Saya pernah ke Ternate 2 kali.  Januari 2010 kemarin dan hampir 15 tahun silam 
(Oktober 1995).  Dalam rentang 15 tahun banyak hal yang membuat saya 'pangling' 
(bahasa Jawa: nyaris tak mengenal).  Satu-satunya penanda Ternate kota 
tua tinggal jalan-jalannya yang sempit, berseraknya benteng-benteng  di sekujur 
pulau, dan kedaton yang halamannya telah dipagar.  Di luar itu Ternate seperti 
mengalami 'Jawa-nisasi'.  Selama 4 hari di Ternate saya lebih banyak mendengar 
orang bercakap dalam Bahasa Jawa ketimbang Bahasa Melayu-Ternate.  Ternate kini 
punya mal dan sebuah mal lain yang lebih 'megah' sedang disiapkan.  15 tahun 
lalu jika orang ke luar dari pelabuhan A. Yani, ke arah kiri jalan masih 
lengang, rumah berdiri dalam jarak puluhan meter.  Sekarang rumah sudah 
menjamur 
hingga lewat Benteng Kastella.  Bagi orang yang meminati sejarah, Ternate 
ibarat 
sumur yang tidak pernah kering.  Ada 2 buku (relatif baru) karya Adnan Amal 
"Kepulauan Rempah-rempah" dan "Portugis dan Spanyol di Maluku Utara" yang wajib 
dibaca untuk melengkapi apa yang kita lihat.

Kalau punya waktu 2 hari, luangkan yang sehari untuk menjelajah Tidore.  Tidore 
itu kota tercantik di Maluku Utara.  Tidore tidak sebesar Ternate tapi lebih 
tenang, jalan-jalannya yang asri dengan bunga-bunga relatif sepi, dan sedikit 
lebih nyaman karena semilir angin pepohonan.  "Obyek-obyek" di Tidore jaraknya 
berdekatan baik.  Bekas kedaton, dermaga kedaton, museum Sonyine Malige (yang 
pintunya sepertinya tak pernah dibuka), benteng Tohula, hingga masjid 
kesultanan berada dalam lingkaran dengan radius tak sampai 600m.  Jangan lupa 
singgah di Sigi Kolano (masjid kesultanan) yang rutin muncul di Trans TV setiap 
adzan maghrib.

Di Tidore saya sempatkan melihat monumen pendaratan Juan Sebastian del Cano.  
Monumennya tidak istimewa dan bisa jadi tidak menarik bagi orang lain.  Setahun 
lalu (Mei 2009), sewaktu lewat tepian Sungai Guadalquivir di Sevilla, saya 
hanya 
sempat membaca rambu yang menunjukkan di sanalah dulu armada Fernao de 
Magelhaens bertolak September 1519.  Armada dengan kekuatan 5 kapal itu membawa 
serta 265 awak (satu di antaranya orang Melayu).  Pelayaran Magelhaens adalah 
perjalanan maha berat.  Setelah menemukan dan melewati selat di selatan Amerika 
(kini dinamakan Selat Magellan) rombongan sempat 99 hari berlayar tanpa angin 
hingga terdampar di Filipina.  Di Cebu (April 1521) Magelhaens terbunuh dan ban 
kapten dioper ke del Cano.  Sisa armada dari orang pertama yang memutari bola 
dunia inilah yang muncul di pantai Tidore (November 1521).  Waktu tempuh mereka 
2 tahun 1 bulan 19 hari.

Salam dari Sangatta
27-Juli-2010


 



________________________________
From: nur hasni <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, 27 July 2010 14:19:12
Subject: [indobackpacker] Ternate

  
Salam kenal semuanya :)

Kebetulan sekali minggu depan saya akan dinas ke ternate. 
Disela-sela dinas tersebut saya memiliki waktu dua hari untuk jalan2 di ternate
Minta saran kepada teman2 yang barangkali sudah pernah ke ternate 
Kira2 tempat apa saja yang harus di kunjungi 

Terima kasih sarannya :)

Asni 




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke