Dear rencang-rencang IBP, Beberapa hari lalu saya mengikuti trip susur gua Jomblang di Semanu, Wonosari. Setelah dua tahun ngimpi2 dan ngiler lihat keindahan foto-fotonya, akhirnya kesampaian juga, Alhamdulillah.
Kami serombongan tiba tengah malam, karena disibukkan dengan acara sebelumnya. Sempat menunggu jemputan dari dalam setengah jam lamanya karena kami lupa jalan masuknya. Selain scenery malam hari di sana gelap dan serupa, papan penunjuknya juga terlewat oleh kami. Kami pun masuk dibimbing sepeda motor, terguncang-guncang menembus jalan berbatu selama kurang-lebih 20 menit. Melepas lelah, kami berbaring di pendopo semacam cottage yang cukup indah. Taman berumput hijau dikelilingi pondok2 yang temaram, cukup nyaman sepertinya. Rupanya cottage ini baru berusia 3 bulan shg semuanya tampak bersih. Walau air mengalir cukup, harus diingat bahwa pemakaiannya tetap selalu diirit. Pagi hari setelah sarapan, kami melakukan pemanasan standar. Selanjutnya dilakukan briefing, dan juga peragaan alat. Karena ini kali pertama saya, tidak ada satupun alat yang saya tahu namanya selain carabiner, harness dan helmet. Ternyata, dari sekian banyak alat tersebut, sebenarnya terbagi ke dalam dua, alat untuk descending dan ascending. Alat descending lebih sederhana, sementara alat ascending akan mengharuskan kita menggunakan harness dada dan tambahan bbrp alat lain seperti foot loop dlsb. Saya pun tidak memaksakan diri untuk mengingat nama alat2 tersebut dalam waktu sesingkat itu tetapi memastikan diri untuk tahu fungsi utamanya saja. Sempat juga dilakukan simulasi ascending di sebuah batang pohon sebelum memasuki medan penurunan. Kami pun mendekati bibir gua Jomblang di sisi baratlaut. Di sinilah jalur penurunan sepanjang 63 meter telah tersedia. Di seberangnya, kurang lebih 100 meter jauhnya, terdapat jalur VIP dgn jalur vertikal 15 meter. Kami semua pemula, namun disaat ditantang apakah berani melalui jalur 63 meter, kami sanggupi. Dan dimulailah ritual descending tersebut satu-persatu. Karena perjalanan turun satu orang dapat mencapai 20 menit, belum termasuk persiapan, akhirnya saya dan seorang rekan memilih untuk turun lewat jalur VIP. Selain menghemat waktu, saya juga ada kepentingan untuk mengambil foto dari bawah. Tidak seperti jalur sebelahnya, jalur VIP dimulai dengan tebing landai dan mencuram hingga kemiringan 80 derajad. Namun bagian ini masih dapat dilalui dgn jalan berpegangan dengan tali dan semi rappling. Selanjutnya, tebing vertikal menanti sehingga descending harus dilakukan. Turun, tidak begitu sulit sepertinya, kecuali jempol kiri saya yang tegang memencet tuas gobin agar tali mengendur dan saya bergerak ke bawah. Ternyata, rekan saya pun rata-rata mengalami hal serupa. Tali, yang sudah digunakan cukup lama ini, sudah agak melar sehingga membuat seret jalannya. Tapi jangan kuatir, tali ini sanggup menahan beban hingga 120 kg. Satu yang saya pelajari saat itu, yaitu belajar untuk tenang dan pasrah 'menyerahkan nyawa' pada kekuatan seutas tali saja. Tidak gampang bagi saya yang pada dasarnya tidak yakin dengan alat-alat mekanis. Turun di dasar, saya segera bergabung dengan rekan-rekan di jalur sebelah. Setelah lengkap, kami pun berjalan ke bawah menuju chamber yang menghubungkan Jomblang dengan Grubug. Jalur yg dilalui berlumpur, namun sudah ada batu pijakan yg disusun hingga ke dalam. Memasuki chamber, kami serasa berada di gua yang maha besar, langit2nya setinggi hampir +/- 80 meter! Lebar chamber pun tak kurang dari 50 meter. Saya mengira jika jalur horisontal Jomblang cukup panjang, ternyata hanya 150 meter kemudian kami sudah memasuki mulut Grubug. Agak sia2 juga rasanya saya membawa tripod, dua flash dan dua wireless trigger karena tidak banyak yg bisa diabadikan di lorong tsb selain siluet teman-teman. Tetapi selanjutnya, saya pun terpana dan takjub dengan keindahan Grubug sesungguhnya. Saat itu pukul 12.40 dan sinar mentari menembus atap berlubang dan daun pepohonan membuatnya terpecah menjadi berpuluh-puluh RoL (Ray of Light) yang indah! Saya pun segera menyambar kamera dan mengabadikan keindahan itu, dan bagi saya, hasilnya lebih indah dari foto-foto yang saya saksikan sebelumnya. Tak lama rupanya RoL tersebut hadir, yang kemudian hilang menjadi cahaya baur 15 menit kemudian. Memang, orang2 mengatakan bahwa cahaya Grubug muncul dr pukul 11 hingga 1 siang, namun saya tidak paham RoL ini apakah terjadi setiap siang selama dua jam itu atau hanya sebentar saja. Saya juga tidak tahu di saat musim kering dan daun berguguran, apakah RoL itu masih terbentuk. Di dasar Grubug, tampak sebuah batu yang tersusun dari mineral kalsit, berwarna putih susu berbentuk ombak melengkung menjajar, sebagai hasil dari larutan batugamping oleh air. Saya pun baru sadar bahwa Grubug tersusun dari batugamping berlapis kalkarenit, bukan berasal dari terumbu karang. Tidak begitu banyak gua yang dapat terbentuk di batugamping klastik ini karena tingkat kekerasan dan kelarutan tiap2 lapisan yang terbentuk tidak seragam, tidak demikian halnya dgn keseragaman batugamping asal terumbu. Saya juga tidak melihat banyak stalagtit atau stalagmit yang terbentuk, mungkin dikarenakan keheterogenan material penyusun gamping dan juga tetesan air tanah yang relatif sedikit. Di atas, tampak bolongan yang ukurannya jauh lebih kecil dari Jomblang. Di mulut Grubug inilah, tersedia jalur penurunan sepanjang 80 meter. Kami lalu turun lagi ke bawah, menuju sungai bawah tanah yang mengalir dengan jernihnya. Memberanikan diri meneguk airnya, haus saya pun hilang. Namun saya tidak berani mengonsumsi terlalu banyak mengingat di dalam air itu banyak terdapat partikel-partikel halus kapur, yang dapat merusak ginjal. Jalur sungai ini, ternyata dapat ditempuh dgn rafting dari Kali Suci dan masuk ke dalam hingga berakhir di Grubug ini. Rafting hanya bisa dilakukan di saat musim kemarau, dengan debit air yang rendah. Beberapa rekan malah menceburkan diri ke dalamnya, membuang lelah dan penat dari pagi. Pukul 13.30 kami pun bergerak pulang. Cahaya dari atas sudah kurang menarik lagi. Kami berjalan cepat menuju jalur VIP untuk ascending. Rasa exciting kami, mengalahkan rasa lapar yang ada karena siang itu pun kami belum makan. Siap2 menaiki tebing pukul 14.30, barulah rasa lapar mulai mendera. Satu-persatu kami menaiki tebing 15 meter itu dgn teknik Single Rope. Selain SRT, ada juga Double Rope Technic (DRT) dan yang paling terkenal adalah teknik MPC; yang merupakan kependekan dari teknik Mbuh Piye Carane (nggak mau tahu gimana caranya), yang penting bisa naik ke atas :D. Ada beberapa dari kami yang terpaksa direscue, termasuk saya. Ternyata, panjat tebing memang olahraga berat. Apalagi saya yang berbobot 90 kg dan masuk ke kategori slight-medium overweight. Untuk teman-teman yang berbobot ideal atau langsing, tidak begitu kesulitan menembus 15 meter itu. Giliran saya terakhir, 6 meter pertama lancar tapi kemudian tangan kram shg harus beistirahat agak lama baru bs bergerak naik lagi. Menghemat waktu, saya pun direscue. Memang faktanya, bobot badan berbanding terbalik dng kemampuan naik. Well, pernah lihat atlet panjat tebing badannya semok? :). Padahal untuk menghadapi event ini, saya sudah bela2in melatih diri dgn latihan pull-up. Dari hanya bisa naik 3/4 bar menjadi bisa 3x fullbar dalam waktu 2 minggu. Ternyata, saya juga harus melatih sit-up dan scotch-jump karena saat itu dorongan kaki dan hentakan perut juga sama pentingnya dengan tarikan tangan. Ritme naik yang masih kacau juga menjadi penyebab stuck-nya saya dan terbuangnya energi yang sia-sia. Pukul 17.00 kami pun kembali ke cottage. Setelah mandi, baru deh kami bisa beristirahat sambil melahap makan siang yang tertunda tsb. Cukup menyenangkan rasanya menjalani caving vertikal ini. Tentunya akan lebih menyenangkan dan aman jika kita sudah mempersiapkan diri dengan tubuh yang fit, alat yang baik serta guide yang skill. Sedikit saja kesalahan yang terjadi, bisa-bisa nyawa taruhannya. Salam RHH
