Setelah 2 pekan ¨di jalan¨ kami memulai apa yang sudah lama kami siapkan yaitu 
menyambangi situs-situs Mundo Maya.  Sejarah panjang Maya, oleh para Mayanist 
(pakar kebudayaan Maya) dikategorisasikan ke dalam masa pra-klasik, klasik dan 
pasca-klasik.  Mereka sepakat bahwa masa klasik (kurang-lebih antara 250-900M) 
dianggap masa puncak peradaban Maya.  Pada masa keemasan ini orang Maya 
membangun pusat-pusat peradaban yang membentang mulai dari daerah yang kini 
masuk wilayah Honduras, menjulur ke utara merambah daerah hutan tropis El Peten 
di utara Guatemala dan Belize, hingga semenanjung Yucatan di sisi tenggara 
Mexico.  Pusat-pusat keagamaan, kebudayaan, sekaligus perdagangan seperti di 
Copan, Quiriga, Kaminaljuyu (kini bagian dari ibukota Guatemala), Tikal, 
Uaxactun, Rio Azul, El Peru, Yaxha, Dos Pilas, Piedras Negras, Caracoal, 
Yaxchilan, Palenque, Calakmul, Uxmal, Chichen Itza, Labna, Kabah, 
Sayil dibangun.  Seluruh situs Maya  itu kini bisa dikunjungi dengan berbagai 
tingkat kesulitan.  

 
Dengan mendapatkan visa Guatemala yang di stempelnya ada catatan ´valido para 
ingresar CA-4´ tidak otomatis kami bisa ke negara CA-4 yang lain.  Apa boleh 
buat, yang ditulis di atas kertas (utamanya bagi pemegang paspor Indonesia) 
kadang berbeda jauh dengan praksis di lapangan.  Petugas imigrasi Guatemala di 
La Mesille menjawab boleh-tidaknya kami ke Honduras dengan ´silakan menanyakan 
langsung ke Kedutaan Honduras di Ciudad de Guatemala´.  Demi kepastian jawaban 
itulah kami menyempatkan ke Kedutaan Honduras.  Mulai dari seguridad di pintu 
gerbang masuk hingga penjelasan langsung dari konsulnya semua berjalan penuh 
senyum.  Lagi-lagi saya menduga, barangkali relasi Guatemala - Honduras sangat 
bagus kendati di Honduras baru saja terjadi kudeta.  Jawaban yang kami terima 
sesuai dengan yang kami kira: untuk ke Honduras kami perlu visa!  Konsul 
memberi 
jaminan bahwa visa akan diberikan dalam waktu 24 jam.  Ia malah  menyarankan 
agar paspor kami ditinggal saja.  Sayang sekali hari itu hari Jum´at, sementara 
hari Sabtu kedutaan tutup.  Jika ditinggal paspor mesti menginap 2 hari penuh.  
Dengan berat hati kami sampaikan bahwa mungkin kami akan datang lagi hari Senin 
setelah berpikir dan mengambil putusan.
 
Menurut Mayanist Michael D. Coe, untuk tahu cakupan Mundo Maya yang lumayan 
lengkap orang perlu mengunjungi setidaknya 6 situs penting yaitu Copan, Tikal, 
Yaxchilan, Palenque, Uxmal, dan Chichen Itza.  Sejak menyusun itinerary kami 
sadar bahwa dari 6 situs yang disebut di muka kami hanya berani memasang target 
mendatangi 4 buah.  Kesempatan besar untuk bisa mendatangi seluruh 6 situs 
penting itu, setelah menimbang beberapa hal, dengan sadar tidak kami gunakan.  
Pertama, sesuai dengan yang tertulis di visa Mexico yang kami miliki, kami 
dibolehkan masuk Mexico terakhir tanggal 4-Juli.  Kedua, setelah mendapatkan 
visa Honduras kami perlu menghubungi kantor imigrasi di Guatemala untuk 
mendapat 
jaminan bahwa kami boleh masuk lagi ke Guatemala mengingat visa Guatemala kami 
hanya untuk single entry.  Tidak ada tulisan ´single entry´ namun disebut di 
sana harga visa USD $25..  Perlu saya tambahkan bahwa situs Copan di Honduras 
itu letaknya hanya 12km dari perbatasan.  Ketiga, saya sudah mengecek 
kemungkinan terburuk jika imigrasi tidak  mengijinkan kami ke Guatemala lagi.  
Hasilnya?  Penerbangan langsung dari Tegucigalpa ke salah satu kota di Mexico 
tidak ada.  Dengan muskilnya kami ke Copan, setidaknya satu masalah selesai.  
Kami tinggal berkonsentrasi agar bisa menyambangi 5 situs lain yang disebut 
Michael D. Coe di muka.
 
Untuk bisa mendatangi Tikal, Palenque, Bonampak, Yaxchilan, Chichen Itza, dan 
Uxmal kami perlu sekitar 10 hari.  Meski sekadar penggembira, kami ingin tahu 
bangunan-bangunan penting yang ada di situs.  Situs-situs Maya mirip dengan 
situs-situs Yunani/Romawi.  Di situs bukan hanya ada tempat ibadah (seperti 
candi-candi yang berserak di Jawa Tengah) atau pemakaman (seperti candi-candi 
di 
Jawa Timur), tetapi juga ada istana dan permukiman penduduk (saya jadi ingat 
bahwa Trowulan adalah satu-satunya situs di tanah air juga menyertakan 
permukiman).  Jika di situs-situs Yunani/Romawi selalu ada agora (pasar), 
teater 
dan scholastic bath, di situs-situs Maya selalu ada juego de pelota.  Juego de 
pelota (arti harfiahnya permaianan bola) adalah lapangan (bagian istana) yang 
digunakan untuk bermain bola!  Bola yang digunakan dibuat dari karet di mana 
setiap pemain harus berupaya menjaga air bola selalu berada di udara dengan  
memakai semua anggota tubuh kecuali tangan dan kaki.  Permainan ini berakhir 
atau dinyatakan dimenangkan oleh salah satu pihak jika mereka bisa melewatkan 
bola pada lingkaran batu.  Permainan bola ini kerap dipakai untuk menyelesaikan 
perseteruan antar-kerajaan  Dalam hal-hal yang sifatnya krusial, kapten dari 
tim 
yang kalah seringkali dieksekusi! 

 
Setiap situs (selain Yaxchilan dan Bonampàk) kami datangi sehari penuh.  Malah 
di Tikal, Palenque dan Chichen Itza kami masih harus menunggu angkutan umum 
setelah situs ditutup!  Perjalanan kali ini bisa dianggap perjalanan pertama 
kami di mana anak ikut menikmati apa yang kami lihat.  Jauh sebelum berangkat 
saya belikan ia beberapa komik dengan latar cerita Kebudayaan Maya.  
Komik-komik 
tadi bukan hanya dihafal ceritanya tapi gambar-gambarnya pun melekat di 
ingatannya yang fotografis.  Jika saya punya kebiasaan membuat copy perbesaran 
atau peta situs (sehingga tak perlu membawa panduan yang sangat tebal itu), 
komik cerita Maya tadi oleh anak dibawa ke situs.  Di situs buku tadi dibaca 
dan 
coba dicocokkan gambarnya!  Di Tikal anak saya protes, ¨Pak kok piramida jaguar 
2 lebih pendek dari piramida jaguar 1?¨  Di Palenque, anak saya susah menerima 
mengapa yang ada di situs kok berbeda dengan di gambar ... he-he-he.  
Keingin-tahuan yang menggebu pada apa yang dia baca berimbas positif.  Anak  
saya tanpa kenal lelah naik-turun piramida maupun templo-templo yang ada di 
situs.  Pernah ia bertanya, ¨Di Uxmal kan ada Kuil Topeng Coba, kok di peta 
yang 
bapak bawa kok nggak ada?¨  Setelah memutari situs Uxmal dan tiba di tempo 
mayor 
yang tak lagi utuh ia seperti menemukan jawaban yang ia cari, ¨Ternyata Kuil 
Topeng Coba itu ya piramida ini.¨
 
Selain di Palenque, yang mana ruinas hanya berjarak 7km dari kota, situs lain 
umumnya berjarak tempuh 1,5 hingga 3 jam dari kota terdekat.  Tikal terletak 1 
jam 40 menit perjalanan dari Flores.  Chichen Itza perlu 2 jam 10 menit 
perjalanan dari Merida.  Yang letaknya paling susah dijangkau adalah Yaxchilan 
karena harus menyusuri Sungai Usumacinta dengan perahu sekitar 50 menit.  
Sungai 
Usumacinta ini sekaligus jadi batas antara Mexico dan Guatemala.  Agar cukup 
waktu untuk menjelajahi situs kami alokasikan waktu 4-5 jam.  Untuk itu kami 
perlu berangkat pagi dan pulang sudah sore.  Tidak salah jika saya katakan 
jadual jalan selalu lebih padat dan lebih berat (namun menyenangkan tentunya) 
ketimbang jadual kerja harian.  Alokasi waktu yang kami buat ini antara lain 
untuk mengantisipasi kemiripan iklim di 6 situs yang kami datangi dengan iklim 
tropis di tanah air.  Di ke-6 situs udaranya panas dan lumayan lembab.  
Pengunjung situs yang bukan berasal dari daerah tropis selalu basah kuyub 
dengan 
keringat.  Itu sebabnya sebelah saya di angkutan begitu gembira ketika gerimis 
tipis turun saat bersama-sama kami berjalan dari tiket masuk Tikal hingga gran 
plaza.  Sudah  panas dan gerah, di Palenque ada larangan membawa makanan dan 
minuman apapun di luar air mineral kemasan botol!
 
Bagian awal dari kitab suci Popol Vuh menyebut bahwa pada saat semesta lahir 
Sang Pencipta meletakkan 3 buah batu di kegelapan air yang membungkus dunia 
primordial.  Tiga batu itu kemudian menjadi jantung kosmis sekaligus pusat 
semesta.  Setelah itu berkelebat api kedewataan (petir) yang memberi nyawa pada 
semesta.  Berawal dari keyakinan inilah orang Maya kuno membangun komunitas 
sebagai cermin dari tatanan geografi yang sakral.  Jika mungkin mereka akan 
membangun komunitas di pinggir sebuah danau yang dikitari oleh 3 gunung berapi. 
 
Kampung-kampung Maya di sekitar Lago de Atitlan maupun Antigua bisa jadi contoh 
terbaik atas ´terjemahan´ konsep geografi yang sakral.  Bagi orang Maya yang 
bermukim di tanah rendah, danau dan tiga gunung berapi yang riil tentu akan 
sulit ditemukan.  Itu sebabnya orang Maya dataran rendah mengimplementasi 
konsep 
geografi sakral dalam susunan kompleks gran plaza (dalam  Spanyol artinya 
kurang-lebih lapangan besar) - kuil.  Dalam hieogliph Maya, gran plaza disebut 
nab (laut) atau lakam ja (air besar).  Gran plaza selalu dikitari oleh 
kuil-kuil 
berbentuk piramida yang umumnya dikelompokkan menjadi tiga.  Grand Plaza Tikal, 
Palenque, Uxmal, Chihcen Itza selalu dikitari templo-templo yang tinggi 
menjulang.
 
Dari kacamata awam, dari sisi fasad, bentuk, dan pola bangunan, ke-6 situs yang 
kami datangi berbeda secara mendasar.  Di ruinas Palenque, sebagian besar 
templo 
mengambil bentuk serupa dengan templo de los inscripsiones (kuil prasasti).  
Kuil yang juga makam raja terbesar Palenque Kinich janab Pakal ini berdiri di 
atas sembilan platform.  Angka sembilan ini mewakili jumlah netherworld orang 
Maya.  Gaya bangunan Chichen Itza terkena pengaruh Toltec.  Karena pengaruh 
Toltec inilah orang Maya semenanjung Yucatan mengenal pengorbanan manusia.  
Situs yang paling sulit saya lupakan adalah Tikal.  Situs ini ada di dalam 
hutan.  Banyak templo-templo di situs yang masih terbungkus vegetasi dan 
gundukan tanah.  Ada beberapa bagian situs yang sepintas mengingatkan saya pada 
Candi Sukuh.  Apakah ini kemiripan belaka sehingga dalam buku catatan 
perjalanannya Mas Sigit Susanto melempar pertanyaan barangkali orang Maya 
pernah 
hidup di Indonesia?

Perbedaan gaya bangunan di ke-6 situs yang kami datangi bisa juga dijelaskan 
bahwa setiap situs Maya pada dasarnya mirip negara-kota (polis) dalam budaya 
Yunani kuno sebelum disatukan oleh Megas Alexander.  Orang Maya tidak pernah 
memiliki/membentuk sebuah entitas politik yang, katakanlah, mirip dengan orang 
Kibti (Mesir Kuno).  Para penguasa Kibti, yakni para pharaoh, selalu dicitrakan 
sebagai pemersatu Kibti Hilir (Delta) dan Kibti Hulu (Nil).  Bisa jadi alasan 
alam (karena wilayahnya berupa padang pasir) membuat sejak dulu Kibti merupakan 
sebuah kesatuan teritori.  Bisa jadi alasan alam pula (yang dalam hal ini 
berupa 
hutan tropis nan lebat) yang menyulitkan Orang Maya membentuk sebuah kesatuan 
politik.  Mirip dengan yang terjadi pada polis-polis Yunani kuno, antar 
negara-kota Maya terdapat aliansi longgar namun di kesempatan lain perang kerap 
pula terjadi.


Di awal abad X, jutaan orang yang semula menghuni pusat-pusat peradaban Maya 
menghilang.  Era klasik pun berakhir.  Bertahun-tahun Mayanist (baik 
profesional 
maupun amatir) mencoba menerangkan apa penyebab fenomena misterius ini.  Dugaan 
paling mengemuka antara lain populasi yang kelewat banyak yang memicu 
konsekuensi ekologi dan pada puncaknya memicu krisi politik.  jantung 
kebudayaan 
Maya antara 600-800M mengalami ledakan jumlah penduduk.  Akibatnya kompetisi 
dan 
konflik antara negara-kota untuk memperebutkan sumber daya alam pun meningkat.  
Di saat yang sama pembukaan lahan untuk areal tanaman pangan yang memicu erosi, 
naiknya suhu udara, dan kian langkanya sumber air tak terelakkan.  Sekitar 
2003, 
hasil analisis para pakar atas sedimen di dasar pantai Venezuela menunjukkan 
bahwa sedimen itu terdiri dari lapisan tanah tipis berwarna cerah dan gelap 
masing-masing setebal 1mm.  Lapisan gelap berasal dari titanium yang 
dihanyutkan 
ke laut selama musim hujan, sementara lapisan cerah menunjukkan terjadinya 
kekeringan di musim hujan.


Analisis lanjut menunjukkan bahwa antara abad IX-X terjadi kekeringan yang 
hebat 
di pusat-pusat peraaban Maya.  Kekeringan akut itu berlangsung selama 3 atau 4 
musim berturutan.  Kekeringan inilah yang memicu terjadinya migrasi,  Dengan 
kata lain, berakhirnya masa klasik Maya diduga karena perubahan iklim alias 
bencana lingkungan.  Bukankah nasib yang menimpa masa klasik Maya itu sudah 
nampak tanda-tandanya?  Bagi orang Maya sekitar Natal 2012 hanyalah sebuah 
pergantian siklus (biasalah jika Hollywood mampu mengendus lalu 
mendramatisirnya 
untuk menguras kantong orang di seluruh dunia).  Seperti yang mereka alami 
sebelumnya, setiap pergantian siklus selalu dibarengi dengan sesuatu yang 
bersifat kataklismis.  2012 dipercaya sebagain orang Maya sebagai tahun 
kembalinya Kukulkan atau Quetzalqoatl.  Cortez yang mendarat di pantai Tabasco 
pernah dikira Quetzalqoatl oleh Moctezuma.  Akibatnya, Tenochtilan (ibukota 
kerajaan Aztec yang lebih besar dari kota manapun di Spanyol saat itu) pun 
runtuh.  Jika yang palsu saja membawa bencana besar, bagaimana dengan 
Quetzalqoatl yang asli?  Quetzalqoatl adalah dewa dalam wujud ular.  Orang Maya 
percaya bahwa jika naga kosmis berdarah maka darahnya akan mengucur ke bumi 
dalam bentuk hujan.  Apa jadinya jika naga kosmis itu pergi?

Salam dari Merida,
Martes, 6-Julio-2010



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke