Saya akhirnya memilih merasa nyaman dengan kompor trangia. Walaupun tetap ada dua hal yang mengganjal; pertama, harganya(agak pahit beli barang buatan eropa yang sebenernya bisa dibikin di pabrik panci surabaya). Hal kedua yang membuat tak nyaman adalah berita bahwa nilai kalor bahan bakar alkohol/spiritus vs beratnya kurang efisien dibanding bahan bakar gas atau yang berbahan dasar minyak bumi. Namun karena konstruksinya yang sangat sedikit memungkinkan terjadinya kesalahan fungsi pada system, maka hati saya jatuh pada kompor ini.
Beberapa catatan kecil ketika menggunakan kompor trangia yang tipe sedeng (27?-dua panci almunium, satu wajan teflon); - Waktu mencoba menggunakan wajan sebagai penutup panci saat memasak dan diletakkan terbalik (permukaan yang berteflon menghadap bawah), hasilnya beberapa tempat permukaan Teflon terkelupas. Saat itu kompor pada tenaga penuh. - Kalau ingin memasang `simmering ring' (pengatur besar nyala api yang juga alat untuk memadamkan api) awalnya saya hanya mengangkat panci dan kemudian melemparkan simmering ring ke atas kompor. Kadang pas, kadang meleset sehingga harus memperbaiki letaknya. Untuk mengatasinya, saya membuat tanda di sisi luar pelindung angin (bagian atas dan bawah), posisi kunci yang menyatukan dua komponen ini. Dengan adanya tanda tersebut, saat kondisi kompor menyala dan panci diletakkan di kompor, saya bisa menggunakan jepit pengangkat dan dengan mudah memisahkan pelindung angin bagian atas untuk memasang simmering ring dengan santai, tepat diatas burner. Saya masih terus mencoba memasak nasi yang 'bener' pake kompor ini. Ada pengalaman lain dengan kompor ini? Tabik; Puguh
