kawan.  Baginya kita harus mempunyai ‘positif thinking’ untuk memupus
kekhawatiran. Toh ketika di jalan, “Suka ketemu teman jalan yang
menyenangkan, jadinya ga benar2 sendirian pas di sana =) “



Masalah perilaku selama backpacking juga dibahas oleh rekan backpacker
sebagai cara ampuh untuk membuat rasa takut itu berkurang.  Utine memberikan
saran untuk tidak malu bertanya dan juga bergaul dengan penduduk setempat.  Ini
juga ditegaskan Oggi Gunadi yang menuturkan bahwa sikap untuk ‘blending’
atau berbaur dengan orang lokal akan membuat perjalanan lancar. “Be polite,
humble and friendly sementara mata dan hati terus terjaga karena sesuatu
yang tidak menyenangkan bisa saja terjadi kapan saja....”



Sikap yang sopan dan ramah seperti pengalaman Nanda ketika backpacking di
Belitung membuatnya sangat terbantu. Tetap pede, pasang muka berani dan
jangan terlihat bingung di jalan juga disarankan oleh rekan Gita.





Didikan keluarga dan berani mencoba



Seorang backpacker Matatita menyatakan bahwa kemandirian dan pola asuh
keluarga sangat mempengaruhi  sikap kita mengatasi rasa takut itu. Baginya
banyak orang tua yang  “protektif dan tidak mengajari anaknya traveling
sedini mungkin, sehingga setelah dewasa dan pengin jalan-jalan langsung
dihinggapi berbagai rasa takut.”



Baginya seorang yang terbiasa jalan akan memberikan rasa keberanian karena
sudah terbiasa. Proses untuk ‘berani’ adalah dari berbagai pengalaman dan
pencapaian.  Pengalaman Yeri yang nekad mengunjungi Danau Maninjau di Sumbar
ketika masih kelas 6 SD memberikan gambaran bagaimana pencapaian itu
tidaklah harus sangat jauh ataupun luar negeri.



Umbo juga menggaris bawahi bahwa pembentukkan karakter mandiri dan tidak
takut mencoba bisa muncul dari lingkungan keluarga.  Wina bahkan berbagi
cerita bagaimana dulu harus berargumen dengan orang tua hanya untuk
diijinkan mengikuti kegiatan outdoor, sebuah wahana yang menurutnya
menumbuhkan rasa petualangan ketika muda.  Rupanya kisah kawan-kawan di
forum ini mengilhami untuk memberikan ruang kebebasan yang lebih luas  dan
memperkenalkan backpacking bagi anak. Bagi yang berkeluarga dan seorang ibu
seperti Irma, Nota, Dewi, Tika, Matatita dan Novie bahkan akan membuat
backpacking sebagai sarana melatih kemandirian anak.



Seperti kiasan philosopher China, Lao Tsu, “A journey of a thousand miles
must begin with a single step” maka memulai langkah pertama adalah sebuah
titik penting. Bukan masalah jauh tidaknya, tetapi apakah kita mau dan
berani mengayun kaki keluar dari tempat yang penuh kenyamanan untuk memulai
perjalanan yang tidak diketahui.





Terimakasih sekali untuk semua rekan yang memberikan opini, sharing dan
berkisah di diskusi ini:

Oggi Gunadi, Yeri, Teguh,  Ronald, Christina Rahayu, Tedzy, Andri, Yudhi,
Sari Musdar, Matatita, Heny Eliana, Ossy, Wina, Gita, Dewi, Irma Arryani,
Nota, Sri Mustika, The Japra, Utine, Umbo Karundeng, dan Hendri Wijaya. Maaf
jika ada yang terlewat atau tak tersampaikan.



Salam,

Ambar

salah satu moderator IBP


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Indonesian Backpacker Community 
visit our website at http://www.indobackpacker.com 

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/   
untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

No SPAMMING or forwarding unrelated messages.
Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT. 

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian 
yang perlu saja. 

Milis Indobackpacker menerima ATTACHMENT baik gambar ataupun photo, tetapi 
mohon indahkan tentang hak cipta dan ukuran file. 

Cara mengatur keanggotaan di milis ini :

Mengirim email ke grup : [email protected] (moderasi penuh)
Mengirim email kepada para Moderator/Owner: [email protected]
Satu email perhari: [email protected]
No-email/web only: [email protected]
Berhenti dari milist kirim email kosong : 
[email protected]
Bergabung kembali ke milist kirim email kosong : 
[email protected]

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke