Setelah merebut Tenochtitlan (ibukota kerajaan Aztec) 1521, tentara Spanyol terus bergerak ke selatan. Pedro de Alvarado, letnan Cortes yang paling brutal, memasuki Centro America sekitar 1524 disertai dengan senjata api, kuda, dan bantuan dari beberapa indigena Mexico. Salah satu indigena Centro America, suku Maya Kiche, melawan tetapi perlawanan mereka dipatahkan. Upaya orang Kiche merayu musuh tradisional mereka yakni orang Maya Kaqchiquel untuk bergabung melawan conquistadores berakhir sia-sia. Orang Kaqchiquel justru bersekutu dengan orang Spanyol. Alhasil ibukota Kiche di Iximche pun jatuh. Orang indigena Mexico menyebut Iximche dengan Quauhtlemallan, artinya negeri dengan banyak pohon. Oleh mulut orang Spanyol nama indigena itu ´kepleset´ menjadi Guatemala.
Untuk memerintah Guatemala, orang Spanyol memerlukan ibukota. Tempat yang mereka pilih adalah Iximche (situs yang kini terletak tak jauh dari Tecpan), tujuannya tentunya untuk mengawasi musuh mereka. Karena orang Maya Kaqchiquel kemudian memberontak, tahun 1527 ibukota dipindahkan ke Ciudad Vieja. Longsor dan banjir lumpur yang terjadi pada 1541 menyebabkan Ciudad Vieja tak lagi bisa digunakan untuk permukiman. Akibatnya dibangunlah ibukota baru pada 1543 dengan nama (yang sangat panjang) La muy Noble y muy Leal Ciudad de Santiago de los Caballeros Goathemala. Ciudad Santiago menjadi episenter kepentingan Spanyol di Centro Amerika hingga sebuah gempa besar menghantam 1773. Tak urung 1776 ibukota pun dipindah ke ibukota Guatemala yang sekarang ini yakni Ciudad de Guatemala. Adapaun Ciudad Santiago beroleh julukan baru La Antigua Guatemala (Guatemala Kuno) yang disingkat Antigua. Antigua dan Ciudad de Guatemala hanya berjarak 45km. Setiba di Antigua dan membongkar ransel di hostel (untuk bertiga kami semalam membayar 183 Quetzales [1 dolar US setara 7,7 quetzales]) ada yang ingin saya segerakan. Bukan ke salah satu situs atau sekedar mencari informasi, melainkan mencari letak salah satu restaurante lantaran panduan menyebutnya menyajikan masakan Indonesia. Iya ... masakan Indonesia, bukan masakan Melayu. Asal tahu saja, Malay Fast Food banyak dijumpai di ujung selatan benua Afrika. Apa yang saya lakukan di Antigua itu persis yang saya lakukan setiba di Rabat, ibukota Maroko, tahun lalu. Di Rabat kami sengaja memilih penginapan yang ada di pusat kota. Alasannya? Sekitar 2 blok dari tempat kami menginap ada seruas jalan yang mengabadikan salah satu pahlawan kita. Pencarian saya di Rabat berbuah rasa haru. Ketika langit perlahan berubah dari terang ke gelap, tepat di antara gedung Poste Maroc dan Maroc Postal tertulis dengan huruf yang sangat-sangat jelas: Rue Soekarno! Siapa bisa menahan haru jika di tengah berbagai keterpurukan nama Indonesia ada nama pahlawan kita yang diabadikan di ujung barat Afrika? Sudah jadi rahasia umum bahwa Indonesia dengan luas wilayah dan jumlah penduduknya yang besar ini kurang dikenal dalam ´pergaulan´ dunia. Jujur saja, membandingkan ´daya jual´ paspor Indonesia dan paspor Malaysia kadang membuat saya berpikir: apa yang salah dengan negeri ini? Paling banter Indonesia dikenal di kawasan Asia karena ekspor tenaga kerjanya. Pernah satu kali di bandara Kairo saya ngobrol panjang-lebar dengan seorang civil engineer asal Yordania. Di tengah obrolan hangat dan mengasyikan ia melayangkan sebuah teguran, ¨Yang bekerja di rumah saya orang Indonesia, namanya Yanti. Apakah itu nama asli Indonesia?¨ Di kesempatan lain, saat hendak reconfirm tiket di Wina, Austria, barengan di lift yang tahu kami dari Indonesia pun memberi teguran yang kurang-lebih sama, ´Di rumah saya bekerja orang Indonesia ...¨ Lantaran hal-hal di atas, sedikit perjumpaan dengan hal-hal yang berbau Indonesia di mancanegara tentu perlu disyukuri dan perlu dicatat secara khusus. Barang sepuluh tahun lalu kami menginap di sebuah budget hotel di kawasan Monastiraki, Athena. Budget hostel ini menyediakan sabun di kamar mandinya. Waktu saya pakai, baunya tidak asing di hidung. Istri pun berkomentar serupa. Selang sehari kami mendapat sabun yang masih ada kotak kemasannya. Dengan jelas tertulis di sana ´made in Indonesia´. Sabun ini buatan Semarang. Dua tahun lalu di sebuah supermarket yang letaknya bersebelahan dengan hostel Han Tang In, Xi´an, anak saya memberitahu, ´Pak .. ini warnanya sama dengan permen yang di Malang.¨ Mau tahu barangnya? Ada sebuah kotak kemasan dengan warna kombinasi warna putih, merah muda, biru plus sedikit kotak-kotak. Singkat kata, kemasan itu kami beli. Sampai di hostel dan kami makan isinya, barulah kemasan kotaknya yang didominasi huruf Mandarin kami pelototi. Oalah ... ternyata permen jahe buatan Pasuruan! Di Guatemala,di negeri yang di Jakarta tidak ada ibukotanya dan di ibukota Guatemala tak ada KBRI, istri telah bersua dengan ´bau Indonesia´ sebelum saya. Katanya, di sebuah restaurante (yang memajang menunya dalam huruf besar di pinggir jalan) di Panajachel ia sempat membaca menu ´arroz (nasi), pollo (ayam), tofu (tahu), tempeh´ (benar dengan akhiran huruf ´h´). Kalau tahu bisa dijumpai di banyak tempat. Tapi ada tempe di Guatemala ini sungguh bukan berita biasa. Sayang sekali menu itu terbaca hanya beberapa menit sebelum kami ke Antigua. Bagaimana nasib ´perburuan´ saya pada masakan Indonesia di Antigua? Sayang sekali hasilnya tak seperti yang diharapkan. Restaurante yang dirujuk panduan hanya memasang tulisan ´Thai Food and more´. Bisa jadi more di situ termasuk Indonesia, namun saya telanjur kecewa. Saya teruskan jalan untuk orientasi, mencari informasi sekaligus mencari lavanderia (tempat pencucian pakaian). Sekira 5 blok dari restaurante yang dirujuk panduan tadi saya melihat sebuah warung makan bercat biru dengan tulisan ´Toko Baru´ di pintunya. Sebuah penampakan atau fatamorgana? Bukan ... ini bukan sejenis penglihatan, apalagi jenis hurufnya pun tidak terlalu asing bagi saya. Pada hari kedua di Antigua, kami mampir ke ´Toko Baru´. Saya vegetarian dan anak-istri kebetulan tidak suka makan daging. Kami mampir di ´Toko Baru´ setelah melihat tidak ada jamon (pork) di menu yang mereka jual. Selain itu ´Toko Baru´ memiliki menu vegetarian. Dari tulisan di papan kami tahu bahwa ´Toko Baru´ baru saja buka. Terbaca disana ´abierto 12.30 - 20.30¨. Yang pertama saya tanyakan ke pramusaji (yang notabene indigena) tentu saja seputar nama. Jawabnya, ¨Toko Baru adalah kata Indonesia untuk nueva tienda. Nama itu diberikan Orang Belanda.¨ Orang Belanda memakai kata Indonesia? Tiba-tiba saja jadi ingat barang 10 hari sebelumnya ketika transit di Schiphol kami beli makanan kemasan dengan nama ´Katjang Pedis´. Masih pakai ´tj´ bukan ´c´, dan huruf di belakang ´d´ ditulis ´i´ bukan ´e´. Singkat cerita, kami singgah 2 kali di ´Toko Baru´ untuk mencoba 3 menu vegetarian yang disajikan. Sungguh mengejutkan bahwa spring rollnya (mirip lumpia) sangat orisinal. Isinya pun memuaskan selera vegetarian yakni sayuran (wortel, kecambah, buncis) dan tahu. Rasanya pun rasa Indonesia tanpa penguat rasa. Tidak ada kubis dan bihun sebagaimana lumpia jadi-jadian yang ¨beredar¨ di Kalimantan Timur, utamanya Sangatta!!! Makanan yang bersahabat ini tentunya membuat kami betah. Antigua memang khas kota kolonial Spanyol. Parque Central Antigua pantas untuk dijadikan tempat pengambilan gambar film cowboy. Jalan-jalan kota kuno Antigua tidak beraspal dan hanya dilapisi dengan susunan batu. Dalam arah melintang susunan batu itu membentuk huruf ´v´. Jika hujan besar turun poros jalan akan berfungsi menjadi saluran, jika yang turun hujan gerimis butir-butir airnya akan merembes ke dalam tanah di sela-sela batuan. Di luar itu, dinding-dinding rumah di Antigua yang didominasi warna pastel dan naungan 3 volcan di selatannya sungguh menyejukkan mata kapan pun orang memandanginya. Salam dari Antigua, 25-Junio-2010, hora 21.15 [Non-text portions of this message have been removed]
