Dalam jarak yang tak begitu lama, saya kembali berkunjung ke Palangka Raya. 
Sebelumnya, sekitar dua minggu berlalu saya juga bertandang ke kota yang 
berjuluk Kota Cantik ini. Waktu itu saya hanya menjadikan Palangka Raya sebagai 
tempat transit saja, karena tujuan utama saya ke Kalteng adalah mengunjungi 
Taman Nasional Tanjung Puting di Pangkalan Bun. 

Namun pada kunjungan kali ini, saya benar-benar menjadikan kota yang dibelah 
Sungai Kahayan ini sebagai tempat menyalurkan hobi petualangan. Apa yang 
menarik di Palangka Raya? Pertanyaan itu sempat menggantung di pikiran saya. 
Dibanding kota tetangganya Banjarmasin, mungkin Palangka Raya masih kalah pamor 
bila ditilik dari segi pariwisata. Baik tingkat kunjungan wisatawan hingga 
akomodasi pendukungnya.

Tapi apa yang saya temui di sekitar Palangka Raya, ternyata diluar dugaan. 
Banyak objek menarik di sekitarnya, yang mampu mematahkan anggapan saya pada 
kota yang pernah dicetuskan oleh Presiden RI pertama sebagai ibukota. 

Saya tak sendiri ke Palangka Raya. Tapi ditemani seorang kawan dari Banjarmasin 
yang pernah saya ajak ke Teluk Tamiyang, Kotabaru Kalsel. Adit namanya. Kami 
memulai petualangan di sekitar pusat kota, tepatnya di Jalan DI Panjaitan. 
Disana saya ingin mengenal lebih dekat model bangunan suku Dayak di Kalteng 
yang lazim disebut betang. Meski bangunan yang saya kunjungi tersebut bukanlah 
rumah asli buatan suku Dayak, tapi desainnya sangat mencerminkan rumah betang 
aslinya. Banyak ornamen khas budaya Dayak saling berebut tempat di sekitar 
bangunan utama nya. Sebut saja sandung dan sapundu. Belakangan saya tahu, jika 
bangunan bernama Mandala Wisata ini juga mempunyai agenda berkala yang biasanya 
berisi pertunjukan tarian khas Dayak. Namun nasib baik tak berpihak pada saya, 
pertunjukan seni yang saya yakin pasti unik tersebut tidak digelar pada saat 
saya berkunjung.  
 
Mengingat waktu saya yang hanya beberapa hari di Palangka Raya, saya bergegas 
menuju Jalan Batam. Sebuah kawasan yang di dalamnya berjejer toko-toko penjual 
oleh-oleh khas Kalteng. Barang yang dijual kebanyakan souvenir khas Dayak, 
mulai dari gelang simpay, perahu karet nyatu, Mandau, tameng hingga penyang 
(kalung bergigi beruang imitasi). Sebuah gelang etnik yang terbuat dari kayu, 
berhasil membuat saya merogoh uang dari dompet. Bentuknya menarik dan harganya 
agak bersahabat.

Di sudut lain saya menjumpai kain-kain bermotif batang garing dengan perwarnaan 
yang cerah. Jika Kalsel punya kain sasirangan, maka Kalteng mengandalkan kain 
bermotif batang garing tersebut. Saya agak kaget saat mengetahui harganya. 
Dengan hanya Rp 35 ribu, pembeli sudah bisa membawa pulang kain khas tersebut. 

Museum Balanga di Jalan Tjilik Riwut juga merupakan salah satu tempat yang 
ingin saya kunjungi. Saya segera merayap di atas jalan beraspal menuju museum 
negeri milik Kalteng itu. Saya harus melewati megahnya Bundaran Besar dan riuh 
nya Pasar Kahayan. Tampaknya Palangka Raya sedang gencar mengejar 
ketertinggalannya dalam hal properti. Beberapa hotel berbintang dengan lantai 
bertingkat tampak mudah saya temui. Meski tidak terlalu besar, Palangka Raya 
Mall di jantung kotanya turut menambah ramai suasana yang saya dapati. 

Nasib Museum Balanga agak mirip dengan museum-museum yang pernah saya kunjungi 
di berbagai kota lainnya. Sepi dan agak terkesan angker. Saya tak peduli, 
dengan bergegas saya langkahkan kaki menuju bangunan utama museum. Seorang 
petugas berlogat Dayak, dengan ramah mempersilakan saya memasuki ruangan utama. 
Peralatan perang Dayak jaman dulu adalah koleksi pertama museum yang saya 
jumpai. 

Di sudut lain saya menemui sebuah kalung dengan beberapa buah gigi beruang asli 
bergelantungan di sekelilingnya. Nama benda peninggalan sejarah tersebut adalah 
penyang. Sebuah benda yang diyakini suku Dayak sebagai alat penangkal bahaya 
musuh. Dari keterangan yang saya baca di sekitar penyang, kalung kuno tersebut 
berasal dari Kabupaten Kapuas.Masih banyak koleksi museum tersebar di dua buah 
ruangan utama. Banyak wawasan yang saya dapati setelah berkeliling ke museum 
terbesar di Kalteng itu. 

Kelar menjelajah di Museum Balanga, saya menemui seorang petugas museum yang 
ternyata putra asli Dayak Ngaju. Dari penuturan pria bertubuh tambun tersebut, 
saya jadi tahu jika dari tangannya banyak tercipta berbagai ukiran khas Dayak. 
Saat saya mencoba bertanya apakah aneka ukiran itu dijual, ternyata dengan 
mantab pria Dayak itu menjawab jika ia tidak mau hasil karya nya dihargai 
dengan sejumlah uang. Ia hanya mengoleksinya sebagai kesenian warisan nenek 
moyang nya. Hal ini memaksa saya untuk berkata salut pada pemikirannya.
Kuliner khas Dayak yang terkenal unik dan tentu saja enak, menanti saya di 
rumah makan Samba. Saya segera melaju ke kambali ke kawasan pusat kota. Saking 
enaknya menu khas Dayak disini, buku panduan petualangan kelas dunia bernama 
Lonely Planet pun tak ragu merekomendasikan tempat makan ini di salah satu 
edisi nya. Tak salah memang, saat ikan bakar jelawat mendarat di lidah saya, 
rekomendasi tersebut ternyata sangat manjur. Tak hanya menu ikan yang banyak 
ditemui di Sungai Kahayan itu, saya juga melengkap daftar menu saya dengan 
gangan asam rotan muda, sambal tomat, sayur serai dipadu ikan sungai yang 
dihaluskan, dan tentu saja satu porsi nasi putih. 

Rasa lelah setelah perjalanan jauh dari Banjarmasin dan berkeliling di sebagian 
sudut Palangka Raya pada hari pertama, lenyap dalam sekejap. Saya sangat 
menikmati setiap inci kuliner andalan Dayak itu, terutama ikan jelawatnya. 
Rasanya yang lembut dan gurih, membuat saya berjanji jika saya bertandang ke 
Palangka Raya lagi, saya pasti akan menyantap ikan bersisik ini.

Menjelajah kuliner di RM. Samba bukan berarti petualangan saya pada hari 
pertama berakhir. Saya kembali merayap di jalanan beraspal. Tujuan saya adalah 
Jalan Temanggung di sudut lain Palangka Raya. Disana saya mengenal secara dekat 
bentuk rumah adat Dayak dari berbagai kabupaten di Kalteng. Diantaranya adalah 
Kabupaten Kotawaringin Timur, Kapuas hingga Kotawaringn Barat. Tiap rumah 
memiliki kesamaan, yakni berbentuk rumah panggung. Tapi perbedaan mencoloknya 
adalah bentu atap dan interior rumah. 

Tak butuh lama, saya segera menuju desa Kereng Bangkirai. Disana saya ingin 
menyaksikan hamparan Sungai Sebangau yang sangat cantik. Saking luasnya hulu 
sungai tersebut, saya berpendapat lokasi tersebut lebih layak disebut danau 
yang luas. Airnya yang berwarna seperti air teh  menambah cantik lanskap di 
sekitarnya. Kereng Bangkirai hanya diisi oleh beberapa rumah saja. 

Tak puas memandangnya dari atas dermaga, saya mencari klotok sewaan di sekitar 
dermaga. Bapak Syahrial menawarkan jasa sewa klotoknya hanya dengan Rp 40 ribu 
saja. Saya segera melaju membelah sudut lain Sungai Sebangau. Pemandangannya 
sangat luar biasa, sungguh diluar dugaan. Hamparan pepohonan rasau yang 
mengapung diatas air berpadu dengan gumpalan awan putih yang memantul di atas 
permukaan sungai. Sungguh pemandangan refleksi alam yang sangat apik. Tak 
hentinya saya membidikkan lensa kamera.

Tujuan kami adalah Batu Ampar. Sebuah kawasan penggalian batu alam secara 
tradisional oleh warga sekitarnya. Beberapa tahun terakhir ini, Batu Ampar 
dijadikan sebagai salah satu bagian dari Taman Nasional Sebangau. Dari sinilah 
banyak masalah bermula, hal itu saya ketahui saat saya mengobrol dengan 
beberapa penggali batu.

Seorang ibu berusia senja, sebut saja namanya Ida. Ia mengeluhkan tentang 
ancaman dilarangnya penggalian batu alam di Batu Ampar seiring statusnya yang 
telah ditetapkan sebagai bagian dari kawasan taman nasional. Ada niat baik dari 
pemerintah yang akan memberi ganti rugi, namun warga tak puas jika besaran 
ganti rugi yang dijanjikan tersebut tak mampu mencukupi kehidupan mereka 
kedepannya.

Karena belum menemui titik temu antara warga dan pihak taman nasional, kekayaan 
alam berupa hamparan batu di dalamnya tetap digali hingga saat ini. Saya 
semakin miris setelah mendengar keluhan lain ibu Ida. Katanya, 40 karung batu 
hanya dihargai sebesar Rp 70 ribu saja. Benar-benar harga yang tak seimbang 
dengan perjuangan mereka dalam mengumpulkan batu-batu keras tersebut. Bayangkan 
saja, dari tangan kasar para lelaki disana, bongkahan raksasa batu di dalam 
tanah akan dipukul agar pecah menjadi bongkahan kecil. Lalu bongkahan batu itu 
diangkut ke permukaan untuk kemudian dipecah lagi menjadi batu-batu kecil. 
Rata-rata ukurannya sebesar telapak tangan orang dewasa. Lalu kemudian 
dimasukkan ke dalam puluhan karung usang. 
Jika mencapai 40 karung, maka hasil alam tersebut siap dijual kepada pembeli. 
Dan tentu saja, mereka kembali harus susah payah mengangkutnya ke tepian Batu 
Ampar untuk dipindahkan ke dalam klotok besar. Betul-betul perjuangan yang 
sangat berat. Demi asap tetap mengepul di dapur rumah mereka.

Malam menyambut. Palangka Raya terlihat gemerlap di kawasan Bundaran Besar dan 
Yos Sudarso. Saya menyusuri kawasan Yos Sudarso yang menjadi pusat jajanan di 
malam hari. Ratusan tenda berjejer, menawarkan aneka jenis hidangan. Saya 
memantabkan diri makan nasi goreng di Mirasa. Agak jauh dari Bundaran Besar. 
Racikan bumbu oleh pemiliknya, menjadi penutup saya di hari pertama.

Hotel Panarung di Jalan Diponegoro menjadi tempat menginap saya. Tarif nya 
hanya Rp 50 ribu saja. Saya agak sedikit heran, tarifnya tak pernah berubah 
sejak dua tahun silam. Saat saya pertama kali bertandang di hotel sederhana 
ini. Rasa kantuk menyerang, membawa saya pada tidur panjang yang nyenyak.

Sarapan nasi kuning menjadi awal aktivitas saya di hari kedua. Untuk 
selanjutnya mengarungi Sungai Kahayan dari atas kapal wisata susur sungai. KM 
Lasang Teras Garu membawa saya dan puluhan wisatawan lain menuju persimpangan 
antara Sungai Kahayan dan Sungai Rungan. 
Sungai ini masih sangat alami. Kiri kanan nya banyak hutan perawan yang saya 
temui. Di sudut lain, saya juga menemui sebuah perkampungan kecil. Namanya desa 
Muara Rungan. Bangunan kayu berbentuk panggung tampak mendominasi pemandangan. 
Tak jauh dari sana, persimpangan besar menghadang. Muara Sungai Rungan 
menghadang kapal cantik yang saya tumpangi. Di tepian sungai saya menemui 
lokasi yang dikeramatkan oleh suku Dayak. Namanya Tajahan Tjilik Riwut. Sebuah 
situs sejarah yang merupakan lokasi yang sering dikunjungi pahlawan nasional 
asal Kalteng, Tjilik Riwut. 

Tajahan memiliki beberapa bangunan unik, diantaranya adalah 6 buah rumah 
mini.Di dalamnya terdapat tulang, telur sebagai sesaji. Tak hanya itu, beberapa 
lembar kain kuning terlihat semarak bergelantungan di sekitarnya. Hal ini 
dimaksudkan untuk memenuhi nazar, jika apa yang diinginkan telah terkabul. 
Sebagai wujud ucapan rasa syukur khas suku Dayak di Kalteng.

Kapal kembali melaju ke arah perkotaan dengan rute yang sama. Lalu menuju 
sebuah perkampungan di atas Sungai Kahayan. Ratusan rumah di kawasan tersebut 
adalah rumah terapung. Halaman rumah umumnya dilengkapi kolam untuk bisnis 
tambak ikan patin, nila, mas hingga patin. Kios terapung juga mudah saya temui 
disana, bahkan SPBU terapung juga tersedia.

Pengalaman menyusuri Sungai Kahayan dengan KM. Lasang Teras Garu tersebut 
sungguh sangat berkesan. Dengan hanya Rp 75 ribu saja, wisatawan akan diajak 
menikmati pesona Sungai Kahayan yang sangat eksotis. Dari atas kapal saya 
banyak mendapati wawasan tentang alam, sejarah hingga budaya sekaligus. Kapal 
milik dinas wisata setempat ini, bahkan bisa disewa untuk mengarungi Sungai 
Kahayan hingga ke hulu. Daya tampungnya cukup besar. 

Pada hari sabtu dan minggu, kapal berdesain etnik ini akan membawa wisatawan 
secara berkala. Misal pada hari minggu, kapal akan membawa wisatawan pada jam 9 
pagi  dan jam 3 sore. Tarif hanya Rp. 75 ribu saja. Kapal ini memiliki banyak 
fasilitas mirip hotel, sebut saja kamar tidur VIP, kamar mandi, café, bar 
hingga balkon yang dilengkapi jejeran kursi rotan untuk menikmati pemandangan 
Kahayan.

Pulau Kaja di Kecamatan Tangkiling menjadi target saya berikutnya. Pulau di 
tengah Sungai Rungan ini mengoleksi ratusan orang utan yang hidup bebas di 
dalamnya. Saya kembali beradu dengan sungai di atas kapal kecil. Tarif sewa 
hanya Rp 50 ribu saja. Saat perjalanan saya menemui sebuah kapal besar mirip KM 
Lasang Teras Garu, yang sedang mengangkut beberapa turis asing. 

Mendekati Pulau Kaja, saya langsung disambut seekor orang utan dewasa yang 
tengah asyik menggendong anaknya. Saat kami mendekati sisi pulau yang rimbun 
pepohonan khas Kalimantan, keluarga kecil orang utan tersebut tampak tak peduli 
dengan keberadaan kami. Mereka tetap asyik duduk santai di atas sebuah pohon 
yang menjuntai ke permukaan sungai. Di sudut lain, saya kembali menemui 
sekawanan orang utan yang sedang asyik bergelantungan sambil mencari makanan. 
Sungguh pemandangan alam yang luar biasa indahnya.

Desa Sei Gohong memikat saya untuk menyambanginya. Lokasinya tak jauh dari 
Pulau Kaja. Desa milik suku Dayak Ngaju ini mengoleksi puluhan sandung. Sebuah 
benda mirip rumah berukuran mini yang isinya terdapat tulang belulang orang 
yang telah meninggal dunia. Untuk menaruh tulang tersebut, keluarga yang masih 
hidup harus mengadakan upacara adat tiwah dengan menyembelih kerbau atau sapi. 
Setelah tiwah selesai dilaksanakan, maka makam mayat akan dibongkar untuk 
kemudian diambil tulang belulangnya. Selanjutnya diletakkan di dalam sandung. 

Berkunjung ke Borneo Orang Utan Survival (BOS) Nyaru Menteng di sudut lain 
Palangka Raya, ternyata tak sesuai harapan. Pusat rehabilitasi orang utan 
tersebut ternyata telah tutup. Jam kunjungan wisatawan agak terbatas. Buka dari 
pagi hari hingga jam 3 sore saja.

Akhir dari seluruh petualangan, saya tutup dengan menikmati senja di Fantacy 
Beach. Sebuah danau peninggalan sisa-sisa penggalian pasir. Danau yang dulunya 
hanya berupa kubangan air raksasa, disulap menjadi kawasan wisata populer di 
Palangka Raya. Saat ini pihak pengelola telah menyediakan wahana flying fox, 
kayaking, dan fasilitas lainnya. Gazebo di tepi danau menjadi tempat ideal 
menikmati senja sambil menyeruput kapucino panas.


Foto-foto nya dapat dilihat di :

http://pegatan.multiply.com/photos/album/30/Palangka_Raya_Si_Cantik_di_Pusat_Kalimantan


Salam Jalan-Jalan

Nasrudin Ansori
http://kalimantanku.blogspot.com
"amazing Kalimantan"





Kirim email ke