Hai Rusmin,

Saya rasa smua yang dibilang teman kita Melly tentang Banda dan Sabang dah 
lengkap, namun aku sedikit terganggu ketika membaca kata Casanemo itu. saya 
hanya mau berbagi cerita ama teman2 disini tentang pengalaman menginap di 
Cassanemo yang dimanajemeni oleh Freddy itu. 


Jadi ceritanya tahun lalu saya ama teman2 berlibur si Sabang dan menginap di 
Casanemo. Salah seorang teman saya yg bekerja di Banda yang memesan tempat itu, 
katanya penginapan itu baru dan bagus, anak2 NGO sering nginep disana katanya. 
Ok lah kami pikir pasti bakal menyenangkan. Namun kesenangan kami terganggu 
pada 
waktu makan malam, karena waktu itu musim liburan jadi penginapan mereka pun 
full, dan sayangnya mereka tidak memperhitungkan jumlah tamu yang menginap 
dengan meja yang mereka punya. Jadi ketika kami sampai di resto, tidak ada meja 
yang tersisa untuk kami, jadi kami hanya berdiri disitu, berharap ada pelayan 
yang nyamperin atau sang pemilik yang sedang bersenda gurau dengan teman2 
bulenya itu melihat kami dan berupaya sesuatu untuk tamunya. Namun sampai 
setengah jam kami (ada 4 orang) berdiri disitu dan tampaknya bahkan si pemilik 
tidak menyadari atau mungkin berpura2 tidak melihat kami. Akhirnya kami ngomong 
dengan salah satu pelayan untuk meminta menyediakan meja untuk kami, dan ini 
kata si pelayan: "maaf tapi meja kami penuh", karna dah lapar dan lama menunggu 
tentu aja kami jengkel dengan jawabannya, dan kami bilang: "kami bisa liat kok 
bang, tapi kami kan juga tamu disini dan kami mau makan, usahain dong". Si 
abang 
bingung tanpa tau harus buat apa, celingak celinguk seperti mau minta dukungan 
dari temen atau bosnya. Seandainya casanemo tidak jauh dr kota atau seandainya 
ada angkutan umum atau seandainya kami waktu itu menyewa mobil pasti kami akan 
cari makan diluar. Saya melihat klo si pemilik sesekali melirik ke arah kami 
namun tetap tidak buat apa2 dan terus ngobrol dengan temen2 bulenya. Casanemo 
memang terkesan tempat yang private tidak seperti di Iboih atau Gapang yg lebih 
terbuka karena itulah kami tidak mau sembarang gabung dengan kelompok lainnya 
yang ke semuanya adalah bule, hanya kami yang pribumi pd waktu itu. Akhirnya 
kami memberanikan diri utk mendekati seorang cwe bule (asal amerika, katanya 
dia 
guru b.inggris di jogya) menanyakan apakah dia sendiri saja di meja itu atau 
sedang menunggu temannya. Untungnya dia sangat welcome dan menawarkan makan 
bareng di mejanya. Dan keliatan si pelayan sangat lega dengan inisiatif kami.

Pagi harinya, setelah puas main di pantai kami ke resto cepat2 takut kehabisan 
meja lagi, namun untungnya sepi. Setelah perut penuh kami pun mulai menjelajah 
pulau Weh, snorkeling di Gapang, keliling pulau, belanja souvenir di kota dll 
dan malam hari sekitar pukul sepuluh baru kembali ke Casanemo. Namun, yang 
mengejutkan adalah di serambi kami ada sepasang kekasih yang sedang berpelukan 
(tampaknya bule Asia). Awalnya karena malam kami pikir kami salah ambil jalan 
dan itu bukan pondok kami. Tapi nama pondok itu adalah Kura-Kura, tempat tadi 
malam kami tidur. Kami mulai panik karena semua barang2 kami masih di dalam. 
Kami panggil pelayan dan menanyakan kenapa ada orang di pondok kami dan 
bagaimana dengan barang2 kami. Dan kami kaget setengah mati karena dia bilang 
kamar itu sudah di kasi ke orang lain dan barang2 kami udah di simpan di 
GUDANG. 
Marah, sakit hati, udah pasti itu yg kami rasakan, dan si pelayan pun tampaknya 
mengerti dan dengan nada menyesl bilang: gimana ya mbak saya kan cuma kerja 
disuruh beres2 ya saya beres2. Kami pun akhirnya menemui sipemilik yang 
berinisial B dan protes terhadap pelayanan penginapannya. Dan ini jawaban yg 
kami terima: "Saya memang pemilik tempat ini tapi bukan saya yang urus, kamu 
tanya aja Freddy soalnya dia yg urus semua". Teman2 bisa bayangin gak sih 
gimana 
jengkelnya kami. Ketika barang2 kami dikeluarkan dari Gudang, yang buat tambah 
sakit hati lagi, barang kami ditumpuk semua jadi satu sehingga kami bingung utk 
cek barang masing2. Pakaian basah digabung dengan pakaian kering, yg lebih 
parah 
saya menemukan barang elektronik ada di plastik kresek yang di dalamnya juga 
ada 
sandal basah dan berpasir.  Setelah ngotot2an mereka pun mendatang kan Freddy 
yang pada waktu itu ada di penginapan lainnya untuk menjelaskan duduk 
permasalahannya. Freddy, sedikit lebih ramah memang dr si pemilik dan meminta 
maaf karena staffnya telah membereskan barang kami dengan tidak layak. Namun 
tetap membenarkan tindakannya memberi kamar kami pada orang lain tanpa 
pemberitahuan karena kami hanya me reserve 1 malam saja dan katanya mereka 
tidak 
bisa menghubungi kami karena tidak tahu no kontak kami. Pernyataan yang aneh 
karena pada waktu memesan kamar sebelumnya jelas teman saya meninggalkan no 
telf. Sangat aneh mereka bisa menghubungi untuk memastikan kamar yang kami 
pesan 
sedangkan pada saat eksekusi barang2 mrk blg kami tidak menin ggalkan no 
kontak. 
Lagian menurut pengalaman saya, apabila kita tidak chek out sampai jam nya maka 
otomatis kita akan di charge utk malam berikutnya dan pihak penginapan pasti 
akan mengkonfirmasi lg berapa malam kita menginap begitu kita sampai, namun  
hal 
yg biasa ini tdk kami dapatkan.  sejak menit pertama kami ada disitu kami tidak 
mendapat pelayanan seperti yang mereka berikan thdp tamu2 bule lainnya, ini 
yang 
membuat kami makin sakit hati. Untuk hal yang sangat sepele misalnya : ucapan 
selamat pagi dan seulas senyum basa basi pun tidak kami dapatkan, namun mereka 
sangat ramah thdp tamu bule. Dalam hati aku berteriak dia orang Indonesia dan 
ini masih tanah Indonesia dan yang paling penting kami juga bayar sama spt 
bule2 
itu. Pada waktu ribut2 itu ternyata ada satu rombongan kecil dr Jakarta yg baru 
sampai dan mengalami hal yg hampir sama dengan kami, mereka jg pribumi. Mereka 
udah pesan tempat sbelumnya dan sialnya ketika mau masuk kamar gak bisa karena 
katanya kamar itu dah dipesan tamu bule lain tapi si bule itu blum datang. 
Akhirnya karena udah kecapekan dan lelah berdebat kami minta bill dan segera 
cabut dari situ utk cari penginapan lainnya. Catatan: saat itu udah setengah 
12. 


Jadi buat semua kawan lain yang mau berlibur di Sabang, dan khususnya pribumi, 
lebih baik berpikir ulang utk menginap di Casanemo, saya lebih menyarankan 
menginap di Iboih selain penginapannya lebih murah juga dekat dengan Gapang. 
Atau klo tetap mau menikmati daerah Sumur Tiga, bisa menginap di Tuna Paradise 
gak jauh dari Casanemo dan pemilik nya sangat ramah. 



Salam,
Ina


nb; maaf klo curhatnya kepanjangan 


 




________________________________
From: meliawati mail  <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Sent: Fri, August 13, 2010 12:28:20 PM
Subject: Re: [indobackpacker] Wisata Aceh&Sabang

  
Dear Rusmin,

kebetulan banget Senin kemarin saya baru aja kembali dari Aceh. Suasana Ramadhan
di sana memang lebih kental, meski saya sendiri gak mengalaminya.
Sehari sebelum puasa,
mereka ada tradisi 'meugang', yaitu masak daging seperti rendang. Bisa
juga coba tarawih di
mesjid Baiturrahman, yang indah banget di malam hari. Suasana kota
biasanya baru rame menjelang buka puasa dan selepas tarawih, karna
sebagian besar rumah makan tutup dari pagi sampe siang.

Untuk tempat wisata, tentu nya bernuansa tsunami, seperti kapal PLN
yang terdampar di tengah kompleks perumahan, kapal nelayan Lampulo
yang nyangkut di atas rumah, museum tsunami (yang sayangnya
terbengkalai) dan makam Belanda di sebelahnya.

Kalo kuliner sih, pastinya seafood, dan yang khas adalah ayam tangkap.
Dan jangan lupa kopi! Karena kopi Aceh sangat mantapp..hehe..yg harus
dicoba adalah kopi susu atau 'sanger', di warung kopi yang bertebaran
di aceh.

Kalau sempat sih, nyebrang deh ke Sabang dengan kapal cepat (sktr
60rb) atau kapal lambat (sekitar 20/30rb). Di pantai ada bungalow
Freddie's dan Casanemo, cocok buat liburan yang bener-bener mo nyepi.
Tarif kamar nya murah, 275rb - 290 ribu per malam. Untuk snorkeling
(tapi puasa ya? ga mungkin dong ya, hehe) perjalanan sekitar 1,5 jam
ke Iboh, indah banget. Mau ke titik nol km? Perjalanan sekitar
setengah jam dari Sumur Tiga, katanya bisa dapet sertifikat kalo udah
berkunjung ke situ, hehe. Oh ya, malemnya jangan lupa ke kota Sabang
(yah kotanya cuman segitu aja sih, hehe) dan icipi mie kocok khas
sana.

apa lagi ya? maaf kalo kepanjangan..ya baru segitu sih yang saya tau,
semoga berkenan :)

happy traveling !
- Melly -

On 8/13/10, Rui <[email protected]> wrote:
> Dear rekan2 IBP
>
> Kebetulan besok saya ada tugas ke Sabang, Aceh. Mungkin teman2 disini ada yg
> tahu info wisata budaya,tempat makan yg wajib dikunjungi atau obyek wisata
> yg menarik di Aceh dan Sabang. Terutama terkait dengan bulan
> Ramadhan,mungkin ada ritual yg hanya bisa ditemui di negeri serrambi mekkah
> ini. Atas perhatian dan info teman2 saya ucapkan terimakasih
>
> Salam,
> Rusmin
>
>
>

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke