Traveling di Bulan Puasa: Kenapa Nggak?
Seingat saya, belum pernah kaki ini melangkah ke luar rumah di bulan puasa – 
dan sedang puasa – untuk traveling. Banyak alasan yang bikin kaki – dan kepala 
dan hati – enggan melangkah jalan-jalan.

Panas, lemas, cape, takut haus dan lapar, dan lain-lain. Standar lah. 
Logikanya, semua alasan itu masuk akal. Kalau pakai logika memang.

Minggu lalu, walau tidak terlalu jauh dari Jakarta, saya dan teman baik saya, 
Mba Dewi, menyengaja pergi ke pulau Tidung. Kami berdua sama-sama puasa. Kami 
berdua sama-sama kuatir batal.

Nyatanya, dua setengah jam di kapal Bisma dari Muara Angke – di tengah-tengah 
pengunjung yang sedang asyik mengunyah kripik kentang dan menyeruput soft drink 
– kami survive aja tuh. Memang sih, sempat sebal juga.

“Ini orang-orang apa gak ngerti ya kalau kita lagi puasa?” tanya saya sembari 
berbisik ke Mba Dewi.

“Ya, mana mereka tahu kalau nggak dikasih tahu,” jawabnya santai.

Jawaban yang cerdas – dan masuk akal – pikir saya. Toh, alih-alih menghayati 
bunyi merdu bungkus makanan dibuka, suara kriuk-kriuk kripik dan wangi MSG-nya 
yang menyeruak ke seluruh kapal dan segudang godaan lain, kami survive dan tiba 
di Pulau Tidung dengan “selamat”.

Ajaibnya, kami masih saja sempat berkeliling setengah pulau dengan JALAN KAKI. 
Nekat? Iya. Cape? Banget. Di taman depan kecamatan, kami sempat ngorok bersama 
buruh bangunan yang juga istirahat. Ketika bangun, abang-abang itu permisi 
“Saya mau makan dulu, mas.” Huaaa…

Setelah itu, kelapa muda, wangi ikan bakar dan botol-botol minuman yang 
seliweran sana-sini makin bikin goyah iman. Dan yang paling sulit ditolak: air 
laut berwarna biru jernih yang melambai-lambai memanggil.
Cerita lengkap... 
http://endrocn.wordpress.com/2010/08/22/traveling-di-bulan-puasa-kenapa-nggak/

 Salam, 


 
Endro Catur NugrohoE  : [email protected]  : http://endrocn.wordpress.com


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke